
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
“Benarkah itu?” tanya nyonya Jia Lee meragukan jawaban Zishu.
“Nenek meragukanku?” tanya Zishu balik dengan mengerucutkan bibirnya.
“Hahaha bukannya nenek meragukanmu. Hanya saja jawaban dan raut wajahmu tidak sesuai,” jawab nyonya Jia Lee di sertai tawanya.
“Tidak sesuai dari mananya, nek? Perasaan sama aja deh,” kilah Zishu masih tidak mau mengakui perasaan bahagianya.
“Masa sih? Nenek rasa beda,” nyonya Jia Lee tetap ragu terhadap jawaban cucu perempuannya itu.
“Ish sama, nek!” desis Zishu makin mengerucutkan bibirnya. Membuat nyonya Jia Lee terkekeh.
“Hmmpph baiklah. Nenek percaya,” balas nyonya Jia Lee terkekeh. Zishu—Cucu perempuannya itu sangat lucu. Padahal jelas-jelas raut wajahnya memperlihatkan kebahagiaan tapi enggan untuk mengakuinya.
“Nah begitu baru benar, nek!” celetuk Zishu tersenyum kembali.
Sebelum nyonya Jia Lee membalas, tiba-tiba datang seorang pelayan perempuan menghampiri mereka.
“Permisi nyonya besar dan nona muda! Maaf saya mengganggu,” ucap pelayan perempuan itu dengan sopannya.
“Ada apa?” tanya nyonya Jia Lee pada pelayan perempuan itu.
“Ini ada kiriman bunga dan hadiah dari tuan muda Gao untuk nona muda,” jawab pelayan perempuan itu seraya menyerahkan kedua hal yang di sebutkannya.
“Dari Gao?” Zishu bersikap biasa saja, menerima bunga dan hadiah berukuran lumayan dari pelayan perempuan itu.
“Benar, nona. Saya tahu karena yang memberikannya tadi adalah pengurus kediaman keluarga tuan muda Gao. Pengurus bilang tuan muda Gao tidak bisa memberikannya secara langsung sebab sedang ada urusan pekerjaan penting. Pengurus juga meminta saya untuk menyampaikan pada nona. Kalau saat ini tuan muda Gao ingin berbicara dengan nona muda,” ungkap pelayan perempuan itu.
“Apa ada hal lain lagi?” tanya Zishu menatap sekilas ke arah pelayan itu.
“Tidak ada, nona muda!” jawab pelayan perempuan itu cepat.
“Baiklah, kalau begitu kamu bisa pergi sekarang!” perintah nyonya Jia Lee pada pelayan perempuan itu. Mewakili Zishu yang tengah mengamati hadiah di tangannya.
“Baik. Saya permisi, nyonya besar dan nona muda!” pamit pelayan perempuan itu mengundurkan dirinya dari hadapan nyonya Jia Lee dan Zishu.
“Biasanya anak itu tidak akan absen di hari besarmu ini. Baru kali ini tidak berhadir. Sebaiknya kamu meneleponnya!” ucap nyonya Jia Lee.
“Iya nek. Aku akan meneleponnya sekarang,” sahut Zishu mengerti.
__ADS_1
“Ya sudah. Nenek mau menghampiri tamu yang lain dulu,”
Zishu mengangguki ucapan neneknya itu. Nyonya Jia Lee pun langsung pergi menghampiri para tamu. Sedangkan Zishu masih mengamati hadiah yang di berikan Gao. Ia penasaran apa isinya.
“Kira-kira apa hadiah yang ku dapatkan dari Gao kali ini? Hmmm aku penasaran sekali. Aku buka sekarang sambil meneleponnya saja,” gumam Zishu sambil berjalan pergi dari sana. Ia berjalan menuju ke area belakang kediamannya.
Di dalam kediaman terlalu ramai dan berisik. Makanya Zishu memutuskan pergi ke belakang kediaman yang lumayan sepi. Di sana ia bisa lebih leluasa untuk berbicara sebentar dengan Gao. Sebelum puncak acara ulang tahunnya tiba.
***
Area belakang kediaman
Sesampainya di area belakang kediaman, Zishu meletakkan bunga dan hadiah dari Gao ke atas meja yang ada di sana. Kemudian ia mengambil ponsel miliknya yang di simpannya di saku tersembunyi gaunnya. Di carinya nomor Gao dan langsung meneleponnya sesudah menemukannya.
[...............]
“Terima kasih. Hmmm tapi coba katakan padaku, pekerjaan apa yang bisa membuatmu tidak datang ke ulang tahunku?” tanya Zishu
[...............]
“Oh benarkah? Pantas saja kau tidak bisa datang,” sungut Zishu mengangguk-angguk mengerti.
[...............]
[................]
“Sudah ku terima. Sekarang aku sedang membukanya,” Zishu membuka dengan cepat hadiah itu. Ia benar-benar hadiah apa yang di dapatkannya kali ini dari Gao.
[.................]
“Mana mungkin aku tidak menyukainya. Aku sangat menyukainya. Sudah lama aku menginginkan ini,” mata Zishu berbinar-binar melihat hadiah Gao.
Hadiah Gao berupa beberapa novel yang di inginkan Zishu, lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Zishu memang pencinta novel dari dulu. Ia bahkan sangat ingin mendapatkan beberapa novel terkenal itu dan tanda tangan penulisnya.
[.................]
“Terima kasih, Gao!” ungkap Zishu benar-benar senang mendapatkan hadiah itu.
[.................]
“Hahaha baiklah. Kita bicara lagi nanti. Aku mau melanjutkan acaraku dulu,” ucap Zishu di sertai tawa ringannya.
[.................]
__ADS_1
“Oke,” balas Zishu singkat. Sebelum akhirnya mematikan teleponnya dengan Gao secara sepihak.
Sesudah mematikan telepon, Zishu melihat satu-persatu novel yang baru saja di dapatkannya dari Gao.
Ketika Zishu sedang sibuk melihat semua novel baru itu, ada seseorang yang berjalan mendekatinya dari arah belakang. Ia pura-pura tidak menyadarinya, sebelum akhirnya orang itu bertindak. Tidak di sangka orang itu ingin membekap mulut Zishu menggunakan sebuah kain. Beruntungnya Zishu sudah siap sedari awal dan langsung menahan tangan orang itu. Tanpa melihat ke arah belakang.
“Siapa kamu!?” tanya Zishu masih dengan posisi membelakangi orang itu. Tangannya menahan kuat tangan orang itu agar tidak bisa membekap mulutnya.
Zishu lumayan pandai dalam bela diri taekwondo. Tidak heran kalau ia bisa menahan tangan laki-laki itu. Kekuatan fisiknya sudah cukup terlatih sejak masih kecil.
“Siapa aku bukan urusanmu. Jelasnya jika Nona ingin selamat, menurutlah denganku. Jika tidak—Nona akan mati,” dari suaranya, Zishu bisa tahu kalau orang itu adalah seorang laki-laki.
“Hidup dan matiku, milikku. Bukan milikmu!” seru Zishu langsung menendang bagian lutut laki-laki itu. Ia masih dengan posisi yang sama.
Kini posisinya Zishu sudah berbalik badan. Tangannya melakukan gerakan mengunci tangan laki-laki itu.
“Kamu suruhan kedua pamanku?” lanjut Zishu bertanya pada laki-laki yang berpakaian layaknya seorang pelayan.
“Aku tidak harus memberikan nona jawaban!” seru laki-laki itu langsung melepaskan tangannya yang tadi di kunci Zishu.
Laki-laki itu mulai melakukan beberapa gerakan taekwondo untuk membuat Zishu terjatuh. Sayangnya gerakannya selalu meleset. Zishu bisa menghindarinya, meski terbilang lumayan sulit sebab dirinya memakai gaun. Sebisa mungkin ia menghindari gerakan laki-laki itu. Tidak henti-hentinya laki-laki itu menyerangnya. Zishu tidak bisa membalasnya dengan cepat. Ia perlu mencari celah untuk bisa membalasnya telak.
“Menyerah saja nona dan ikutlah denganku! Aku tidak akan melukai nona,” ucap laki-laki itu sambil terus menyerah Zishu.
“Aku tidak mau!” tolak Zishu tanpa takut.
“Kalau begitu jangan salahkan aku bila melukai nona!” seru laki-laki itu yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya.
Zishu melihat datar pisau itu. Ia berdecak ringan dan yakin kalau orang itu adalah suruhan kedua pamannya.
`Kalian benar-benar tidak mengejutkan lagi, paman!` batin Zishu
“Memangnya kau bisa?” tanya Zishu sedikit memprovokasi laki-laki itu.
Laki-laki itu tampak kesal mendengar pertanyaan Zishu. Dengan sekuat tenaga laki-laki itu menyerang Zishu. Pergerakannya pun semakin cepat. Sampai Zishu hampir tidak bisa menghindarinya lagi. Namun ia berhasil mendapat celah untuk menyerang balik. Zishu melakukan satu tendangan tepat mengenai perut laki-laki itu. Meski tendangannya berhasil mengenai laki-laki itu sampai hampir terjatuh, lengannya juga terkena goresan pisau.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...
__ADS_1