Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 65. Lari Pagi Bersama


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


... _____...


Gelapnya malam telah berganti. Dinginnya pagi hari menusuk sampai ke tulang membuat semua orang enggan untuk bangun. Terasa nyaman berada di dalam selimut hangat. Termasuk Zishu yang nyaman dalam kehangatan pelukan sang suami. Selimut bernyawa yang mengalahkan hangatnya selimut biasa wk. Begitu nyamannya ia tertidur, hingga suara alarm di ponselnya berbunyi. Suara itu mengganggu tidur lelapnya. Dengan berat, Zishu membuka matanya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk. Sekaligus mengumpulkan kesadarannya.


Setelah kesadarannya setengah terkumpul, Zishu mengedarkan pandangannya. Sudut bibirnya terangkat ketika pandangannya terhenti tepat pada wajah laki-laki tampan yang tengah tertidur sambil memeluknya.


“Tidur saja, dia tampan. Hmmm benar-benar ciptaan yang sempurna,” gumam Zishu tersenyum.


Tangannya terangkat ingin menyentuh wajahnya tapi di tariknya kembali. “Kendalikan dirimu, Zishu! Kau bisa mengganggu tidurnya,” gerutunya pelan.


Akhirnya Zishu hanya diam menatap Lui dalam beberapa menit. Ia berhenti menatapnya saat tersadar, bahwa alarm ponselnya membangunkannya untuk lari pagi. Secara hati-hati Zishu melepaskan pelukan Lui agar tidak membuatnya terbangun. Namun belum sempat ia berhasil, pelukan Lui justru bertambah erat.


“Mau ke mana sayang hmmm?” suara bariton itu terdengar serak—khas orang baru bangun tidur.


“Aku mau lari pagi,” sahut Zishu sedikit mendongakkan kepalanya. Di lihat mata Lui masih terpejam.


Tidak mungkin kan ia bicara saat tidur?


“Aku ikut sayang. Kita lari pagi bersama,” perlahan mata Lui terbuka. Hal pertama yang menjadi objek pandangannya, tentu saja istrinya.


“Pagi sayang,” lanjutnya sembari mendaratkan ciuman selamat pagi di kening Zishu.


“Pagi juga. Apa tadi aku mengganggu tidurmu?” balas Zishu.


“Sedikit,” Lui bercanda tapi itu membuat Zishu merasa bersalah.


“Maaf,”


“Apa yang perlu di maafkan sayang? Aku tadi hanya bercanda,” celetuk Lui tersenyum lebar.


“Benarkah?” tanya Zishu ragu.


“Iya sayang. Jadi tidak kita lari pagi?” tanya Lui balik.


Zishu mengangguk pelan.


“Kita siap-siap sekarang, sayang!” seru Lui belum melepaskan pelukannya.


“Iya,” singkat Zishu.


Lui melepaskan pelukannya. Zishu beranjak bangun lebih dulu. Ia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah selesai, ia keluar dari sana. Sekarang matanya sudah tidak mengantuk. Wajahnya juga tampak segar.


“Aku melupakan sesuatu,” ungkap Zishu pada Lui yang sudah beranjak dari ranjang.


“Apa sayang?” Lui bertanya penasaran.


“Aku lupa membawa sepatuku. Sekarang bagaimana aku lari pagi?” yeah—Zishu melupakan itu. Mana mungkin ia lari pagi tanpa memakai sepatu.


“Aku punya solusinya. Tunggu sebentar, sayang!” Zishu mengangguk setuju. Entah apa yang di sebut Lui sebagai solusi itu.


Segera Lui pergi ke ruang pakaiannya. Ia mengambil sesuatu dan membawanya ke hadapan Zishu.


“Aku pikir sepatuku ini cocok di kakimu. Coba kamu gunakan, sayang!” seru Lui seraya memberikan sesuatu yang tadi di ambilnya.


Tadi ia mengambil salah satu sepatu sportnya. Tidak baru tapi terawat dengan baik. Ia tidak memakainya lagi karena ukurannya yang kecil. Warna sepatunya hampir senada dengan pakaian Zishu.

__ADS_1


“Em baiklah,” Zishu menerima sepatu itu dan langsung di pakainya. Siapa sangka sepatu itu memang cocok di kakinya. Tidak kekecilan atau pun kebesaran.


“Sepertinya memang cocok,” ucap Lui usai sepatunya terpasang sempurna di kaki Zishu.


“Iya, terima kasih!”


“Tidak perlu berterima kasih, sayang. Aku cuci muka dulu,” tangan Lui menyentuh lembut kepala Zishu. Sebelum ia pergi ke kamar mandi.


Seperginya Lui ke kamar mandi, Zishu mengambil ikat rambutnya di tas. Kemudian ia mengikat rambutnya dengan menyisakan poni-poni tipis di dahinya. Begitu saja penampilannya, ia tetap cantik dan manis.


***


Lui sudah keluar kamar mandi. Ia juga sudah memasang sepatu miliknya dan jaket hitam polos. Penampilannya tentu sempurna seperti biasa.


“Sayang pakai ini!” perintah Lui, menyodorkan sebuah jaket hitam sepertinya. Bedanya tidak terlalu polos, ada beberapa motif.


Zishu hanya mengangguk dan menerima jaket itu. Ia pikir jaket itu memang di perlukannya. Di suasana pagi seperti ini memang terasa dingin. Langsung di pakainya jaket hitam itu.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Lui, setelah Zishu memakai jaket.


“Iya,” jawab Zishu.


Keduanya segera berjalan keluar dari kamar. Menyusuri kediaman yang masih sepi karena jam baru menunjukkan pukul setengah 6 lebih. Para pelayan akan mulai bekerja jam 6 pagi. Jadi tidak heran kalau kediaman masih sepi. Keadaannya pun tidak terlalu terang. Ini di karenakan di beberapa ruang, lampu di matikan.


“Kamu sanggup lari pagi dengan celana pendek, sayang? Di luar dingin,” Lui bertanya di sela berjalan.


“Aku sudah biasa. Tidak perlu khawatir,” sahut Zishu terlihat santai.


“Baiklah sayang,”


“Pagi tuan, nona!” sapaan itu berasal dari penjaga yang baru keluar dari posnya. Penjaga itu berumur 30 ke atas.


“Ya pagi pak,” balas Lui hangat, sedangkan Zishu tersenyum tipis membalasnya.


“Tuan dan nona mau lari lagi?” tanya penjaga itu.


“Iya pak. Biar sehat,” jawab Lui tersenyum lebar. Ia selalu memberikan jawaban itu pada penjaganya.


“Saya tahu, tuan! Tuan selalu mengatakan itu,” sahut penjaga itu, Zishu terkekeh mendengarnya. Begitu juga dengan tuan dari penjaga itu.


Pintu gerbang kediaman segera di buka.


“Kami pergi dulu, pak!” pamit Lui.


“Baik, tuan!”


Zishu dan Lui mulai berlari keluar dari gerbang kediaman. Keduanya berlari santai sambil menikmati dinginnya pagi. Selain dingin, udara pagi hari sangat sejuk.


“Menyejukkan,” ungkap Zishu sangat menyukai sejuknya angin pagi.


Lui tersenyum tipis. “Kamu menyukainya sayang?”


“Ya aku menyukainya. Ini menyejukkan. Berbeda saat di siang hari,” sahut Zishu di sela berlari.


“Di siang hari banyak aktivitas terjadi. Udara menjadi tercemar. Sedangkan di pagi hari seperti ini, aktivitas belum di mulai. Bahkan banyak orang yang masih tertidur,”ucap Lui sembari berlari menyeimbangi Zishu.


“Kamu benar,” timpal Zishu menyetujui.

__ADS_1


Setelah itu pembicaraan keduanya berakhir. Di saat berlari memang tidak di anjurkan berbicara. Hal itu bisa membuat patokan oksigen di tubuh lebih cepat habis.


Keduanya berlari dari kediaman Lui, menuju kawasan sekitar kediaman Zishu. Waktu masih pagi begini aman karena tidak akan ada yang melihat mereka berdua. Selama berlari, baik Zishu atau pun Lui mengatur kecepatan berlari mereka. Terkadang berlari cepat dan santai. Hingga tidak terasa sudah lewat setengah jam keduanya berlari.


“Hosh... Hosh...” Zishu sudah berhenti berlari. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Lui juga melakukan hal yang sama dalam beberapa menit.


“Kita duduk dulu, sayang!” ajak Lui, nafasnya sudah terdengar lebih baik daripada tadi.


Zishu berdehem, serta mengangguk. “Ehemmm,”


Lui menarik tangan Zishu. Ia membawanya ke kursi panjang yang ada di sekitar sana. Keduanya duduk di sana untuk beristirahat sebentar.


“Sudah puas berlari hari ini,” ucap Zishu menyandarkan tubuhnya di kursi itu.


“Berlari bersama menyenangkan, bukan sayang?”


“Iya menyenangkan,” sahut Zishu tersenyum manis. Senyuman yang dapat mengalahkan manisnya gula di dunia.


“Jangan tersenyum begitu di hadapan orang lain, sayang!” peringat Lui, tubuhnya juga bersandar seperti Zishu. Tangan kanannya merangkul pundak istrinya itu.


Dahi Zishu mengernyit tidak mengerti. “Kenapa?”


“Senyumanmu terlalu manis, sayang. Takutnya orang lain ikut diabetes melihatmu. Manismu cukup untukku saja,” cetus Lui menggoda.


“Sejak kapan seorang Presider Lui menjadi suka menggoda,” sindir Zishu terkekeh geli.


“Sejak mengenalmu sayang,” balas Lui mengedipkan mata.


Sontak pipi Zishu memerah. Niatnya ingin bercanda dengan Lui, sekarang ia justru salah tingkah.


`Argh dia benar-benar menggodaku!` batin Zishu


“Sudahlah, jangan menggodaku seperti itu!” tegur Zishu menyembunyikan salah tingkah.


“Hahaha... Baiklah, aku berhenti sayang. Takutnya pipimu semakin merah,” tawa Lui pecah. Ia sudah menyadari perubahan warna pipi Zishu karena ulahnya.


“Hmpphh,” Zishu memalingkan wajahnya. Menatap ke arah lain, sebelum tangan kanan Lui menyentuh wajahnya.


“Jangan marah, sayang! Nanti cepat tua,” perlahan tangan Lui bergerak, menyeka keringat yang terdapat di wajah Zishu.


Perlakuan kecil seperti itu membuat Zishu diam. Ia harus bagaimana? Lui—Suaminya itu selalu membuat jantungnya berdetak kencang. Ucapannya dan perlakuan hangatnya benar-benar membuatnya nyaman.


“Apa ucapanku tadi salah, sayang? Sampai kamu diam,” sambungnya. Tangannya berhenti bergerak menyeka keringat Zishu. Matanya beradu tatapan dengan istrinya itu.


Namun tanpa di sadari mereka, dari arah belakang ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Tampak dahinya mengernyit penasaran.


“Zishu—Dengan siapa dia? Apa laki-laki itu Chen? Eh—Tapi bukankah Chen berangkat ke Changsha kemarin? Lalu Zishu dengan siapa?”


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...

__ADS_1


__ADS_2