
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
Daripada terus merasa penasaran, Zishu segera membuka paperbag itu. Seketika matanya berbinar-binar.
“Ini...” Zishu mengeluarkan isi paperbag itu. Matanya melirik sekilas ke arah Lui.
“Kamu suka?” tanya Lui menatap raut wajah istrinya itu yang tampak sangat senang mendapatkan hadiah itu.
“Suka—Sangat suka!” jawab Zishu cepat. Tangannya membolak-balikkan benda yang tadi di ambilnya dari dalam paperbag.
Benda itu berupa sebuah novel. Bagi sebagian orang, novel itu tidak berharga tapi berbeda dengan Zishu. Novel itu sangat berharga untuknya. Bukan cuma karena novel itu di tulis oleh salah satu penulis terbaik dunia, melainkan isinya. Yeah—Novel itu menceritakan betapa indahnya cinta sejati sepasang manusia yang tidak menuntut akan kesempurnaan. Cinta yang selalu melengkapi dan menerima kekurangan. Hingga menyempurnakan kelebihan.
Dan Zishu sangat menyukai novel. Terutama yang bergenre romantis seperti itu.
***
“Baguslah kalau kamu menyukainya,” sudut bibir Lui terangkat sempurna. Tangan kirinya di masukkan ke saku celananya.
“Iya, aku menyukai. Meski sederhana tapi berharga untukku,” Zishu menatap hangat Lui. “Terima kasih,”
“Jangan berterima kasih dulu, Sayang! Lihat dan bacalah lembaran pertamanya,” seru Lui memberi tatapan isyarat yang mengarah ke novel di tangan Zishu.
Zishu mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti mengapa Lui menyuruhnya untuk melihat isi halaman novel itu tapi langsung di lakukannya. Ia membuka lembaran pertama novel itu. Sontak matanya membulat sempurna. Raut wajahnya terkejut. Tangan kanannya menutup mulutnya yang terbuka. Kemudian di lanjutkannya membuka beberapa lembaran selanjutnya.
“Ini serius?” tanya Zishu memastikan. Tatapannya menuntut jawaban dari Lui.
“Buat apa aku bercanda, Sayang! Itu serius,” jawab Lui meyakinkan.
“Sungguh?” tanya Zishu lagi. Ia seakan tidak percaya.
Lui menganggukkan kepalanya, senyumannya pun semakin mengembang.
Raut wajah Zishu yang tadi terkejut, sekarang di dominasi perasaan campur aduk. Spontan ia menjatuhkan novel dan paperbag yang tadi di pegangnya. Kemudian berlari ke arah Lui dan memeluknya. Beruntungnya Lui sudah siap, sehingga tubuhnya tidak kehilangan keseimbangan.
“Terima kasih. Terima kasih banyak—Hiksss,” ungkap Zishu tiba-tiba menangis. Di sela memeluk erat Lui.
“Ada apa sayang? Kenapa menangis?” tanya Lui terkejut, seraya membalas pelukan istrinya.
Zishu tidak menjawab pertanyaan Lui. Ia terus menangis di pelukan Lui, sampai membuat suaminya itu merasa bingung.
__ADS_1
“Apa ada yang salah dengan novel itu, Sayang? Maafkan aku!” sambungnya. Meski tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya setelah membuka halaman pertama tadi, ia tetap merasa bersalah.
“Tidak—Tidak ada yang salah, Hiksss. Aku hanya merasa terharu,” lirih Zishu yang masih bisa di dengar Lui. “Aku selalu ingin ada penulis yang bersedia menulis sebuah novel, berisikan cerita cinta papa dan mama. Supaya aku bisa terus membaca dan mengingat cerita mereka. Namun selama tidak ada penulis yang bisa memahami bagaimana aku menceritakan tentang cinta mereka. Lalu lihatlah sekarang! Kamu membawakan buku yang ku inginkan. Aku—Hiksss,”
Lembaran pertama novel yang tadi di lihat Zishu, memang mengejutkannya. Di sana tertulis rangkaian kata yang selama ini di tulisnya untuk menggambarkan inti cerita cinta tuan Jiang dan nyonya Mei.
Isi;
Cinta tidak menuntut pasangan untuk sempurna,
Tapi cinta membuat pasangan merasa sempurna:)
Rangkaian kata itu menggambarkan bagaimana inti dari cerita cinta tuan Jiang dan nyonya Mei. Dimana cinta itu membuat keduanya sempurna. Kata sempurna itu bukan karena harta tapi bagaimana mereka saling menyatukan hati, menjadi rasa cinta. Tanpa mempermasalahkan kekurangan atau pun menuntut kesempurnaan.
“Aku di beritahu oleh Chen soal keinginanmu itu. Chen juga memberikan diary milikmu, berisi cerita orang tuamu. Sehingga aku bisa mewujudkan keinginanmu. Melalui temanku yang juga seorang penulis. Maaf atas kelancanganku ini,” ucap Lui sambil mengelus dan sesekali mencium pucuk kepala Zishu.
Zishu menangis di pelukan Lui. Antara terharu, bahagia, bercampur sedih. Terharu dan bahagia karena keinginannya terwujud. Sedih karena merindukan orang tuanya. Perasaan bercampur aduk.
“Maaf! Aku tidak bermaksud membuatmu menangis seperti ini, Sayang. Sungguh!” sambungnya berusaha menenangkan Zishu.
“Tidak perlu minta maaf... Hiksss. Justru aku harus berterima kasih padamu,” balas Zishu masih terisak. Bahkan Hodie Lui menjadi basah karena air matanya.
“Menangislah, Sayang! Selagi itu bisa meringankan hatimu,” Lui mengerti bagaimana suasana hati Zishu sekarang. Menangis adalah cara paling ampuh untuk menenangkan suasana hatinya.
Isakan tangisan Zishu perlahan terdengar menjadi pelan, setelah beberapa menit berlalu. Tampaknya ia sudah merasa cukup menangis. Meski begitu, tidak sekali pun dirinya melepaskan pelukannya dari Lui. Entahlah, Zishu telah mendapatkan kenyamanan dalam pelukan Lui. Hingga merasa enggan untuk melepaskannya.
“Sayang, kita duduk ya!? Nanti kamu merasa lelah kalau berdiri terus,” ajak Lui serata terus mengelus pucuk kepala Zishu.
“I—ya,” lirih Zishu usai menangis.
Lui mengajak Zishu duduk di kursi yang ada di taman rahasia itu. Tanpa melepaskan pelukan sepenuhnya.
“Sudah puas menangisnya kan?”tanya Lui seraya menatap Zishu yang menyandarkan kepalanya ke pundaknya. Tangan kanannya pun merangkul pinggang Zishu. Sedangkan tangan kirinya, menyeka air mata yang tersisa di wajah istrinya itu.
“Heeum,” Zishu menganggukkan kepalanya.
“Jangan menangis lagi. Mereka tidak akan senang melihatmu seperti ini,” ucap Lui masih dengan posisi yang sama. “Aku juga tidak senang,”
“Iya, baiklah!” sahut Zishu masih bernada lirih. Lalu detik berikutnya, ia tersadar sesuatu. “Maaf!”
“Buat?” tanya Lui bingung.
__ADS_1
“Maaf karena tiba-tiba memelukmu. Tindakanku tadi terlalu spontan,” jawab Zishu pelan. Perlahan tubuhnya sedikit memberi jarak dari tubuh Lui.
“Buat apa minta maaf? Kamu bebas memelukku dan aku juga bebas memelukmu. Ingat, sekarang kita suami-istri. Jadi tidak ada larangan untuk itu, mengerti!?” Lui menatap hangat Zishu yang sudah berani membalas tatapannya lebih lama dari biasanya.
“Aku mengerti,” Zishu mengangguk pelan.
“Sekarang lupakan soal tadi. Masih ada satu hadiah untukmu,” beritahu Lui seraya merapikan rambut Zishu yang sempat berantakan.
“Masih ada lagi?” tanya Zishu memastikan. Lui menganggukkan kepalanya. “Mana?”
“Tunggu sebentar, Sayang!” seru Lui beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju ke arah paperbag dan novel yang terjatuh dari tangan Zishu. Mata Zishu mengekor ke mana Lui berjalan, sampai kembali lagi ke hadapannya.
“Ini hadiahmu,” sambungnya mengeluarkan isi paperbag, berupa sebuah kotak berukuran sedang. Lengkap dengan pembungkusnya berwarna biru dan hitam sebagai pitanya.
“Untukku?”
“Tentu untukmu, Sayang! Bukalah!” titah Lui menyerahkan kotak itu pada Zishu.
Zishu menerima kotak itu dan segera membukanya. Ia penasaran isinya, makanya tidak bertanya lagi. Rasa penasarannya terjawab saat kotak itu sudah di bukanya. Terdapat sebuah kalung, bentuk liontinnya berupa bulan sabit. Di buat dari material berlian biru yang sudah sulit di temukan. Desain kalungnya pun simpel tapi elegan. Kalung itu di jual dengan harga tinggi. Tidak heran soal harganya sebab kualitasnya terbaik, desainnya terkesan elegan dan terbatas jumlahnya. Harus memiliki pengaruh yang kuat, baru bisa mendapatkannya.
“Sangat indah,” puji Zishu menatap kalung itu. Meneliti setiap rincinya, takutnya ada cacatnya. “Simpel dan elegan. Aku suka desainnya,”
“Boleh aku memakaikannya untukmu?” pinta Lui, sontak langsung mendapat anggukan setuju dari Zishu.
Usai mendapat persetujuan, Lui bergegas berjalan ke arah belakang Zishu. Ia mengambil kalung berliontin bulan sabit tadi dari tangan Zishu. Bersamaan dengan itu, Zishu mengangkat rambutnya agar Lui lebih mudah untuk memasangkan kalungnya.
Lui sedikit membungkukkan tubuhnya. Kemudian memasangkan kalung tadi. Zishu diam, tidak bersuara. Ia bisa merasakan deru nafas Lui.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Lui sesudah selesai memasangkan kalung itu. Kedua tangannya memegang sandaran kursi, di masing-masing sisi Zishu. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah istrinya itu.
“Sangat indah. Terima—” Zishu menoleh ke arah wajah Lui.
Tanpa sengaja bersamaan dengan Lui yang juga menoleh ke arahnya. Spontan membuat Zishu menciptakan sebuah kecupan di bibir Lui. Hal itu membuatnya terkejut dan tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Lui langsung menatap ke arahnya. Seakan ikut terkejut akan apa yang terjadi.
Terjadilah adu tatapan di antara keduanya selama beberapa menit. Namun bibir mereka masih bersentuhan.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... ...
__ADS_1
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...