
Tyler pulang ke apartemennya, tapi dia melihat orang yang tak asing yang tampak sedang menunggu datangnya seseorang di loby. Adalah salah satu anak buah Rion yang dia lihat di rumah Rion pagi tadi.
"Mereka sampe ke sini? Baj¡ngan itu masih belum nyerah juga." Gumam Tyler.
Beruntungnya Tyler baru di pos masuk, dan belum di sadari oleh anak buah Rion. Tyler pun langsung memutar balik dan melesat pergi dari apartemennya.
Tyler datang ke markas, tapi di sana juga rupanya sudah ada mobil sedan hitam yang mencurigakan terparkir tak jauh dari ruko/markasnya.
Ruko di sekeliling ruko milik Tyler masih kosong, jadi Tyler yakin mobil itu juga adalah mobil suruhan ayahnya.
"Bren*sek!" Gumam Tyler, lalu menghubungi Luigi.
"Gi, lo dan yang lain dimana?" Tanya Tyler.
"Gue sama anak - anak di markas, Ty. Kenapa?" Tanya Luigi.
"Jangan keluar sedikitpun, dan jangan buka pintu untuk siapapun orang yang datang. Orang - orangnya Rion ada di luar ruko." Ucap Tyler.
"Ban*sat! Kita hajar aja mereka, Ty." Ujar Luigi.
"Jangan! Mereka banyak. Dengerin gue aja, jangan keluar dari markas." Ujar Tyler.
"Okelah, terus lo gimama??" Tanya Luigi.
"Gampang, yang penting kalian gak di apa - apain." Ujar Tyler, dan panggilan di akhiri. Tyler pun kembali melesat pergi dari sana sebelum sempat ada yang melihatnya.
Sementara itu, di rumah Lana..
Lana sedang belajar, dia sangat mempersiapkan dirinya untuk ujian yang sebentar lagi tiba.
"Tok! Tok! Tok!" Pintu rumahnya di ketuk seseorang.
"Mama tumben banget ngetok pintu." Gumam Lana, dan dia bangun. Dan saat itu juga ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Tyler.
Lana membuka pintu dan terkejut karena melihat tamu yang asing dengan pakaian jas formal.
"Siapa anda?" Tanya Lana pada pria tinggi di hadapannya.
"Selamat sore nona Lana, saya adalah asisten tuan Rion." Ujar pria itu yang adalah asisten Rion. Lana sedikit tertegun mendengarnya.
"Tuan Rion ingin berbicara empat mata dengan anda, nona. Bisakah anda ikut saya sebentar?" Tanya asisten Rion.
Akhirnya kini Lana duduk di dalam mobil di sebelah Rion. Lana sama sekali tidak menunjukan sedikitpun wajah takut, justru dia ingin memaki pria di depannya itu.
__ADS_1
"Ada apa anda datang kemari mencari saya?" Tanya Lana formal.
"Oh, tampaknya kamu mengenal saya, bagus kalau begitu." Ujar Rion.
"Saya tidak punya banyak waktu, jika kau tahu diri, saya minta padamu untuk meninggalkan putraku, Tyler se.."
"Atas dasar apa anda memintaku melakukan itu?" Ujar Lana memotong ucapan Rion, bahkan tatapan Lana begitu datar sekarang.
"Atas dasar dia putraku." Ujar Rion.
"Putramu?? Sejak kapan? Saya tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar Tyler menyebut bahwa dia memiliki ayah. Yang saya tahu adalah, Tyler di sia - siakan oleh kedua orang tuanya yang buta hati." Ujar Lana.
Ucapan Lana berhasil menyentil hati Rion, Rion terlihat kesal sekarang.
"Anda mengakui Tyler sebagai anak anda hanya setelah darahnya mengalir di tubuh anda, bukan? Jika kejadian itu tidak terjadi, maka anda pun pasti masih sama saja tidak pernah menganggap Tyler hidup, iya kan? Egois.." Ujar Lana langsung.
"Kau tahu kau bicara dengan siapa saat ini?" Ujar Rion dengan wajah di penuhi amarah.
"Saya tidak perlu tahu siapa anda, yang saya tahu.. anda adalah orang tua paling bodoh dan egois." Ujar Lana.
"Kau!!"
"Jika anda datang kemari hanya untuk menyuruh saya menjauhi Tyler, maka jawabannya tidak akan pernah. Saya tidak akan meninggalkan Tyler, terimakasih." Ujar Lana, lalu hendak keluar dari mobil.
"Tidak tahu diri sekali kau?" Ujar Rion dan Lana terdiam sebentar.
Lana tertawa mendengar penuturan Rion yang teramat sangat sarkas, dia lalu kembali memutar tubuhnya dan menatap Rion dengan senyumnya.
"Anda hidup di jaman apa? Masih menggunakan uang untuk membeli kehormatan orang lain. Saya rasa anda harus belajar untuk tahu sebuah kata cinta tanpa sarat." Ujar Lana.
"Saya mencintai Tyler, bukan karena status sosial keluarganya. Saya mencintai Tyler karena dia adalah Tyler, tanpa embel - embel latar belakang keluarganya, begitu juga Tyler padaku. Harap anda garis bawahi itu." Ujar Lana lagi lalu turun dari mobil Rion.
Lana dengan langkah cepat masuk kedalam rumahnya kemudian langsung luruh di belakang pintu dan menangis.
Rion tertohok dengan ucapan Lana, dulu dia tidak melakukan apa yang Lana ucapkan, sehingga akhirnya dia harus berpisah dengan wanita yang paling di cintainya, Francis.
Sementara gadis yang masih bisa di katakan adalah anak kemarin sore itu, sudah memiliki pemikiran dan keberanian yang dewasa.
"Jalan!" Ujar Rion pada asistennya. Mobil Rion pun melesat pergi dari depan rumah Lana.
Tak lama Rion pergi, Tyler sampai di sana dan langsung berlari masuk kedalam rumah Lana.
"Tok! Tok! Tok!"
__ADS_1
"Be, ini aku." Teriak Tyler.
Lana langsung menghapus air matanya, dan membuka pintu. Tyler berhambur kepelukan Lana, dengan nafas tersenggal - senggal.
"Sukurlah, kamu nggak apa - apa." Ujar Tyler. Dia tidak tahu saja, Lana baru saja berhadapan dengan ayahnya yang memintanya untuk meninggalkan Tyler.
"Kamu kenapa?" Tanya Lana.
"Orang - orangnya Rion ada di apartemen dan markas, mereka masih berusaha ngincer dan nangkep aku lagi." Ujar Tyler, Lana pun tertegun.
Tyler melerai pelukannya, kamudian me atap Lana lamat - lamat.
"Kalo sampe dia dateng kesini, kamu jangan temuin dia, be." Ujar Tyler dengan khawatir.
Lana mengangguk, tapi dia tidak mengatakan kepada Tyler bahwa Rion sebenarnya sudah datang kesana bahkan meminta Lana untuk meninggalkan Tyler.
Di tempat lain..
Rion masih berada di dalam mobil, dia sedang dalam perjalanan pulang. Ia tangan kanannya memegangi pelipisnya yang seakan berdenyut hebat.
"Kenapa tuan melakukan ini? Tuan tau bahwa tuan muda tidak semudah itu di bujuk, apalagi dengan cara seperti ini, dia hanya akan semakin membenci tuan." Ujar asisten Rion.
"Dia anakku, dia yang akan mewarisi semua milikku. Aku berhak melakukan ini, untuk kebaikannya." Ujar Rion.
"Bukankah nanti anda akan menikah dengan nyonya Francis? Anda bisa memiliki anak lagi dengannya dan memilihnya menjadi penerus." Ujar asistennya.
Rion terdiam, setelah kejadian yang terjadi dan dia mengetahui hasil dari penyelidikan anak buahnya, dia merasa ragu untuk maju memperjuangkan cintanya pada wanita yang teramat sangat dia cintai.
"Kau hanya asisten, sebaiknya tahu batasanmu. Aku melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk anakku." Ujar Rion.
"Maaf, tuan." Ujar asistennya. Selalu begitu, sejak dulu..
Rion si kepala batu itu tidak pernah mau mendengar usulan dari orang lain, bahkan setelah dia melakukan kesalahan besarpun, dia masih saja keras kepala.
'Masalahnya anda tidak mengenal putra anda sendiri, apa yang anda lakukan bukan membuatnya semakin dekat padamu, tapi anda membuatnya semakin membencimu.' Batin asisten Rion.
Singkat cerita, Tyler memutuskan pulang ke markas setelah Luigi meneleponnya dan memberi tahu bahwa anak buah Rion sudah pergi. Dia pun sedang bersiap sekarang.
"Jaga diri ya, be.. Jangan temuin Rion kalo dia dateng kesini. Terus kalo kamu liat mobil atau orang orang mencurigakan yang ngikutin kamu, kamu lari aja ke tempat rame." Ujar Tyler memberi pesan.
"Iya, kamu ati - ati di jalan." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk.
"Bye, be.." Ujar Tyler, dan Lana melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Kamu gak boleh nyerah, Na." Gumam Lana pada dirinya sendiri, lalu masuk kedalam.
TO BE CONTINUED..