Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 08. Pertemuan


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Kak Jun ada di sana juga kan, kak?” tanya Zishu antusias.


Zishu memang sangat antusias jika perihal Jun Piao. Laki-laki yang merupakan sahabat dari Chen dan juga di anggapnya sebagai kakaknya. Jun sendiri berusia 22 tahun dan sudah terjun ke dunia bisnis sejak 2 tahun lalu. Selain sebagai pengusaha, Jun juga di kenal sebagai playboy kelas kakap. Namun Jun sangat menyayangi Zishu, begitu juga sebaliknya.


Jun menganggap Zishu sebagai adiknya sendiri. Siapa pun yang berani mengganggu hingga menyakiti Zishu, tidak ada ampun untuk orang itu.


“Iya, Jun ada di sana. Apa kamu mau bertemu dengannya besok?” tanya Chen yang sudah mengerti. Zishu pasti ingin bertemu dengan Jun, kakak playboy nya itu.


“Hehe iya, kak! Aku sangat merindukan kakak playboy ku itu,” kekeh Zishu sembari memakan camilan yang tersedia di atas meja.


Terdapat berbagai macam camilan di atas meja yang ada di ruang tamu. Di sana juga sudah tersedia minuman santai untuk menemani pembicaraan Zishu dan Chen. Semua itu tentu di siapkan pelayan yang ada di kediaman ini.


“Sebutan itu memang pantas untuk Jun. Dari dulu sampai sekarang, sifat playboy nya itu tidak bisa di obati. Malah semakin menjadi-jadi. Kakak merasa kasihan pada para perempuan yang jadi korbannya,” ucap Chen sembari menggeleng-gelengkan kepalanya .Ia tidak habis pikir lagi dengan sifat Jun.


Sungguh ia setuju dengan sebutan Playboy untuk seorang Jun Piao. Si Playboy yang memikat para perempuan dengan pesona dan hartanya. Memang benar Jun tampan tapi sayang, ia seekor buaya darat yang belum mendapatkan pawang sejatinya wk. Jadi masih bisa bebas memangsa banyak korban.


“Benar juga sih tapi mending kak Jun daripada kakak! Kak Jun mempunyai banyak perempuan sebagai pasangannya. Sedangkan kakak masih sendiri sampai saat ini,” celetuk membuat Chen tersedak saat baru saja minum.


Uhuk... Uhuk...


“I—tu beda ceritanya Zizi,” protes Chen tidak terima dengan ucapan Zishu.


“Bagiku sama saja. Kak Jun punya banyak pasangan dan kakak masih sendirian. Padahal kakak itu paket lengkap lho. Udah tampan, mapan, pintar, berprestasi, dan masih banyak lagi lainnya. Namun kenapa sampai sekarang masih sendirian?” cerocos Zishu


“Udah-udah deh. Berhenti bahas soal itu! Kakak masih ingin sendiri untuk saat ini,” tegur Chen tidak ingin membahas soal pasangan.

__ADS_1


Jujur saja, saat ia tidak berpikiran mencari pasangan. Fokusnya hanya tertuju pada janjinya terhadap tuan Jiang, untuk menjaga Zishu. Menjaganya sebisa mungkin dari orang-orang yang berniat jahat.


“Haha baiklah aku berhenti membahas itu,” Zishu tidak bisa menahan tawanya. Baginya adalah hal yang lucu saat Chen berusaha menghindari pembahasan soal pasangan.


“Besok aku ikut kakak tapi sebelumnya temani jalan-jalan dulu setelah sarapan pagi. Mau gak, kak?” lanjutnya, sesaat setelah tawanya berhenti.


“Tidak masalah! Kakak akan menemani jalan-jalan ke mana pun yang kamu inginkan.” sahut Chen tidak merasa keberatan sama sekali.


“Kakak selalu yang terbaik!” puji Zishu sembari terus memakan camilan yang ada di hadapannya.


“Iya, namun sekarang sebaiknya kita pergi beristirahat. Biar tenaga terkumpul penuh dan besok bisa puas jalan-jalan.” ucap Chen sembari menatap jam dinding yang menunjukkan hampir pukul setengah 10.


“Baiklah, kak!” sahut Zishu setuju, ia segera menyudahi memakan camilan.


Zishu dan Chen segera pergi dari ruang tamu. Menuju ke lantai atas, dimana terdapat kamar mereka berdua.


“Selamat malam, kak!” seru Zishu sebelum masuk ke kamarnya.


Kemudian Zishu berjalan masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Chen yang langsung pergi ke kamarnya. Kamarnya tidak berada terlalu jauh dari Zishu.


***


Pagi hari, di Kediaman Keluarga utama Yan


Di pagi hari yang penuh semangat ini, Zishu sedang bersiap untuk lari pagi. Penampilannya cantik dengan memakai tank-top hitam di lapisi jaket berwarna abu-abu. Celana hitam di atas lutut sebagai bawahan. Topi dan sepatu olahraga berwarna abu-abu senada, juga melengkapi penampilannya. Tidak lupa pula rambutnya yang lumayan panjang, di ikat tinggi.


“Aku pergi lari pagi dulu, bi!” pamit Zishu pada salah satu pelayan yang sedari tadi sudah mulai bekerja membersihkan rumah.


“Hati-hati, non!” sahut pelayan itu dengan ramahnya. Zishu membalas dengan anggukan kepala, di sertai senyumannya.

__ADS_1


Setelah itu barulah Zishu pergi berlari di sekitar kawasan kediaman Keluarganya. Kawasan cukup luas dan di berada di kawasan pinggiran kota. Dengan banyak pohon rindang di setiap sisinya. Kawasannya pun sangat luas. Berbeda halnya dengan Kediaman Keluarga Yan Selatan dan Utara yang berada di kawasan Elite.


Zishu berlari sembari menikmati segarnya udara pagi. Di telinganya juga terpasang headset yang sedang memperdengarkan lagu-lagu favoritnya. Menambah semangatnya berlari. Ia berlari mengitari jalanan yang masih sepi selama hampir satu jam penuh. Keringat setelah berlari cukup lama, bercucuran di wajah hingga lehernya.


“Ku rasa sudah cukup berlari. Sebaiknya sekarang aku pulang,” gumam Zishu sembari menyeka keringat di wajahnya. Ia sudah berhenti berlari untuk mengatur nafasnya.


Kemudian Zishu berjalan santai menuju arah pulang. Ia berjalan sembari tetap mendengarkan musik, sekaligus bermain ponselnya. Zishu terlalu fokus bermain ponsel sampai tidak memperhatikan. Sehingga tanpa sengaja ia tersandung sesuatu, membuatnya kehilangan keseimbangan. Beruntungnya ada sebuah tangan kekar yang tiba-tiba merangkul tubuhnya. Matanya langsung beradu tatapan dengan si pemilik tangan kekar tersebut.


Tampan, satu kata yang dapat Zishu ucapkan untuk menggambarkan sosok laki-laki, si pemilik tangan kekar tersebut. Dari rambut hingga wajahnya, benar-benar terbentuk dengan sempurna. Bahkan Zishu dapat merasakan aroma maskulin dari tubuh laki-laki itu.


“Nona tidak apa-apa?” pertanyaan itu membuat Zishu tersadar akan posisinya. Ya posisinya hampir saja berpelukan dengan laki-laki itu.


“Ti--dak apa-apa, tuan! Terima kasih sudah membantuku,” jawab Zishu tergagap dan segera melepaskan dirinya rangkulan laki-laki itu.


Laki-laki itu tersenyum tipis, merasa gemas dengan Zishu. Di tambah lagi wajah Zishu yang cantik dan manis, juga membuatnya merasa tertarik.


“Baguslah, nona!” sahut laki-laki itu dengan tersenyum.


“Maaf, aku harus pergi sekarang! Terima kasih sekali lagi, tuan!” Zishu bergegas pergi dari hadapan laki-laki itu.


Jujur saja ia merasa gugup sebab pertama kalinya berada sedekat itu dengan laki-laki, selain Chen dan Jun selama ini. Lalu bagaimana dengan Chunying? Ia hanya pernah berpegangan tangan, tidak dengan yang lain.


“Nona kecil yang menggemaskan!” gumam laki-laki itu tersenyum kecil.


Ia menatap punggung Zishu yang sudah menjauh dari tatapannya. Sebelum akhirnya laki-laki melanjutkan kembali larinya ke arah berlawanan dengan Zishu.


..._____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]


__ADS_2