
Tyler dan Lana membelah jalanan kota Jakarta yang sedang sangat sibuk di jam - jam itu. Itu adalah kali kedua Tyler memboncengkan gadis lain, setelah Safia.
Tyler heran karena Lana sama sekali tidak berteriak ketakutan saat di boncengkannya, padahal dia membawa motor di atas rata - rata. Dan entah mengapa Ada perasaan aneh yang saat ini Tyler rasakan.
'Kenapa jantung gue selalu kayak gini kalo sama ni cewek? kapan hari lalu waktu gue liat dia nangis juga jantung gue deg - degan gini.' Batin Tyler heran.
"Fokus! gue belom siap mati." Ujar Lana, dan itu membuat Tyler memutar bola matanya.
'Udah pasti karana dia cewek aneh, biasanya juga jantung gue baik - baik aja.' Batin Tyler.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah gang setelah sepanjang jalan Lana memberi arah pada Tyler.
"Ini bukannya rumah warga?" Tanya Tyler.
"Ya, ini tempat mereka." Ujar Lana, dan Tyler hanya menatap Lana tidak percaya.
"Kalo siang, gang ini rame kayak gang - gang biasanya. Tapi kalo malem, beda lagi. Dan lo jangan sembarangan bicara, karena daun juga punya telinga." Ujar Lana, dan Tyler mengernyitkan keningnya.
"Ayo ikut gue." Ujar Lana dan menarik tangan Tyler, lebih tepatnya menggandeng tangan Tyler dan berjalan masuk kedalam gang.
Anehnya, Tyler tidak melepaskan atau mengibaskan tangannya, dia justru ikut fokus melihat kesana kemari. Hingga akhirnya mereka sampai di pekarangan milik warga, dan Lana naik ke atas tembok pembatas.
"Sini." Ujar Lana pada Tyler.
"Ngapain?" Tanya Tyler. Lana pun berdecak sembari memutar bola matanya.
"Lo mau tahu tempat pengedarnya gak?! Cepet!" Ujar Lana, dan Tyler mengangguk.
Tyler naik ke atas juga dan dari sana Lana menunjuk satu rumah diantara banyak nya rumah warga.
"Itu, itu adalah sarangnya pengedar. Lo bisa temuin Bobi yang gue maksud, di sana." Ujar Lana sembari menunjuk satu rumah. Tyler pun menganggukan kepalanya mengerti.
"Oke, udah kan? Ayo turun." Ujar Lana.
Tyler pun turun, dan dia baru sadar bahwa sejak tadi dia berada tepat di depan bagian dada Lana, Tyler langsung berdehem dan melompat begitu saja ke bawah, dan tanpa sadar wajahnya merah.
'Apa - apaan lo Ty.' Batin Tyler.
"Ayo balik, bisa kena marah guru pembimbing lagi gue." Ujar Lana setelah turun dari pohon, dan dia kembali frustasi.
"Gak bakal, kan gue yang bawa lo." Ujar Tyler.
"Kita buktiin." Ujar Lana. Dan akhirnya mereka berdua berjalan pergi dari sana dan kembali ke sekolah.
Lana dan Tyler sampai di sekolah dan ternyata sudah masuk jam istirahat, yang berarti Lana melewatkan jam pelajaran pertama.
"Mampus gue." Ujar Lana semakin fristasi. Dia melepas helm Renan dari kepalanya dengan buru - buru dan langsung berlari masuk ke sekolah, dan sadar atau tidak Tyler tersenyum melihat kerandoman Lana.
__ADS_1
"Lana Lindsey!" Panggil guru pembimbing.
"Kan bener, hadeh.. baru juga beberapa hari kuping gue adem." Gumam Lana.
"Ya, bu." Sahut Lana.
"Ikut saya ke kantor." Ujar guru, dan Lana mengangguk.
Lana masuk ke ruang guru pembimbing, tapi belum sempat guru itu melontarkan ceramahnya, Tyler masuk kedalam dan langsung berdiri di sebelah Lana.
"Ngapain kamu di sini, Tyler?" Tanya guru dengan heran.
"Saya yang bawa Lana pergi, jadi saya yang salah. Ibu boleh hukum saja juga." Ujar Tyler, dan Lana langsung menatap tajam Tyler.
"Kok juga?? Kan emang harusnya elo yang di hukum, enak aja." Ujar Lana.
"Lana, kamu tidak menganggap saya ada?" Ujar guru, dan Lana menunduk.
"Maaf bu." Ujar Lana, dan Tyler menahan senyumnya.
"Kalian berdua di hukum, beri hormat pada sang merah putih." Ujar Guru.
"Baik, bu." Sahut Tyler, dan Lana meranga.
"Kenapa? Kamu mau bilang kamu tidak bersalah juga kali ini? Kamu sudah jelas pergi di jam masuk sekolah, itu bolos namanya." Ujar guru pada Lana.
"Iya bu, maaf." Ujar Lana akhirnya.
Dan disinilah mereka berdua, di depan bendera merah putih dan memberi hormat. Wajah Lana di tekuk karena dia kesal, sebab dia tidak berencana bolos tapi jadi kena hukuman bolos gara - gara Tyler.
Dari dalam kelas, Jack dan Renan melihat pemandangan aneh bin ajaib itu dari atas. Mereka masih bertanya - tanya apa gerangan yang terjadi dengan Tyler hingga mau - maunya di hukum bareng cewek.
"Itu Tyler bukan si, Jack? Kok gue ngerasa itu bukan Tyler, ya." Ujar Renan.
"Kan gue bilang juga apa, kayaknya Tyler tuh kenal ama tuh cewek, tapi gak bilang kita." Sahut Jack.
"Gak mungkin, lo kayak gak kenal Tyler aja." Ujar Renan.
"Kalian mau gabung dengan mereka? Silahkan keluar." Ujar guru yang ternyata sudah di belakang Renan dan Jack.
"Hehe, nggak bu, cuaca di luar sedang panas, jadi kami di sini saja." Ujar Renan dengan senyum kakunya.
Beralih ke sisi Tyler dan Lana yang sedang di jemur di bawah matahari, Lana berulang kali menghela nafas karena dia kepanasan.
Tyler melihat bayangan tubuh Lana yang berada di hadapannya, gerak geriknya random, dan itu membuat Tyler menahan senyum.
"Siapa nama Lo?" Tnya Tyler mencairkan suasana yang sunyi.
__ADS_1
"Lana." Sahut Lana dengan malas, dan Tyler hampir terkekeh di buatnya.
"Lana, kenapa Lo balikin uang yang gue kasih ke elo?" Tanya Tyler membahas uang yang di kembalikan oleh Lana tanpa kurang sepeserpun.
"Gue gak kenal lo kita juga gak deket, kenapa lo ngasih duit ke gue?" Tanya Lana balik.
"Lo bilang semua orang punya kesempatan untuk terbang dan mencari kebahagiaan mereka, sesulit apapun kondisinya. Selagi masih ada sayap, meskipun rusak, kita harus berusaha terbang dan bangkit." Ujar Tyler.
"Jadi apa hubungannya kata - kata gue, sama duit yang lo kasih?" Ujar Rena bingung.
"Lo di buly karena biaya lo sekolah di sini di tanggung sekolah, kan? Gue kasih lo uang supaya lo bisa bungkam mulut guru si*lan itu supaya gak ngerendahin orang." Ujar Tyler. Lana tertegun mendengarnya.
'guru si*lan?' Batin Lana. Tapi lebih di itu Lana tidak menyangka Tyler memperhatikannya juga.
"Kenapa lo peduli sama gue?" Tanya Lana. Dan kini Tyler yang bingung sendiri.
'Iya juga, kenapa gue peduli sama ni cewek?' Batinnya heran.
"Lo... gak naksir gue, kan?" Tanya Lana dengan nada dan tatapan aneh pada Tyler.
"Ck! Percaya diri banget lo. Gue bukan peduli, gue punya dendam sama tuh guru." Dalih Tyler tapi tidak membalas tatapan Lana.
"Ohh.. Hehehe, sorry. Gue pikir lo cowok dengan otak yang korslet yang tiba tiba naksir gue, tapi Iya juga.. gak bakal ada yang naksir sama gue." Ujar Lana kembali menatap tiang bendera, dan Tyler melirik mencuri - curi pandang pada Lana.
Ada sedikit rasa aneh di hatinya yang tidak pernah dia rasakan saat ini. Padahal waktu dengan Fia dia gak seperti itu, rasanya berdebar tidak jelas.
"Ekhem! Kenapa lo kalo jalan selalu ngintung duit?" Tanya Tyler mengganti topik pembicaraan.
"Lo liat gue?" Tanya Lana.
"Hampir tiap hari gue liat lo jalan ngitung duit, pernah sekali gue liat lo jalan kayak orang gila mondar mandir nyariin duit juga." Ujar Tyler, dan Lana terkekeh mendengarnya, Tyler kembali tertegun melihat senyuman Lana yang begitu manis dan indah.
"Kurang kerjaan banget lo ngeliatin gue jalan sambil ngitung duit?" Ujar Lana sembari menahan kekehannya.
"Yeh.. orang lo lewat depan gue, gimana gue gak liat." Ujar Tyler dan menoyor kepala Lana, Lana pun terbahak.
"Yakin lo gak naksir gue?" Tanya Lana, dan berakhir Tyler mengacak rambut Lana, sementara Lana terbahak.
"Lana! Tyler! Kalian di hukum bukan untuk bermain!" Teriak Guru. Dan mereka baru sadar, hampir di setiap jendela banyak yang melihat kearah mereka.
"Iya bu, maaf." Ujar Lana dan kembali memberi hormat pada bendera.
"Lo si.." Ujar Lana.
"Nyalahin gue, lagi.." Ujar Tyler dan Lana terkekeh. Tanpa Tyler sadar, dia banyak bicara hari ini, dan itu karena Lana.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1