
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
“Baik, nona—Eh maksudku Presider!” AnRan sangat bahagia. Itu terlihat dari raut wajahnya. “Lalu kapan saya bisa mulai bekerja?”
“Besok. Kalau kak AnRan tidak sibuk,” jawab Zishu tersenyum tipis.
“Bisa, Presider! Saya akan datang bekerja besok,” dengan cepat AnRan menjawab pertanyaan Zishu. Sekian lama ia melamar bekerja di banyak perusahaan, baru hari ini di terima. Tentu saja kesempatan ini tidak akan di sia-siakannya.
“Kalau begitu semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” Zishu benar-benar memperlihatkan kehangatannya.
“Terima kasih, Presider!” ungkap AnRan.
***
Sudah 3 jam sejak kepergian AnRan dari ruangannya. Selama itu juga, Zishu menyibukkan diri dengan dua berkas yang di berikan oleh Chen tadi. Ia membaca dan mempelajarinya agar bisa mengerti. Terutama untuk berkas proyek pembangunan hotel di Shanghai. Kakaknya benar, ada yang tidak beres. Dana pembangunannya membengkak, tidak sesuai perkiraan. Padahal semuanya sudah di perkirakan dengan penuh perhitungan yang matang.
“Benar-benar ada yang tidak beres,” gumam Zishu sambil terus mengulang membaca berkas itu. “Jelas ada seseorang di balik hal ini. Siapa pun orangnya, aku harus menyelidikinya besok. Jangan sampai perusahaan mengalami kerugian besar,”
Zishu menutup berkas itu dan meletakkannya ke atas meja. Tatapan matanya lurus ke depan. Jarinya mengetuk-ngetuk meja. Ia tengah memikirkan isi berkas tadi. Dimana berkas itu mencangkup semua perincian mendetail proyek, hingga laporannya.
“Hanya ada dua kemungkinan di sini. Isi laporannya salah atau memang ada orang yang sengaja ingin membuat perusahaan rugi besar,”
Otak Zishu seolah di buat berpikir keras. Berusaha menemukan dimana letak tidak beresnya di proyek pembangunan hotel di Shanghai. Hingga tiba-tiba suara dering ponsel berhasil mengusiknya.
“Lui?” beo Zishu menatap layar ponselnya. Di sana tertera nama Lui—Si penelepon. Tangannya segera meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja. Kemudian mengangkat telepon itu.
“Ya halo?”
“Kamu dimana? Kita jadi bertemu, bukan?” tanya Lui di seberang telepon. Ia sedang berjalan menuju keluar dari perusahaannya.
“Di perusahaan,” jawab Zishu seraya menutup berkas tadi.
“Di mana kita bertemunya?” sambungnya bertanya balik. Matanya melirik ke arah jam tangannya. Ternyata sudah lumayan sore.
__ADS_1
“Bagaimana kalau di kediamanku? Sekalian kamu lihat bagaimana kediamanku,” jawab Lui mengusulkan.
“Em terserah saja tapi aku tidak tahu dimana kediamanmu,” kenyataannya Zishu memang belum tahu dimana kediaman Lui.
“Biar aku jemput kamu ke perusahaan. 15 menit lagi aku sampai di perusahaanmu, Sayang!” seru Lui yang sudah sampai di luar perusahaan dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
“Eh—Eh tunggu!” Zishu tersentak kaget mendengar Lui akan menjemputnya. “Kamu tidak bisa menjemputku di sini. Para karyawanku bisa curiga,”
“Hmmm maaf, Sayang. Aku lupa kalau hubungan kita di rahasiakan,” ucap Lui di sertai deheman ringan.
“Tidak masalah. Begini saja, kamu kirimkan alamatmu. Aku pergi ke sana bersama sopirku,”
“Baiklah, Sayang!”
Setelah itu telepon Zishu dengan Lui berakhir. Tidak berselang lama, Lui mengirimkan alamat kediamannya. Zishu segera beranjak pergi dari ruangannya. Tidak lupa ia membawa kedua berkas tadi. Di luar ruangannya sudah terdapat orang kepercayaan perusahaan yang ternyata di minta oleh Chen untuk standby di sana. Takutnya Zishu memerlukan sesuatu.
“Namamu siapa?” tanya Zishu pada laki-laki berpakaian rapi di hadapannya.
“Saya Hao, Presider! Tuan Chen meminta saya untuk berada di sini. Takutnya Presider memerlukan sesuatu,” jawab laki-laki bernama Hao itu, sedikit menundukkan kepalanya.
“Kalau begitu terima kasih, Hao!” tidak pernah segan Zishu mengucapkan terima kasih. Sekali pun orang itu merupakan bawahannya. Ajaran orang tuanya benar-benar melekat padanya.
“Kita bicara lagi nanti. Saya mau pergi dulu. Kamu bisa kembali bekerja!” sambungnya. Andai saja ia tidak buru-buru menemui Lui, pasti menyempatkan untuk berbicara dengan Hao. Mengenal lebih jauh sosok laki-laki itu.
“Baik, Presider!” sahut Hao menunduk hormat.
Kemudian Zishu lanjut berjalan masuk ke dalam lift khusus. Sedangkan Hao juga masuk ke dalam lift berbeda. Lift khusus itu membawa Zishu turun ke lantai dasar dalam beberapa menit. Sesampainya di lantai dasar, pintu lift terbuka dan Zishu berjalan keluar. Para karyawan yang berada di lantai dasar langsung menunduk hormat padanya. Zishu hanya membalas dengan senyuman tipis. Kakinya terus berjalan, hingga keluar dari perusahaan. Di luar perusahaan sudah terdapat Lin yang telah menunggunya, di samping mobil.
Sebelumnya Zishu memang sudah menghubungi Lin lebih dulu untuk menunggunya di luar perusahaan.
“Mau ke mana, nona?” tanya Lin usai membukakan pintu untuk Zishu.
“Kita ke kediaman Lui, Kak!” jawab Zishu sambil berjalan masuk ke mobil.
Lin hanya mengangguk mengerti dan menutup pintu mobil. Setelahnya ia bergegas masuk ke dalam mobil. Lalu segera melajukannya dengan kecepatan sedang, menjauh dari perusahaan Yan Group. Mobil melaju menuju alamat yang telah di berikan Lui tadi pada Zishu. Selama perjalanan, Zishu menyibukkan dirinya membaca kembali berkas proyek kerja sama dengan Lui.
__ADS_1
Membutuhkan waktu sekitar kurang 30 menit untuk sampai ke kediaman Lui. Mobil Zishu melaju masuk ke dalam halamannya, setelah gerbang terbuka. Mata Zishu tidak berhenti menatap kediaman suaminya itu yang cukup besar dengan di kelilingi pagar kokoh. Halamannya tidak luas tapi terdapat sebuah air mancur di tengahnya. Ada juga beberapa tanaman yang sepertinya sengaja di tanam untuk memperindah halaman.
Belum lagi kediaman Lui yang terlihat indah dengan gaya arsitektur modern berwarna abu-abu di kombinasikan hitam pekat.
“Sangat indah dan apik,” gumam Zishu memuji bangunan kediaman Lui. Ia sebagai seorang arsitek tentu mengerti dalam bidangnya dan pujiannya itu tidak salah. Kediaman Lui memiliki arsitektur indah dan apik dalam pembangunan.
“Kita sudah sampai, nona!”seru Lin membuyarkan tatapan Zishu, tepat di saat mobil berhenti.
Usai memberitahukan itu, Lin turun dari mobil dan membukakan pintu untuk nona mudanya.
“Terima kasih,” ungkap Zishu, di sela berjalan keluar dari mobil. “Kakak bisa pulang dulu. Nanti ku kabari kalau sudah selesai,”
“Saya mengerti, nona!” sahut Lin langsung menunduk hormat pada Zishu. Tanpa bertanya apa pun.
Zishu tersenyum tipis pada Lin, sebelum sopir pribadinya itu pergi. Tinggallah ia yang sekarang berjalan menuju pintu kediaman Lui. Di sana sudah terdapat dua orang pelayan yang sepertinya sengaja di perintahkan untuk menyambutnya.
“Silakan masuk, nyonya! Tuan baru saja pulang dan sedang membersihkan diri. Kami di minta tuan untuk menyambut nyonya,” ucap salah satu pelayan bernada ramah dan terlihat senang. Tampaknya kesenangan itu karena kedatangan Zishu sebagai istri tuannya.
“Terima kasih tapi tolong jangan panggil nyonya! Aku tidak setua itu,” celetuk Zishu dengan masih tersenyum.
“Ba—baik nona,” tanpa membantah, pelayan itu menyetujui perintah Zishu. Ini di karenakan Lui sudah mengatakan pada mereka, bahwa mereka harus menyetujui apa pun keinginan Zishu.
“Itu baru benar,” senyuman puas mengembang di bibir Zishu.
Kedua pelayan itu hanya mengangguk pelan. Kemudian kembali mempersilahkan Zishu untuk masuk. Zishu pun menurut, kakinya berjalan masuk ke dalam kediaman Lui untuk pertama kalinya. Matanya menelusuri setiap sudut kediaman Lui dan lagi-lagi ia di buat takjub. Kediaman suaminya itu memang mengutamakan arsitektur modern tapi tidak berlebihan. Hal itu dapat di lihat dari setiap sudut kediaman, sampai segala perabotannya.
`Kediaman yang sangat menakjubkan!` batin Zishu
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤...
__ADS_1