
Tyler masih duduk dan menatap pemandangan taman yang tidak begitu ramai itu, tatapannya menatap kosong kedepan dengan wajah sendu namun dinginnya.
Asisten Rion pun hanya berdiri diam di tempat yang sedikit jauh dari Tyler, dia merasa Tyler butuh refreshing karena selama dua bulan ini Tyler sibuk terus setiap harinya.
"Huft..." Tyler menghela nafasnya, kamudian dia bangun dari duduknya.
Tapi ketika ia mengangkat pandangannya, tatapannya bertemu dengan Lana. Lana juga terkejut ketika melihat Tyler di sana, dia langsung berkaca - kaca, bibirnya bergetar menahan tangis. Tapi Tyler hanya diam, dia menatap Lana, tapi dia hanya diam seakan tidak mengenal Lana.
DEG! DEG! DEG!
Jantung Lana bergemuruh.
Orang yang paling di rindukannya, yang selalu ia tangisi dan pernah berjanji akan secepatnya kembali, berada di hadapannya saat ini.
"Ty.." Gumam Lana.
Tyler melangkah maju, air mata Lana sudah menetes tanpa permisi. Dan ketika Tyler sudah mendekat, ia mengangkat tangannya tapi Tyler hanya melewatinya begitu saja.
Hati Lana seakan hancur ketika dirinya hanya di lewati begitu saja oleh Tyler, air matanya makin berderai hebat.
'Dia berubah.. kenapa??' Batin Lana, sedih.
'Kenapa dia nyuruh gue nunggu, kalo cuma bakal berakhir kayak gini.' Batin Lana lagi, ia tidak berbalik manatap Tyler tapi dia berulang kali menghapus air matanya.
Tyler melanjutkan langkahnya, tapi ketika ia sudah hampir sampai ke titik dimana asisten Rion berdiri, dia berbalik badan dan langsung lari.
"Tuan muda!" Teriak asisten Rion, ia berlari mengejar Tyler yang lari dengan cepat.
Lana terkejut ketika tangannya di gandeng dan di tarik begitu saja oleh Tyler, saat ini mereka berdua lari sambil bergandengan tangan.
"Lari, sayang." Ujar Tyler, Lana masih bingung, tapi dia tetap lari dengan sekuat tenaga bersama Tyler.
Lana kemudian menyadari bahwa mereka di kejar sekitar empat orang di belakang mereka saat ini, Lana pun langsung memutar otak untuk mencari jalan keluar.
"Kesana!" Ujar Lana menunjuk sebuah gang kecil.
Keduanya masuk gang dan Lana langsung naik pagar besi, kemudian Tyler menyusul dan mereka akhirnya lolos dari kejaran pengawal Tyler dan asisten Rion.
Mereka terus berlari dan sampai akhirnya Tyler menghentikan langkah kakinya, lalu menarik tangan Lana kedalam pelukannya.
"Aku kangen kamu, Be." Ujar Tyler, dia memeluk erat tubuh Lana dengan nafas tersenggal - senggal.
Lana juga memeluk erat Tyler, ia kembali merasakan pelukan hangat dari pria yang dia cintai. Tyler melerai pelukannya, lalu kemudian ia langsung menyambar bibir manis Lana yang sangat dia rindukan.
Keduanya saling berc¡uman melepaskan kerinduan mereka, tanpa peduli akan ada mata yang melihat aksi ciuman mereka itu, sampai akhirnya hujan besar turun begitu saja.
__ADS_1
Tyler berlari membawa Lana meneduh di depan sebuah bangunan, lalu dia melepas jas yang dia kenakan dan memakaikannya di tubuh Lana.
"Tyler, kamu nggak ngelupain aku?" Tanya Lana, Tyler langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku bahkan hampir gila karena nahan kangen, Be. Aku kangen banget sama kamu." Ujar Tyler, lalu kembali membawa Lana kedalam pelukannya.
"Aku pikir aku nggak bakal ketemu kamu lagi, Ty.." Gumam Lana sambil memejamkan matanya menikmati kehangatan dari pelukan Tyler.
Tyler berulang kali mengecup pucuk kepala Lana, dan mendekap kekasihnya itu dengan erat. Hingga tiba - tiba pintu dari bangunan yang entah apa itu terbuka dan muncul ibu - ibu dengan rol- an rambut memenuhi kepalanya.
"Eh, ada tamu.." Ujar ibu - ibu itu.
"Maaf bu, numpang neduh, boleh?" Ujar Lana.
"Boleh nak, sini masuk, ujan gede di luar." Ujar Ibu itu. Lana sedikit enggan, tapi Tyler mengangguk.
Mereka berdua masuk kedalam, Rupanya Tyler melihat asisten Rion yang rupanya sudah menyusul kesana, beruntung mereka tidak melihat Tyler dan Lana.
Rupanya di dalam bangunan itu seperti restoran yang sedang tutup, karena banyak kursi makan tertumpuk rapi di atas meja. Tyler dan Lana duduk di meja seperti bagian kasir, dimana wanita tadi kini berada di depan mereka sedang membuatkan minuman.
"Nah, silahkan di minum." Ujar wanita itu dengan ramah, lalu pergi dari sana.
"Terimakasih, bu." Ujar Lana dan ibu itu tersenyum.
Tyler mengintip dari jendela, dan ternyata orang - orang yang mengenjarnya sudah tidak ada lagi di sana, dia pun bernafas lega.
"Terus kita gimana? Kalo kamu keluar, aku yakin saat ini mereka lagi nyari kamu ke segala sudut kota." Ujar Lana.
Tyler pun diam, sambil berpikir.
"Ya, mau bagaimana lagi, kost lagi sepi, restoran juga sepi, aku bahkan udah libur tiga hari nggak jualan. Kayaknya aku bakal pindah." Ujar suara wanita pemilik tempat itu.
Tyler dan Lana mendengar si wanita itu bertelepon dengan entah siapa, mereka pun saling pandang.
"Ya, nanti aku kabari lagi, hm.." Ujar wanita itu lagi.
"Haiih.. Gini kalo udah tua, susah cari duitnya." Gumam wanita itu.
"Bu, maaf.. emang ini kost - kostan?" Tanya Lana.
"Hehe, iya neng. Tapi udah sepi, apalagi ini kost - kostan lama. Banyak yang pindah ke kost - kostan baru." Ujar wanita itu.
Tyler dan Lana saling pandang kemudian tersenyum misterius entah apa yang mereka berdua pikirkan.
Dan singkat cerita, ketika hari sudah mulai malam, terdengar banyak suara geberan motor - motor besar yang membisingkan. Ada sekitar lima belas motor besar yang datang ke depan kostan itu dan satu motor berisi dua orang.
__ADS_1
"Astagfirullah, ada apaan, ya? Kok rame banget." Ujar ibu pemilik kost.
Terakhir, datanglah empat motor lagi, yang tak lain dan tak bukan adalah Luigi, Renan, Jack dan Ernest. Mereka semua membuka helm dan menatap bingung bangunan sekitar.
"Ini beneran alamatnya, Gi? Kok sepi banget kayak di kuburan?" Ujar Renan.
"Orangnya nge- share lok nya jalan ini, bener kali. Tar gue telpon dulu orangnya." Ujar Luigi.
"Kalo sampe di badan Lana ada yang lecet walau sedikit, habisi orang yang nyulik dia." Ujar Jack, dan semua orang mengangguk.
Tapi tiba - tiba Lana muncul dan berjalan dengan wajah tersenyum kearah mereka semua, Lana bahkan tidak terlihat sedikitpun ketakutan atau seperti orang di culik.
"Na, lo baik - baik aja, kan?" Tanya Luigi khawatir.
"Gue baik - baik aja kok, kalian kok mukanya pada panik gitu?" Tanya Lana heran.
Luigi dan yang lain mengernyit bingung sekarang, bukannya Lana di culik dan mereka datang ke sana adalah untuk menyelematkan Lana?? Kok???
"Ah, ya sudah lah. Ayo masuk." Ajak Lana.
"Masuk?? Bentar, lo di culik apa enggak si?" Tanya Renan.
"Hah? Siapa yang bilang gue di culik?" Tanya Lana heran.
"Nih, ada notif masuk ke hape ge, bilang kayak gini." Ujar Luigi, menunjukan pesan yang masuk ke ponselnya.
Lana pun melihatnya, sejurus kemudian dia menepuk keningnya. Itu pasti kerjaan Tyler, Tyler meminjam ponsel milik pemilik kost itu dan mengirimi pesan pada Luigi.
"Astaga.. Sorry ya, ya udah ayo pada masuk." Ujar Lana.
Sebanyak 34 orang masuk ke dalam restoran yang sedang tutup itu, sampai restoran itu manjadi penuh. Pemilik restoran terlihat sibuk membawakan makanan dan menghidangkannya di meja.
Luigi, Renan, Jack, Ernest dan anak - anak lainnya hanya bisa menatap bingung. Lana mempersilahkan mereka semua untuk duduk, dan semua orang pun duduk.
Mereka semua bingung, tapi tidak ambil pusing dengan hal itu, mereka menikmati makanan yang datang sambil bercanda ria seperti biasanya. Sampai akhirnya seorang pria jangkung muncul dan menawarkan minuman.
"Mau minum apa??" Ujarnya, Luigi dan yang lain sampai menghentikan kunyahan mereka.
"T- Tyler??" Ujar Ujar Jack. Tyler terkekeh melihat ekspresi kaget mereka semua.
Luigi langsung bangun dan langsung berlari memeluk Tyler.
"Ty! Lo akhirnya balik juga. Gue selalu percaya lo bakal balik, hiks.. hiks.." Ujar Luigi dan malah menangis.
Jack, Renan, dan Ernest ikut bangun lalu ikut bergabung mameluk Tyler dan Luigi yang sedang berpelukan. Lana tersenyum haru melihat kebersamaan mereka.
__ADS_1
"Hahaha.." Tyler pecah. Sementara yang lain justru menangis karena terharu, sebab Tyler telah kembali.
TO BE CONTINUED..