TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 41. Matahari tenggelem.


__ADS_3

Singkat cerita, Tyler dan Lana sudah berboncengan dan melesat pergi sore itu juga ke tempat yang Tyler tuju. Lana memarkirkan motornya di tempat balap Angga, lalu dia dan Tyler pergi dari sana berdua.


"Pegangan, tar jatoh." Ujar Tyler, tapi Lana hanya memutar bola matanya malas. Dia yang biasa mengebut - ngebutan tidak takut dengan kecepatan motor saat membonceng.


"Dengerin gak sih?? Gue mau ngebut nih." Ujar Tyler lagi, karena Lana tidak merespon.


"Ngebut aja, gue.. hukk!!" Lana langsung menabrak punggung Tyler ketika tiba - tiba Tyler mengerem mendadak.


"Asher!! Gue tampol pala lo, ya!?" Ujar Lana protes, Tyler pun terkekeh karenanya, lalu kembali melaju dengan kecepatan normal.


"Abis di suruh pegangan susah banget, pegangan, Na.." Ujar Tyler dengan nada halus. Lana pun mau tidak mau memegang ujung jaket Tyler. Tyler yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Gue bukan tukan ojek, Na.. masa pegangannya gitu?" Ujar Tyler.


"Lah terus?? Masa pegangan leher lo! Mau gue cekik!?" Ujar Lana dan Tyler terkekeh.


"Galak banget si, peluk gue dong.. kan kita udah pacaran." Ujar Tyler, tapi Lana justru berkomat kamit tidak jelas di belakang Tyler.


"Pacaran kan? Belom juga nikah. Yang nikah aja boncengannya biasa aja, ngapa yang baru pacaran boncengannya harus meluk?" Ujar Lana, Tyler kalah.


"Ciie.. jadi udah berencana nikah ama gue, nih?" Ujar Tyler, dan Lana jadi meranga sendiri.


"Asher! Gue gak mau ngomong ama lo, kalo lo ngomong sekali lagi." Ujar Lana kesal, dan Tyler hanya bisa terkekeh sembari terus melajukan motornya.


Dan sepanjang jalan itu, Lana tidak sedikitpun memeluk Tyler, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang Tyler bilang sangat indah.


Itu adalah tempat Tyler dan teman - temannya biasa melakukan perjalanan untuk bersosialisasi dengan Ambunya.


"Widih... biasa hidup di tempat padet penduduk, liat kaya ginian mata gue langsung fresh." Ujar Lana ketika sampai di lereng perbukitan teh.


" Bagus kan?" Ujar Tyler dan Lana mengangguk antusias. Lana mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Tyler.


"Fotoin dong, buat kenang - kenangan." Ujar Lana. Tyler menerima ponsel Lana, lalu dia memotret Lana beberapa kali. Tyler tersenyum karena bisa melihat pose - pose senyum Lana yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Tunggu matahari tenggelem bentar lagi, cakep." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk.


Keduanya duduk di sebatang pohon besar yang memang di jadikan tempat duduk oleh orang - orang yang datang kesana, dan Lana memejamkan matanya menghirup udara segar yang baru kali ini dia rasakan. Jangan heran, Jakarta itu padat sekali.


'Tuhan, makasih buat semua yang udah kau berikan. Nafas ini, udara yang sejuk ini, kebebasan ini.. semuanya gak bakal terjadi tanpa campur tanganmu. Aku dan ibuku bisa menjalani kehidupan kami dengan baik berkatmu, terimakasih..' Doa Lana dalam hati.


Tyler menatap wajah Lana dengan lamat - lamat, hingga Lana membuka matanya dan tatapan mereka bertemu. Lana sedikit terkejut ketika melihat Tyler yang duduk sangat dekat dengannya dan menatapnya begitu intens.


"Kaget gue, lo gak buka helm emang gak pengep apa?" Tanya Lana memecah kecanggungan dirinya.

__ADS_1


"Gak, biasa aja." Ujar Tyler yang akhirnya sadar.


"Apa jangan - jangan lo botak, ya??" Ujar Lana dan Tyler langsung menatap tajam Lana.


"Enak aja, botak! Gue punya rambut, dan asal lo tahu gue ini cowok paling di favoritin seantero sekolah, tahu." Ujar Tyler, dan Lana terkekeh melihat bagaimana Tyler kesal.


"Abisnya sok misterius, katanya pacar gue, tapi gue sama sekali gak tau muka lo kayak apa." Ujar Lana, hingga tatapannya jatuh pada kerah seragam yang Tyler pakai.


'Dia satu sekolah sama gue dulu? Kok gue gak ngeh ada orang aneh kayak dia ini.' Batin Lana.


"Lo sekolah di sekolah Langit biru?" Tanya Lana, dan Tyler tertegun, ia masih menggunakan seragam sekolah. Meski dia menggunakan hoodie hitam untuk menutupi bajunya, Lana masih bisa mengenali dari kerah bajunya.


"Hm." Sahut Tyler mengangguk.


"Lo sekolah di sana, terus lo bilang lo paling di favoritin di seantero sekolah? Hahaha.." Lana terbahak.


Tyler mengernyitkan keningnya, memangnya apa yang salah? Toh nyatanya dia memang adalah orang yang paling di favoritin di sekolah.


"Lo kenal Tyler, gak?" Tanya Lana. Baru Tyler sadar, yang terkenal di sekolah itu memang Tyler dan geng nya.


"Oh, dia? Tau, tapi gak kenal." Ujar Tyler pura - pura.


"Setau gue, dia yang paling terkenal dan di favoritin di sekolah itu." Ujar Lana dan pandangannya menjadi lurus kedepan.


"Kepo." Ujar Lana dan menutup kaca helm Tyler, lalu terkekeh.


'Apa sememalukan itu buat lo mengakui bahwa lo pernah kenal sama gue, Na?' Batin Tyler menjadi sendu.


'Gue tau dia, dia adalah cowok yang sok kuat menghadapi kenyataan hidupnya yang pait. Apa kabar sama dia, ya?' Batin Lana. Dua orang itu hanya saling membatin.


Tyler menatap lurus kedepan, lalu tiba - tiba dia merosot dari kayu itu lalu merebahkan tubuhnya di rumput berbantalkan kedua tangannya sendiri.


Lana yang melihat itu jadi teringat dengan kejadian saat dia tidak sengaja mencium Tyler saat di sofa di ruangan apartemen Tyler, tiba - tiba ia menggeleng - gelengkan kepalanya.


'Udah gila ya lo, Na?! Ngapain malah inget kejadian itu coba.' Batinnya.


"Jangan tidur, tar kita kemaleman." Ujar Lana, tapi Tyler hanya diam tidak bergeming sedikitpun.


Lana yang melihat itu hanya bisa diam dan lanjut kembali melihat matahari yang tampak hampir seluruhnya tenggelam.


Dia mengeluarkan kembali ponselnya dan mengabadikan momen itu, tanpa dia sadari bahwa Tyler ternyata sedang menatapnya dari bawah dengan kaca helmnya yang gelap.


"Asher, kenapa lo tiba - tiba minta gue jadi pacar lo?" Ucap Lana tiba - tiba. Tapi Tyler masih hanya diam memandangi Lana dari bawah, dia melamun.

__ADS_1


Hingga tiba - tiba Lana membuka helmnya dan tatapan mata kaduanya kembali bertemu.


"Lo ya! Di panggilin dari tadi juga." Ujar Lana, seketika Tyler tersadar.


"Apa? Gue mau tidur, jangan bangunin gue sampe jam tujuh." Ujar Tyler.


"Dih! Jam tujuh?! Gila lo, ya? Ini udah gelap, jam tujuh kayak apa ntar." Ujar Lana panik.


"Pokoknya jam tujuh, dah gue tidur dulu." Ujar Tyler dan menutup kembali kaca helmnya.


Lana melongo melihatnya, itu adalah perkebunan dan hanya ada satu lampu yang menerangi di sana, sisanya remang - remang.


"Asher, lo seriusan tidur?" Tanya Lana, tapi Tyler tidak menjawab. Lana yang pada dasarnya takut hantu kini pikirannya jadi kemana - mana.


"Dia beneran tidur? Mati dong gue." Gumam Lana dan jadi melihat kesana kemari.


Lana pernah dengar dari teman - temannya yang katanya bisa melihat hantu, hantu akan muncul di waktu Maghrib, yaitu sekitan jam 6 sore.


Dan saat ini sudah mendekati jam 6 sore, dia pun langsung merinding sendiri. 'Mana ini bukitnya gelap, pula. Asher sialan.' Batin Lana.


Lana melihat kesana kemari dan makin takut ketika mendengar suara - suara kayu yang bergesekan, apalagi ada suara tupai yang menyerupai suara kuntilanak.


'Lain kali, gue gak mau di ajak kesini lagi. Apa - apaan, ngajakin jalan ke tempat beginian.' Batin Lana kesal.


'Mana dia nya malah molor.' Batin Lana. Hingga tiba - tiba fokus Lana teralihkan pada semak - semak yang bergerak, jantung Lana semakin berpacu dengan keras karena di bayangannya saat ini adalah hantu, hingga tiba - tiba..


"Na."


"TYLER!!!" Teriak Lana dan langsung memeluk Tyler begitu saja. Tyler terkejut mendengar Lana meneriakan namanya, bukan Asher. Tapi Tyler lebih terkejut lagi ketika merasakan tubuh Lana gemetar.


"Na, lo gak apa - apa?" Tanya Tyler panik, dan Lana menggeleng kuat.


"Gue takut hantu.." Ujar Lana dengan gemetar. Tyler menjadi merasa bersalah sudah menjahili Lana, ia pun mengusap usap punggung Lana agar Lana tenang.


"It's okay, i am here. Sorry ya, gue gak tau lo takut hantu." Ujar Tyler.


"Pulang, gue mau pulang, gue gak mau di sini, gelap." Rengek Lana, dan Tyler mengangguk.


"Ya udah- ya udah, ayo. Kita pulang." Ujar Tyler, dan akhirnya Lana pun berdiri bersamaan dengan Tyler dan menggandeng tangan Tyler erat - erat.


'Seandainya lo mau gandeng tangan gue se erat ini saat lo gak takut sekalipun.' Batin Tyler..


TO BE CONTINUED...

__ADS_1


__ADS_2