
Dan akhirnya Tyler dan Lana sampai di motor Tyler. Lana langsung hendak pergi setelah sampai di sana, tapi Tyler langsung menahan tangan Lana.
" Mau kemana?" Tanya Tyler, menggenggam tangan Lana.
"Ya balik, lah. Mau kemana lagi?" Ujar Lana heran.
"Tungguin, gue anter lo pulang, ayo naik." Ujar Tyler. Lana mengernyit bingung, karena sebelumnya Tyler mengaduh sakit dan sekarang Tyler ingin mengantarnya pulang.
"Lo tadi pura - pura, ya?" Ujar Lana pada Tyler, dan Tyler langsung terlihat sedikit panik.
"Pura - pura apa? Kan gue pacar lo sekarang, masa gue gak anter pacar gue pulang?" Ujar Tyler, Lana berkedip, apa sungguh dia sudah jadi pacar orang sekarang?
"Emang kita beneran pacaran, bang?" Tanya Lana memastikan.
"Menurut lo? Dan jangan panggil gue abang, gue bukan abang lo." Ujar Tyler kesal karena lagi - lagi di panggil abang oleh Lana.
"Ya salah lo, gak nyebut nama. Ada kali orang pacaran tapi gak kenal satu sama lain, kita doang.." Ujar Lana.
"Siapa nama lo, gue Lana." Ujar Lana mengulurkan tangannya.
Tyler sedikit bingung, dia tidak mau menyebut namanya dan membuat Lana tau bahwa dia adalah Tyler.
"Asher." Ujar Tyler asal, dan menyambut uluran tangan Lana, dan menatap Lana dalam - dalam.
"Ayo, gue anter lo pulang." Ujar Tyler.
"Gak usah, gue bawa motor sendiri." Ujar Lana langsung menolak.
"Kan gue pacar lo, tar kalo ada apa - apa sama lo gimana?" Ujar Tyler.
"Gak bakalan, gue udah biasa balik sendiri. Dah lo balik aja, gue balik ke rumah gue, lo balik ke rumah lo. Ini udah larut." Ujar Lana, dan langsung pergi begitu saja ke motornya.
'Dia emang selalu bebas, seperti burung. Dia tegas, punya pendirian, mandiri dan yang penting, dia gak gampang di rayu cowok. Dia adalah.. Lananya Gue.' Batin Tyler.
Lana menyalakan motornya lalu pergi dari sana, dan dengan kepala batu.. Tyler mengikuti Lana dari belakang. Lana tentu menyadarinya, dia sampai heran karena pacar dadakannya itu begitu seperti ekor.
'Gila, gak enak banget punya pacar, masa pulang aja di kintilin gitu.' Batin Lana ketika melihat Tyler dari spion motornya.
Lana tidak tahu saja, di luar sana banyak gadis yang merengek di antar pacarnya, mungkin hanya Lana seorang yang tidak suka di antar pacarnya sendiri.
"Bodo amat, anggep aja security. Hehe, bodyguard boleh juga, wkwk.." Gumam Lana sambil terkekeh sendiri.
Tyler benar - benar mengantar Lana hingga ke depan gang rumah Lana. Lana berhenti lebih dulu di depan gang, karena bagaimanapun akan tidak sopan jika meninggalkan begitu saja orang yang sudah mengantar kita pulang, walau itu bukan Lana yang meminta.
"Dah sampe? Yang mana rumah lo?" Tanya Tyler penasaran. Tapi bukannya di jawab, Lana justru mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kepala batu, di bilang balik aja, masih aja ngekor." Ujar Lana pada Tyler, Tyler pun terkekeh.
"Ya udah, langsung mandi pake air anget, ya? Abis itu tidur." Ujar Tyler, lalu mengacak rambut Lana seperti dulu saat mereka masih bersama.
"Issh, Tyler!!" Bentak Lana dan Tyler terkejut, tapi Lana sendiri juga terkejut. Lana langsung menutup mulutnya, kerena ia menyebut nama Tyler.
"Ee.. S-sorry, gue salah sebut nama." Ujar Lana, merasa tidak enak. Tapi Tyler yang menjadi lega, dia pikir dia sudah ketahuan.
"Siapa Tyler??" Tanya Tyler pada Lana, dan Lana menjadi mengalihkan pandangan.
" Bukan siapa - siapa, dah malem, balik gih.." Ujar Lana, mengalihkan pembicaraan. Tapi Tyler ingin tahu siapa dirinya bagi Lana.
"Lana.." Ujar Tyler mencengkeram kedua bahu Lana. Tyler menatap Lana tapi Lana justru jadi menyendu seperti ada kesedihan yang mendalam di hatinya.
Tiba - tiba saja, Tyler menarik Lana kedalam pelukannya, lalu berkata..
"Sorry, gue gak bermaksud maksa lo buat cerita. Masuk gih, dah malem." Ujar Tyler.
Tinggi Lana yang hanya sedagu Tyler pun tenggelam dalam pekukan Tyler, dan anehnya Lana tidak memberontak seperti biasanya.
Lana kembali memasang wajah ceria, lalu dia melambaikan tangannya pada Tyler. "Bye, Asher." Ujar Lana pada Tyler, dan Tyler mengangguk.
Akhirnya mereka berpisah, Lana langsung kembali menaiki motornya dan masuk kedalam gang, dengan Tyler yang masih berdiri memperhatikan Lana dari jauh.
"Apa di hati lo, gue adalah luka, Na? Lo sampe masang wajah sedih saat gue tanya siapa gue buat lo." Gumam Tyler.
Sementara Lana sendiri, setelah dia sampai di rumah, dia langung masuk kamar dan merebahkan dirinya di ranjang. Dia tampak memukuli kepalanya sendiri dan berkomat - kamit tidak jelas.
"Beg* lo Lana, ngapa malah nyebut Tyler coba, Aaissh.." Gumam Lana sembari menggelinding kesana dan kemari.
"Lagian sih, si Asher malah ngacak rambut gue, jadi kan gue inget sama Tyler." Gumamnya lagi, lalu kemudian dia menjadi sendu.
"Kenapa kalo inget dia tuh hati gue seperti ada rasa nyut - nyutan nya, gitu. Tapi gue juga salah, gue pikir dia cowok brengsek karena mantannya ngomong gitu." Gumam Lana lagi.
Lana telentang dan memejamkan matanya, tiba - tiba air mata meleleh dari sudut matanya.
"Ngapain juga gue tiba - tiba nangis, coba? Hahaha.." Gumamnya sembari menghapus air matanya, tapi akhirnya malah dadanya semakin sesak.
"Ty, gue kangen lo." Akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Lana.
Singkat cerita, Tyler sendiri tidak pulang ke apartemennya, dia pulang ke bengkel Egi.
Egi masih belum tidur karena dia sedang mengotak atik motor pelanggan. Bengkelnya adalah bengkel 24 jam dengan dia dan tiga orang karyawannya.
"Bang, pinjem motor lo dong." Ujar Tyler. Tapi Egi tidak dengar karena suara musih yang keras.
__ADS_1
"Ha! Apa? Gue gak denger." Teriak Egi. Tyler menggelengkan kepalanya, lalu ia mematikan musik yang sedang berputar itu.
" Yah.. Kok di matiin? Puter balik." Ujar Egi.
"Oke, pinjemin gue motor lo, dong. Gue gak mau bawa Tylerbee pulang ke markas." Ujar Tyler.
"Oke, kuncinya di tempat biasa." Ujar Egi. Tyler mengacungkan jempolnya, lalu membawa masuk motornya kedalam.
Dia masuk kedalam ruangan Egi lalu Mengambil kunci motor Egi. Tyler pun kembali pergi dengan motor putih milik Egi.
Di tempat lain, di markas Tyler. Luigi, Renan dan Jack serta Ernest sedang duduk berhadap - hadapan di meja di lantai dua, di depan kamar Tyler. Mereka berkumpul tapi wajah mereka sendu.
"Kemana ya, si Tyler.. beberapa hari ini gak ketemu dia, apa dia baik - baik aja?" Gumam Renan.
"Mana sekarang si kunyuk Kyle makin gede kepala gegara Tyler gak pernah nongol." Gumam Renan lagi.
Tiba - tiba, suara motor menderu dari luar ruko. Luigi dan yang lainnya langsung bangun dari duduknya dan melihat dari jendela atas, tapi kemudian mereka mengernyit bingung ketika melihat motor yang asing.
"Siapa tuh?" Gumam Ernest.
"Apa itu si kunyuk Kyle?" Ujar Renan dan langsung pergi menuruni tangga, dan yang lain langsung ikut turun ke bawah.
Jack bahkan sudah mengambil tongkat baseball dan keluar dengan wajah siap menyerang namun dengan kaki yang terpincang - pincang.
Sesampainya di bawah, mereka berempat berdiri sudah seperti power rangers yang membentuk formasi.
"Siapa lo?!!" Ujar Jack dengan tongkat baseball nya.
Pria yang mereka curigai sebagai Kyle itu mematikan mesin motornya lalu membuka helmnya. Jack spontan menjatuhkan tongkat baseballnya hingga mengenai kakinya sendiri.
"Adeh!!" Ujarnya.
"Ty.. akhirnya lo balik juga." Ujar Renan yang berlari menghampiri Tyler, Ernest dan Luigi juga demikian.
"Kalian pada kenapa?" Ujar Tyler heran karena dirinya di peluk oleh teman temannya.
Jack dengan mata berkaca - kaca, entah itu karena menahan sakit di kakinya atau senang karena Tyler kembali, langsung menghampiri Tyler dan bergabung memeluk temannya itu.
"Ty, gue pikir lo bakal ninggalin kita." Ujar Jack, dan Tyler terkekeh mendengarnya.
"Hehehe." Kekeh Tyler dengan tubuh berguncang.
Luigi, Renan, Jack dan Ernest terpaku ketika mendengar Tyler terkekeh, hingga mereka berkedip - kedip lucu.
"Hahahaha.." Tawa Tyler akhirnya terlepas juga ketika melihat wajah keempat temannya yang sangat lucu saat ini.
__ADS_1
"TY!!" Teriak semua orang, dan akhirnya mereka masuk kedalam markas mereka dengan saling rangkul merangkul.
TO BE CONTINUED..