
Luigi datang ke rumah Lana, di sana Lana tampak bingung dengan kedatangan Luigi yang menunjukan wajah sendunya.
"Kenapa lo, Gi?" Tanya Lana.
"Gue dateng buat kasih ini ke lo, Na. Dari Tyler." Ujar Luigi dan menyodorkan surat pada Lana.
"Tyler??" Ujar Lana senang, dan Luigi mengangguk.
Lana langsung menerima surat itu, dan setelah surat sudah di terima Lana, Luigi pun pamit pulang. Lana masuk kedalam rumahnya lalu dia langsung buru - buru membuka surat dari Tyler untuknya itu.
"Hai, cantiknya aku, Apa kabar?? Aku harap kamu baik - baik aja. Maaf aku gak bisa di samping kamu, kayaknya keinginan kita buat nikah muda nggak bisa aku wujudin sekarang, karena aku di sini. Tolong tunggu aku, ya.. Aku tau mungkin ini terdengar egois dan menyakitkan buat kita, tapi aku sangat berharap kamu mau menunggu aku. I love you my Lana, jaga diri baik - baik, ya.. jangan telat makan, dan semangat ujianya sampai jumpa nanti."
Begitu isi surat dari Tyler untuk Lana, sangat singkat, tapi Lana membacanya dengan air mata yang menetes. Dia yakin Tyler pasti sangat menderita sendirian.
"Alu bakal tunggu kamu." Gumam Lana, lalu memeluk surat itu kemudian terisak.
Tapi.. Apakah takdir bisa semudah yang Tyler dan Lana harapkan? Nyatanya Tyler bahkan tidak bisa sama sekali keluar dari pengawasan Rion, karena Tyler tidak mau Rion menyakiti kekasihnya itu.
Cinta mereka tak di restui, mereka di tentang habis - habisan karena derajat mereka tidak sama. Mereka saling mencintai, tapi juga saling menyakiti hati mereka masing - masing.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sampai akhirnya bulan berganti bulan. Lana masih setia menunggu datangnya Tyler yang belum juga ada kepastian, sampai akhirnya...
2 Bulan kemudian...
"Gi, gue tampol lo beneran!" Teriak Lana.
Saat ini Lana, Luigi, Renan, Jack sedang merayakan kelulusan mereka semua. Ernest juga ada di sana, dia ikut merayakan kelulusan teman - temannya, Lana menjadi satu - satunya gadis di tengah geng yang kini di ketuai Luigi.
"Diem, Na.. sini gue fotoin." Ujar Luigi.
"Ogah! Lepas gak!" Teriak Lana.
Yang lain hanya bisa terbahak saja melihat Luigi yang sedang mengoleskan krim kue di wajah Lana.
"Cepet fotoin." Ujar Luigi, dan Renan dengan sigap memotret kekonyolan mereka berdua.
"KYYAAA!!!!" Teriak Lana, semua orang pun terbahak.
Mereka merayakannya di Bogor, di lapangan tempat biasa Tyler berkunjung sambil membagikan sembako pada penduduk di sana.
Setelah mereka selesai dengan kekonyolan mereka, Lana pun langsung membersihkan dirinya di rumah Ambu.
"Pakai bajunya Tyler nggak apa - apa kan neng? Ambu nggak punya baju perempuan muda, anak ambu sudah pindah ikut dengan suaminya." Ujar Ambu.
"Bajunya Tyler?" Lana tertegun.
"Iya, Tyler kadang berkunjung ke sini dulu, kadang dia menginap di sini dan bajunya kadang tertinggal di sini, ambu selalu simpen." Ujar Ambu.
Ambu lantas memberikan baju milik Tyler pada Lana yang masih terdiam. Ya Tyler.. sampai saat ini, Lana tak lagi mendapatkan kabar apapun dari Tyler, sudah dua bulan lamanya.
__ADS_1
"Ambu tunggu di luar, neng." Ujar Ambu, dan Lana mengangguk.
Lana melemas, dia terduduk di kursi dan matanya langsung berair. Ia menangis dan menelungkupkan wajahnya pada baju Tyler. Masih tersisa wangi tubuh Tyler yang tertinggal di baju itu, tubuhnya pun berguncang.
"Hiks.. Hiks.." Lana teriak sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.
Lana merindukan Tyler setiap hari, mereka mungkin bisa di kategorikan cinta remaja, tapi perasaan keduanya sangat dalam.
Sementara itu, di tempat lain...
Jika Lana sedang terisak menangis merindukan Tyler, Tyler sendiri saat ini sedang duduk dan sangat fokus dengan komputer di kamarnya.
Penampilannya sudah banyak berubah, tubuhnya makin tinggi, gaya rambutnya juga sudah berubah tidak lagi gondrong. Kini Tyler terlihat seperti pria dewasa yang berkarisma, tidak lagi seperti Tyler ketua geng motor yang kita kenal.
"Tuan kecil, makanlah dulu.." Ujar pak Dul yang masuk kedalam ruangan Tyler.
"Nanti." Sahut Tyler, tanpa menengok sama sekali kearah pak Dul. Tangannya masih menari indah di keyboard komputernya.
"Ini sudah malam, nanti sakit." Ujar pak Dul.
"Pak dul keluar saja, nanti aku makan makanannya." Ujar Tyler singkat.
Pak Dul hanya bisa menghela nafas mendengarnya. Tuan kecilnya itu selalu sibuk setiap hari, sampai lupa dengan makan dan tidur. Pak Dul pun keluar dari kamar Tyler.
Tyler sedang sangat fokus mengerjakan pekerjaan kantor yang Rion berikan sebagai pembelajaran.
'Sedikit lagi.. Sedikit lagi aku bisa menemuinya.' Batin Tyler.
"Sh¡t! Kenapa harus mimisan sekarang sih." Gumamnya, sambil menyumbat hidungnya yang mengalir darah dengan tisu. Tyler bangun dan merebahkan dirinya di ranjang.
Banyak hal yang Tyler lalui,
Keesokan harinya..
Tyler bangun setelah merasakan sinar matahari menusuk matanya ketika pelayan membuka hordeng kamarnya.
"Siapa yang nyuruh lo buka hordeng!?" Ujar Tyler marah.
"M- maaf tuan muda, tuan menyuruh saya membangunkan anda." Ujar pelayan perempuan itu, ketakutan.
"Tutup balik!" Perintah Tyler.
"T- tapi, tuan muda." Ujar pelayan itu juga takut menentang perintah Rion.
Tyler kemudian bangun dan menutup kembali hordeng kamarnya itu dengan kasar.
"Keluar!" Bentak Tyler.
"T- tapi..."
__ADS_1
"KELUAR GUE BILANG!" Bentak Tyler makin marah.
Pelayan perempuan itu pun langsung tersentak kaget hingga wajahnya pias, dia pun keluar dari kamar Tyler. Setelah pelayan itu keluar, Tyler kembali telungkup di kasurnya lalu kembali memejamkan mata.
Begitulah dia, saat dia sedang bekerja, dia akan lupa makan dan tidur. Tapi ketika dia sudah tidur, dia tidak mau di ganggu sampai dia merasa puas tidur. Tapi yang menyebalkannya adalah, Rion tidak membiarkan itu.
Rion akan selalu menyuruh pelayan untuk membangunkan Tyler dari tidurnya, tadi baru permulaan, setelah ini bisa ada dua atau tiga pelayan lain lagi yang masuk mencoba membangunkan Tyler.
Dan akan berakhir sama, mereka semua mendapat bentakan keras dari Tyler, bahkan tak segan Tyler akan mendorong pelayan itu sampai jatuh. Kasar, Ya.. Itulah Tyler ketika sedang sangat marah.
"KELUAR!!!" Bentak Tyler, untuk kesekian kalinya, tapi kali ini bukan pelayan yang mencoba membangunkan Tyler, tapi Rion langsung.
"Kamu mau seharian bergelut dengan kasur? Baiklah.. kesepakatan itu akan papa tarik kembali." Ujar Rion.
Tyler membuka matanya dan langsung duduk mendengar perkataan Rion. Matanya langsung menatap malas Rion yang berdiri di depan ranjang besarnya.
Tanpa berkata - kata, Tyler bangun dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Rion masih belum bisa mendekati putranya sendiri, padahal sudah dua bulan lamanya mereka tinggal bersama.
Rion melihat tisu bekas darah mimisan Tyler di bawah ranjang, tangannya sedikit tergerak, tapi kemudian dia berbalik badan.
"Apa ada kemajuan dari Tyler?" Tanya Rion ketika dia sudah duduk di meja makan.
"Banyak tuan, tuan muda sudah menguasai apa yang saya ajarkan. Dia juga berhasil memenangkan tender pertamanya, tanpa bantuan saya." Ujar asistennya.
"Bagus." Gumam Rion.
Tak lama, Tyler turun ke bawah sudah dengan pakaian formalnya, lalu dia duduk di meja makan. Cara dudukmya pun tidak berubah, mereka berada di satu meja makan, tapi Tyler duduk di ujung, dan Rion di sisi ujung satunya.
Makanan tiba, dan Tyler pun memakan makanannya tanpa bersuara.
"Tuan muda, hari ini tuan muda akan menandatangani proyek yang tuan muda menangkan." Ujar asisten Rion.
"Hm." Sahut Tyler singkat. Tidak ada lagi pembicaraan diantara ayah dan anak itu, Rion juga tidak bertanya, karena dia tahu itu akan percuma, Tyler hanya akan diam dan menyahut jika Rion marah.
Dan singkat cerita, Tyler sudah berada di dalam mobil saat ini. Dia dan asisten Rion menuju ke lokasi dimana dia akan menandatangani proyek yang di bicarakan sebelumnya.
Tyler langsung menandatangani semua berkas setelah dia baca dengan teliti, lalu dia pun keluar dari gedung hotel itu. Tapi ketika Tyler keluar dari area gedung hotel, matanya melihat kearah taman.
"Stop." Ujar Tyler, tapi asisten Rion menggeleng pada supir mobil itu.
"Stop gue bilang!" Bentak Tyler, akhirnya mobil itu berhenti. Tyler langsung keluar dari mobil, dan dengan panik asisten Rion ikut turun.
Ternyata Tyler hanya duduk di taman itu sambil tatapannya menyusuri tiap sudut taman itu dari tempatnya duduk saat ini.
"Beri tuan muda jarak, dia hanya ingin beristirahat." Ujar asisten Rion pada pengawal yang sudah siap menangkap Tyler.
Asisten Rion hanya bisa menghela nafas melihat nasib ayah dan anak yang bermusuhan itu.
"Seandainya tuan Rion tidak keras kepala.." Gumam asisten Rion.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..