
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Jam 06.30 pagi,
Di Kediaman Yan Utama.
Lui sudah bangun sejak 10 menit lalu. Akan tetapi ia masih enggan beranjak dari ranjang. Kedua matanya seakan tidak bosan untuk melihat Zishu yang masih tidur dengan nyenyak dalam pelukannya. Sesekali ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu. Posisinya sekarang masih sama. Hanya posisi Zishu berubah. Wajahnya jauh lebih dekat dengan Lui dan tangan kanannya terletak di dada berotot itu.
“Aku tidak tahu, kenapa bisa tertarik denganmu. Aku hanya tahu, hatiku menginginkanmu. Tidak akan ku biarkan kamu pergi dariku dan aku berharap kamu selalu bersamaku,” gumam Lui menatap intens wajah polos Zishu.
Tangannya bergerak mengelus pipi istrinya itu, sampai membuat empunya merasa terganggu.
Perlahan mata Zishu sayup-sayup terbuka, menetralkan cahaya yang masuk dalam. Di saat itu juga matanya menangkap wajah tampan suaminya.
“Eummm pagi!” sapa Zishu bernada khas orang bangun tidur. Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.
“Pagi juga, Sayang!” balas Lui seraya mencium singkat kening Zishu. Pucuk kepalanya juga di ciumnya. “Maaf mengganggumu. Lanjutkan tidurmu,”
“Heum,” Zishu mengangguk pelan dan kembali memejamkan matanya. Ia sangat mengantuk dan lelah dengan acara tadi malam.
Zishu yang seperti sekarang, terlihat seperti bayi di mata Lui. Benar-benar menggemaskan. Sehingga membuatnya sangat berat hati untuk pergi. Tetapi mau bagaimana lagi? Sekarang ia harus pergi sebelum anggota keluarga Yan bagian terbangun.
“Sayang sekali aku harus pergi sekarang. Padahal aku berat meninggalkanmu hmmm,” Lui masih senantiasa menatap intens wajah cantik istrinya.
“Tidur nyenyak, Sayang! Kita bertemu lagi nanti. Aku pergi dulu,” sambungnya. Ia mencium singkat kening Zishu dan pucuk kepalanya.
Dengan hati-hati ia menarik secara perlahan tangan kanannya dari bawah kepala Zishu. Lui berhasil melakukannya dan segera beranjak dari ranjang. Tidak lupa ia menyelimuti tubuh istrinya itu. Kemudian langsung berjalan pergi keluar. Selama berjalan pergi dari kamar Zishu, Lui melihat keadaan kediaman. Ia memastikan tidak ada keluarga Yan bagian yang melihatnya, apalagi sampai bertemu dengannya. Tidak masalah jika yang di temunya adalah para pelayan Yan Utama. Di karenakan para pelayan itu mengetahui pernikahannya dengan Zishu.
“Kau di sini?” orang yang memberikan pertanyaan itu membuat Lui berhenti berjalan. Orang itu adalah Chen yang tidak sengaja berpas-pasan dengannya, saat keluar dari kamar.
__ADS_1
“Ya tadi malam aku menginap di sini, Chen!” sahut Lui membenarkan. “Nanti saja kita bicaranya. Aku harus pergi sekarang. Sebelum mereka melihat keberadaanku,”
“Baiklah, aku mengerti!”
Lui tidak membalas lagi dan bergegas pergi. Meninggalkan Chen hanya menatapnya, tanpa memikirkan apa pun.
“Sepertinya Zishu memang sudah mulai menerimanya. Baguslah,” gumam Chen pelan tersenyum samar. Kakinya melangkah menelusuri lantai 2 kediaman.
Lui sudah berada di lantai dasar kediaman Yan Utama. Selama ia berjalan tadi, tidak di lihatnya keberadaan anggota keluarga Yan bagian. Berarti mereka belum ada yang bangun. Di lantai dasar pun ia hanya bertemu dengan beberapa pelayan yang sedang mengerjakan tugas masing-masing. Beberapa pelayan itu tampak terkejut melihatnya tapi tetap menunduk hormat padanya. Lui membalas dengan senyuman tipis, sebelum pergi melewati mereka.
Di luar kediaman sudah terdapat mobil dan juga sopir pribadinya. Ia langsung saja masuk ke dalam mobil yang segera di lajukan sopirnya. Mobil Lui melaju dengan kecepatan sedang, keluar dari kawasan kediaman keluarga Yan yang masih tampak sepi.
***
Tepat jam setengah 8 pagi, Zishu sudah terbangun dan tidak menemukan keberadaan Lui di sampingnya. Ia tahu kalau suaminya itu sudah pergi.
“Sebaiknya aku mandi sekarang. Hari ini harus pergi ke perusahaan,” Zishu beranjak dari ranjang seraya mengucek matanya yang masih terasa mengantuk.
Sesuai kesepakatan beberapa hari lalu, hari ini Zishu memang akan pergi ke perusahaan. Tujuannya untuk melakukan pemeriksaan menyuruh. Ia ingin memastikan tidak ada masalah.
Usai menyemangati diri sendiri, Zishu berjalan menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan dirinya terlebih dulu menggunakan air hangat. Akan tetapi tetap menjaga agar luka di lengannya tidak terkena air.
Sekitar 20 menit lamanya, barulah Zishu selesai melakukan ritual paginya. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono melekat di tubuhnya. Handuk kecil juga membalut rambutnya yang basah. Tampak sekali Zishu sangat segar sekarang. Setelah keluar dari kamar mandi, ia pergi ke ruang pakaiannya. Di sana terdapat berbagai macam pakaian, lengkap dengan aksesorisnya. Hari ini Zishu memilih pakaian cukup formal. Blazer berwarna milo yang mirip jas, Sweter rajut hitam berlengan pendek dan rok ketat berwarna milo senada.
Di lengkapi heels hitam yang tidak terlalu tinggi terpasang sempurna di kakinya. Jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangannya dan anting bulan sabit juga sebagai aksesoris pelengkapnya. Semua barang itu tidak berasal dari merek ternama saja. Jadi jangan salah mengira. Zishu tetaplah dirinya yang sederhana. Satu atau dua barang bermerek yang di gunakannya, hanya untuk formalitas.
“Ini sudah cukup,” gumam Zishu tersenyum melihat tampilan dirinya dari pantulan cermin.
Ia baru saja selesai memoles Make up tipis di wajahnya. Sekaligus menata rambutnya yang sudah di keringkan. Rambutnya di ikat lumayan tinggi. Menyisakan poni-poni tipis di bagian keningnya.
Puas melihat tampilan diri sendiri, Zishu mengambil tas miliknya. Dimana tas itu sudah berisikan benda-benda penting miliknya, termasuk ponsel. Setelah itu, ia pergi keluar dari kamarnya dan tujuannya sekarang adalah ruang makan. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai ke sana. Seperti yang sudah di perkirakannya, semua anggota keluarga Yan bagian telah duduk mengitari meja makan.
__ADS_1
“Selamat pagi, Nek!” sapa Zishu mencium pipi kanan dan kiri neneknya Jia Lee.
Bagaimana penampilan Zishu sekarang, tentu tidak lepas dari tatapan semua anggota keluarga Yan bagian. Namun mereka memilih untuk tidak memedulikan itu.
“Selamat pagi, Zi`er! Wah cucu nenek terlihat sangat cantik,”balas nyonya Jia Lee, di sertai pujian.
“Makasih, Nek!” Zishu tersenyum manis. Tatapannya beralih ke arah Chen. “Pagi kak Chen!”
“Pagi juga, Zi`er! Kamu tampak sempurna dengan outfit itu,” sahut Chen dengan menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya tangan kanannya, membentuk huruf O besar.
“Makasih kak,” ungkap Zishu seraya mendudukkan dirinya di kursi sebelah Chen.
“Sama-sama,”
Usai mendapat balasan Chen, Zishu mengalihkan tatapannya lagi. Kali ini ia menatap satu-persatu keluarga Yan bagian yang tampak tidak memedulikan kehadirannya.
“Selamat pagi semuanya! Aku senang bisa sarapan bersama kalian,” sapa Zishu pada anggota keluarga Yan bagian.
“Selamat pagi, Sayang!” sahut nyonya Rou, tersenyum hangat.
“Ya selamat pagi,”tuan Bi`an membalas sapaan Zishu dengan malasnya.
“Pagi,” singkat tuan Houcun melirik sekilas ke arah keponakannya itu.
“Selamat pagi, Zi`er! Kamu selalu saja terlihat cantik saat menggunakan apa pun,” balas Jie tersenyum hangat.
Selain mereka berlima, tidak ada lagi membalas sapaan Zishu. Nyonya Mye, Kai, Feiyu, Yue dan Daiyu sudah sibuk dengan sarapan mereka.
“Terima kasih, Jie!” seru Zishu menghangat seperti biasanya. Jie menganggukkan kepalanya.
Setelah menyapa semua anggota keluarga, Zishu mulai menyantap sarapannya. Tidak terjadi pembicaraan apa pun. Semuanya sibuk menyantap sarapan masing-masing.
__ADS_1
..._____...
...Terima kasih...