
Ke esokan harinya..
Sekitar jam tiga dini hari Tyler masih terbangun dan dia masih cukup sadar, tidak seperti Luigi dan yang lainnya yang sudah tewas. Jack bahkan sudah ikut teler setelah dia merapihkan semua isi markasnya itu.
Tapi meski demikian, mulut mereka masih bergumam, dan kebanyakan yang mereka gumamkan adalah isi hati mereka. Maka tidak salah orang menyimpulkan bahwa bertanya kebenaran pada orang mabuk, akan di jawab jujur.
"Gak ada yang sayang gue, orang tua bren*sek gue juga gak ada yang peduli sama gue." Gumam Luigi. Dia bijak saat sadar, tapi dia sangat lemah saat mabuk.
"Hehehe, gak apa - apa mereka gak ada yang sayang gue, gue punya temen - temen yang baik, mereka adalah keluarga gue." Gumam Luigi lagi, lalu tertawa.
Tak jauh beda dengan Luigi, Renan bahkan sudah menangis - nangis ketika ia kembali mengingat perlakuan keluarganya.
"Snif - snif hiks, kenapa mereka ngelahirin gue, kalo ujung - ujungnya gak peduli sama gue. Gue salah apa, sih? Mereka nelantarin gue gitu aja." Gumam Renan.
Tyler sudah biasa mendengar itu, karena hampir setiap mabuk, mereka akan mengoceh tentang keluarga mereka sendiri.
"Kalian adalah keluarga gue, dan sampai kapanpun akan menjadi keluarga gue." Gumam Tyler melihat semua teman - temannya.
"Tau gak sih kalian, gak ada yang pengen lahir dari keluarga rusak tau gak! Semua anak pengen lahir dari keluarga yang utuh dan bahagia, punya orang tua yang sayang sama anaknya, dan bisa jadi andalan anaknya."
( Jeda )
"Gue juga gitu.. gue pengen orang tua gue nanyain gue, gue dimana, gue udah makan apa belom, gue masih.. masih hidup apa udah mati, gue pengen di tanyain gitu." Ujar Jack sembari menangis.
"Mereka sibuk sama dunia mereka, dan gak mau inget sama gue yang butuh mereka. Hiks.. Hiks.." Tangis Jack.
Tyler bangun dari duduknya, lalu berjalan pergi ke arah jendela dan melihat pemandangan di luar ruko dari atas.
'Kau denger itu, Tuhan? Itu adalah isi hati mereka yang sebenernya. Isi hati para anak - anak yang kau hadirkan di keluarga yang rusak. Kenapa kau hadirkan kami diantara orang - orang egois itu?' Batin Tyler, dengan tangan mengepal.
Tyler mengambil kunci motornya, lalu mengambil jaketnya dan memakainya. Dia melihat semua teman - temannya yang tertidur sembari bergumam dan menangis, lalu dia pergi.
-----------------------------‐--------
Luigi bangun ketika hari sudah siang, jam sepuluh pagi Luigi baru sadar dari telernya dan dia bangun dengan keadaan mata yang sembab.
"Aduh kepala gue, gue gak sekolah deh." Gumamnya, dia belum melihat jam.
__ADS_1
Luigi menatap semua temannya yang masih tewas belum sadar dari telernya, hanya Tyler yang tidak terlihat di sana. Luigi pun mengingat kejadian semalam dimana Tyler tiba - tiba ingin berhenti menjadi ketua mereka.
"Gue dan semua anak - anak Black puma, bakal nunggu lo sampe kapanpun, buat jadi ketua kami lagi, Ty." Gumam Luigi dengan kepala yang pusing.
"Ih sialan, jam sepuluh ternyata." Ujar Luigi lagi, setelah melihat jam di dinding.
Renan sadar, dan Jack juga sadar. Ernest masih menggeliat seperti ular tapi dia tidak membuka matanya.
"Guys, Tyler hiatus jadi ketua kita." Ujar Luigi pada Renan dan Jack.
Jack dan Renan yang nyawanya masih belum terkumpul itu hanya berkedip kedip, mencerna apa yang Luigi katakan.
"Ha? Apaan?" Tanya Jack ketika nyawanya sudah terkumpul.
"Tyler hiatus, dia mau fokus sama dirinya sendiri dulu, mau mencari jiwanya yang hilang." Ujar Luigi, dan wajah Jack saat ini menjadi marah.
"Tuh kan, lo sih Ren! Ini pasti gara - gara lo ngomong gitu kemaren ke Tyler, sekarang Tyler beneran pergi, kan!." Ujar Jack yang marah pada Renan.
"Kan gue udah minta maaf, Tyler juga bilang dia gak marah kemaren." Ujar Renan dengan wajah bersalah.
"Woi! Jangan ribut. Harusnya sebagai sahabatnya Tyler, kita dukung dia. Kalian sadar gak si, setelah bokap nyokapnya cerai, dia jadi makin beda? Tyler kayak gak punya semangat hidup." Ujar Luigi menengahi Renan dan Jack.
"Oke, dua hal itu. Tapi apapun alasannya, kita harusnya dukung dan bantu Tyler supaya dia bisa nemuin apa yang dia cari, kebahagiaannya. Gue pengen liat Tyler yang dulu, sebelum Fia jadi penghianat, kalian gak kangen sama Tyler yang dulu?" Ujar Luigi.
Renan dan Jack saling menunduk, mereka tentu saja merindukan Tyler yang ceria seperti sebelum semuanya makin kacau.
"Tentu aja gue kangen Tyler yang dulu, tapi kalo Tyler hiatus, kita gimana? Bubar?" Ujar Jack, dan langsung di toyor Luigi.
"Ya gak lah, dodol! Kita harus tetap bersama meski Tyler hiatus dari geng. Biarin aja dulu Tyler berkelana." Ujar Luigi.
"Eh tapi, Tyler masih sekolah gak??" Tanya Renan, dan itu membuat Jack dan Luigi saling pandang.
"Iya yah.. dia sekolah gak, ya?" Gumam Jack.
Dan di tempat lain, Tyler yang sedang di bicarakan itu kini sedang duduk di apartemennya, dia tidak sekolah.
Tyler sedang mengotak atik laptopnya, dan terlihat dia sedang membaca tentang program sekolah online.
__ADS_1
"Kalo gue sekolah online, pasti bakal lebih boring lagi, tapi kalo gue sekolah ofline.. gue juga tetep aja gak nemu solusi supaya gue sibuk." Gumam Tyler.
Tiba - tiba, ponselnya masuk notifikasi dari group Black puma. Isinya adalah tentang informasi taruhan balap di arena baru.
"Arena baru??" Gumam Tyler, dan tampak berpikir.
Tyler kemudian mengetik pesan di group itu, dan memberitahukan pada semua anak - anak Black puma, bahwa dia akan hiatus sementara dari geng mereka. Tyler tidak menuliskan banyak hal dan tidak juga memberi tahu alasannya hiatus, dia menuliskan secara singkat padat dan jelas.
Group pun seketika ramai, banyak anak geng yang bertanya, tapi Tyler tidak membuka notifikasi itu lagi.
"Coba, gue lihat seperti apa arena baru yang sedang di bicarakan semua orang." Ujar Tyler.
Tyler bangun dari duduknya dan langsung menyambar kunci motornya lalu pergi. Dia mengendarai motornya dan datang ke sebuah tempat yang terlihat seperti bengkel.
"Woi, Fin.. Lama banget gak dateng kesini, akhirnya mampir juga nih anak. kita." Ujar pria yang langsung akrab dengan Tyler.
"Modifin dong, cat ulang pake warna baru." Ujar Tyler, langsung melempar kunci motornya pada pria itu.
"Wah.. Apa sekarang lo udah ada kemajuan? Lo mau pake warna lain selain item, Fin?" Ujar pria itu lagi.
"Jangan panggil gue Fin - Fin, nama gue Tyler." Ujar Tyler protes.
"Kan Tyler Griffin, gimana si." Ujar pria itu.
"Jangan pakein embel - embel nama belakang gue, gue udah gak punya orang tua. Panggil aja gue Tyler, gak pake Griffin. Dan usahain ni motor tar sore udah jadi, gue mau tidur." Ujar Tyler dan langsung masuk kedalam bengkel.
Pria tadi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat temannya satu itu. Adalah Egi, teman Tyler yang lain yang tidak mau masuk ke Black puma dan hanya menjadi orang netral tanpa ikut geng manapun, usianya sudah sangat jauh berbeda dengan Tyler, dia sudah dewasa, berusia 28 tahun.
Pria itu kembali masuk kedalam dan langsung menarik ponsel Tyler begitu saja. "Eh! Balikin gak!" Tyler pun langsung bangun dan mencoba merebutnya.
"Gak! lo harus bantuin gue modif motor lo, ayo." Ujar Egi.
"Males bang, lo aja lah." Ujar Tyler dengan wajah malas.
"Gak pake males - males, cepetan ayo." Ujar Egi dan menarik Tyler keluar.
Egi langsung menutup bengkelnya saat itu juga, dan menyalakan lampu - lampu untuk menerangi ruangan. Dia pun melempar sebuah apron pada Tyler dan Tyler dengan malas menangkapnya.
__ADS_1
"Make up your own mind." Ujar Egi pada Tyler, dan Tyler hanya bisa memutar bola matanya.
TO BE CONTINUED..