
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
...______...
“Kata siapa tampan?” tanya Zishu menatap jengah sang suami yang tampak percaya diri.
“Kataku dan kamu juga pasti mengakui itu,” jawab Lui menghadap ke arah Zishu. Matanya berkedip menggoda.
Pipi Zishu merah menahan malu. Ia memang mengakui ketampanan Lui—Suaminya. “Apa salahnya mengakui ketampanan suami sendiri? Tidak ada kan?”
“Iya tidak salah. Aku justru senang di akui olehmu, sayang!” seru Lui tersenyum lebar, tepat bersamaan suara ponsel Zishu berdering.
“Sebentar—Aku angkat telepon dulu,” ucap Zishu yang langsung di angguki Lui.
Zishu mengambil ponselnya yang berada di nakas sampingnya. Tanpa merubah posisinya di pelukan Lui. Di lihatnya sekilas nama si penelepon, lalu mengangkatnya.
[......................................]
“Tidak masalah. Katakan ada apa!?” tanyanya pada si penelepon.
[...................................]
Raut wajah Zishu tiba-tiba berubah kala mendengar ucapan si penelepon. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Lui. Penasaran—Ya Lui penasaran tapi enggan bertanya sebelum istrinya itu mengakhiri teleponnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya.
[..................................]
“Aku akan segera ke sana!”
[.................................]
Tut...
Telepon di matikan secara sepihak oleh Zishu. Raut wajahnya tidak sebaik sebelum menerima telepon barusan.
“Ada apa, sayang?” tanya Lui seraya mengelus lembut kepala istrinya itu.
Zishu menatap intens ke arahnya. Kemudian menghela nafas berat. “Aku harus pergi ke proyek sekarang! Ada beberapa pekerja yang mengalami kecelakaan akibat robohnya sebagian dinding proyek,”
Terkejut—Lui memperlihatkan keterkejutan yang sama. Namun ia juga memikirkan perasaan Zishu sekarang, pasti terkejut sekaligus khawatir terhadap para pekerja yang menjadi korban.
__ADS_1
“Sayang jangan khawatir! Mereka pasti akan baik-baik saja,” ucap Lui menenangkan Zishu yang memang merasa khawatir akan keadaan para pekerja itu.
“Aku juga berharap mereka baik-baik saja,” sahut Zishu meyakinkan diri sendiri, bahwa para pekerja itu tidak terluka parah.
“Ya sudah—Aku mau siap-siap dulu!” sambungnya. Ia bersiap untuk beranjak bangun tapi di tahan oleh Lui.
“Nanti ku antar ke proyek ya?” Lui menatap Zishu yang juga menatapnya balik.
“Bukannya kamu ada janji bertemu kolega?” tanya Zishu.
“Iya benar tapi aku antar kamu dulu, sayang. Baru pergi ke tempat pertemuan,” jawab Lui tersenyum tipis dan tanpa berpikir lagi, Zishu langsung mengangguk setuju.
“Sekarang pergilah bersiap-siap dulu!” sambungnya.
Lui tidak lagi menahan Zishu dalam pelukannya. Kemudian Zishu segera beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi.
***
Zishu sudah siap dengan pakaian serba hitam. Tank top hitam, di lapisi blazer hitam. Bawahannya memakai celana berwarna senada dan sneakers putih terpasang di kakinya. Ia juga menyempurnakan penampilannya dengan memoles make up tipis di wajahnya dan rambutnya di ikat rendah. Simpel tapi sempurna, itulah gayanya.
“Sudah siap, sayang?” tanya Lui dari arah belakangnya. Ia baru saja selesai berpakaian, usai membersihkan diri.
Entah karena sengaja atau selera Fashion sama, Lui juga memakai pakaian berwarna sama. Kemeja hitam melekat sempurna di tubuhnya. Tak lupa lengannya sedikit di gulung, menambah kesan cool. Bawahannya juga memakai celana hitam senada dan sepatu putih. Terlepas dari pakaiannya, Lui menata rambutnya sedikit. Namun cukup membuat penampilannya sempurna.
“Ya sepatu juga,” sahut Lui tersenyum tipis. Apa salahnya coba menyamakan warna pakaian istri. Bukankan itu terkesan romantis?
Manis—Tindakan Lui itu terkesan manis bagi Zishu. Tetapi untuk saat ini, ia simpan dulu pujiannya karena harus ke proyek.
“Em, ayo pergi sekarang!” ajak Zishu, langsung di angguki Lui.
Zishu mengambil tas, lengkap beserta ponsel miliknya. Kemudian ia dan Lui bergegas pergi dari kamar. Tepatnya menuju keluar Villa. Di sana sudah berdiri sopir pribadi Lui di samping mobil yang terparkir. Pintu mobil langsung di bukakan, Zishu dan Lui segera masuk. Setelah itu sopir mulai melaju menjauhi Villa keluarga Yan.
Di dalam mobil
Zishu tengah mengirim pesan pada Mian. Dimana gadis itu sudah lebih dulu berada di lokasi proyek.
[Pastikan tuan Bowen tidak pergi dari sana]
Apa yang terjadi di proyek hari ini, tidak lepas dari masalah yang di perbuat tuan Bowen. Bukan hanya membuat dana proyek membengkak tetapi ada fakta lain terkuak. Bahan bangunan yang di gunakan tidak sepenuhnya kualitas terbaik. Tentu fakta itu di bongkar sendiri oleh pemimpin MTStore. Kualitas bahan yang tidak sesuai membuat bangunannya tidak kuat dan roboh.
“Robohnya dinding proyek tidak bisa di anggap sepele. Kamu akan melakukan apa terhadap hal ini, sayang?” tanya Lui sontak mengalihkan fokus Zishu dari layar benda pipih yang tengah di mainkannya.
__ADS_1
“Memberi pelajaran pelakunya,” jawab Zishu tanpa ekspresi apa pun.
“Butuh bantuan, sayang?” tanya Lui lagi. Dengan kekuasaan Lui—Ia bisa lebih mudah untuk menyelesaikan masalah, daripada Zishu.
Zishu menggelengkan kepalanya. “Masalah ini bisa ku selesaikan dengan caraku sendiri,”
“Baiklah, sayang!”
Kemudian pembicaraan mereka berdua berakhir. Di gantikan keheningan sepanjang sisa perjalanan. Waktu yang di tempuh sekitar 30 menit dengan mobil melaju berkecepatan sedang.
“Aku turun dulu! Tidak perlu menjemput kalau sibuk. Nanti aku bisa pulang dengan sopir sendiri,” ucap Zishu menoleh ke arah Lui yang duduk di kursi sebelahnya.
“Iya sayang. Kabari aku bila terjadi sesuatu yang tidak bisa kamu atasi sendiri!” seru Lui tersenyum tipis, seraya mendaratkan sebuah ciuman di kening Zishu.
Zishu mengangguk pelan—Lalu turun dari mobil usai pintu mobil di bukakan sopir pribadi Lui. Setelah ia turun, sopir menunduk hormat padanya. Zishu hanya membalas dengan senyuman sekilas.
“Dah!” Zishu melambaikan tangannya ke arah Lui, sebelum pintu mobil tertutup.
Lui juga melambaikan tangannya, di sertai senyuman lebar. Usai mendapat balasan, Zishu bergegas masuk ke dalam proyek hotel. Begitu pula dengan mobil Lui yang mulai melaju meninggalkan lokasi proyek.
“Nona!” seseorang berlari menghampiri Zishu yang tengah berjalan masuk. Langkah Zishu terhenti kala mendengar panggilan itu.
“Bagaimana situasinya, Mian?” tanyanya pada orang itu—Mian, baru saja berdiri di hadapannya.
“Dalam kendali, nona. Namun para pekerja mengalami luka yang lumayan serius,” jawab Mian memberitahukan situasi yang terjadi.
“Sudah di bawa ke rumah sakit?” tanya Zishu sambil lanjut berjalan.
“Ya—Mereka sudah dalam penanganan,” jawab Mian, berjalan mengikuti di belakang.
“Lalu bagaimana dengan perintahku?” Zishu menanyakan perihal pesan berupa perintah yang di kirimnya tadi.
“Tuan Bowen ada di dalam,”
Zishu tidak bergeming akan jawaban yang di berikan Mian. Kakinya justru semakin melangkah cepat, menuju tempat di mana tuan Bowen berada. Tak berapa lama, matanya sudah menangkap seseorang yang tengah berbicara dengan beberapa orang lainnya—Termasuk tuan Ming. Pasti mereka sedang membahas soal kecelakaan yang terjadi.
“Ada yang bisa jelaskan pada saya soal kejadian ini?!?”
...______...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...