Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 23. Tipe Idaman


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Baiklah terserah kau saja. Siapa yang memutar botol selanjutnya?” tanya Xuesi menatap semuanya secara bergantian.


“Sebaiknya Lui. Ia juga belum ada memutar botol,” tunjuk Enlai pada Lui yang duduk dengan santainya.


“Tidak masalah!” sahut Lui segera memutar botol tadi. Botol mulai berputar dengan cepat hingga akhirnya melambat dan berhenti, tepat mengarah ke Zishu.


“Nona Zishu—Ayo siapa yang mau bertanya padanya!?” seru Guan pada semuanya—terkecuali Zishu sendiri yang tidak menyangka akan mendapat giliran secepat itu.


“Aku saja yang bertanya,” ucap Jun, di balas anggukan oleh semuanya. “Truth Or Dare!?”


“Eum—Truth deh,” jawab Zishu sedikit ragu. Namun lebih baik Truth, daripada memilih Dare.


“Truth ya?—Seperti apa tipe laki-laki idamanmu, Little Baby?” tanya Jun di sertai senyuman jahil.


Zishu memutar malas bola matanya. Kakaknya itu—pasti menjebaknya dengan pertanyaan seperti ini. Di lihat dari senyum jahil yang di perlihatkan Jun sekarang pun—ia yakin akan hal itu.


“Tipe laki-laki idamanku—” Zishu menggantungkan ucapannya, membuat semuanya tidak sabar mendengarnya. Tanpa terkecuali Lui yang sedari tadi sudah siap mendengarkan. “—Jelasnya tidak seperti kakak. Laki-laki tipe ku, pastinya harus mau menerima apa adanya diriku. Berusaha mencintaiku setulus hati. Selalu setia, penyayang, tidak terlalu over protektif, mendukungku dalam segala situasi selama itu baik. Terakhir, laki-laki itu harus bertanggung jawab dan pekerja keras. Itulah tipe laki-laki idamanku,”


“Haishh kakak tahu kalau laki-laki seperti kakak ini, tidak bisa masuk dalam tipe idamanmu. Tidak perlu di ungkit lagi,” keluh Jun pura-pura kecewa. Tidak ada niat di hatinya untuk memiliki Zishu. Sadar diri sajalah. Dirinya tidak pantas untuk gadis sebaik Zishu yang sudah di anggap sebagai adiknya itu.


“Wah berarti aku juga tipemu dong, nona Zishu. Aku memenuhi semuanya,” canda Kang Dishi.


Plak


“Ck—kenapa kau memukulku?” decak Kang Dishi karena Xuesi memukul lengannya.


“Kau itu terlalu kepedean jadi orang. Mana mau nona Zishu denganmu. Di tambah lagi—nona Zishu juga sudah mempunyai tunangan,” celetuk Xuesi.


“Haha siapa tahu nona Zishu ye, kan? Kita tidak pernah tahu akhirnya, kalau belum di coba.” ucap Kang Dishi di sela tawanya.


“Ya terserah kau sajalah!” seru Xuesi tidak mau melanjutkan pembicaraan itu lagi. Ia tahu kalau dirinya sulit menang dalam pembicaraan melawan Kang Dishi—Si ahli bersilat lidah.


“Hahaha!” gelak tawa seketika terdengar di taman belakang kediaman Jun.


Tawa itu berasal dari Jun, Enlai, Liang dan Guan. Melihat Xuesi yang tidak pernah menang dari Kang Dishi adalah hal yang lucu. Xuesi—laki-laki yang punya segudang rayuan untuk perempuan itu, selalu tidak berkutik di hadapan Kang Dishi.

__ADS_1


Berbanding balik dengan mereka, Zishu hanya tersenyum tipis. Ia tidak mengerti, hal apa yang lucu sampai 4 orang laki-laki di dekatnya itu tertawa. Sisanya, Lui dan Chen justru hanya tertawa kecil saja.


“Xuesi—Xuesi, sudah tahu tidak bisa menang dari Kang Dishi. Kenapa harus terus berdebat dengannya,” Jun menggeleng-gelengkan kepalanya, di tengah tawanya yang masih pecah.


“Astaga Jun! Kau seperti tidak tahu dengan Xuesi saja. Ia tidak mau menerima kekalahan dari Kang Dishi. Sebelum berhasil menang,” sahut Liang dengan nada meledek ke arah Xuesi.


“Hahaha benar itu,” Guan menimpali dengan masih dengan tertawa renyah. Kekalahan Xuesi benar-benar menjadi lelucon bagi mereka.


“Kalian ini—” Xuesi ingin marah tapi di hentikan oleh Chen.


“Berhentilah menertawakan Xuesi. Sebaiknya kita lanjutkan permainan saja,” tegur Chen pada teman-temannya.


“Hhha baiklah-baiklah kami berhenti sekarang,” perlahan keadaan taman belakang kediaman Jun kembali damai.


Jun, Liang, Guan dan Enlai sudah berhenti tertawa. Namun mereka berempat sudah mendapatkan tatapan kesal dari Xuesi. Mereka berusaha bersikap biasa saja, walau sebenarnya masih ingin tertawa lagi.


“Siapa lagi yang mau mutar botol?” tanya Guan menatap semuanya secara bergantian.


Belum sempat ada yang menjawab, tiba-tiba terdengar ada ponsel berdering. Suara dering itu terdengar jelas dari Zishu karena berasal dari ponselnya.


“Kalian lanjut saja dulu. Aku mau angkat telepon,” Zishu sudah memeriksa nama si penelepon.


“Oke, kita lanjut saja!” seru Jun sesudah melirik ke arah Zishu yang sudah menjauh. Teman-temannya mengangguk pelan dan permainan putar botol di lanjutkan.


Berbeda halnya dengan para laki-laki itu, kini Zishu sedang berdiri sangat menjauh dari mereka. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sebelum mengangkat telepon.


“Halo paman! Tumben sekali meneleponku,” sapaan ramah di berikan Zishu. Bertolak belakang sekali dengan raut wajahnya.


“[...................]”


“Oh aku kira ada hal penting. Aku pulang 3 hari lagi. Memangnya ada apa paman?” tanya Zishu tetap pada nada bicaranya.


“[...................]”


“Apa sebenarnya maksud paman? Pertanyaan paman seperti tidak menginginkan aku memimpin perusahaan milik papa,” sindir Zishu tanpa ragu.


“[..................]”


“Fuufft aku hanya bercanda paman. Jangan terlalu di anggap serius,” Zishu terkekeh pelan. Pamannya itu ternyata orangnya sangat peka. Sampai tanpa sadar mengiyakan sindirannya tadi.

__ADS_1


“[..................]”


“Aku tahu itu. Mana mungkin paman tidak senang melihat keponakannya ini bisa menggantikan papa untuk memimpin perusahaan. Bukankah begitu, paman?” tanya Zishu ramah. Tangan kirinya sibuk menyentuh tanaman hias di dekatnya.


“[..................]”


“Baguslah paman. Aku ikut senang mendengarnya,” sahut Zishu tersenyum samar. Ia sedikit membungkuk agar dapat melihat jelas, tanaman hias milik Jun yang berukuran lumayan kecil. “Oh iya paman. Aku lihat postingan nya, kak Fei sedang pergi liburan ya?


“[..................]”


“Ah benarkah? Aku kira kak Fei sedang liburan. Ternyata ada urusan pekerjaan,” sungut Zishu pura-pura terdengar terkejut dan percaya. Padahal kenyataannya pamannya itu sedang berbohong.


“[..................]”


“Tidak perlu repot-repot paman. Nanti biar kak Chen saja yang menjemputku,” tolaknya dengan halus tawaran dari pamannya.


“[..................]”


“Iya baiklah, paman. Aku juga mau ada yang di kerjakan sekarang. Nanti kita lanjut lagi saat aku sudah pulang ke Beijing,” sahut Zishu sambil masih sibuk melihat sekaligus menyentuh tanaman hias milik Jun.


“[.....................]”


Tidak ada balasan lagi yang di berikannya. Ia langsung mematikan telepon secara sepihak. Menatap sinis ke layar ponselnya yang bertuliskan nama pamannya.


“Ck—paman kira aku bodoh? Aku tahu kalau paman itu hanya berbohong,” Zishu berdecak kesal menatap layar ponselnya.


“Ada apa? Kenapa kelihatannya kamu tidak senang setelah menerima telepon?” tanya Chen yang tiba-tiba datang menghampirinya.


“Tidak apa-apa, kak! Tadi paman Bi`an meneleponku untuk sekedar basa-basi” jawab Zishu kembali tersenyum tipis. Akan tetapi raut wajah tidak senangnya, tidak bisa di tutupi dari Chen.


“Basa-basi tapi bikin kamu tidak senang. Tuan Bi`an pasti mengatakan sesuatu yang membuatmu merasa tidak senang seperti ini. Benarkan?” terka Chen yang tahu benar akan hal itu.


“Hmmm kakak benar,” deham Zishu


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...


__ADS_2