
Seorang wanita sedang menangis tersedu - sedu karena beberapa orang merusak begitu saja jualannya. Bahkan orang - orang sekitar pun tidak berani mendekat untuk menolong.
"Tolong, jangan pak, saya salah apa!?" Ujarnya di sela - sela tangis.
Adalah ibunya Lana, dia menangis melihat tempat usahanya di hancurkan oleh beberapa pria berbadan tinggi besar. Benar - benar habis tak bersisa, hancur dan tidak ada yang bisa di selamatkan.
"Kenapa kalian melakukan ini!? Saya menyewa tempat ini dan membayarnya selalu tepat waktu, beraninya kalian merusaknya!" Ujarnya dan menyerang menggunakan tongkat sapu.
"HAARGH!" Seorang pria mendorong ibu Lana sampai ibu Lana tersungkur dan kesakitan.
Mereka bahkan membawa pergi dompet milik ibunya Lana dan meninggalkannya dengan keadaan mengenaskan.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Ibu Lana hanya bisa menangis melihat semuanya hancur.
Ibu Lana membersihkan kekacauan itu dengan hati yang hancur, padahal dia ingin mendaftarkan Lana ke universitas yang bagus, tapi usahanya di hancurkan. Akhirnya dia pulang ke rumahnya setelah selesai membersihkan kekacauan itu.
Ia terkejut mendapati barang - barangnya berada di luar rumah. Dia pun langsung berlari menghampiri rumahnya.
"Pak, anda siapa? Kenapa barang - barang saya di keluarkan?" Tanya ibu Lana pada pria berbadan tinggi dan tampan.
"Rumah ini sudah di jual, dan tuan saya yang membelinya. Maaf, anda harus keluar dari sini saat ini juga." Ujar pria itu, yang adalah asisten Rion.
"T- tapi ini rumah kakak ipar saya, pak." Ujar ibu Lana.
Asisten Rion memberikan sebuah surat pada ibu Lana, dan ibu Lana pun membuka dan membacanya. Betapa terkejutnya dia, rumah itu memang sudah di jual, dia pun jatuh terduduk.
"Tolong beri saya waktu sampai saya dapat kontrakan baru, pak." Mohon ibu Lana.
"Maaf, tidak bisa." Sahut asisten Rion.
Semua barang - barang Lana dan ibunya di keluarkan dari sana, lalu rumah itu di kunci dan di patok menggunakan balok kayu, agar tidak ada siapapun yang masuk lagi.
Semua anak buah Rion pergi, dan ibu Lana makin kian terisak saja. Dia menangis sambil memunguti semua barang milik Lana, lalu memeluknya sambil menangis.
"Ya Tuhan!!! Kenapa jadi begini..." Teriaknya dalam tangis.
Ibu Lana bangun dan merapihkan semuanya, dia kemudian memasukkan barangnya kedalam tas dan koper miliknya lalu berjalan pergi dari sana.
Tidak ada siapapun yang menolongnya, karena kebetulan sore itu sedang sepi. Sampai akhirnya tiba - tiba dia merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya, lalu tiba - tiba dia pingsan.
"Tante!" Teriak seseorang, yang adalah Kyle. Kyle datang dengan mobilnya, ia hendak mengunjungi Lana yang sejak kemarin tidak bisa di hubungi.
Kyle menggendong ibunya Lana dengan susah payah ke dalam mobil, lalu memasukkan koper dan tas tadi ke bagasi mobil, lalu melesat menuju ke rumah sakit.
Tak lama mereka sampai, Kyle menyerahkan ibu Lana ke dokter, lalu dia kembali mencoba menghubungi Lana meski tidak terhubung juga.
"Kemana si lo, Na.." Gumamnya.
Di tempat lain..
Berbeda dengan ibunya yang sedang kesulitan hingga masuk rumah sakit, Lana masih tidur dengan nyenyak di ranjang. Ia kelelahan setelah hanya melakukan dua ronde dengan Tyler.
Perlahan Lana membuka matanya, ia bangun dari tidurnya dan tidak mendapati Tyler di sebelahmya. Dia pun langsung duduk dengan susah payah karena menahan sakit.
"Ugh! Sakit banget." Gumamnya sambil meringis.
Lana kembali teringat dengan perbuatannya siang lalu dengan Tyler, dia pun tersenyum - senyum sendiri.
__ADS_1
"Udah bangun, sayang?" Ucap Tyler dan mengecup bahu polos Lana. Ternyata Tyler dari kamar mandi.
"Hm, tapi iniku sakit." Ujar Lana, melirik intinya. Tyler terkekeh, lalu mendekap Lana dari belakang.
"Makasih, be.. udah ngasih firt time kamu ke aku." Ujar Tyler, dan menelusup ke leher Lana.
"Ayo aku bantu bersihin badan kamu." Ujar Tyler, dan menggendong Lana ke kamar mandi.
Singkat cerita, Lana sudah selesai mandi dan sudah berpakaian lengkap, hanya saja cara dia berjalan agak sedikit ganjil. Dia masih meraskaan perih di bawah sana, sangat sakit.
"Hape aku mana, ya?" Tanya Lana.
"Kamu taro di mana?" Tanya Tyler.
"Oh, di luar.. Aku cas dari semalem." Sahut Lana, teringat.
"Ya udah aku ambilin." Ujar Tyler dan berjalan keluar.
Saat di luar, Tyler tidak melihat siapapun, hanya pemilik kostnya saja yang ada di bawah sedang mencatat sesuatu.
"Bu, kemana perginya temen - temen saya?" Tanya Tyler.
"Oh, lagi pada pulang dulu. Katanya mereka mau ambil barang - barang mereka dan mau ngekost di sini." Ujar Ibu itu senang.
"Oh, oke." Sahut Tyler. Dia seharian tidak keluar dari kamar setelah bergumul panas dengan Lana, sampai tidak tahu teman - temannya pergi.
Tyler mengambil ponsel Lana yang masih non aktif itu, lalu membawanya naik menuju ke kamar yang dia dan Lana tempati.
"Ada Ty?" Tanya Lana, Tyler menunjukan ponsel Lana dengan tersenyum.
"Ty, jangan.. ntar kamu on, bingung sendiri loh." Ujar Lana.
"Kan ada kamu, be." Bisik Tyler sensual.
"Nggak! Aku masih sakit, enak aja." Ujar Lana, dan Tyler terkekeh.
"Enggak be, aku tahu kok kamu masih sakit, aku gak bakal nyerang lagi." Ujar Tyler.
"Tapi tadi kamu diem - diem nyerang lagi, waktu aku lagi tidur." Ujar Lana protes.
"Hehe, maaf be, aku terlalu gemas soalnya." Ujar Tyler, dan memeluk Lana erat dari belakang.
Lana membuka daftar panggilan, banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kyle, dan ibunya.
"Kyle?? Kok dia nelponin kamu?" Tanya Tyler sedikit kesal.
"Dulu dia minta maaf ke aku, dia mau jadi temen aku." Ujar Lana jujur.
"Tapi kan kamu tau sendiri dia itu baj*ngan pemain perempuan, be. Dia penjahat kelamin, kamu bilang." Ujar Tyler.
"Ya, aku tau. Tapi dia janji satu hal sama aku, aku minta dia janji gak nyakitin kamu lagi, terus dia nyanggupin." Ujar Lana.
"Tap.."
"RING.." Belum selesai Tyler bicara, Kyle menelepon Lana.
"Jangan di angkat!" Ujar Tyler.
__ADS_1
"Iya.. iya.. Aku nggak angkat." Ujar Lana terkekeh.
Lana tidak tahu saja bahwa saat ini Kyle sedang sangat panik. Ibu Lana masuk rumah sakit dan sejak tadi dokter belum juga keluar dari UGD.
Sampai singkat cerita, ketika malam tiba, Tyler meminjam motor Luigi untuk mengantar Lana pulang. Sejak sore tadi sampai sekarang jam delapan malam, Lana tidak mengangkat satupun panggilan dari Kyle, bahkan pesan pun tidak di bacanya.
Tyler meminjam pakaian Luigi, lalu dia melaju dengan motor Luigi mengantar Lana pulang. Sesampainya di depan rumah Lana, keduanya terkejut karena melihat pintu rumah itu sudah di patoki kayu.
"Kok gini? Apa - apaan ini?" Ujar Lana, dia langsung turun dari motor dan masuk ke teras.
"Ma! Mama!" Teriak Lana, tapi tiada seorangpun yang membuka pintu.
"Kenapa, be??" Tanya Tyler.
"Gak tau, rumahnya kok di patokin kayu?" Ujar Lana, Lana mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi sang ibu.
Tapi panggilannya tidak terhubung. Sampai tiba - tiba beberapa orang langsung menyergap Tyler dan Lana yang sedang tidak siap itu.
"Hei!! Lepas!!" Bentak Tyler.
Rupanya itu adalah anak buah Rion dan asisten Rion yang masih berjaga di sana menunggu Tyler.
"Tuan muda, cukup bermainnya, anda harus pulang." Ujar asisten Rion.
"Akh! Lepasin tangan gue." Pekik Lana kesakitan.
"Lo!! jangan berani - beraninya lo nyakitin Lana!" Teriak Tyler pada anak buah Rion.
"Kalau tuan muda mau pulang baik - baik, kami akan melepaskan nona Lana tanpa menyakitinya." Ujar asisten Rion.
"Nggak, Ty." Ujar Lana.
"PLAK!!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Lana.
"WOI!!! BERANINYA LO MUKUL LANA!" Teriak Tyler, dia sangat emosi. Tiga orang yang menahan tangannya pun sampai kesulitan karena besar nya tenaga Tyler.
"Ty.." Gumam Lana, dengan sudut bibir berdarah.
"PLAK!!" Kembali Lana di tampar.
"STOP BAN*SAT!! GUE BERSUMPAH GUE BAKAL POTONG TANGAN LO!" Teriak Tyler.
"Jadi, tuan muda mau pulang bersama kami?" Tanya asisten Rion.
Tyler terdiam, tapi jika dia melawan, anak buah rion akan semakin menyakiti Lana.
"Oke gue pulang." Ujar Tyler.
"Ty.." Gumam Lana sambil menggelengkan kepalanya.
"Jaga diri baik - baik sayang." Ujar Tyler, lalu di seret pergi oleh anak buah Rion.
Asisten Rion berdiri di depan Lana yang saat ini sudah tidak lagi di cekal tangannya.
"Nona Lana, saya harap anda bisa memikirkannya baik - baik lagi. Tuan Rion sudah membeli rumah ini, tempat usaha ibumu pun sudah tidak ada. Anda tidak bisa melawan seorang Rion Griffin." Ujar asisten Rion, lalu pergi dari sana meninggalkan Lana yang diam tertegun.
...TO BE CONTINUED.....
__ADS_1