
... ||•🥀Happy Reading•||...
... _____...
“Sudah siap, Little Baby?” tanya Jun bersemangat. Bola basket yang akan di mainkan, sudah berada di tangannya.
“Ayo mulai, kak!” jawab Zishu tidak kalah bersemangatnya.
Bermain basket memang salah satu hobinya dulu tapi sejak kuliah, sangat jarang ia memainkannya. Apalagi biasanya Zishu bermain dengan Jun dan Chen secara bergantian.
“Cobalah untuk merebut bola ini, Little Baby!” Jun memulai bermain lebih dulu.
Bola basket di tangannya mulai di giring menuju ring di belakang Zishu. Jun bergerak sangat gesit dalam permainannya. Begitu juga dengan Zishu yang ikut bergerak gesit agar bisa merebut bola dari Jun. Mereka berdua bermain dengan sangat sengit. Tidak mudah di tebak siapa yang akan menang pada akhirnya. Namun di lihat dari tadi, permainan Jun sudah sangat bagus. Ia hanya perlu fokus menggiring bola sampai ke ring, tanpa memberikan sedikit pun celah untuk Zishu.
“Ayo rebut, Little Baby!” seru Jun tersenyum sambil terus menggiring bola ke sembarang arah.
Zishu tidak menjawab, melainkan semakin mempercepat pergerakannya. Dengan kecepatan Jun sekarang dalam bermain, ia harus bisa melebihi kecepatannya. Di sela itu, Zishu juga mencari celah untuk merebut bola. Tidak akan ia biarkan Jun menang dengan begitu mudah.
“Jangan biarkan Jun berhasil memasukkan bola ke ring, Zi`er! Rebut bolanya!” Chen berteriak dari pinggir lapangan.
Enlai, Liang, Xuesi, Kang Dishi dan Guan juga ikut berteriak. Kelimanya sangat antusias dengan permainan basket Zishu dan Jun yang sedang berlangsung.
“Ya nona Zishu, rebut bolanya!”
“Permainanmu sudah cukup bagus, nona! Pertahankan itu dan cepat rebut bolanya!”
“Masukkan bolanya, Jun! Jangan sampai nona Zishu berhasil merebutnya darimu,”
“Perlihatkan kemampuanmu dalam bermain pada nona Zishu, Jun!”
“Terus giring bolanya sampai ke ring!”
Berbeda dengan teman-temannya, Lui hanya diam memperhatikan. Matanya terus memperhatikan setiap pergerakan Zishu. Terkadang sudut bibirnya terangkat karena ia mengagumi anak tunggal tuan Jiang itu. Tidak hanya cantik dan manis, ternyata Zishu juga cukup hebat dalam bermain bola basket.
“Jun akan kalah. Jika gadis itu tetap mempertahankan permainannya,” gumam Lui dengan tetap memperhatikan pergerakan Zishu dan Jun.
Saat ini Zishu memang belum bisa merebut bola dari Jun. Tadi pun sudah beberapa kali Jun hampir berhasil memasukkan bola ke ring tapi Zishu selalu bisa menggagalkannya. Bagaimana pun gesitnya pergerakan Jun, tetap saja tidak bisa memasukkan bola.
__ADS_1
“Sudah cukup, kak!” seru Zishu
“Sekarang giliranku!” sambungnya. Sekali mendapat kesempatan, ia dengan cepatnya merebut bola dari Jun. Pergerakannya sungguh tidak bisa di prediksi oleh Jun sendiri. Terlalu gesit!
“Inilah yang kakak ingin lihat,” ucap Jun tersenyum sembari tetap bergerak menghalangi Zishu dan mencari kesempatan untuk merebut bola.
Zishu sudah mulai menggiring bola menuju ring di belakang Jun. Pergerakannya sangat gesit dan bola basket tetap dalam kontrolnya. Di sinilah Zishu mulai memperlihatkan kemampuannya sebenarnya. Ia terus menggiring bola hingga hampir mencapai ring. Tanpa di duga, Zishu melakukan gerakan menipu yang berhasil membuat Jun tertipu. Zishu langsung saja melompat dan memasukkan bola ke dalam ring.
“Aku sudah berhasil memasukkan bola. Aku menang, kak!” Zishu berucap bersamaan dengan kakinya mendarat di lantai. Senyuman puas terlihat dari bibirnya yang berwarna peach.
Di pinggir lapangan, Lui ikut tersenyum. Perkiraannya tepat sasaran. Zishu menang dengan mengagumkan. Gadis itu benar-benar membuatnya tertarik untuk mengenalnya.
“Iya kamu menang dan kakak kalah. Kemampuan bermainmu sudah jauh bertambah hebat,” ungkap Jun mengakui kekalahannya sekaligus memuji Zishu.
“Terima kasih, kak!” tutur Zishu tersenyum
Prok... Prok.. Prok...
“Permainan yang bagus, Zi`er!” seru Chen yang sedang berjalan menghampiri Zishu dan Jun.
“Benar sekali, Chen! Kemenangan nona Zishu pun sangat mengagumkan,” timpal Liang juga ikut bertepuk tangan. Ia berjalan menyusul Chen.
“Kami harus memujimu, nona! Permainan nona sungguh sangat mengagumkan,” sahut Guan sembari berjalan di belakang Liang. Di susul Xuesi, Kang Dishi dan terakhir adalah Lui.
“Terima kasih! Ini hanya kebetulan saja, aku bisa menang. Biasanya kakak lah yang akan selalu menang,” sahut Zishu dengan tetap tersenyum. Senyuman itu tidak kalah memabukkan dari kecantikannya.
“Tapi tetap saja mengagumkan. Aku juga ikut terkagum dengan permainan nona. Gesit dan sangat sempurna!” Xuesi ikut memberikan pujian.
“Aku sependapat denganmu, Liang! Nona Zishu bermain dengan gesit dan sempurna. Selalu berhasil menggagalkan pergerakan Jun untuk memasukkan bola. Kemudian bisa merebut bola dengan cepat dan tidak terduga,” Enlai berpendapat dari apa yang di lihatnya tadi.
“Dan puncak terbaiknya adalah gerakan nona Zishu pada saat memasukkan bola. Lompatan nona sangat sempurna, seperti seorang pemain basket yang handal!” beber Kang Dishi menambahkan pendapat Enlai.
“Bagaimana menurutmu, Lui?” sambungnya menanyakan pendapat pada Lui yang sedari tadi hanya diam.
“Aku setuju dengan kalian. Permainan nona Zishu memang mengagumkan,” jawab Lui, tatapan mengarah pada Zishu. Tatapannya membuat rasa canggung di hati Zishu.
`Kenapa harus menatapku seperti itu?` batin Zishu
__ADS_1
“Terima kasih pujian tuan-tuan! Hanya saja tolong jangan memujiku terlalu berlebihan. Aku tidak sehebat kalian,” Zishu memang tidak merasa enak hati kalau di puji terlalu berlebihan. Di tambah lagi, ia tidak merasa bermain sehebat itu.
“Sudahlah, terima saja pujian mereka! Lagian permainanmu juga memang hebat. Kakak sendiri mengakui itu. Kau juga sama kan, Chen?” Jun mempertanyakan pendapat Chen.
“Benar. Kakak juga mengakui permainanmu hebat, Zi`er!” jawab Chen menganggukkan kepalanya.
“Em baiklah,” sungut Zishu tidak bisa lagi mengelak pujian beberapa laki-laki yang berdiri di dekatnya itu.
“Begitu baru benar, nona!” Xuesi tersenyum, sehingga lesung pipitnya terlihat.
“Kalian bisa bermain sekarang! Aku dan kak Jun sudah selesai bermain,” ucap Zishu sembari menyeka sedikit keringat di wajahnya. Bermain basket sebentar, cukup membuatnya berkeringat.
“Baiklah, Zi`er! Kami akan bermain sekarang. Kamu duduklah menonton. Kalau bosan, kamu bisa berkeliling di gedung ini. Namun tetap jaga penyamaranmu, di gedung ini banyak orang.” Chen menatap Zishu.
“Penyamaran?” beo Jun mengernyitkan dahinya. Ia penasaran dengan maksud Chen. Begitu juga dengan Lui, Enlai, Xuesi, Guan, Kang Dishi dan Liang.
“Ada apa, Chen? Penyamaran apa yang sedang di lakukan nona Zishu,” tanya Kang Dishi penasaran.
“Aku hampir saja memberitahu kalian. Kepulangan Zi`er masih di rahasiakan karena sebuah alasan pribadi. Makanya Zi`er harus melakukan penyamaran saat keluar kediaman. Jadi bisakah kalian tidak membocorkan kepulangannya pada siapa pun sampai beberapa hari ke depan!?” pinta Chen pada teman-temannya itu.
“Kalau benar ada alasan pribadi, kami tidak akan membocorkan hal ini. Benarkan semuanya?” tanya Guan pada teman-temannya.
“Iya benar. Tenang saja, nona Zishu!” jawab Lui mewakili teman-temannya yang hanya menganggukkan kepala.
“Jangan khawatirkan hal itu, Little Baby! Kepulanganmu tidak akan di ketahui siapa pun selain kami,” Jun sebenarnya penasaran alasan kepulangan Zishu di rahasiakan. Namun yang namanya alasan pribadi, berarti itu privasi dan tidak berhak di ketahuinya.
“Kalau begitu terima kasih! Kalian bermainlah,” tutur Zishu, sebelum akhirnya ia berjalan ke pinggir lapangan.
Zishu pergi ke pinggir lapangan dan mendudukkan dirinya ke salah satu kursi yang ada di sana. Ia menghembuskan nafas leganya. Kenapa? Ia tadi sangat canggung karena Lui terus menatapnya tanpa henti. Zishu berpikir kalau ada sesuatu di wajahnya tapi ia sudah memeriksanya dan tidak ada apa pun.
`Aku tidak mengerti kenapa tuan Lui itu menatapku seperti itu!? Apa benar ia sudah tahu kalau aku memfotonya diam-diam? Arghh ini memalukan! Pasti tuan Lui ingin meminta penjelasan dariku, makanya menatapku seperti itu.` batin Zishu
Di saat Zishu tengah sibuk berbicara di hatinya, di tengah lapangan sudah berlangsung permainan basket. Permainan yang terjadi di antara dua tim. Masing-masing tim terdiri dari 4 kelompok. Chen, Lui, Xuesi dan Guan tergabung satu kelompok. Jun, Liang, Kang Dishi dan Enlai juga satu kelompok. Mereka bermain dengan serius untuk bisa mendapatkan skor serta kemenangan.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...