
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
“Lu Zeming!” si pengusaha terbaik itu menyebutkan namanya, bersamaan mengulurkan tangannya ke arah Zishu.
Lu Zeming, siapa yang tidak mengenal namanya. Laki-laki berwajah tampan dan memiliki postur tubuh ideal. Di usianya yang terbilang muda, yaitu 24 tahun. Ia sudah berhasil mendirikan perusahaan Ming Group dengan usahanya sendiri. Lu Zeming dulunya adalah seorang anak yatim piatu dan hidup di jalanan. Namun takdir kehidupan berbaik hati padanya. Lu Zeming memang miskin harta tapi kaya akan kepintaran luar biasa. Berkat kepintaran yang di milikinya, Lu Zeming mulai menata hidupnya menjadi lebih baik. Dari bekerja serabutan untuk bisa sekolah.
Hingga menoreh banyak prestasi dalam bidang Akademik di sekolah biasa. Hasil uang hadiah dari prestasi yang di dapatkannya, tidak di pergunakannya semuanya. Ia menyisihkan uang untuk di tabungnya. Lama-kelamaan tabungannya semakin banyak terkumpul. Hasil tabungan itu rencananya di pergunakan untuk membangun usaha kecil-kecilan. Akan tetapi, takdir kehidupan lagi-lagi berbaik hati padanya. Berkat kepintaran yang di milikinya dan prestasinya, Lu Zeming mendapat beasiswa dari orang yang sangat kaya. Ia di biayai kuliah di Harvad University di Inggris.
Sangat beruntung bukan? Oleh sebab itulah Lu Zeming tidak menyia-nyiakan beasiswa itu. Ia belajar sungguh-sungguh sampai menjadi salah satu mahasiswa yang lulus dengan nilai terbaik.
Setelah lulus dengan menyandang gelas S2 jurusan bisnis, Lu Zeming mulai berbisnis. Dari bisnis kecil hingga menjadi bisnis besar seperti sekarang. Ia telah berhasil dalam bisnis yang di jalankannya. Perusahaannya berdiri kokoh dan tingginya. Para karyawannya banyak. Cabang perusahaannya ada banyak. Kolega perusahaannya pun sudah banyak dan menyebar di beberapa negara. Bisnis yang di tekuninya sejak dulu bergerak di beberapa bidang. Dari bidang pembangunan, perhiasan, hiburan hingga perhotelan. Bisa di bayangkan pendapatan yang di perolehnya perbulan sangatlah banyak. Menjadikannya dari orang miskin menjadi orang kaya, sekaligus berpengaruh pastinya.
Lu Zeming tidak terkenal hanya karena ketampanannya, prestasinya atau pun kekayaannya. Masih ada yang lain dan itu adalah sifatnya. Lu Zeming bukan pengusaha berwajah datar, bernada dingin atau pun arogan. Ia lebih suka tersenyum dan ramah pada siapa pun. Namun di balik senyum dan sikap ramahnya itu, Lu Zeming akan membalas siapa pun orang yang berani bermain-main dengannya.
Terlepas dari itu, Lu Zeming adalah laki-laki yang baik. Penyayang, bertanggung jawab, cekatan, pintar dan selalu bisa menyelesaikan suatu permasalahan tanpa melibatkan emosi.
Lu Zeming punya segalanya dan tentu membuat para perempuan akan merasa tertarik untuk mendekatinya. Sayangnya sampai sekarang belum pernah ada perempuan yang berhasil dekat dengannya. Hal itu bukan karena Lu Zeming tidak tertarik pada perempuan tapi soal pasangan, ia perlu memilih yang tepat. Kebanyakan perempuan yang mendekatinya hanya mengincar hartanya dan bahkan hanya sekedar panjat sosial. Itulah yang menyebabkan Lu Zeming belum mempunyai pasangan sampai sekarang.
***
“Nona bisa memanggilku Lui,” sambungnya dengan senyuman tipisnya. Nama panggilannya memang Lui.
“Zishu,” dengan tetap tenang, Zishu membalas uluran tangan Lui. Ia juga tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
Terjadilah adu tatapan antara Zishu dan Lui selama beberapa saat. Sampai itu berakhir karena pertanyaan Jun.
“Apa masih lama berjabat tangan dan beradu tatapannya? Soalnya waktu terus berjalan,” sontak Zishu menarik tangannya dari tangan Lui.
“Kalau begitu kalian bermainlah sekarang, kak! Aku akan menonton di sana,” ucap Zishu cepat. Tangannya menunjuk ke arah kursi penonton yang berada di belakang Chen. Rasanya Jun ingin tertawa melihat reaksi Zishu yang seperti ini.
`Hahaha Little Baby ku ternyata juga bisa salah tingkah?` batin Jun
__ADS_1
“Tunggu dulu, Little Baby! Ayo bermain basket dengan kakak sebentar saja. Sudah lama kita tidak bermain bersama. Kakak yakin kemampuanmu masih ada atau bisa juga sudah meningkat,” cegah Jun sebelum Zishu berjalan pergi.
“Eh—” Zishu ingin menolak ajakan Jun tapi ucapannya terpotong oleh Xuesi.
“Nona Zishu bisa bermain basket juga?” tanya Xuesi terkejut.
“Iya begitulah. Kemampuannya bermain basket juga lumayan hebat,” jawab Chen mewakili jawaban Jun.
“Wah kalau begitu, nona harus tunjukkan itu pada kami!” seru Guan antusias. Sangat jarang ada gadis bermain basket di Zaman sekarang.
“Kalian saja yang bermain. Aku tidak terlalu hebat bermain basket,” tolak Zishu spontan.
“Bagaimana nona bisa mengatakan hal itu. Sedangkan kami belum melihat bagaimana nona bermain. Bermainlah, nona! Kami ingin melihatnya,” ucap Liang sedikit mendesak Zishu.
“Liang berkata benar, nona! Ayo bermainlah sebentar dengan Jun. Kami ingin melihatmu bermain,” timpal Kang Dishi ikut mendesak.
“Bagaimana, Little Baby? Kamu tidak akan mengecewakan mereka, bukan?” tanya Jun pada Zishu.
“Kami bisa bermain setelah nona. Waktu sedikit juga tidak apa-apa!” giliran Lui yang berbicara. Nada bicaranya terdengar hangat seperti biasanya.
“Benar, nona! Kami bisa bermain setelahmu. Tidak perlu memikirkan waktu yang sedikit,” tukas Enlai menimpali ucapan Lui.
“Ayolah, Little Baby! Hanya sebentar saja,” pinta Jun sedikit mendesak.
“Sudahlah, Zi`er! Turuti saja permintaan mereka. Bermainlah dengan Jun sebentar. Tidak ada salahnya untuk itu. Kamu juga bisa bermain tapi lepaskan sepatumu,” saran Chen
“Hmmm baiklah tapi hanya sebentar saja! Aku benar-benar tidak hebat,” deham Zishu, akhirnya ia menyetujui untuk bermain.
“Iya hanya sebentar saja. Kakak janji!” sahut Jun
“Kami tidak akan percaya sebelum melihatnya sendiri, nona!” seru Xuesi di setujui teman-temannya.
“Baiklah tunggu sebentar!” Zishu bergegas pergi ke pinggir lapangan, di ikuti Chen.
__ADS_1
Jangan heran kenapa Chen mengikutinya sebab Zishu menitipkan ponsel dan jam tangan kepadanya.
Di pinggir lapangan, Zishu melepas sepatu booth yang terpasang di kakinya. Rambutnya yang tadi di biarkan terurai, sekarang di ikat tinggi menggunakan ikat rambut yang di bawanya. Ketika rambut Zishu sudah terikat tinggi, jenjang lehernya terlihat jelas. Di tambah raut wajahnya yang tetap terlihat manis, padahal tidak ada senyuman lagi di perlihatkannya. Yah intinya pesonanya benar-benar memabukkan!
`Dia memiliki pesona yang manis!` batin Lui
“Semangat, Zi`er! Kalahkan Jun dengan telak seperti dulu, ok!?” seru Chen dengan senyumannya. Ia percaya kalau Zishu bisa mengalahkan Jun seperti dulu.
“Serahkan saja padaku, kak!” sahut Zishu sudah siap akan bermain hari ini. Hitung-hitung merenggangkan otot sebentar.
“Hei Jun, semangatlah! Aku berada di pihakmu. Kau jangan sampai kalah telak dengan nona Zishu ya!?” Liang tidak mau kalah dengan Chen.
“Ya aku juga berada di pihakmu, Jun! Jangan sampai kalah,” timpal Xuesi ikut berada di pihak Jun.
“Sudah, kalian berisik! Pergi ke pinggir lapangan sana!” usir Jun mendorong pelan tubuh Liang dan Xuesi.
“Kau ini di beri semangat, harusnya berterima kasih. Bukannya mengusir seperti ini!” gerutu Xuesi
“Aku tidak membutuhkan semangat dari kalian. Bermain dengan Little Baby sudah membuatku bersemangat,” ucap Jun membuat Xuesi mendengus kesal. Sedangkan Liang hanya bersikap biasa saja.
“Sudahlah kalian berdua! Sebaiknya kita ke pinggir lapangan sekarang! Jun dan nona Zishu tidak akan mulai bermain, kalau kita masih berdiri di sini.” Lui mengatakan hal yang benar. Sekarang mereka berada tepat di tengah lapangan.
“Baiklah,” singkat Xuesi menyetujui, begitu juga dengan Liang. Enlai, Kang Dishi dan Guan juga menyetujui tanpa berbicara.
Lui, Xuesi, Enlai, Kang Dishi dan Guan segera pergi dari tengah lapangan. Sekarang tinggallah Jun di tengah lapangan. Sebelum akhirnya Zishu kembali ke dekatnya.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...
__ADS_1