
...||•🥀Happy Reading🌹•||...
..._____...
“Upsss! Oke-oke aku berhenti tertawa sekarang, Kak! Jangan marah!” secepat kilat Zishu menutupi mulutnya. Berusaha menghentikan tawanya.
“Hmmm ya,” Chen hanya berdehem ringan.
“Ish kakak marah! Aku tertawa karena lucu mendengarnya. Bisa-bisanya kakak mendapatkan sekretaris seperti itu,” celetuk Zishu.
“Hmmm benarkah?” tampak raut wajah tidak percaya di perlihatkan Chen.
“Iya bener, Kak! Jangan marah ya, ya!” mohon Zishu, mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Kakak tidak marah,” sahut Chen seraya beranjak berdiri dari sofa.
“Sungguh?”
“Iya,” singkat Chen. “Buat apa juga kakak marah. Ini cuma masalah kecil,”
“Kakak tidak berbohong kan?” tanya Zishu memastikan.
“Iya, kakak tidak marah!” jawab Chen yang sudah berada di hadapan Zishu. “Baiklah, lupakan soal itu! Kakak ingin memberitahumu satu hal penting,”
“Apa, Kak?” tanya Zishu di buat penasaran.
“Proyek di Shanghai memiliki sedikit masalah. Pembiayaan pembangunannya membengkak, melebihi perkiraan. Kalau terus begitu, kakak khawatir perusahaan akan mengalami kerugian besar. Di tambah pembangunan akan terhambat dalam pengerjaannya dan tidak akan selesai tepat waktu. Kakak merasa ada yang tidak beres,” jawab Chen terus terang. Langsung di sambut dengan keterkejutan.
“Bagaimana bisa itu terjadi, Kak? Apa sudah di selidiki semuanya?”
“Sudah, Zi`er. Namun tidak ada satu pun kesalahan yang kakak dapati. Aneh bukan? Padahal jelas sekali kakak merasa ada yang tidak beres. Pasti ada seseorang di balik masalah ini,” raut wajah Chen benar-benar serius. Masalah seperti ini memang tidak bisa di anggap sepele sebab jika di abaikan, akibatnya akan sangat fatal.
“Dan untuk lebih meyakinkan, kakak membuat jadwal pemantauan pembangunan di Shanghai besok. Sebenarnya itu bukan sekedar pemantauan tapi juga menyelidiki sekaligus, bukan?”tebak Zishu yang sepertinya sudah mengerti maksud Chen.
“Ya tepat sekali. Akan lebih mudah jika menyelidikinya secara langsung,”timpal Chen membenarkan.
“Aku setuju itu tapi menyelidikinya perlu banyak waktu. Tidak bisa hanya sehari saja,” kritik Zishu mengingat ucapan Chen sebelumnya.
__ADS_1
“Kamu benar. Menyelidiki perlu banyak waktu tapi tidak dengan memancing ikan. Kamu tahu apa arti `Memancing ikan`?” begitulah Chen, ada kalanya ia berbicara bak sebuah peribahasa.
“Maksud kakak, aku datang ke sana sebagai umpan untuk memancing orang yang mungkin saja pelaku dari masalah ini. Benar?” simpul Zishu, tidak perlu waktu lama.
“Kakak tahu, kamu pasti mengerti. Tidak menutup kemungkinan salah satu dari pekerja kita yang melakukannya. Dengan memperkirakan itu, kakak yakin kedatanganmu ke sana adalah hal yang sangat tepat. Kedatanganmu akan menjadikan si pelaku dalam tingkat kewaspadaan tinggi. Kamu tahu apa untungnya dari itu, Zi`er? Orang yang dalam tingkat kewaspadaan tinggi akan mudah meninggalkan jejak mencurigakan. Kita harus memanfaatkan situasi seperti itu,” ucap Chen panjang kali lebar tapi sudah sangat di mengerti oleh Zishu.
“Aku mengerti maksud kakak. Serahkan saja semuanya padaku. Masalah ini pasti bisa ku atasi,” balas Zishu yakin. Ia memang harus yakin sebab masalah seperti ini tidak bisa di abaikan.
Terlebih lagi dengan jabatannya sekarang, masalah seperti itu menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun membuat perusahaan papanya mengalami kerugian besar.
“Kakak percaya padamu, Zi`er!”
Bersamaan dengan ucapan Chen, terdengar suara pintu di ketuk.
Tok... Tok... Tok...
“Masuk!” perintah Zishu bernada sedikit keras agar suaranya terdengarnya.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan sosok perempuan berpakaian formal dan rapi. Perempuan itu bergegas berjalan masuk ke dalam. Dari jauh saja, Zishu bisa melihat kegugupan perempuan itu. Mungkin perempuan itu gugup karena akan di wawancarai langsung oleh pemimpin perusahaan.
“Satu hal lagi, berkas untuk 2 proyek tadi akan saya minta salah satu karyawan untuk mengantarkan ke sini. Silakan Presider pelajari lebih,” sambungnya.
“Iya, terima kasih, Kak!” ungkap Zishu tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.
“Sama-sama, Presider! Kalau begitu saya permisi,” Chen menunduk hormat pada Zishu dan sempat melirik sekilas ke arah perempuan tadi. Kemudian pergi dari ruangan itu.
Tinggallah Zishu dan perempuan—Calon sekretarisnya di dalam sana.
“Duduklah!” perintah Zishu pada perempuan yang sedari tadi tidak bisa menutupi kegugupannya.
“Tidak, Presider! Saya berdiri saja,” bantah perempuan itu.
Zishu menatap keseluruhan perempuan itu. Menurutnya, wajahnya cantik dengan polesan Make up tidak terlalu tebal. Netra matanya berwarna hitam pekat, persis seperti warna alis dan bulu matanya yang lentik. Hidungnya tidak terlalu mancung serta bibirnya yang tebal. Kulitnya tidak terlalu putih tapi terlihat manis. Tubuhnya lumayan ideal untuk perempuan sepertinya. Tinggi dan cukup berisi. Namun penampilannya tidak terbuka.
“Tidak perlu terlalu sungkan. Duduklah supaya kita lebih enak berbicaranya,” bukan terdengar seperti sedang memerintah tapi meminta. Zishu sangat merendah dan itulah yang akhirnya membuat perempuan itu mau duduk.
__ADS_1
“Namamu siapa?” tanya Zishu hangat. Tidak seperti wawancara Presider biasanya.
“AnRan,” jawab perempuan itu sambil menundukkan pandangannya. “Ini berkas milik saya. Silakan nona baca dulu!”
Perempuan itu menyerahkan sebuah berkas lamaran kerja. Berisikan info dirinya dan berkas-berkas pelengkap yang menjadi persyaratan melamar kerja sebagai sekretaris.
“Baiklah,” Zishu menerima berkas itu dan membukanya satu-persatu.
“23 tahun?” tanya Zishu melirik sekilas ke arah perempuan itu. Sebelum melanjutkan membaca berkasnya.
“Iya, nona!”
“Berarti lebih tua dariku. Ku panggil kakak ya?” ucap Zishu tersenyum tipis.
“Tapi—” perempuan itu merasa tidak enak di panggil kakak oleh Zishu, mengingat status mereka yang berada dalam lingkungan kerja.
“Tidak ada tapi!” potong Zishu tegas.
“Baik, nona!” sahut perempuan itu pasrah.
Senyuman Zishu semakin melebar. Ia puas sebab perempuan itu tidak membantah lagi. Di bacanya setiap lembaran kertas itu, tanpa terlewat satu pun. Di sela membaca, Zishu juga melanjutkan wawancaranya. Ia menggali semua informasi perempuan itu. Bukan ada maksud tertentu, Zishu hanya ingin mengenal jauh perempuan itu. Tidak ada yang salah dengan itu bukan?
“Semua sudah lengkap dan memenuhi persyaratan. Kakak ku terima menjadi sekretarisku!” seru Zishu tepat setelah menutup berkas yang di berikan AnRan itu.
“Benarkah, nona?” tanya AnRan seakan tidak percaya dengan yang di dengarnya.
“Iya benar. Selamat bergabung di perusahaan ini, Kak AnRan!” jawab Zishu tersenyum seraya mengulurkan tangannya ke AnRan.
“Terima kasih, nona! Saya akan bekerja keras dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang nona berikan. Saya janji!” sorot mata kebahagiaan sudah menggantikan kegugupan yang tadi sempat AnRan perlihatkan. AnRan menerima senang hati uluran tangan Zishu.
“Tidak perlu berjanji, Kak! Cukup buktikan,”
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
__ADS_1
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...