Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 74. Berbeda?


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Emm—Terima kasih,” ungkap Zishu bersungut-sungut. Berkas hijau itu di terimanya.


“Sama-sama nona!”


Zishu menatap heran ke arah Mian yang berdiri di hadapannya, kepalanya sedikit tertunduk. “Apa kamu tidak ingin pulang?”


“Tidak nona. Saya temani nona dulu di sini,” sahut Mian tersenyum tipis, sesekali memberanikan diri membalas tatapan atasannya itu.


“Kalau begitu duduklah! Nanti kakimu akan terasa sakit kalau terus berdiri seperti patung,” celetuk Zishu.


“Nona juga berdiri,” timpal Mian, sontak mengundang tawa atasannya itu.


“Fufffft Hahaha... Kamu benar Mian. Makanya sekarang aku duduk, kamu juga duduk. Biar tidak seperti patung,”


Zishu langsung menduduk dirinya di sofa yang ada di ruang tamu, di sela tertawa lepas. Mian pun melakukan yang sama tapi di sofa berbeda. Bagaimana pun ia tahu posisinya. Tidak terlalu bagus, jika duduk berdampingan.


“Begini lebih baik,” sambungnya. Bersamaan menghentikan tawanya.


Mian mengangguk pelan, senyumannya melebar. Atasannya itu sangat berbeda dari seorang pemimpin perusahaan pada umumnya. Jangankan untuk tertawa seperti itu, tersenyum pun sangat langka di perlihatkan mereka. Hanya ada raut wajah datar atau bahkan terkadang sulit untuk di artikan. Berbeda halnya dengan Zishu—Atasannya.


“Nona sangat berbeda dari pemimpin lain,” tanpa sengaja kalimat itu keluar dari mulut Mian.


“Berbeda?” sentak Zishu menyipitkan matanya.


“I—Iya. Nona berbeda,” sahut Mian tergagap. Ia takut jika Zishu akan salah paham terhadap ucapannya barusan.


“Berbeda dari segi apa?”


“Semuanya. Saya bahkan jarang melihat seorang pemimpin perusahaan besar bisa tersenyum bebas atau pun tertawa lepas. Biasanya cuma raut wajah datar dan dingin. Kadang hal itu membuat saya berpikir, apa seorang pemimpin itu adalah robot? Sampai sulit sekali bersikap hangat,” dalam satu kali tarikan nafas, Mian mengucapkannya.


Seketika Zishu terkekeh pelan, di sertai gelengan kepala. “Kamu ini ada-ada saja. Setiap pemimpin memiliki caranya sendiri untuk memperlihatkan kedudukan. Tidak ada salahnya dengan itu tapi bagiku, akan lebih baik bila bersikap menyesuaikan situasi. Bagaimana menurutmu?”


“Saya setuju dengan nona,” sahut Mian sependapat. “Oh ya—Nona mau minum apa? Biar saya buatkan,”


“Tidak ada. Kalau mau, kamu bisa buat untukmu sendiri. Hmmm tapi apa di sini sudah ada minuman dan sejenisnya? Aku lupa bertanya pada kak Chen,” Zishu berdehem ringan.


“Sudah, nona. Tuan Chen sudah memerintahkan saya untuk menyiapkan semuanya,”


“Baguslah,” singkat Zishu bernafas lega. “Pergilah buat minuman untukmu sendiri! Kamu pasti haus,”


“Tidak nona. Saya tidak haus,” tolak Mian langsung.


“Ya sudahlah. Aku tidak memaksa tapi di sini kamu bebas melakukannya sendiri. Sekarang aku ingin baca berkas ini dulu,” ucap Zishu sambil membuka berkas hijau di tangannya.


“Nona tidak beristirahat dulu?” pertanyaan itu sukses mengalihkan tatapan Zishu dari lembaran pertama berkas hijau.


“Tidak, Mian! Aku perlu membaca berkas ini,” dalih Zishu menatap Mian sekilas.

__ADS_1


“Baiklah. Saya temani nona,” Zishu mengangguk setuju mendengarnya.


Kemudian Zishu mulai membaca berkas hijau itu. Lembaran demi lembaran di bacanya dengan serius. Di temani Mian yang duduk menemaninya tanpa bersuara.


15 menit berlalu...


“Antara tuan Ming dan tuan Bowen, siapa yang lebih memungkinkan untuk menjadi pelaku di proyek?” tanya Zishu menutup berkas hijau itu. Ia sudah selesai membaca berkas informasi tentang kedua orang yang namanya baru saja di sebut.


“Tuan Ming, nona!” jawab Mian tanpa merasa ragu. Ada alasan yang kuat sampai membuatnya berani memilih jawaban tersebut.


“Sudah ku tebak,”


Siapa pun orang yang akan di beri pertanyaan itu, pasti memberikan jawaban sama. Andaikan Zishu tidak menyadari sesuatu tadi, jawabannya pun sama.


“Lalu apa jawaban, nona?”


“Kamu juga akan tahu jawabanku nanti sore,” masih sama seperti tadi, Zishu enggan untuk memberikan jawaban yang jelas. Sehingga rasa penasaran makin di rasakan Mian. Namun gadis itu tidak suka banyak bertanya, apalagi pada atasannya.


***


Terlepas dari pembicaraan terakhir tentang tentang tuan Ming dan tuan Bowen, Zishu pergi berkeliling di Villa keluarganya. Menurutnya benar-benar tidak ada yang berubah, sejak terakhir kali datang.


“Andai kalian di sini,” gumamnya pelan, menatap sekitar Villa.


Zishu duduk di kursi yang ada di bagian balkon Villa. Ada seekor kupu-kupu terbang di sekitarnya. Sontak pikirannya tiba-tiba melayang begitu saja. Sekelebat bayangan kenangan di masa lalu muncul.


‘Sayang, kupu-kupu itu akan lari kalau kamu hanya berdiam diri!’


Dulu ia sangat senang melihat kupu-kupu tapi enggan untuk mengejarnya. Sampai papanya terus mengucapkan kalimat itu berkali-kali padanya. Hal itu terjadi di setiap kali ada kupu-kupu terbang di sekitarnya. Alasan kenapa ia sangat senang melihatnya sebab kupu-kupu itu cantik dan selalu terbang bebas.


Tangannya terangkat menggapai kupu-kupu yang sedang terbang bebas itu di sekitar. Seperti mengerti yang di inginkan Zishu, kupu-kupu itu hinggap di tangannya. “Cantik,”


Kenyataannya memang benar, kupu-kupu itu cantik dengan sayap berwarna kombinasi biru dan hitam. Tanpa henti Zishu menatapnya, sampai suara Mian membuat kupu-kupu di tangannya terbang kembali.


“Nona!”


Zishu menoleh sekilas ke arah Mian. Sebelum tatapannya mengarah pada kupu-kupu yang tengah terbang di atas kepalanya.


“Ada apa, Mian?” tanyanya.


“Ada telepon dari pemilik tempat bahan bangunan. Katanya ingin berbicara dengan nona,” jawab Mian bergegas berjalan menghampiri Zishu. Tidak lupa pula, ia membawa ponselnya.


“Oh,” singkat Zishu ber-Oh ria. Bukan hal yang mengejutkan lagi baginya, jika pemilik bangunan itu menelepon. Pasalnya ancamannya tadi bukan sekedar main-main.


“Mana?” sambungnya, meminta ponsel Mian.


“Ini nona,” Mian memberikan ponselnya itu pada Zishu.


Zishu menerimanya dan segera menelepon balik pemilik tempat pembelian bahan bangunan. Tak membutuhkan waktu lama, teleponnya sudah di angkat.


“Jadi apa keputusan tuan?” tanya Zishu langsung the to point.

__ADS_1


[..................]


“Pilihan yang bagus,” sudut bibir Zishu terangkat. Caranya untuk mengetahui siapa pelaku dari masalah di proyek, sepertinya berhasil.


[..................]


“Ya saya akan menepati ucapan saya. Asalkan tuan memberikan jawaban yang saya inginkan!”


[..................]


“Hmmm. Apa jawabannya, tuan?”


[..................]


Raut wajah Zishu berubah seketika. Tidak ada lagi senyuman di bibirnya, usai mendengar jawaban dari pemilik tempat pembelian bahan bangunan itu.


“Tuan tidak sedang berbohong kan?” tanyanya memastikan.


[.................]


“Apa tuan bisa memberikan buktinya?”


[.................]


“Oke. Saya akan meminta bawahan saya untuk mengambilnya sekarang!”


[..................]


“Tenang saja. Tempat tuan tidak jadi bangkrut,”


[..................]


Tittt...


Zishu mematikan telepon secara sepihak tanpa memberi balasan. Tatapannya lurus ke depan, serta raut wajah datar. Melihat itu, Mian mengernyitkan dahinya.


‘Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba raut wajah nona berubah? Apa nona sudah tahu siapa pelakunya?’ batin Mian


“Pergi ke tempat pembelian bangunan tadi dan ambil bukti tentang siapa pelaku masalah di proyek!” perintah Zishu dingin. Benar-benar berubah daripada sebelumnya.


“Ba—baik, nona!” sahut Mian menjadi tergagap.


Perubahan Zishu ini mengejutkan Mian. Tampaknya siapa pelaku dari masalah proyek, membuat kemarahannya meluap.


‘Sebenarnya siapa pelakunya?’ batin Mian


Mian bergegas pergi dengan rasa penasaran. Ia pergi di antar sopir, menuju tempat pembelian bahan bangunan tadi.


..._____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...


__ADS_2