TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 63. { 99,8 % } ANAK KANDUNG.


__ADS_3

Tyler kembali ke apartemennya dengan kaki pincang. Dia melihat Jack dan yang lainnya masih teler di sofa setelah sebelumnya mereka mabuk bersama, kecuali dirinya.


Tanpa berkata apa - apa lagi, ia masuk ke dalam kamar dan masuk kedalam kamar mandi. Tak lama Tyler kembali keluar sudah dengan badan yang setengah basah, dia mandi.


"Sh¡t! Sakit juga lukanya." Gumam Tyler.


Ia mendapat luka itu saat tadi dia menabrak Kyle, Kyle sendiri di bawa ke rumah sakit karena luka nya lebih parah. Ia mengobati sendiri luka di siku dan di kakinya dengan mata merem melek.


"Perasaan tadi gue gak ngerasa sakit segininya, kok sekarang sakit banget." Gumamnya.


Setelah selesai, ia pun menggunakan kembali pakaiannya lalu merebahkan diri di ranjang.


'Lana gak mau bergantung sama gue, harus gue apain supaya dia mau ngandelin gue coba?' Batin Tyler, sampai akhirnya ia pergi ke alam mimpi.


Pagi harinya..


Tyler sudah berada di depan rumah Lana, sementara semua temannya sudah pulang. Tapi sebelum pulang, Luigi membantu memperban tangan kiri Tyler lebih dulu, karena lukanya lumayan lebar.


"Morning, be." Sapa Tyler pada Lana yang baru menghampirinya.


"Loh, kamu kenapa Ty?" Tanya Lana melihat tangan Tyler yang di perban.


"Gak apa - apa, gak sengaja ke baret sudut meja." Sahut Tyler berbohong.


"Ya ampun, kok sampe gini.. sakit, nggak? Kalo sakit aku aja yang nyetir." Ujar Lana.


"Gak usah, aku kan jagoan. Lagian masa ceweknya yang nyetir." Ujar Tyler cengengesan.


"Harusnya kalo kamu sakit gak usah jemput aku, aku bisa nyetir sendiri." Ujar Lana.


"Nggak apa - apa, be.. makasih udah khawatirin aku." Ujar Tyler, lalu mengusap kepala Lana.


"Yuk, ntar telat." Ujar Tyler lagi.


Akhirnya Lana pun naik ke atas motor Tyler, dan keduanya pergi dari sana menuju sekolah Lana.


"Semangat belajarnya, ntar pulang aku jemput lagi." Ujar Tyler sambil mengusap kepala Lana.


"Oke, bye.." Sahut Lana, melambaikan tangannya.


Setelah Lana masuk, tiba - tiba ponsel Tyler berdering, dan itu adalah nomor tidak di kenal. Tyler mengabaikannya dan langsung melajukan motornya lagi.


Tapi sepanjang jalan, ponselnya terus berdering dan mengganggu dirinya yang sedang mendengarkan musik lewat headset.


"Bren*sek! Siapa sih, ganggu aja." Gumam Tyler emosi.


"Halo!" Tyler akhirnya mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Halo, tuan muda, tuan kecelakaan." Ujar suara seorang pria.


"Tuan muda - tuan muda, lo tinggal di abad ke berapa emang, masih jaman manggil tuan muda? Terus lo salah sambung, gue bukan tuan muda lo." Sahut Tyler ketus, dan mematikan panggialnnya.


"Sint¡ng!" Gumam Tyler dan mengantongi ponselnya.


Tapi baru saja di kantongi, ponselnya kembali berdering, dan itu masih nomor yang sama.


"Wah.. ngajak ribut." Gumam Tyler.


"Halo! Lo punya masalah apa sama gue, anj¡ng!" Bentak Tyler.


"Tuan muda Tyler, tuan Rion kecelakaan." Ujar pria itu.


DEG!!


Tyler terkejut, pria itu bahkan menyebut namanya. Tyler ingat pemilik suara itu, adalah asisten ayahnya yang mengurus semua keperluan ayahnya.


"Terus? Kenapa lo nelpon gue? Harusnya lo nelpon ambulans, lah!" Ujar Tyler tidak peduli.


"Tuan muda, tolonglah datang ke rumah sakit, tuan Rion sedang butuh donor darah." Ujar pria itu.


Tyler menjadi kembali emosi mendengar kata darah, karena sejak kecil dia selalu saja di tolak dan Rion selalu mengatakan bahwa Tyler bukan darah dagingnya.


"Gue bukan anaknya, jadi gak mungkin darah gue sama, sama dia. Cari aja di rumah sakit." Ujar Tyler.


"Gue gak peduli." Ujar Tyler, dan mematikan sambungan ponselnya.


Nafasnya memburu, wajahnya menjadi suram sekarang. Dirinya jadi di ingatkan kembali dengan penolakan kedua orang tuanya. Tapi asisten Rion tidak menyerah, dia masih terus menelepon Tyler.


'Tapi gue jadi punya kesempatan buat tahu, apa gue anaknya Rion atau bukan dengan tes darah.' Batin Tyler.


Tyler pun akhirnya mengangkat panggilan itu lagi.


"Katakan, rumah sakit mana." Ujar Tyler, asisten Rion menyebutkan nama rumah sakit, dan Tyler pun langsung tancap gas kesana.


Tak berselang lama, Tyler sampai di loby rumah sakit dan dia langsung di sambut oleh asisten Rion bersama dua bodyguard Rion.


"Akhirnya anda datang juga, mari ikut saya untuk memeriksakan diri." Ujar asisten Rion.


Tyler menurut saja, tanpa kata kata, dengan wajah dinginnya dia tidak banyak komplen. Tapi ketika tangannya hendak di pegang oleh dua bodyguard Rion, dia langsung mengibaskannya dengan kasar.


"Jaga sikap lo, jangan sampe gue patahin tuh tangan." Ujar Tyler dengan dingin.


"Jangan macam - macam, dia adalah tuan muda Tyler." Ujar asisten Rion, dan dua bodyguard itu mengangguk patuh.


Tyler melakukan pemeriksaan. Dan ketika semua sudah selesai, dokter datang dengan hasilnya.

__ADS_1


"Darahnya cocok, sembilan puluh sembilan koma delapan persen sama. Ini adalah pendonor yang terbaik, tuan bisa menerimanya." Ujar dokter.


Tyler mendengar itu, ada gemuruh amarah yang berkobar di hatinya, dia akhirnya tahu anak siapa dirinya itu.


'Nyatanya gue anak si bren*sek Rion.' Batin Tyler.


"Mari segera lakukan pendonoran, beliau sangat kritis." Ujar Dokter.


"Atas dasar apa??" Ujar Tyler tiba - tiba.


Semua orang pun terdiam dan saling pandang mendengar ucapan Tyler. Selain asisten Rion, tidak ada yang tahu Tyler adalah anak Rion. Rion menyembunyikan kenyataan bahwa Tyler putranya, jadi tidak ada yang tahu bahwa Rion memiliki seorang putra bernama Tyler.


"Dek, nanti kamu akan di bayar, kok. Kamu nggak donor cuma - cuma." Ujar dokter, Tyler pun tersenyum miring mendengarnya.


"Apa yang kau katakan! Dia adalah tuan muda Griffin, Tyler Griffin, putra tunggal tuan Rion Griffin." Ujar asisten Rion, dokter itu pun langsung pias.


"A- apa? M- maaf tuan muda Griffin, saya tidsk tahu." Ujar Dokter menatap pias Tyler.


"Wajar, emang nyatanya gak ada yang tahu gue anak siapa." Ujar Tyler, lalu bangun dari duduknya.


"Tuan muda, tolonglah tuan Rion, dia sangat kritis." ujar asisten Rion memohon.


"Kenapa lo sampe kepikiran bahwa darah gue sama sama dia? (Rion) Bukannya harusnya lo nyari ke seluruh dunia untuk dapet darah yang sama, sama dia? ( Rion )" Tanya Tyler pada asisten Rion.


"Karena saya tahu, anda adalah putra kandungnya. Tuan muda, banyak hal yang tuan Rion tidak tahu, tapi saya tahu kebenarannya. Hanya saja saya hanyalah bawahan, saya tidak ada kuasa untuk bicara." Ujar asisten Rion.


Tyler mengernyit bingung, apa maksudnya asisten Rion tahu kebenaran, kebenaran apa pikirnya.


"Tolong tuan muda, dia ayahmu." Ujar asisten Rion lagi.


"Masa bodo, gue nggak peduli." Ujar Tyler dan dia hendak berjalan pergi, sampai tiba - tiba asisten Rion bersimpuh di depan Tyler.


"Tuan muda, saya mohon.. Jangan begini. Beliau adalah ayamu, saya janji akan menceritakan segalanya, tapi tolong bantulah beliau." Ujar asisten Rion memohon dengan sangat.


"Telat! Lo tau berapa lama dan berapa banyak hal pait yang gue alamin? Semua itu nggak bakal bisa gue lupain dan gak akan pernah gue maafin." Ujar Tyler.


"Gue gak peduli apa yang bakal terjadi sama dia, apa yang mau lo ceritain ke gue, gak bakal bisa nutupin kelam dan hancurnya hidup gue."Ujar Tyler dan melangkah pergi.


Asisten Rion tiba - tiba berdiri dan memukuk tengkuk leher Tyler hingga Tyler pingsan.


"BUGH!!"


"Astaga! Kenapa anda memukul tuan muda?!" Ujar Dokter.


Asisten Rion menahan tubuh Tyler agar Tyler tidak ambruk ke lantai.


"Jangan banyak tanya, cepat bantu saya dan lakukan pendonoran sebelum terlambat." Ucap asisten Rion, dan Dokter itu langsung mengangguk dengan panik dan takut.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2