
...||•🥀Happy Reading•🥀||...
..._____...
“Ah sudahlah! Lebih baik aku beristirahat sekarang,” gumam Zishu menyudahi aktivitasnya menarik-ulur beranda medsosnya.
Zishu beranjak dari sofa, ia berjalan ke arah ranjang King Size miliknya. Zishu meletakkan ponselnya di atas nakas yang berada di samping ranjangnya. Sebelum akhirnya ia membaringkan kembali tubuhnya di atas ranjang yang kasurnya sangat empuk.
“Baiklah selamat beristirahat diriku sendiri,” ucap Zishu pelan pada dirinya.
Setelah mengucapkan itu, perlahan Zishu memejamkan matanya. Di akuinya melakukan penerbangan dari Inggris-China, sangat melelahkannya. Sekarang ia perlu istirahat, sebelum beraktivitas lagi.
***
Di kediaman keluarga Yan Utama
Jam 20.00
Tok... Tok... Tok...
“Zishu!” panggil si pengetuk pada Zishu.
“Ya sebentar!” sahut Zishu dari dalam kamar.
Zishu beristirahat hampir selama 3 jam. Sesudah beristirahat, Zishu tidak keluar kamar. Ia menghabiskan waktunya di kamar dengan berbagai macam hal yang di lakukannya.
Ceklek
“Kakak sudah pulang?” tanya Zishu pada si pengetuk yang tidak lain adalah Chen.
Sekarang Zishu jauh tampak segar daripada tadi pagi. Pakaiannya pun juga santai. Memakai kaos over size dan celana berwarna abu-abu senada.
“Iya, kakak sudah pulang dari satu jam yang lalu!” jawab Chen yang sudah memakai setelan santainya. Kaos polos biru melekat di tubuh kekarnya dengan celana hitam pendek sebagai bawahannya.
“Lho kok gak bilang kalau kakak udah pulang? Padahal ya aku itu nungguin kakak. Aku ingin mendengar banyak hal dari kakak,” gerutu Zishu memasang wajah cemberut.
“Kakak hanya tidak ingin mengganggumu beristirahat. Nanti kakak akan memberitahukan semua yang ingin kamu dengar. Namun sekarang sebaiknya kita turun ke bawa. Nenek sudah menunggu kita untuk makan malam,” ucap Chen tersenyum tipis melihat wajah cemberut Zishu yang sangat menggemaskan.
“Ah iya aku lupa kala sudah waktunya makan malam. Ini gara-gara banyak yang ku kerjakan tadi,” Zishu menepuk dahinya sendiri.
Ia terlalu sibuk mengerjakan banyak hal di dalam kamarnya. Sehingga tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan waktunya untuk makan malam.
“Memangnya apa yang kamu kerjakan itu?” tanya Chen penasaran.
__ADS_1
“Hanya beresin semua barang-barangku saja, kak! Menata kembali semuanya ke tempatnya semula,” jawab Zishu tidak berbohong akan hal itu.
“Kenapa kamu tidak meminta para pelayan saja yang melakukannya?” tanya Chen lagi.
“Ish kakak seperti tidak tahu denganku saja. Aku kan memang lebih suka melakukan semuanya sendiri. Daripada meminta para pelayan melakukannya,” celetuk Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama 3 tahun tidak bertemu, ternyata Chen sudah melupakan kebiasaan dirinya.
“Sudahlah, ayo kita turun ke bawah sekarang! Kasihan nenek menunggu kita,” lanjutnya
“Hahaha maaf, kakak lupa akan hal itu! Ya sudah, ayo kita turun!” sahut Chen menertawakan kelupaannya sendiri.
“Kebiasaan deh!” seru Zishu bersamaan dengannya menutup pintu kamarnya.
Kemudian barulah ia dan Chen pergi ke lantai bawah. Dimana sudah ada nyonya Jia Lee yang menunggu kedatangan mereka berdua.
“Maaf lama, nek!” tutur Zishu, sesaat sampai di lantai bawah.
Lebih tepatnya sampai ke ruang makan. Terlihat nyonya Jia Lee sudah duduk di sana. Di temani beberapa pelayan yang bertugas melayani di meja makan.
“Tidak masalah, Zishu! Nenek mengerti kalau kamu pasti sangat kelelahan, selepas melakukan perjalanan jauh.” Sahut nyonya Jia Lee tersenyum pada cucu perempuannya itu.
“Yah meski begitu aku tetap merasa bersalah karena membuat nenek menunggu,” ungkap Zishu sembari mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah kanan nyonya Jia Lee.
“Sudahlah jangan pikirkan itu lagi! Sebaiknya kita makan malam sekarang. Benarkan Chen?” tanya nyonya Jia Lee pada Chen yang juga mendudukkan dirinya di kursi di sebelah kirinya.
Semua makanan yang tertata rapi di meja makan, merupakan kesukaan Zishu semuanya. Nyonya Jia Lee memang sengaja menyuruh para pelayan dapurnya untuk memasakan semua itu. Anggap saja sebagai makan malam penyambutan kembalinya Zishu ke kediaman Keluarga Yan Utama.
“Wah benarkah, nek?” tanya Zishu menatap antusias ke arah semua makanan yang saat ini berada di hadapannya.
“Iya memang benar! Jadi kamu harus makan yang banyak ya!” jawab nyonya Jia Lee senang melihat sikap antusias Zishu.
“Bukan harus banyak tapi Zizi harus habiskan semua ini, nek!” timpal Chen membuat Zishu melotot.
“Kalau aku menghabiskan semua ini, nanti takutnya tidak bisa berdiri lagi. Jadi kakak harus membantuku untuk menghabiskan semua ini. Benarkan, nek?” bukan Zishu namanya, kalau ia tidak bisa menjahili Chen balik.
“Benar! Kamu harus makan yang banyak juga, Chen.” sahut nyonya Jia Lee membenarkan ucapan Zishu.
“Tapi nek...?” Chen ingin protes tapi nyonya Jia Lee tidak menerima akan hal itu.
“Tidak ada kata tapi, Chen! Sekarang ayo mulai makan malam!” ajak nyonya Jia Lee.
“Baiklah, nek!” sahut Chen pasrah.
Ia memang tidak biasa makan banyak. Mungkin karena kehidupannya dulu, sehingga membuatnya terbiasa untuk makan sedikit.
__ADS_1
“Begitu baru terbaik hehehe!” kekeh Zishu yang bisa kuat melihat Chen pasrah seperti itu.
Setelah itu para pelayan yang bertugas melayani di meja makan, memulai tugasnya. Mereka melayani dengan sebaik mungkin. Menyiapkan alat makan, mengambilkan makanan dan lainnya. Mereka melakukannya seperti para pelayan pada umumnya.
Ketika para pelayan sudah menyelesaikan tugasnya, barulah Zishu, Chen dan nyonya Jia Lee memulai makan malam. Ini pertama kalinya setelah 3 tahun lamanya, mereka makan bersama. Sangat membahagiakan!
Seperti biasanya saat sedang berada di meja makan, tidak di perbolehkan adanya pembicaraan. Sehingga hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan dengan piring. Suara itu terus terjadi sampai akhirnya makan malam selesai.
“Benar sangat lezat!” puji Zishu pada semua makanan yang telah di cobanya.
“Dan sangat kenyang, kan?” timpal Chen
“Hehe itu sudah pasti, kak!” sahut Zishu menyengir kuda.
“Zishu, nenek ingin membicarakan tentang ulang tahunmu!” seru nyonya Jia Lee setelah menghabiskan makan malamnya.
“Nek, sebaiknya kita membicarakan soal itu di ruang tamu saja!” usul Chen.
“Aku setuju dengan kakak,” timpal Zishu menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kita ke ruang tamu!” nyonya Jia Lee juga menyetujui.
Chen segera beranjak dari kursinya. Kemudian menghampiri dan membantu neneknya untuk berdiri. Nyonya Jia Lee memang sudah tua. Tubuhnya pun tidak kuat lagi. Jadi apa pun yang di lakukan, harus di bantu.
“Terima kasih,” nyonya Jia Lee tersenyum sembari beranjak dari duduknya, di bantu Chen.
“Ini memang sudah kewajibanku, nek!” sahut Chen membalas senyuman nyonya Jia Lee.
“Aku juga mau ikut bantu,” ucap Zishu segera beranjak dari duduknya dan ikut membantu neneknya.
“Haha baiklah,” nyonya Jia Lee tertawa sebab dari dulu, Zishu sering mengikuti apa yang di lakukan Chen.
Akhirnya nyonya Jia Lee beranjak dari duduknya, di bantu oleh Zishu dan Chen. Setelahnya mereka pergi ke ruang tamu yang tidak berada jauh dari meja makan.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]
...
__ADS_1