
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
20 menit kemudian
Beijing Botanical Garden[BBG]
Zishu dan Chen telah sampai di Beijing Botanical Garden. Seperti yang sudah di perkirakan Chen, di sana sangat ramai. Lebih ramai dari biasanya sebab hari weekend. Dari anak kecil hingga orang tua, datang beramai-ramai ke sana. Entah untuk sekedar jalan-jalan, bersantai atau untuk melihat bunga-bunga bermekaran.
“Seperti yang kakak perkirakan bukan?” tanya Chen sembari melepaskan sabuk pengamannya.
“Lalu apa masalahnya? Kita hanya perlu melakukan penyamaran dan mereka juga tidak mungkin memperhatikan kita,” jawab Zishu dengan santainya. Ia segera melakukan penyamaran. Hanya memakai topi dan masker warna hitam senada.
“Baiklah, ayo pergi!” ajak Chen yang juga sudah melakukan penyamaran, sama seperti Zishu.
Setelah pintu mobil terbuka otomatis, Zishu dan Chen turun dari mobil. Keduanya sama-sama menatap setiap sudut Beijing Botanical dari tempat mereka berdiri sekarang.
Sangat indah, itulah satu kata yang dapat menggambarkan keadaan Beijing Botanical Garden. Terlihat berbagai macam hamparan bunga bermekaran di sana. Sehingga membuat Beijing Botanical Garden di penuhi berbagai macam warna yang indah dan juga cantik.
“Di sini sudah banyak berubah, berbeda dari yang terakhir kali aku ke sini. Lebih banyak bunga, sangat indah!” puji Zishu sembari bermain dengan kamera yang di bawanya.
Dari kecil Zishu juga memang hobi mengabadikan sesuatu hal, objek atau apa pun yang menurutnya indah. Kamera yang di bawanya sekarang di berikan oleh mamanya dulu. Sampai sekarang masih sangat bagus. Di tambah lagi keahlian Zishu dalam bidang fotografer membuat hasil fotonya tidak pernah mengecewakan.
“Di sini juga sudah bertambah beberapa area baru dan tidak kalah indah. Kamu mau lihat ke sana?” Chen beralih menatap Zishu.
“Tentu saja mau, kak!” sahut Zishu dengan antusiasnya.
“Kakak akan membawamu ke sana,” ucap Chen, langsung di balas anggukan Zishu.
Zishu dan Chen mulai berjalan memasuki kawasan Beijing Botanical Garden. Pertama kali masuk, mata mereka di sambut dengan hamparan bunga Tulip dengan berbagai macam warna. Zishu tentu tidak akan melewatkan keindahan itu, ia langsung memotret menggunakan kameranya. Chen hanya memperhatikan apa yang di lakukan Zishu, tanpa berniat mengganggunya.
Semakin masuk ke dalam Beijing Botanical Garden, makin bertambah pula keindahannya. Zishu tidak melewatkan satu pun area di Beijing Botanical Garden. Ia terus memotret keindahan taman yang terdapat banyak hal di dalamnya. Begitu juga dengan Chen yang selalu memperhatikan dan mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya mencapai area yang tadi disebutkan Chen. Ternyata apa yang di ucapkan Chen memang tidak salah. Area itu tidak kalah indah dan Zishu benar-benar mengakui hal itu.
“Wah ini benar-benar indah dan juga nyaman kak! Aku sangat menyukai area ini,” ungkap Zishu akan kekagumannya.
Area yang di maksudkan Zishu tidak lain adalah berupa sebuah jembatan penghubung. Di bawahnya terdapat danau dengan beberapa bunga indah yang tumbuh di air. Di sekitar jembatan terdapat pohon-pohon hias berukuran besar. Sehingga membuat keadaan di jembatan sangat rindang dan Zishu menyukai itu.
“Kakak tahu kalau kamu akan menyukainya. Secara kan kamu menyukai area seperti ini,” Chen tersenyum tipis. Ia sangat ikut senang melihat Zishu yang seperti ini.
“Memang benar seperti itu. Di area seperti ini aku bisa merasakan segarnya udara alami. Cocok untuk menenangkan pikiran dan hati. Menyingkir sebentar dari keramaian dan menikmati ketenangan,” ucap Zishu sembari melepas maskernya.
Ia ingin menghirup segarnya udara yang ada di sekitarnya. Beruntungnya area itu tidak terlalu ramai, jadi Zishu bisa membuka maskernya sebentar.
“Di sini sangat segar!” lanjutnya. Ia menghirup udara dengan kedua matanya terpejam. Merasakan sepenuhnya kesegaran udara.
“Dan segar tanpa polusi,” Chen menimpali ucapan Zishu.
“Iya, itu sudah sangat jelas kak! Di sini udaranya segar, bebas polusi sebab banyak pohon. Itulah alasan kenapa aku menyukai area seperti ini,” Mata Zishu terbuka kembali. Senyuman manis di bibirnya tidak pernah memudar.
“Ckck jelaslah aku makin cantik. Kalau makin tampan itu kakak,” decak Zishu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. Maskernya kembali di pakainya, sebelum ada orang yang mengenalinya.
“Fuufft kamu bisa saja,” Chen tertawa kecil mendengar jawaban Zishu. Adiknya itu selalu saja bisa membalas godaannya dengan jawaban telak.
“Kan memang faktanya begitu. Perempuan pasti cantik, mana ada di sebut tampan!” celetuk Zishu tanpa menatap ke arah Chen.
Zishu kembali sibuk memotret keindahan area ini. Setiap sudut area itu tidak di lewatkannya untuk di potret. Hingga fokus matanya ke arah satu area, tidak jauh dari jembatan tempatnya berdiri. Di sana terdapat seorang laki-laki yang di kenalinya. Namun ia belum bisa memastikan jika laki-laki itu benar di kenalinya.
Daripada penasaran, Zishu menggunakan kameranya untuk memastikan. Seperti kamera yang di pakai fotografer pada umumnya. Zishu dapat mendekatkan jarak kamera dengan objek foto.
“Benar juga sih! Hhaha,” tawa Chen pecah, menurutnya lucu saja kalau sampai ada perempuan di sebut tampan.
Berbeda halnya dengan Chen yang sedang tertawa lepas, Zishu tetap fokus pada kameranya. Semakin di mainkan jarak pada kameranya, ia dapat memastikan kalau laki-laki itu benar di kenalinya. Bukan di kenali orangnya tapi lebih tepatnya hanya mengenali wajahnya. Laki-laki itu tidak lain adalah orang yang telah menolongnya saat hampir terjatuh tadi akibat tersandung.
“Ternyata benar dia orangnya!” gumam Zishu tanpa berhenti menatap laki-laki itu lewat kameranya.
__ADS_1
“Kamu bicara apa?” tanya Chen tidak mendengar jelas gumaman Zishu.
“Ti—dak apa-apa kak! Aku tadi hanya bicara kalau ternyata benar area ini indah,” jawab Zishu gugup tanpa berhenti menatap laki-laki tadi dari fotonya.
“Oh itu,” Chen ber Oh ria dan mengangguk mengerti.
“Kamu lanjut saja dulu fotonya. Kakak ke luar dulu! Mau membeli minuman. Kamu mau nitip apa?” di luar Beijing Botanical Garden memang terdapat beberapa pedagang yang berjual makanan dan minuman.
Mereka tidak di perbolehkan masuk ke dalam untuk berdagang, demi menjaga kebersihan Beijing Botanical Garden.
“Samakan saja dengan kakak!” sahut Zishu dan di angguki Chen yang kemudian segera pergi.
Seperginya Chen, Zishu melanjutkan kembali kegiatannya tadi. Menatap jelas lewat kamera, betapa tampan dan coolnya laki-laki yang tadi pagi menolongnya. Sungguh ia merasa tertarik pada laki-laki itu. Ada pesona tersendiri yang di perlihatkannya.
“Benar-benar sangat tampan! Boleh tidak ya memfotonya untuk di jadikan walpaper ponselnya,” ucap Zishu pelan pada dirinya.
Senyumannya semakin mengembang karena melihat laki-laki itu. Di matanya, laki-laki itu sangat tampan. Saat tertawa pun membuatnya semakin tampan. Ini pertama kalinya Zishu merasa tertarik itu pada laki-laki, bahkan yang baru di kenalnya.
Ah rasanya Zishu tidak pernah bertemu laki-laki sepertinya. Sayang bukan jika di lewatkan begitu saja untuk di foto?
“Boleh aja deh! Kan juga gak ada yang tahu. Sayang kalau gak di foto,” lanjutnya sembari mulai memotret laki-laki itu dari kejauhan.
Zishu memotret laki-laki itu dari sudut yang menurutnya sangat tepat. Tidak henti-hentinya ia tersenyum kala mendapatkan hasil foto yang sangat sesuai. Kali ini objek fotonya bukan lagi benda mati tapi manusia yang terlihat sangat sempurna di matanya.
“Hasil yang sangat memuaskan!” puji Zishu pada hasil fotonya yang terpampang jelas di kameranya.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...
__ADS_1