
Tyler dan semua anggota black puma menginap di desa terpencil itu, mereka mendirikan tenda di lapangan yang kebetulan memiliki pemandangan indah. Udara dingin di sana juga semakin mendukung mereka untuk membuat api unggun bersama.
Mereka juga melakukan bakar bakaran saat malam hari, Tyler suka berada di sana. Selain jauh dari hingar bingar kota, di sana juga terasa sangat tenang.
Seperti saat ini, dia sedang duduk memandang bulan.
"Ty, ayam lo nih." Teriak Renan membuyarkan Tyler yang sedang duduk menatap bulan dengan seorang anak kecil yang sedang tidur di pangkuannya.
"Shh.." Ujar Tyler pada Renan. Renan langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda. Anak kecil itu menggeliat, tapi tidak sampai bangun.
"Sorry, biar gue bantu gendong dan balikin dia ke ambu." Ujar Renan, tapi Tyler menggeleng.
"Gue aja, tunggu gue di api." Ujar Tyler, dan Renan mengangguk.
"Oke." Ujar Renan. Tyler pun bangun dan menggendong anak perempuan berusia empat tahun, yang merupakan cucu dari ambu.
Setelah Tyler mengembalikan anak itu, Tyler pun berjalan menemui semua anggotanya yang sedang asik dengan bakaran mereka.
"Ty, nih punya lo." Ujar Luigi, memberikan satu ekor ayam utuh yang sudah di bakar untuk Tyler.
"Thanks." Ujar Tyler, lalu bangun dari duduknya dan mengangkat ayam itu. Semua anggotanya menatap kearahnya.
"Abis ini kita jalan balik, besok sekolah. Terimakasih kalian semua yang udah mau ikut ke sini dan ngeramein suasana di sini, mereka semua seneng dengan kedatangan kita. Semoga kedepannya Black puma bisa berbagi lebih banyak hal lagi dengan mereka." Ujar Tyler.
"Bersihin dan beresin tempat ini tanpa meninggalkan sampah sedikitpun, black puma." Ujar Tyler, dan menggigit ayamnya.
"Siap, black puma!!" Ujar anggota Geng Tyler dengan serempak.
Berbeda dengan Tyler yang sedang makan ayam dengan anak - anak geng motornya, Lana saat ini berdiri di jembatan dan melihat kesana kemari dia menunggu kapan kiranya Tyler datang.
"Ish! Tuh orang kalo di tungguin gak ada, giliran gak di tungguin nongol, kek setan aja." Ujar Lana kesal.
Lana hendak mengembalikan uang yang di berikan oleh Tyler tanpa kejelasan, tapi Tyler tidak muncul sejak kemarin.
"Mana gue harus bantuin mama, hadeh!!" Lana makin kesal.
"Udahlah, coba besok pagi ada gak dia di sini. Gue bantuin mama dulu, dari pada nanti gue di liat ayah di sini." Ujar Lana, lalu pergi.
Dan sampai beberapa jam berlalu, malam menjadi pagi dini hari. Lebih tepatnya pukul dua pagi, Lana kembali berdiri dan menunggu Tyler di jembatan itu, tapi tidak juga muncul.
__ADS_1
"Sejam lagi, gue balik dulu deh." Ujar Lana. Dia menunggu jam tiga, karena tempo hari dia bertemu dengan Tyler jam tiga dini hari.
Lana pun pulang, dan sesampainya di rumah dia di sambut dengan gelas kaca terbang yang mendarat di pelipis kanannya.
"Prang!!" gelas itu pecah setelah mengenai pelipis kanan Lana dan jatuh ke lantai.
"Ngiiinnggggggg" Kepala lana berdenging setelah mendapat lemparan gelas kaca.
"G*blok! Lo gak punya otak apa gimana, ha?! Ini jam berapa, lo jalan lama banget sengaja ngulur waktu?!" Teriak ayah Lana, Lana menyentuh pelipisnya yang mengalir darah.
Lana menatap kearah ayahnya, dan ayahnya yang emosi langsung saja melayangkan tamparan yang keras pada Lana. "PLAK!!"
"Jangan sekali - kali lo natap gue kaya gitu, lo mau gue bunuh, huh!? Masih bagus gue ijinin lo tinggal di sini, jadi jangan bikin gua enek karena liat muka lo." Ujar Ayah Lana sembari menoyor kepala Lana.
Lana masih memegang keningnya yang berdarah, tiba tiba saja ayahnya mendorong Lana hingga punggung Lana membentur meja.
"AKH!!" Pekik Lana kesakitan.
"Sakit, huh?!! Mati aja lo, gak usah hidup." Ujar ayah Lana dengan tatapan bengis.
"Gue nikahin ibu lo, bukan mau jadi bapak buat lo." Ujar ayah Lana.
"Kalo gitu gak usah sekalian nikahin mama gue!" Ujar Lana melawan.
Mata Lana panas dan dia menangis tanpa terisak atau bersuara, dia menerima perlakukan itu setiap hari dari ayahnya, jadi dia sudah terbiasa. t
Tapi hari ini sakitnya luar biasa hingga membuat dia menangis.
Lana bangun dengan susah payah, dan hendak masuk ke dalam kamarnya, tapi ayahnya menjambak rambutnya dan menariknya.
"Sini lo!!" Ujar ayah Lana dan menyeret Lana.
"Sakit!!! Gila!!" Teriak Lana kesakitan, karena ayah Lana menjambak dengan sangat keras.
"Lepasin, sakit!!" Teriak Lana, tapi ayahnya justru semakin kencang mencengkeram rambut Lana.
Ayah Lana menarik Lana ke dapur dan menghempaskan Lana hingga terhuyung, bahkan rambut Lana sampai tertinggal di tangan ayahnya sangat banyak.
"Jijik gue sama lo." Ujar ayah Lana, sembari mengibaskan tangannya dari rambut Lana.
__ADS_1
"Bawa tuh bahan ke ibu lo, awas lo bikin ulah." Ujar ayah Lana lalu pergi.
Lana mengusap kepalanya yang merasakan sakit luar biasa, lalu dia menghapus air matanya. Dia mencuci lukanya yang terkena gelas kaca dengan air mengalir, lalu mengelapnya dengan tisue.
Lana juga merapihkan rambutnya dan lalu menghapus air matanya yang terus mengalir sebelum akhirnya dia mengangkat box kontainer berisi bahan jualan ibunya.
Di jembatan, Lana tidak juga melihat Tyler di sana, akhirnya dia hanya berjalan lurus terus untuk mengantar bahan jualan ibunya.
Sesampainya di tempat jualan ibunya, ibunya langsung dengan panik menghampiri Lana.
"Kamu kenapa nak? Apa ayah mukul kamu lagi?" Tanya ibunya dengan khawatir.
"Kenapa mama gak cerai aja si ma, dari dia? Aku bisa ngelindungi mama dan pergi ke tempat yang jauh. Aku bisa kerja tanpa harus mama turun tangan kerja begini." Ujar Lana dengan kesal pada ibunya.
"Mama gak bisa, nak." Ujar ibu Lana, dan Lana memejamkan matanya mendengar itu.
"Kenapa?? Toh bukan kita yang menumpang dengan dia, dia yang hidup dari uang jualan mama sama aku. Dia cuma pria bren*sek gak berguna yang cuma bisa judi dan minum doang." Ujar Lana.
Ibu Lana terlihat bingung dengan wajah sendu. Lana yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.
"Lama - lama aku mungkin bisa di bunuh beneran sama dia, dan mama baru bisa sadar dan mengambil keputusan saat semua udah terlambat!" Ujar Lana, lalu masuk ke dalam.
"Nak, bukan begitu." Ujar ibu Lana, dan mengejar Lana ke dalam.
"Aku gak mau ngomong sama mama." Ujar Lana, dan ibunya menjadi sedih.
"Mama juga pengen pergi dari dia dan ngelakuin apa yang kamu ucapkan, nak. Mama mau pergi dan hidup bahagia hanya kita saja berdua. Tapi semuanya tidak semudah itu.. tidak segampang itu." Ujar ibu Lana memberi pengertian.
"Apa alasan mama gak bisa cerai dari dia sebenarnya, ma?" Tanya Lana, dan ibunya hanya diam.
"Dengar aku ma, sejak mama nikah sama dia, apa pernah aku punya waktu buat main?! Apa pernah aku senyum?! Apa pernah aku.." ( jeda) Lana menahan sesak di hatinya.
"Apa pernah aku tidak terluka?!" Tanya Lana beruntun.
"Sejak hari itu aku kehilangan kebebasan aku, dan jati diri aku. Mama pikir aku masih Lana yang sama yang seperti dulu? enggak ma." Ujar Lana sembari menggelengkan kepalanya.
"Lana yang ceria yang mama kenal, udah mati. Sejak dari hari pernikahan mama dengan pria bren*sek itu." Ujar Lana, dan air mata ibunya langsung luruh begitu saja.
Ibu Lana terisak mendengar putrinya berkata demikian, tidak dia sangka jalan yang dia ambil salah dan berakhir menjadi penderitaan bagi putrinya sendiri.
__ADS_1
"Aku udah besar, ma. Aku lebih dari mampu buat menghidupi mama dan aku, aku bisa bekerja. Keputusan ada di tangan mama, termasuk nyawaku." Ujar Lana, lalu berjalan pergi.
TO BE CONTINUED..