
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
“Sudah tuan tanyakan padanya soal masalah ini?” tanya Zishu tanpa mengubah posisi duduk nya.
“Sudah, Presider! Fuzei mengatakan bahwa masalah ini bukan bersumber darinya. Memang benar dia bertanggung jawab membeli bahan tapi pengeluaran dana sesuai dengan yang di perkirakan,” jawab tuan Ming tanpa memperlihatkan raut wajah apa pun.
Zishu mangut-mangut mengerti. “Selain Fuzei, apa ada orang lain yang terlibat dalam bertanggung jawab membeli bahan?”
“Tidak ada, Presider. Tetapi dapat saya pastikan, masalah ini benar tidak ada sangkut pautnya dengan Fuzei. Dia sudah lama bekerja bersama saya. Selama ini saya telah mengenali bagaimana sifatnya. Jadi saya harap, Presider tidak mencurigainya. Dia laki-laki yang baik,” ucap tuan Ming tanpa keraguan. Tampaknya Fuzei memang salah orang yang telah di percayanya.
“Semua orang wajib di curigai. Benar, bukan tuan Bowen?” pertanyaan Zishu menatap ke arah orang yang di sebutkan namanya.
“Benar, Presider. Dalam situasi seperti ini memang wajib untuk semua orang di curigai,” sahut tuan Bowen tersenyum tipis.
“Tanpa terkecuali tuan sendiri,” Zishu spontan menimpali.
“Ya termasuk saya!”
“Tapi aku yakin, tuan Bowen tidak akan mengecewakanku. Begitu pula tuan Ming,” ucap Zishu santai.
“Kami pasti tidak akan mengecewakan, Presider!” seru tuan Bowen begitu yakin, di angguki tuan Ming.
“Baiklah, kita sudahi pembicaraan ini. Ku harap tuan Ming dan tuan Bowen dapat membantu menyelesaikan masalah di proyek. Di sini hanya kalian yang bisa di andalkan,” ucap Zishu seraya beranjak berdiri, di ikuti kedua laki-laki paruh baya itu.
“Presider, tenang saja! Sudah seharusnya kami membantu menyelesaikan masalah ini. Secepat mungkin kami akan menemukan pelakunya,” bukan tuan Bowen yang menjawab, melainkan tuan Ming.
Sudut bibir Zishu membentuk lengkungan kecil. “Terima kasih. Kalau begitu, kalian bisa lanjutkan bekerja. Aku akan pergi dulu!”
“Baik, Presider!”
Tuan Ming dan tuan Bowen menunduk hormat pada Zishu yang berjalan melewati mereka. Kemudian baru setelahnya, mereka juga pergi untuk lanjut bekerja.
***
“Nona!” panggil Mian segera menghampiri Zishu.
Sebelumnya Mian pergi sebab mengerti bahwa atasannya itu tidak ingin ada orang lain, di saat berbicara dengan tuan Ming dan tuan Bowen.
“Ada apa, Mian?” Zishu berhenti berjalan, tepat di dekat mobilnya.
__ADS_1
“Apa nona sudah mendapatkan sesuatu dari mereka?” tanya balik Mian yang penasaran.
“Sepertinya iya,” jawab Zishu tersenyum samar, sontak membuat Mian makin penasaran tapi tidak berani bertanya lagi.
Senyuman samar yang di perlihatkan Zishu, bukan tanpa alasan. Ia benar-benar telah mendapatkan sesuatu hal dari tuan Ming dan tuan Bowen. Di pikirannya sekarang telah tersusun sebuah rencana yang nantinya akan menyelesaikan masalah di proyek.
“Kamu akan tahu nanti. Sekarang bisa temani aku ke tempat pembelian bahan?”
“Bisa nona. Letaknya juga tidak jauh dari sini,” sahut Mian cepat.
“Ya sudah. Kita pergi sekarang!” ajak Zishu, spontan Mian mengangguk setuju.
Kemudian keduanya masuk ke dalam mobil. Sang sopir juga bergegas masuk dan mobil langsung di lajukan menuju tempat pembelian bahan.
Seperti yang telah di katakan Mian, letak tempat pembelian bahan bangunan itu tidak terlalu jauh. Hanya memerlukan sekitar 20 menit untuk berhasil mencapainya. Tempatnya tidak berada di pusat kota tapi cukup strategis. Belum lagi tempatnya yang berukuran besar dan pastinya memiliki kelengkapan semua bahan bangunan.
“Kita sudah sampai, nona!” seru Mian memberitahukan. Zishu mengangguk seraya memperhatikan tempat pembelian bahan bangunan itu.
Zishu memasang kacamatanya. Cuaca lumayan terik di siang hari ini. “Kamu tunggu di sini, Mian! Aku akan masuk ke sana sendiri,”
“Baik, nona!” sahut Mian tanpa penolakan.
“Selamat datang, nona! Apa ada yang bisa kami bantu?” seorang laki-laki muda datang menghampiri Zishu.
“Saya ingin bertemu bos kalian. Ada yang perlu saya bicarakan dengannya. Apa bisa?” Zishu bertanya sangat ramah pada laki-laki yang dapat di pastikan adalah salah satu pekerja di tempat ini.
“Maaf, sebelumnya nona siapa?”
“Yan Zishu—Pemimpin Yan Group yang baru,” sahut Zishu tanpa menyembunyikan identitasnya.
Sontak laki-laki itu menjadi terkejut. Pasalnya nama Zishu sudah familiar di telinganya.
“Maaf—Maafkan saya sebab tidak mengenali nona. Saya akan menemui bos dulu. Tolong nona tunggu sebentar!” laki-laki itu tampak canggung.
‘Astaga, kenapa aku bisa seceroboh ini!? Padahal namanya sanga familiar di telingaku. Nona Zishu ini orang sangat penting,’ rutuknya dalam hati.
“Tidak masalah. Baiklah saya tunggu,” balas Zishu tersenyum tipis.
Laki-laki itu bergegas meninggalkan Zishu. Ia pergi menemui bos-Nya terlebih dahulu untuk memberitahukan kedatangan dari pemimpin Yan Group baru tersebut. Sementara itu, Zishu menunggu di tempatnya tadi. Tidak memakan waktu lama, laki-laki tadi kembali ke hadapannya.
“Silakan ikuti saya, Nona! Bos ada di ruangannya,”
__ADS_1
“Oke,” singkat Zishu seraya berjalan mengikuti laki-laki itu.
Arah yang di tuju adalah bagian lantai dua tempat itu. Perlu menaiki beberapa anak tangga, hingga berhasil sampai di sana. Zishu di arahkan masuk ke dalam salah satu ruang yang ada di lantai dua.
Ceklek...
Pintu ruangan di buka oleh laki-laki itu.
“Silakan masuk, nona!”
“Terima kasih,” ungkap Zishu dan laki-laki itu membalas dengan anggukan pelan.
Zishu berjalan masuk ke dalam. Sedangkan laki-laki itu berjalan pergi, usai menutup pintu ruangan bos-Nya. Di dalam ruangan tersebut tidak ada orang tapi terdengar gemercik air dari balik pintu yang ada di ruangan tersebut. Dapat di pastikan bahwa itu adalah toilet. Zishu duduk di sofa yang ada di sana sambil menunggu pemilik ruangan itu. Tidak berapa lama, pintu toilet terbuka. Memperlihatkan sosok laki-laki berusia sekitar 35 tahun, berperawakan tinggi. Matanya langsung menangkap keberadaan Zishu.
“Ah selamat siang, nona Zishu! Maaf tadi saya sedang mencuci muka,” laki-laki itu tidak berbohong. Wajahnya tampak basah akan air.
“Selamat siang juga. Tidak masalah, tuan!” balas Zishu santai, senyumannya melebar. Seakan menunjukkan bahwa kedatangannya bukan untuk membahas masalah di proyeknya.
“Ada apa gerangan sampai nona Zishu mau repot-repot datang ke tempat saya?” tanya laki-laki itu berjalan menghampiri Zishu. Kemudian duduk berseberangan.
“Kalau begitu saya tidak akan sungkan lagi. Siapa yang membuat dana proyek perusahaan saya mengalami pembengkakan?” tanya balik Zishu the to point. Ia sedang tidak tertarik untuk berbasa-basi.
“Apa maksud, Nona? Saya tidak mengerti,” raut keterkejutan terlihat di wajah laki-laki tersebut.
“Saya yakin, tuan tidak sepolos itu. Tuan pasti mengerti apa maksud saya ini. Terlebih lagi masalah pembengkakan dana proyek perusahaan saya, lebih mengarah ke dana pembelian bahan. Tuan sebagai bos dari tempat ini, pasti mengetahui semuanya. Baik itu harga bahan sampai siapa orang yang membeli. Benar bukan, tuan?” cetus Zishu bernada serius.
“Iya benar tapi saya sungguh tidak mengerti maksud nona. Saya tidak pernah tahu-menahu soal masalah itu. Apalagi mengetahui orang yang menjadi pelakunya,” ucap laki-laki itu dengan tenang.
Nyatanya dalam hati, perasaan takut tidak bisa di ungkiri. Kedatangan Zishu yang tiba-tiba, jauh lebih membuatnya takut. Daripada kedatangan para anak buah Chen.
‘Tenanglah. Aku tidak boleh kelihatan gugup, apalagi ketakutan. Bisa-bisa nantinya terbongkar,’ batin laki-laki itu
“Apa tuan yakin?” Zishu bertanya memastikan.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...
__ADS_1