
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
Pemilik dari sepasang mata yang melihat Zishu, ingin menghampirinya. Namun tidak jadi sebab harus pulang secepatnya.
“Nanti aku tanyakan langsung saja padanya,” gumam orang itu seraya berlari pergi.
Keberadaan orang itu memang tidak di sadari oleh Zishu atau pun Lui.
“Bagaimana keadaan lenganmu sayang?” Lui bertanya usai menyeka keringat Zishu.
“Jauh lebih baik dari sebelumnya,” sahut Zishu.
Lui menghela nafas lega. Ia hampir melupakan luka di lengan istrinya itu. “Baguslah,”
“Bicara soal lukamu, anak buahku sudah memantau pergerakan orang itu. Semua berjalan sesuai keinginanmu, sayang. Sekarang bolehkah aku memberinya pelajaran?” sambungnya.
Ia serius dengan ucapannya tadi malam. Orang itu pasti akan di berinya pelajaran yang setimpal. Mengganggu sampai melukai orang terdekatnya, berarti mencari masalah dengannya.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak melarang,” ucap Zishu memberikan ijinnya. Terserah Lui mau melakukan apa pada orang itu.
“Terima kasih, sayang. Sekarang kita pulang?” tanya Lui.
Zishu mengangguk setuju. Kemudian ia dan Lui beranjak dari duduk. Berlari santai menuju ke kediaman Lui yang letaknya tidak terlalu jauh.
***
Sesampainya di kediaman Lui, Zishu bergegas mengambil tas, ponsel dan berkas miliknya. Ia akan pulang sekarang untuk bersiap-siap. Perjalanannya menuju kota Shanghai sekitar 3 jam lagi dan ia akan ke perusahaan dulu, sebelum berangkat.
“Jadi kamu akan pergi ke perusahaan dulu, sayang?” Lui bertanya pada Zishu yang tengah mengirim pesan pada AnRan—Sekretaris barunya.
“Sekitar 3 jam lagi, aku baru berangkat ke Shanghai. Masih banyak waktu dan itu lebih baik ku gunakan di perusahaan,” jawab Zishu melirik sekilas ke arah Lui.
“Hmmm baiklah, sayang!” deham Lui ringan. “Sayang jangan pulang dulu! Tunggu aku sebentar. Nanti aku antar kamu pulang,”
“Em—Oke,” Zishu menyetujuinya tanpa berpikir lagi.
Setelah mendengar jawaban dari Zishu, Lui pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dalam kisaran 15 menit lebih. Selesai membersihkan diri, Lui keluar dari kamar mandi. Matanya terpaku pada Zishu yang sedang sibuk menata setelan jas miliknya, lengkap beserta sepatu, kaos dan gelang jam.
“Kamu lagi apa, sayang?” pertanyaan itu mengejutkan Zishu. Terlebih lagi, saat ini Lui hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Sehingga dapat terlihat otot-otot tubuhnya yang kekar, termasuk roti sobek idaman para perempuan.
__ADS_1
Sontak Zishu memalingkan wajahnya, perasaannya gugup melihat pemandangan seperti itu.“I—Ini aku sedang menyiapkan pakaian untukmu. A—ku tidak tahu ini akan sesuai keinginanmu atau tidak,”
Lui terkekeh pelan. Istrinya itu benar-benar lucu.
`Fuffft—Hahaha dia sedang gugup melihatku seperti ini? Lucu sekali,` batin Lui
“Aku pasti menyukai apa pun yang kamu siapkan, sayang.” sahut Lui bersikap biasa saja sambil berjalan mendekati Zishu. .
“Ba—baguslah,” gagap Zishu tanpa berani menatap Lui. Laki-laki itu begitu tampan dengan roti sobek di dadanya yang bisa meruntuhkan pertahanan jiwanya.
`Kyaa kenapa roti sobek miliknya begitu menggoda! Aku ingin menyentuh. Ah tidakkk—Apa yang aku katakan ini tidak benar,` batin Zishu
“Kenapa sayang, hmmm? Apa ada yang salah denganku?” tanya Lui pura-pura tidak mengerti. Bahkan ia sengaja ingin menjahili istrinya itu.
“Ti—tidak,” jawab Zishu makin tergagap.
“Kalau begitu coba lihat aku, sayang! Aku di sini, bukan di sana,” titah Lui tersenyum samar. Menyenangkan sekali, bisa menjahili Zishu.
“Tapi—”
“Tidak ada tapi sayang. Berbaliklah!”Lui bernada serius. Menandakan tidak ada yang boleh menolak perintahnya, termasuk Zishu.
Terpaksa Zishu berbalik badan. Memberanikan diri menatap Lui yang telanjang dada. Rambutnya basah tidak tertata. Terlihat tampan sempurna bukan?.
“Begini lebih baik,” sudut bibir Lui terangkat.
“Sekarang sebaiknya kamu berpakaian. Ta—takutnya nanti telat datang ke perusahaan,” ucap Zishu sedikit menundukkan pandangannya.
“Kalau begitu kamu bantu aku berpakaian. Bagaimana sayang?” muncul ide jahil di otak Lui. Istrinya itu tidak ingat bahwa dirinya adalah pemimpin perusahaan. Dimana ia bisa datang ke perusahaan, sesuka hatinya.
“Ti—Tidak. Aku mau bantu bikin sarapan dulu. Kamu berpakaian sendiri saja,” tanpa menunggu jawaban dari Lui, Zishu sudah berlari pergi keluar dari kamar. Wajahnya merah padam.
Sontak Lui tertawa lepas melihat itu. “Hahaha... Dia menggemaskan sekali,”
Puas tertawa, Lui menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mengambil pakaiannya. Setelan jas berwarna Army dengan kemeja hitam, perpaduan yang bagus dan ia menyukainya. Segera di pakainya setelan jas itu beserta benda-benda pelengkap lainnya. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuknya bersiap. Setelah selesai, ia bergegas turun ke lantai dasar. Tepatnya ke ruang makan, dimana istrinya itu sedang berada.
“Selamat pagi, tuan!” para pelayan menyapa Lui yang baru saja memasuki ruang makan.
“Pagi juga,” balas Lui tanpa menatap para pelayan itu. Matanya fokus tertuju pada Zishu yang sudah duduk di salah satu kursi.
“Apa sarapan pagi ini, sayang?” tanyanya.
__ADS_1
Para pelayan ingin menjawab tapi di urungkan. Mereka sadar pertanyaan itu untuk Zishu. Jadi Cuma Zishu yang berhak menjawabnya.
“Sarapan yang bisa membuat kita kenyang,” jawab Zishu asal. Hatinya masih gugup karena kejadian tadi. Mengingatnya saja sudah membuat pipinya merah padam.
Seketika para pelayan terkikik geli. Nonanya itu benar-benar lucu.
“Hhaha baiklah sayang. Kita makan sekarang,” Lui tertawa ringan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Eum—Iya,” sahut Zishu cepat.
Lui mendudukkan dirinya di dekat Zishu. Jas Army miliknya belum di pakai dan di letakkan di kursi lain. Tubuhnya hanya terpakai kemeja hitam di lapisi rompi Army dengan dasi berwarna senada. Bawahannya juga berupa celana panjang berwarna Army dan sepatu hitam. Di tangannya melingkar sempurna gelang jam hitam. Semua barang itu tentu dari merek ternama. Penampilannya semakin sempurna dengan rambut hitamnya yang tertata rapi. Sangat sempurna!
Tidak dapat di ungkiri oleh Zishu, suaminya itu selalu terlihat tampan dalam penampilan apa pun. Saking tampannya, ia sampai enggan untuk berkedip.
`Kenapa ada makhluk setampan ini—Hikss!?` batin Zishu
“Ada apa sayang?” tanya Lui menyadarkan Zishu.
“Tidak apa-apa! A—Ayo kita makan!” jawab Zishu spontan.
“Iya sayang,”
Zishu dan Lui segera memulai sarapan mereka. Suara sendok bersentuhan dengan piring mengiringi suasana keduanya selama sarapan. Para pelayan yang tadi ada di ruang makan, juga sudah pergi. Sudah menjadi kebiasaan untuk mereka pergi saat Lui makan.
Beberapa menit berlalu...
“Sudah selesai, sayang?” Lui bertanya usai sarapannya habis.
“Sudah,” jawab Zishu yang baru selesai menghabiskan sarapannya.
“Kita berangkat?”
Zishu mengangguk pelan. Sebelum ia dan Lui beranjak pergi meninggalkan ruang makan. Para pelayan bergegas masuk ke ruang makan, menjalankan tugas mereka seperti biasanya.
“Apa tidak masalah kamu mengantarku pulang? Padahal aku bisa menelepon kak Lin untuk menjemputku,” ucap Zishu di sela berjalan berdampingan dengan Lui.
“Tentu tidak masalah. Terlebih lagi kamu istriku. Aku akan tenang jika mengantarmu sendiri, sayang!” sahut Lui tersenyum tipis. Hiks—Senyumannya bikin meleyot seorang Yan Zishu.
... ______...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...