TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 55. Ulang tahun terkutuk bagi Tyler .


__ADS_3

Tyler sampai di sekolah Lana, dan Lana pun turun dari motor Tyler.


"Semangat belajarnya, be." Ucap Tyler, dan mengusap kepala Lana dengan sayang.


"Hm, ati - ati ke sekolahnya. Lain kali kamu gak usah anter aku sekolah, soalnya sekolah kita jauh, kamunya jadi muter - muter." Ujar Lana.


"Nggak apa - apa, aku suka. Masuk gih, aku juga mau jalan." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk.


Dari jauh, Kyle terkejut melihat Lana dengan Tyler yang berinteraksi seperti sepasang kekasih.


"Bukannya cowoknya Lana itu si raja jalanan? Kenapa jadi Tyler?" Ujar Kyle.


"Apa - apaan ini, gue kecolongan?!" Ujar Kyle lagi dengan emosi.


Terlihat Tyler pergi dari depan sekolah Lana, Kyle pun menghampiri Lana yang berjalan sedikit pincang.


"Pagi, Na." Sapa Kyle, Lana yang melihat Kyle menjadi sangat kesal karena Kyle sudah mengadu domba dirinya dengan Asher dan Tyler.


"Gak usah sok akrab lo sama gue." Ujar Lana ketus, dan berjalan meninggalkan Kyle.


Kyle pun mengernyitkan keningnya, ia kembali mengejar Lana dan menghadang Lana.


"Apa gue bikin salah sama lo? Kok lo ngomongnya gitu?" Tanya Kyle.


"Banyak! minggir." Ucap Lana dan hendak kembali melangkah pergi, namun Kyle kembali menghadangnya.


"Gak! Gue harus tau salah gue apa dulu, pasti Tyler ngomong yang enggak - enggak ke elo, kan?" Ujar Kyle, dan Lana tersenyum sinis mendengarnya.


"Gak salah ngomong? Elo yang ngefitnah Tyler sama Asher dan sekarang lo nuduh Tyler di sini?" Ujar Lana dan Kyle tertegun.


"Kyle, gue saranin lo mending periksain kejiwaan lo, deh. Lo tuh sakit jiwa gue rasa." Ujar Lana dan berjalan menabrak bahu Kyle.


'Sialan, jadi Lana udah tahu kebenarannya? Terus kenapa malah dia dateng ke sekolah bareng Tyler, bukannya mereka dulu berantem dan pisahan.' Batin Kyle.


"Gue gak bakal nyerah, gue bakal bikin Tyler kembali ancur. Tyler gak boleh memiliki apapun, gak akan gue biarin dia bahagia." Gumam Kyle dan mengepalkan tangannya.


"Dan lo, Na.. gue sakit hati lo ngomong gue sakit jiwa. Gue bakal buat lo rusak, sama kaya Fia." Gumamnya lagi penuh dendam.


Berpindah ke sisi Tyler, setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di sekolah dan sudah ada ketiga temannya di sana.


"Aduh, yang sekarang udah punya pacar, bakal sibuk anter jemput pacarnya." Ujar Luigi menggoda Tyler.


"Iya dong, kan pacar yang baik hati." Ujar Tyler sambil terkekeh kecil.


Luigi, Renan, Jack dan Ernest sangat senang karena Tyler mulai menunjukan perubahan positif. Tyler tidak lagi murung dan dingin, meskipun jika dengan gadis lain dia akan tetap bersikap dingin, tapi setidaknya dalam keseharian Tyler sudah berubah.


"Ty, gue denger - denger si Fia keluar dari sekolah ini." Ujar Renan.


"Gak peduli gue, dia keluar apa pindah, masa bodo." Sahut Tyler.


"Iya sih, ngapain juga gue ngomong ke elu tentang dia." Gumam Renan menggaruk kepalanya.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam kelas, dan seperti biasa, Luigi sudah kembali mulai tebar pesona seperti dulu.


"Pagi cantiknya aku." Sapa Luigi pada gadis yang selalu dia sapa sejak dulu.


"Heih.. Mulai lagi gombalan mautnya." Celetuk Renan.


Gadis yang di sapa Luigi juga seperti biasanya, dia tersenyum malu - malu, entah apa sebabnya.


"Pagi." Sahut gadis itu.


Chery tiba - tiba mendekat kearah meja Tyler dengan membawa tas kertas hitam yang terlihat sangat mewah. Dia tersenyum - senyum malu dan tiba - tiba menyodorkan tas kertas itu pada Tyler.


"Tyler, ini buat kamu." Ujarnya. Tyler hanya menatap tas itu tanpa menerimanya, sementara Luigi dan yang lain berbisik - bisik.


"Gak punya malu nih si nenek lampir satu." Bisik Luigi pada Renan.


"Ty, gue tau lo hari ini ulang tahun, jadi gue sengaja siapin kado buat lo, terima, ya.." Ujar Chery lagi.


Seketika tatapan Tyler menggelap, tidak ada yang tahu hari ulang tahunnya kecuali empat teman - temannya, mengapa Chery sampai tahu?


Sementara Chery, dia merasa paling istimewa karena bisa tahu hari ulang tahun Tyler. Sebab tidak ada seorang pun di sekolah kecuali teman - teman Tyler yang tahu.


Luigi langsung bangun dan mendorong Chery mundur, Semua teman Tyler tahu bahwa Tyler membenci hari kelahirannya sendiri.


"Mending lo pergi, deh!" Ujar Luigi pada Chery.


"Gue cuma mau kasih kado buat Tyler, Gi." Sahut Chery.


"Gak usah! Pergi aja lo." Ujar Luigi lagi menghalangi Chery.


"BRAK!!" Tiba - tiba saja Tyler bangun dari duduknya dengan kasar dan berjalan keluar sembari melemparkan tatapan sinis pada Chery.


"Ty, kado lo." Panggil Chery hendak mengejar Tyler, tapi tangannya di cekal Luigi.


"Lo apa - apaan si Gi! Gue gak ada urusan ya, sama lo! Lepas!!" Bentak Chery.


"Apa tujuan lo ngasih kado ke Tyler, huh! Lo pengen memperlihatkan pada semua orang bahwa lo spesial dengan memberi Tyler kado?!" Ujar Luigi akhirnya emosi.


"Jangan harap! Makasih udah bikin mood Tyler jadi berantakan." Ujar Luigi lalu mengejar Tyler keluar.


"Dari mana lo dapet tanggal ulang tahun Tyler?!" Tanya Jack dan Renan langsung menghadang Chery.


"A- apa - apaan sih kalian!" Chery mundur ketakutan.


"Jawab! Dari mana lo tahu tanggal ulang tahun Tyler!" Bentak Renan. Tapi Chery hanya diam ketakutan.


"Gue kasih tau lo, ya! Jadi cewek jangan sok tahu dan sok deket sama kehidupan Tyler. Kalo sampe ada apa - apa sama Tyler, lo orang pertama yang bakal gue kasih pelajaran." Tunjuk Renan di depan wajah Chery.


Renan dan Jack pun pergi keluar meninggalkan Chery dengan ketakutannya.


Chery tidak tahu bahwa Tyler sangat membenci hari kelahirannya, karena Tyler menganggap hari kelahirannya adalah hari dimana dia di kutuk untuk lahir di tengah keluarga yang rusak.

__ADS_1


Tyler tidak di temukan dimanapun, padahal motornya masih ada di sekolah. Luigi, Renan dan Jack sampai pusing mencari keberadaan Tyler.


"Ah elah!! Padahal Tyler udah baik - baik aja, sekarang malah muncul kejadian kayak gini." Ujar Jack frustasi.


"Apa Tyler pergi dari sekolah, ya Gi?" Tanya Renan dan Luigi menggeleng.


"Pokoknya kita harus cari dia, masa bodo sama pelajaran, nyawa Tyler lebih penting." Ucap Luigi.


Hingga sore, Luigi dan yang lain masih tidak menemukan keberadaan Tyler. Akhirnya Luigi datang ke sekolah Lana dan menunggu Lana di depan gerbang, berharap Lana tahu keberadaan Tyler.


"Luigi? Kok lo ada di sini?" Tanya Lana ketika keluar dari gerbang.


"Na, lo ada dapet kabar dari Tyler, gak?" Tanya Luigi dengan nada suara panik, bahkan mata Luigi terlihat memerah.


"Tyler? Tadi pagi dia anter gue, terus dia balik ke sekolah kalian." Sahut Lana.


"Dia ilang, Na." Ujar Luigi dan matanya berkaca - kaca.


"Apa!!?" Sahut Lana terkejut.


"Ayo ikut gue, kita cari dia." Ucap Luigi dan Lana mengangguk. Lana pun langsung naik ke atas motor Luigi.


Mereka berdua mendatangi semua tempat yang sering Lana dan Tyler kunjungi, tapi masih nihil. Tyler tidak di sana.


"Sebenernya Tyler ilang di culik, apa gimana?" Tanya Lana, karena dia tidak tahu apapun.


"Tyler benci hari kelahirannya sendiri, Na. Dia menganggap hari kelahirannya adalah hari terkutuknya dia. Selain gue, Renan, Jack dan Ernest, gak ada yang tahu hari ulang tahun Tyler, bahkan Fia juga gak tahu." Ucap Luigi menjelaskan.


"Kita semua sepakat untuk melupakan hari ulang tahun Tyler, karena dia hanya akan tersiksa ketika mengingat dirinya di lahirkan oleh orang tua yang tidak menginginkannya." Ujar Luigi sambil menghapus air matanya.


"Tyler udah sangat menderita selama ini, Na." Timpal Luigi lagi. Lana yang mendengar itu juga menjadi berkaca - kaca.


Tidak dia sangka, Wajah Tyler yang dingin dan arogan itu menyimpan banyak luka di hatinya, yang lana tahu hanya Tyler membenci ibunya.


"Dan pagi ini Chery ngasih kado buat Tyler, jadilah Tyler ngilang, karena dia gak mau inget hari dimana dia di lahirin sama ibunya." Ujar Luigi lagi.


"Apa gak ada tempat yang paling spesial bagi Tyler, yang biasa Tyler dan kalian kunjungi?" Tanya Lana, dan seketika Luigi ingat sebuah tempat.


"Astaga! Kok gue lupa." Ujar Luigi menepuk keningnya.


"Pegangan ya, Na. Gue mau ngebut." Ujar Luigi dan Lana mengangguk.


Hingga akhirnya mereka menuju ke jalan ke luar kota, Lana ingat jalan itu yang pernah dia dan Asher lewati, hanya saja dia kurang yakin.


Sekitar satu setengah jam setelah Luigi memacu motornya dengan kecepatan tinggi, mereka sampai di sebuah pedesaan.


"Masa Tyler di sini, Gi?" Tanya Lana.


"Ini desanya Ambu, Ambu itu orang yang paling berjasa banget buat Tyler. Semoga Tyler ada di sini." Ujar Luigi.


Luigi berjalan menuju ke lapangan yang dekat dengan lereng perbukitan, dan benar.. Tyler duduk di sana sendirian.

__ADS_1


"Tyler.." Gumam Lana dengan tanpa sadar air matanya menetes.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2