
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
Seperginya Chunying dari sana, barulah Lui menghampiri Zishu.
“Terima kasih atas undangannya, nona Zishu!” ungkap Lui pada Zishu, bernada formal.
“Eh—Iya sama-sama!”sentak Zishu rada terkejut akan kehadiran Lui tiba-tiba.
Padahal tadi Zishu melihat Lui sibuk berbicara dengan Chen. Jun dkk juga ada di sana. Sekarang Lui sudah berdiri di hadapannya.
“Saya pulang dulu!” pamit Lui, di balas dengan anggukan kepala Zishu.
Lui tersenyum tipis dan ingin berjalan pergi. Namun sebelum itu, ia sempat mendekatkan dirinya ke arah Zishu dan mengucapkan sesuatu.
“Pergi ke taman belakang pada jam 2 nanti. Aku menunggumu, sayang!” seru Lui pelan tapi cukup di dengar oleh Zishu.
Usai mengucapkan itu, barulah ia berjalan pergi. Tanpa menunggu balasan dari Zishu.
`Hah jam 2 nanti? Apa yang ingin di lakukannya?` batin Zishu
Zishu bertanya-tanya dalam hatinya. Rasa penasaran di rasakannya tapi juga tidak terlalu di pikirkan olehnya.
“Aku ke kamar duluan, Nek!” seru Kai berpamitan pada nyonya Jia Lee.
Suara Kai menyadarkan Zishu.
“Aku juga duluan,” timpal Daiyu.
“Aku juga sama, Nek. Mataku sudah mengantuk hoammm,” Yuei ikut menimpali di sertai dengan mulutnya menguap. Tampak sekali kalau ia sudah benar-benar mengantuk.
“Ya kalian pergilah beristirahat. Kamar kalian seperti biasanya,” ucap nyonya Jia Lee hangat pada ketiga cucunya itu.
“Oke nek!”seru Daiyu mewakili Yuei dan Kai. “Pah, Mah, kami duluan! Selamat malam!”
“Selamat malam juga!” sahut nyonya Rou seorang diri. Sedangkan tuan Bi`an, tuan Houcun dan nyonya Liena hanya mengangguk saja.
Kai, Yuei dan Daiyu bergegas pergi ke kamar mereka.
“Aku mau istirahat sekarang. Selamat malam!” tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Feiyu beranjak berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamarnya. Raut wajahnya terlihat tidak senang. Usai melihat Chunying mencium tangan Zishu.
“Nenek juga beristirahatlah sekarang! Jam sudah lewat tengah malam,” ucap Zishu seraya memegang tangan nyonya Jia Lee.
“Iya nenek istirahat,”balas nyonya Jia Lee tersenyum.
“Biar aku saja yang mengantar nenek ke kamar. Boleh kan!?” tanya Jie
__ADS_1
“Tidak ada yang melarangmu, Jie!” jawab Zishu cepat, senyuman tipis mengembang di bibirnya. “Benarkan, Nek?”
“Iya benar. Nenek justru senang kalau di antar kamu,” sahut nyonya Jia Lee.
“Hehe ayo nek! Aku antar sampai kamar nenek,” Jie segera menghampiri nyonya Jia Lee. Memegang tangan neneknya itu.
“Kalian semua juga pergilah beristirahat!” titah nyonya Jia Lee, sebelum pergi ke kamarnya.
“Iya, Bu! Kami sudah mau pergi beristirahat,” tuan Houcun meletakkan gelas yang sudah habis minumannya.
“Kamu juga, Zi`er!” seru nyonya Jia Lee pada Zishu.
“Siap, Nek! Tenang saja,”
Nyonya Jia Lee pergi menuju kamarnya, di antar Jie. Tidak lupa pula pelayan pribadinya ikut dengannya. Hingga di ruangan itu hanya tersisa Zishu, Chen, tuan Bi`an, tuan Houcun, nyonya Rou dan nyonya Liena.
“Ayo ke kamar, Pah!” ajak nyonya Liena.
“Ya baiklah,” singkat tuan Bi`an.
Tuan Bi`an dan nyonya Liena langsung berjalan pergi. Keduanya tidak berniat sama sekali untuk berbicara dengan Zishu.
“Papah duluan, Mah!” seru tuan Houcun, setelah tuan Bi`an dan nyonya Liena pergi.
“Iya Pah,”
“Sayang istirahat gih! Kamu pasti sudah lelah kan?”nyonya Rou menghampiri Zishu yang berdiri tidak jauh darinya. Kemudian mengelus lembut kepala Zishu.
“Lelah sedikit. Tante duluan saja istirahat! Aku mau bicara dulu dengan kakak,” Zishu merasa nyaman mendapat perlakuan hangat seperti itu.
“Em baiklah. Tante duluan tapi kamu harus istirahat setelah selesai. Mengerti!?”
“Sangat mengerti, Tan!” sahut Zishu tersenyum lagi. Baginya sosok nyonya Rou sama persis seperti mamanya.
“Kamu juga beristirahat, Chen!” titah nyonya Rou.
“Pasti tante,” balas Chen cepat.
“Ya sudah, tante duluan! Selamat malam!”
“Selamat malam juga, tante!” Zishu dan Chen membalas secara bersamaan.
Kemudian nyonya Rou pergi. Menyusul tuan Houcun yang mungkin saja sudah sampai di kamar.
“Kita bicara di ruang kerja, Kak!” Zishu menatap ke arah Chen. Tatapannya tampak sekali serius.
Sontak Chen menganggukkan kepalanya. Ia tahu kalau pembicaraan itu pasti benar-benar serius dan tidak bisa di tunda untuk membicarakannya.
__ADS_1
***
Ruang kerja
“Aku ingin kakak melakukan sesuatu untukku,” tanpa basa-basi, Zishu langsung the to point.
Saat ini ia dan Chen berada di ruang kerja papanya. Ruangan itu kedap suara dan tidak akan ada yang bisa mendengar dari luar. Sehingga Zishu bisa leluasa berbicara dengan Chen.
“Hmmm sebelum itu, ceritakan dulu tentang kejadian tadi. Kakak ingin tahu,” pinta Chen yang sudah sangat penasaran.
“Jadi begini...” Zishu pun langsung menceritakan kejadian yang tadi menimpanya.
Ia menceritakan dengan singkat tapi cukup detail.
“Huffft baguslah kamu tidak celaka. Kakak minta maaf karena sempat lengah. Jika tidak ada Lui, mungkin saat ini kakak akan merasa sangat bersalah padamu. Sekali lagi maaf, Zi`er!” ungkap Chen di sela menghela nafas cukup lega.
“Tidak masalah, Kak. Kakak tidak salah apa pun. Jadi jangan minta maaf, oke!?” sahut Zishu.
“Tapi kan—”
“Tidak ada tapi,” celetuk Zishu menyela ucapan Chen.
“Ya baiklah,” sungut Chen pasrah. “Lalu apa yang harus kakak lakukan untukmu?”
“Tidak sulit. Kakak cukup cari orang bayaran. Pinta orang itu untuk menculik kak Feiyu!”pungkas Zishu, mengejutkan Chen.
“Menculik? Kamu serius, Zi`er?” tanya Chen memastikan terlebih dulu.
“Buat apa aku bercanda, Kak. Aku ingin kak Feiyu di culik. Anggap saja ini sebagai balasan atas kejadian tadi. Mereka berani menyewa seseorang untuk menculikku. Sekarang gantian dong. Masa Cuma mereka yang bisa melakukan itu, sedangkan aku tidak. Tidak menyenangkan!” seloroh Zishu bernada serius, di sertai senyum nakalnya.
“Kamu tidak berubah hehe,” Chen terkekeh pelan. “Tapi kakak akan melakukan seperti permintaanmu,”
“Kakak paling bisa ku andalkan. Ku ingin kak Feiyu di culik besok atau lusa. Cari orang yang hanya bisa menculik biasa, tidak sampai melukai. Aku ingin orang seperti itu,” Zishu tersenyum lebar saat mengucapkan. Di otaknya sudah ada rencana sempurna untuk hal itu.
“Jadi hanya menculik saja? Lalu apa selanjutnya?” tanya Chen sedikit mengernyitkan dahinya. Ia belum bisa memahami apa rencana yang tengah di persiapkan oleh Zishu.
“Seperti pada penculikan pada umumnya. Minta tebusan bernilai fantastis,” jawab Zishu benar-benar ingin rencana pembalasannya sempurna.
“Kenapa tidak di lukai saja?” tanya Chen lagi.
“Tidak menyenangkan. Hmmm tapi di lukai dikit, juga tidak masalah!” Jawab Zishu.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
__ADS_1
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...