Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 24. Cubitan kepiting


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


... _____...


“Sudahlah, jangan pikirkan hal yang membuatmu tidak senang. Lebih baik menikmati perayaan ini. Pastinya akan membuatmu senang,” ucap Chen mengacak-acak rambut Zishu.


“Baiklah, kak. Hmmm rambutku bakal berantakan total kalau di acak begini,” keluh Zishu. Raut wajahnya yang cemberut membuat Chen merasa gemas di buatnya.


“Hhaha habisnya kamu sangat menggemaskan,” Chen tertawa renyah, bersamaan dengan berhenti membuat rambut Zishu menjadi berantakan sepenuhnya.


“Aku tahu itu,” cicit Zishu. “Oh iya kak. Aku tadi mengatakan pada paman kalau akan pulang 3 hari lagi. Jadi tolong atur berita kepulanganku ya!?” matanya berkedip manja. Siapa yang mampu menolaknya kalau sudah begitu.


“Kakak pasti akan atur, tanpa harus kamu minta seperti ini.” sahut Chen mencubit gemas pipi Zishu. Membuat mempunyai cemberut lagi.


“Kakak—” protes Zishu belum sampai selesai sebab Chen menyela nya lebih dulu


“Iya—iya kakak berhenti mencubitmu,” kekeh Chen sembari menarik kembali tangannya dari pipi Zishu.


“Nih sekali-kali pipi kakak harus rasain di cubit juga. Jangan cuma aku dong,” sosor Zishu langsung mencubit kuat pipi Chen. Tubuhnya yang pendek membuatnya harus berjinjit sedikit. “Sakit gak?”


“Aww—pipi kakak terasa sedikit sakit karena cubitan kepitingmu ini, Zi`er!” ringis Chen mengusap pipinya yang sudah berhenti di cubit Zishu. Sebenarnya cubitan tidak terlalu sakit tapi ia berpura-pura meringis.


“Cubitan kepiting?” beo Zishu dengan alis terangkat.


“Iya cubitan kepiting. Tuh tanganmu mencubit seperti kapitan kepiting,” celetuk Chen membuat Zishu terkekeh mendengarnya.


“Hha kakak ada-ada saja. Masa cubitanku di samakan dengan kapitan kepiting. Beda banget,” Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakaknya itu bisa saja membuatnya bisa seperti ini.


“Udah di samain aja. Kakak sendiri udah ngerasain sakitnya cubitanmu,” cecar Chen. Ia berhenti mengusap pipinya.


“Hahaha baiklah. Terserah kakak saja,” sahut Zishu di tengah tawa renyahnya mulai terdengar.


“Wah apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya seru sampai Little Baby ku ini tertawa,” tanya Jun yang baru saja bergabung dengan mereka berdua.


“Seru apaan!? Pipi ku sakit karena cubitannya,” tunjuk Chen pada Zishu.


“Benarkah? Ah sayang sekali aku tidak melihat secara langsung saat kau di cubit. Pasti sangat seru,” sesal Jun.


“ Oh atau begini saja. Bagaimana kalau Little Baby mengulang adegan mencubitnya lagi? Kakak ingin melihatnya,” lanjutnya bercanda. Ia ingin membalas Chen yang tadi sore tidak mau membantunya.


“Mengulang adegan apaan? Kau saja yang mencoba merasakan cubitan kepitingnya. Aku tidak mau,” suruh Chen


“Aku juga tidak mau,” tolak Jun santai.


“Fuufft kalau sama-sama tidak mau, ya sudah. Tidak perlu di perpanjang lagi oke. Sebaiknya kita kembali bergabung dengan mereka,” ucap Zishu menghentikan kedua kakaknya itu.

__ADS_1


“Iya baiklah, Zi`er!” Chen menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan Jun.


Mereka bertiga segera berjalan kembali ke meja tempat permainan botol putar tadi di mainkan. Di sana sudah tidak ada yang bermain lagi. Melainkan hanya ada pembicaraan santai antara Lui, Enlai, Xuesi, Liang, Kang Dishi dan Guan.


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Jun sembari mendudukkan dirinya di sebelah Lui.


“Biasalah. Kami sedang membicarakan seputar dunia bisnis,” jawab Guan.


“Oh. Daripada kita membicarakan itu, bagaimana kalau sekarang makan malam? Aku sudah memerintahkan para pelayanku untuk menyiapkan makam malam,” ucap Jun sembari melirik ke arah jam tangannya. Waktu telah menunjukkan jam makan malam.


“Ya, aku setuju. Perutku juga sudah lapar. Bagaimana dengan kalian?” Liang bertanya pada Zishu, Lui, Chen, Enlai, Xuesi, Liang, Guan dan Kang Dishi.


“Kami juga setuju,”


Mendapat persetujuan dari semuanya, Jun segera memanggil para pelayannya. Para pelayannya itu berdatangan dengan membawa berbagai menu makanan berbeda dan meletakkannya di meja tempat mereka bermain botol putar tadi. Mereka akan makan malam di sana, di bawah langit sinar bulan serta bintang-bintang bertaburan.


“Mau makan apa, Little Baby?” tanya Jun pada Zishu yang belum mengambil satu pun makanan di atas meja. Mungkin ia bingung memilihnya.


“Em aku mau makan bebek peking, kak!” jawab Zishu setelah menentukan pilihannya. Sudah lama ia tidak memakan bebek peking, makanan khas negaranya.


“Biar kakak ambilkan,” Jun ingin mengambil bebek peking itu tapi Zishu menghentikannya.


“Tidak perlu kak. Kakak makan saja. Aku akan mengambilnya sendiri,” tolak Zishu yang memang tidak ingin merepotkan Jun.


“Baiklah kalau kamu mau mengambilnya sendiri,” sahut Jun. Ia tidak jadi mengambil bebek peking yang berada di tengah menu yang lain.


`Ish kalau tahu gini akhirnya—ku biarkan saja kakak mengambilkannya untukku,` batin Zishu


Ingin ia meminta bantuan Jun tapi kakaknya itu sudah sibuk menyantap makanannya. Sama halnya dengan Chen. Di tengah kesulitan dan kebingungannya, tiba-tiba Lui membantunya. Jarak antaranya dan Lui memang tidak jauh, hanya terhalang Chen. Sehingga Lui bisa membantunya.


Lui memberikan bebek peking itu tanpa berbicara. Ia hanya tersenyum. Berbeda hal dengan Zishu yang merasa kikuk. Saat menerima bebek peking dari tangan Lui—pengusaha muda yang di kaguminya itu.


“Te—terima kasih,” tanpa sadar, Zishu mengucapkannya secara spontan tapi pelan. Tidak ada yang mendengar ucapannya barusan. Namun dari gerak bibirnya, Lui sudah mengerti dan mengangguk pelan.


Setelahnya Zishu mendudukkan dirinya kembali. Melupakan rasa kikuknya dan berusaha bersikap biasa saja. Ia segera menyantap bebek peking yang sudah ada di hadapannya. Terlihat sangat menggugah selera dengan tampilannya dan bau rempah-rempah yang menjadi bumbunya saat proses pemanggangan.


Ia mulai menyantapnya dengan perlahan agar dapat merasakan bumbu dalam bebek peking itu, berubah atau tetap sama.


“Rasa yang tidak pernah berubah,” gumamnya tersenyum samar. Ternyata rasa bebek peking tetap sama seperti dulu. Sangat enak dan ia menyukainya.


Sekarang ia tidak lagi menyantapnya secara perlahan tapi lahap. Itulah dirinya yang sebenarnya. Biasanya para perempuan akan menjaga tata cara makannya di depan banyak orang, terutama di depan laki-laki. Berbeda jauh dengan Zishu. Meski perempuan tapi tidak sungkan makan dengan lahap di depan banyak orang.


Lahapnya Zishu dalam makan tidak lepas dari penglihatan Lui. Ia tersenyum melihat Zishu—gadis ceroboh itu makan dengan lahap. Tidak seperti perempuan pada umumnya yang lebih mementingkan tata cara makan, daripada mengenyangkan perut.


`Hmmpph gadis ini,` batin Lui

__ADS_1


Hanya Lui yang memperhatikan Zishu. Teman-temannya sibuk dengan menyantap makanan sendiri. Mereka mungkin sangat menikmati enaknya makanan yang sudah sengaja di siapkan. Sampai tidak ada pembicaraan apa pun selama makan malam berlangsung.


***


“Terima kasih atas perayaannya, Jun. Makan malam tadi pun menjadi penutup yang sempurna,” ucap Lui ketika sudah berada di luar pintu masuk kediaman Jun.


“Kami sangat menikmati dan menyukainya,” Guan menimpali ucapan Lui.


“Baguslah kalau kalian menyukainya. Aku senang mendengarnya,” sahut Jun tersenyum lebar.


“Baiklah, kami akan pulang sekarang. Sekali lagi terima kasih atas malam ini!” pamit Xuesi mewakili teman-temannya.


“Oke. Kalian hati-hati di jalan!”


Kemudian Lui, Xuesi, Enlai, Liang, Guan dan Kang Dishi pergi dari kediaman Jun. Mereka berlima menggunakan mobil masing-masing.


“Sepertinya kami juga harus pulang sekarang, kak!” seru Zishu saat kelima orang tadi sudah pergi.


“Berdiamlah sebentar lagi di sini. Kakak masih merindukanmu,” bujuk Jun dengan wajah memelasnya.


“Tidak bisa. Kami masih banyak yang harus di bicarakan untuk acara ulang tahun Zi`er. Kalau kau masih merindukan Zi`er, datanglah ke kediaman. Nenek juga merindukanmu,” ucap Chen sebelum Zishu berucap.


“Kak Chen benar. Datanglah ke kediaman kalau kakak merindukanku. Sekalian melepas rindu dengan nenek,” sahut Zishu tersenyum.


“Yah baiklah!” Jun menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Jangan marah, oke!?” pinta Zishu langsung memeluk Jun.


“Iya tidak marah. Hanya sedikit kecewa saja karena tidak bisa berbicara lebih lama dengan Little Baby kesayangan kakak ini,” ungkap Jun tersenyum, sembari membalas pelukan Zishu. Ia sangat menyayanginya.


“Makanya kakak datanglah ke kediaman!” seru Zishu di sela pelukannya.


“Baiklah nanti kakak datang,”


“Oke, aku tunggu kak!” sahut Zishu. “Selamat malam, kak Jun!” ia melepaskan pelukannya dengan Jun.


“Selamat malam juga, Little Baby!” Jun mengacak-acak rambut Zishu.


Zishu dan Chen segera masuk ke dalam mobil mereka. Barulah setelahnya pergi meninggalkan kediaman Jun.


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...


__ADS_2