
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Perjalanan menuju Jingshan Park cukup memakan waktu tapi semua itu terbayarkan saat sampai di sana. Jingshan Park tidak kalah indah dari Beijing Botanical Garden. Bunga-bunga Peony bermekaran dengan cantiknya sebab sudah memasuki pertengahan tahun. Warnanya beragam dari putih, pink hingga merah. Memperindah kawasan Jingshan Park dengan beragam warnanya.
Satu hal yang pasti, Zishu menyukai bunga Peony. Di saat bermekaran seperti ini, ia tidak akan menyia-nyiakannya. Zishu memotret keindahan bunga-bunga Peony yang sedang bermekaran. Kemudian ia memetik bunga Peony dengan masing-masing warna berbeda.
“Sangat cantik, bukan kak!?” Zishu memperlihatkan bunga-bunga Peony yang telah di petiknya pada Chen.
“Ya bunga Peony memang cantik. Sayangnya hanya bermekaran di akhir bulan Mei atau awal Juni,” Chen memberikan pendapatnya. Sebagai seorang laki-laki pun, ia tidak menyangkal betapa cantiknya bunga Peony saat sedang bermekaran.
“Meski begitu, bunga Peony terlihat sangat cantik saat bermekaran. Kita tidak di buat rugi datang untuk melihatnya,” timpal Zishu menatap bunga-bunga Peony di tangannya.
“Kamu benar tapi sepertinya kita harus pergi sekarang dari sini. Kakak mendapat kabar kalau nona Jie dan teman-temannya sedang menuju ke sini,” ucap Chen sesaat setelah mendapat kabar dari salah satu bawahannya, lewat pesan singkat yang masuk di ponselnya.
“Tidak heran jika Jie akan ke sini. Ia juga pasti ingin melihat bunga Peony bermekaran,” Zishu terlihat biasa saja. Tidak ada rasa terkejut mendengar sepupunya itu akan datang ke sini.
Yan Jie adalah anak kedua dari tuan Yan Huocun, kepala keluarga Yan bagian Barat. Usianya terpaut beberapa bulan lebih tua dari Zishu. Ia bersahabat dengan Zishu dan Gao. Kuliah di Universitas yang sama seperti Gao tapi di jurusan berbeda. Jie sudah kembali ke Beijing sejak seminggu yang lalu. Sedangkan Gao masih berada di Amerika sampai saat ini. Sifatnya berbeda dengan Feiyu, kakak sepupunya. Jie cenderung lebih baik di bandingkan Feiyu tapi di balik itu, ia orangnya penuh obsesi.
“Ayo pergi kak! Sekarang masih belum saatnya bertemu dengan Jie,” lanjutnya mengajak Chen pergi dan di balas dengan anggukan kepala.
Zishu dan Chen pun segera pergi dari sana sebelum Jie sampai. Meski rasanya Zishu belum puas melihat bunga Peony tapi ia juga merasa enggan bertemu dengan sepupu, sekaligus sahabatnya itu. Zishu memiliki alasan lain penyebab rasa enggan bertemu Jie. Alasan lain itu tentu hanya di ketahui olehnya sendiri.
Sekarang tempat selanjutnya yang ingin di datangi Zishu adalah Xidan Joy City, Mall terbesar sekaligus ternama di Beijing. Memiliki 13 lantai dan eskalator terpanjang di Beijing. Di dalamnya juga terdapat sinema digital terbesar di China dan toko Kosmetik terbesar di Beijing.
***
“Aku sudah datang ke sini. Jadi aku tidak akan pulang dengan tangan kosong. Ayo pergi berbelanja, kak!” seru Zishu ketika sudah memasuki Xidan Joy City.
“Iya, kamu puas-puas berbelanja hari ini. Apa pun yang kamu ingin beli, biar kakak yang bayar. Anggap saja sebagai hadiah kepulanganmu,” Chen tidak ragu untuk membayar semua belanjaan Zishu nantinya.
Uang yang sudah di hasilkannya selama 3 tahun ini, ia rasa tidak akan mudah habis. Terlebih lagi, uangnya juga di dapatkannya dari perusahaan Yan Group. Itu berarti uangnya, juga milik Zishu.
__ADS_1
“Wow inilah yang ku tunggu! Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi heheh,” kekeh Zishu.
Ia dan Chen langsung berjalan menuju ke arah Eskalator yang nantinya akan membawa mereka ke lantai 2. Toko pertama yang ingin di datangi Zishu adalah toko pakaian, berada di lantai 2. Sehingga ia harus pergi menggunakan eskalator untuk sampai ke sana. Sesampainya di lantai 2, Zishu segera masuk ke toko pakaian yang di inginkannya. Di sana ia memilih beberapa set pakaian. Kebanyakan dari set pakaian yang di pilihnya adalah style santai.
Puas memilih pakaian, Zishu berlanjut pergi mencari sepatu, tas, topi, gelang jam hingga parfum. Ia membeli barang-barang yang sesuai dengan keinginannya. Tidak sampai di situ saja, ia juga pergi membeli kosmetik di toko terbesar di Beijing. Di sana ia membeli kosmetik yang sering di gunakannya. Tidak terlalu mahal tapi sangat cocok untuknya. Seperti yang di ketahui, Chen lah yang membayar semua belanjaannya.
Puas berbelanja, Zishu pergi ke wahana permainan. Ia bermain sebentar untuk hiburan. Selama kuliah, Zishu memang jarang bisa pergi berbelanja atau bermain. Hal itu di sebabkan jadwal belajarnya yang sangat padat. Di tambah lagi, ia mengejar waktu lulus yang sudah di targetkannya. Jadi wajar saja jika hari ini ia ingin menikmati semuanya.
Berkeliling belanja sudah, bermain juga sudah dan sekarang saatnya untuk makan siang. Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Zishu dan Chen memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran yang ada di Mall Xidan Joy City. Keduanya memilih duduk di meja paling pojok. Biar lebih leluasa untuk makan dan penyamaran tetap terjaga.
“Lelah?” tanya Chen pada Zishu, sambil melepaskan maskernya.
Saat ini sudah aman untuk melepaskan masker sebab makanan sudah tersaji di atas meja. Pelayan yang tadi mengantarkan makanan pun juga sudah pergi untuk melayani pengunjung lain. Sebaliknya para pengunjung sibuk masing-masing dan tidak memperhatikan mereka.
“Lelah tapi menyenangkan, kak!” jawab Zishu, sebelum meminum cepat jus miliknya. Ia sangat haus setelah puas bermain.
“Minumnya pelan-pelan saja, Zi`er! Nanti kamu tersedak,” tegur Chen pada Zishu yang terus lanjut minum sampai jusnya habis.
“Akhirnya rasa hausku sudah hilang,” cicit Zishu membuat Chen menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Film baru ya!? Aku tidak sabar untuk menontonnya. Sudah kita tidak pergi menonton bersama,” ungkap Zishu tampak antusias.
“Makanya sekarang makan dulu! Sebelum ada yang menyadari keberadaan kita,” Chen sudah menyantap makanannya.
“Heem,” singkat Zishu mengangguk mengerti dan ia pun juga mulai menyantap makanannya.
Selama makan hingga selesai, baik Zishu maupun Chen tidak ada yang berbicara. Sesudah selesai makan, Zishu dan Chen kembali menggunakan masker mereka. Kemudian Chen membayar terlebih dulu tagihan makanan tadi. Setelahnya barulah pergi menonton sinema digital. Tiketnya sudah di beli dan mereka hanya tinggal masuk dan menonton saja. Menonton sinema digital di Mall Xidan Joy City tidaklah rugi.
Layar lebarnya berukuran raksasa dengan kapasitas kursi penonton yang sangat banyak. Setiap kali ada film yang di putar, kursi penonton akan penuh dan juga ramai.
“Hari ini kamu senang, bukan?” tanya Chen ketika film yang di tonton tadi, sudah berakhir.
“Sangat senang, kak! Aku juga sudah puas untuk hari ini,” jawab Zishu sembari memakan popcornnya yang masih tersisa.
__ADS_1
“Jelas saja sudah puas. Kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam,” celetuk Chen menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hahaha iya, kak! Tidak terasa sudah jam 3 sore,” Zishu melihat ke arah jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.
“Sebaiknya kita pulang sekarang. Tubuhku sudah terasa lengket. Nanti baru kita pergi ke tempat biasanya kakak bermain basket,” lanjutnya. Tubuhnya memang sudah lengket karena keringat.
“Ya begitu saja. Lagian juga masih ada waktu satu jam lebih,” timpal Chen setuju.
“Okelah sekarang kita pulang dan menyegarkan diri!” seru Zishu dan Chen hanya mengangguk.
Zishu dan Chen berjalan pergi dari ruangan sinema digital. Di luar ruangan itu, sudah terdapat para bawahan Chen yang sedari tadi menunggu. Semua belanjaan Zishu pun ada pada mereka. Tidak mungkin juga Zishu mampu membawa barang sebanyak itu sendirian. Walau pun Chen ikut membantu tapi tetap saja butuh bantuan para bawahannya untuk membawakan.
“Kalian semua sudah pastikan belanjaan Zi`er tidak ada yang ketinggalan?” tanya Chen pada para bawahannya.
“Sudah, tuan! Belanjaan nona sudah kami bawa semua,” jawab salah satu bawahannya, mewakili teman-temannya yang berjumlah 4 orang.
“Baguslah, sekarang kita pulang!” seru Chen menatap para bawahannya.
Berbanding balik dengan Zishu yang saat ini tengah melihat layar ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dan pastinya itu dari tunangan brengseknya.
`Liburan saja sana! Kenapa harus menganggukku dengan pesan menjijikkan seperti ini!?` batin Zishu
“Baik, tuan!” sahut para bawahannya secara bersamaan. Mereka pun langsung mempersilahkan Zishu dan Chen berjalan lebih dulu.
“Ayo pergi, Zi`er!” ajakan Chen membuat Zishu beralih fokus dari ponselnya.
“Ya, ayo kak!” Zishu membalas singkat pesan dari Chunying dan setelahnya ponselnya di masukkan ke dalam tas miliknya.
Zishu dan Chen sudah mulai berjalan menjauh dari ruangan sinema digital tadi. Tidak jauh di belakang mereka, terdapat para bawahan Chen yang berjalan dengan belanjaan Zishu tadi. Mereka semua berjalan beriringan sampai ke parkiran mobil. Masing-masing dari mereka masuk ke mobil dan kemudian melaju meninggalkan Mall Xidan Joy City.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...