Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 76. Nanjing Road


__ADS_3

...||•Happy Reading•||...


..._____...


“Ku dengar kamu membuat salah satu tempat pembelian bahan bangunan terbesar di kota ini menjadi bangkrut. Apa yang sebenarnya terjadi, sayang?” Lui bertanya tepat di saat Zishu kembali ke ruang keluarga. Di tangannya membawa dua gelas minuman hangat.


“Kak Chen telah menyelidiki masalah proyek. Termasuk mencari informasi dari tempat itu. Sayangnya tidak bisa mendapat informasi apa-apa. Jadi, aku menggunakan caraku sendiri untuk mendapat informasi yang ku butuhkan. Caraku berhasil dan aku mendapatkan informasi itu,” jawab Zishu tersenyum puas seraya memberikan satu gelas minuman itu pada suaminya.


“Cara yang tidak biasa tapi baguslah. Dengan itu kamu bisa menyelesaikan masalah di proyek,” ucap Lui terkagum sekaligus tidak menyangka. Istrinya itu ternyata langsung menggunakan cara yang terbilang kasar untuk menyelesaikan masalah.


“Ya—Masalah di proyek bisa ku selesaikan. Siapa pelakunya juga sudah ku ketahui. Tinggal memberi pelajaran saja,” Zishu meminum minuman hangatnya. Tatapannya lurus ke depan.


“Perlu bantuanku, sayang?” tawar Lui menatap Zishu. Sesekali ia meminum minumannya juga.


Zishu berhenti meminum minumannya dan beralih menatap Lui. “Ku rasa tidak perlu. Masalah ini biar ku selesaikan sampai akhir,”


“Baiklah, sayang. Beritahu padaku kalau perlu bantuan!” seru Lui tidak memaksakan istrinya itu untuk menerima tawarannya.


“Iya,” singkat Zishu menganggukkan pelannya.


Hening.


Keheningan sempat terjadi di antara keduanya. Baik Zishu atau pun Lui, sedang menikmati minuman hangat masing-masing.


“Apa kamu ada hal lain di sini?” Zishu membuka suaranya kembali.


“Benar. Aku ada pertemuan dengan kolegaku besok di sini,” sahut Lui membenarkan.


“Oh,” singkat Zishu, ber-Oh ria.


Lui tersenyum tipis. “Aku mau bersih-bersih dulu. Tubuhku terasa sangat lengket,”


“Aku antar ke kamar!” seru Zishu beranjak berdiri.


Tanpa balasan, Lui ikut beranjak berdiri. Kemudian ia berjalan mengikuti Zishu yang mengantarnya ke kamar. Tidak lupa pula membawa kopernya tadi.


Di depan kamar


Zishu membuka pintu kamarnya. “Masuklah! Aku kembali ke bawah dulu. Mau masak makan malam,”


“Tidak perlu memasak, sayang. Kita makan di luar, sekaligus jalan-jalan di kota Shanghai. Kesempatan ini sayang untuk di lewatkan,” ucap Lui, berdiri dengan tangan kanannya di masukkan ke dalam saku celana.


“Em—Kamu tidak merasa lelah? Baru saja tiba di sini, sudah mau mengajak pergi. Lebih baik tidak usah,” imbuh Zishu.

__ADS_1


“Aku tidak lelah sama sekali. Kita pergi, sayang?” tampaknya Lui benar-benar ingin pergi malam ini. Raut wajahnya bersemangat. Tidak tampak kelelahan.


“Ya sudah. Kita pergi,” sahut Zishu yang akhirnya mau menyetujui ajakan Lui.


Sontak sudut bibir Lui terangkat sempurna. “Baiklah—Aku bersih-bersih dulu. Kamu juga bersiaplah sayang!”


“Oke,” balas Zishu singkat.


Keduanya masuk ke dalam kamar. Lui pergi membersihkan dirinya. Sedangkan Zishu sibuk bersiap-siap.


30 menit kemudian...


“Sudah siap?” tanya Lui pada Zishu, setelah memakai long blazer kotak-kotak miliknya.


Long Blazer itu melapisi sweter rajut putih milikinya. Bawahannya memakai celana panjang dan sneakers berwarna putih senada. Di tambah rambut yang di biarkan tak tertata. Sehingga memberi kesan cool pada dirinya.


“Sudah,” jawab Zishu yang telah berdiri di hadapan Lui.


Tidak seperti suaminya itu, ia hanya memakai korean blouse selutut berwarna milo. Di lengkapi sneakers putih. Rambutnya di biarkan terurai begitu sana. Menambah kesan cantik wajahnya yang di poles make up tipis.


“Hmmm—Kamu yakin keluar memakai itu, sayang? Di luar dingin,” Lui berdehem ringan melihat penampilan Zishu.


“Iya yakin. Yuk berangkat!” ajak Zishu bersemangat sekali.


“Siap sayang!” sahut Lui tersenyum lebar.


“Ini kuncinya, tuan!” sang sopir menyerahkan kunci mobil pada Lui.


Lui menerimanya. “Terima kasih,”


Sopir itu mengangguk pelan.


“Di dapur sudah tersedia semuanya. Pergilah ke sana kalau kau lapar atau haus!” seru Zishu pada sopir suaminya itu.


“Baik, nona. Terima kasih,”


Zishu membalas dengan senyuman. Setelahnya ia dan Lui bergegas pergi menuju mobil yang sudah terparkir di depan Villa.


“Silakan masuk, sayang!” Lui membukakan pintu mobil untuk istrinya—Zishu.


“Terima kasih,” tutur Zishu pelan sembari berjalan masuk ke dalam mobil.


Lui mengangguk, disertai senyuman tipis. Pintu mobil di tutupnya kembali, usai Zishu masuk. Ia juga segera masuk ke dalam mobil dan kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan kawasan Villa keluarga Yan Utama.

__ADS_1


“Kita mau ke mana?” tanya Zishu, matanya menatap sekilas ke arah Lui yang tengah mengemudi.


“Nanjing Road,” jawab Lui tanpa berhenti menatap fokus jalanan di depan.


***


Tepat jam setengah 8 malam, Zishu dan Lui telah sampai di Nanjing Road.


Nanjing Road sendiri merupakan pusat perbelanjaan dan salah satu jalanan tersibuk yang ada di Shanghai. Selain itu, di sana juga terdapat mall, restoran, kafe dan lainnya. Ada berbagai makanan dan minuman yang dapat di nikmati. Para pengunjung tidak akan rugi datang ke sana. Apalagi di saat malam hari seperti ini. Nanjing Road sangat indah dengan banyaknya lampu berwarna-warni.


“Mau makan atau jalan-jalan dulu?” tanya Lui, tepat sesudah mobil berhenti di parkiran yang ada di sana.


“Aku ikut kamu saja,” jawab Zishu cepat, daripada bingung memilih.


“Kita makan dulu. Baru jalan-jalan,” ucap Lui spontan di angguki Zishu.


Setelah itu, Zishu dan Lui turun dari mobil. Keduanya menggunakan topi dan kacamata, sama seperti penyamaran biasanya. Bedanya hanya tidak memakai masker. Namun cukup dengan itu saja, orang-orang juga tidak akan mudah mengenali keduanya.


Keduanya berjalan di antara banyaknya orang yang merupakan pengunjung Nanjing Road juga. Tujuan keduanya sekarang adalah sebuah restoran Food. Di sana tidak terlalu ramai. Tempatnya pun sangat nyaman.


“Apa ada yang ingin kamu pesan lagi, sayang?” Lui memastikan terlebih dulu, sebelum pergi menuju meja pesanan.


[Note: Di restoran itu tidak menyediakan pelayan yang bertugas mencatat pesanan. Sehingga pengunjung harus memesan sendiri ke meja pesanan]


Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak ada. Itu sudah cukup,”


“Tunggu sebentar di sini! Aku pergi memesan dulu,” titah Lui seraya beranjak berdiri.


“Iya baiklah,”


Lui segera pergi menuju meja pesanan. Sementara itu, Zishu melihat ke arah sekitar. Jari-jarinya mengetuk pelan meja sambil menunggu Lui kembali.


“Memang sayang kalau di lewatkan,” gumamnya pelan.


Sudut bibir Zishu sedikit terangkat. Sejak tadi, ia tidak berhenti menatap ramainya Nanjing Road. Para pengunjungnya di dominasi anak kecil, remaja dan dewasa. Ada yang sedang bersama keluarga. Ada juga yang sedang bersama pasangan. Mereka tampak sangat bahagia menikmati waktu di Nanjing Road. Hal itu seketika membuat ia berkhayal. Mengkhayalkan dirinya dan Lui seperti para pasangan itu. Saling bergandengan tangan, berpelukan, tertawa lepas dan masih banyak lagi. Begitu indah saat di khayalkan seperti itu.


“Haish—Apa yang telah ku khayalkan. Sadarlah Zishu. Kau tidak akan bisa seperti itu dengannya. Jika kau belum sepenuhnya membuka hati untuknya,” gerutu Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha mengusir khayalannya tadi.


...


_____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...


__ADS_2