
Tyler selesai dengan pertandingannya, dan dia memutuskan untuk berganti baju sebelum pulang, karena tadi saat dia melakukan balap, tiba - tiba hujan lebat turun mengguyur jalanan.
Untungnya tidak terjadi apapun pada Tyler, beberapa lawannya tergelincir karena jalanan yang licin akibat hujan.
"Gue duluan, Ty." Ujar Luigi, dan Tyler mengangguk.
Tyler membuka kaosnya yang basah, dan terlihatlah tubuh atletis miliknya dengan roti sobek yang menghiasi perutnya. Rambut setengah gondrongnya juga basah dan Tyler memenyeruak kan nya keatas.
Dari sudut, Fia terlihat mengintip Tyler yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil, rambut Tyler yang basah membuat Tyler terlihat sangat menggoda saat ini.
'Sial, gue gak tau kalo ternyata tubuh Tyler sebagus itu. Kalau gue berada di bawahnya, pasti enak banget.' Batin Fia berpikiran mesum tentang Tyler.
Tanpa aba - aba lagi, Fia berjalan mendekat di belakang Tyler dan tiba tiba melingkarkan kedua tangannya memeluk Tyler dari belakang.
Tyler terkejut, dan dia langsung melepaskan dengan kasar tangan Fia dan mendorongnya. "Apa - apaan lo!!" Ujar Tyler.
"Ty, ini gue." Ujar Fia, Tyler menjadi emosi melihat Fia menyentuh tubuhnya seperti tadi.
"Ngapain lo di sini?!" Ujar Tyler dengan tatapan sinis, tapi Fia tidak fokus dan justru pikirannya semakin mesum terhadap Tyler.
'Gila, tubuh Tyler bagus banget.' Batin Fia semakin terpesona.
"Ty, gue kangen sama lo. Gue minta maaf Ty." Ujar Fia, dan hendak kembali memeluk Tyler. Tapi dengan tegas Tyler mendorong Fia hingga Fia mundur beberapa langkah.
"Apa kurang jelas yang gue bilang sebelum tanding? Jangan deket - deket gue." Ujar Tyler dan langsung memakai kaosnya.
Tyler hendak keluar tapi tiba tiba Fia kembali memeluknya erat dari belakang. Tyler tidak bergeming dan Fia semakin memberanikan diri meraba dada Tyler.
"Ty, please.. gue jadi kaya sekarang itu juga karena elo. Gue pengin liat, lo cemburu apa nggak ngeliat gue sama cowok lain, jadi gue sengaja begini." Ujar Fia sembari memeluk Tyler.
Fia tersenyum smirk karena Tyler tidak menolak pelukannya, jadi tangannya semakin bergerilya kemana - mana. Dia tidak tahu saja saat ini tatapan Tyler sudah sangat dingin dan tajam.
'Gue yakin Tyler saat ini terang*ang sama gue, gue harus sapetin dia balik.' Batin Fia
"Gue sayang banget sama lo, Ty. Gue tahu gue salah, tapi please maafin gue." Ucap Fia lagi.
"Lo bilang lo ngelakuin itu karena gue??" Tanya Tyler pada Fia tanpa berbalik badan, dan Fia mengangguk.
"Iya, gue pengin buat lo cemburu. Karena gue ngerasa kita terlalu hambar, kita pacaran tapi lo gak pernah nyentuh gue lebih dari sekedar ciuman dan pelukan." Ujar Fia.
__ADS_1
"Jadi lo mau gue nyentuh lo layak apa?" Tanya Tyler, dan Fia langsung tersenyum mendengarnya. Tanpa menjawab, tangan Fia turun ke bawah bagian celana Tyler.
"Oh, lo mau kita ngelakuin ( itu)?" Tanya Tyler, dan Fia mengangguk.
"Iya." Sahut Fia dengan puas, dan tangannya semakin merambat kebawah.
"Gue pengin banget ngelakuin (itu) sama lo, Ty." Ujar Fia semakin nakal. Ketika tangan Fia hampir membuka celana Tyler, Tyler langsung menahan tangan Fia.
Fia tertegun ketika Tyler mencengkeram tangannya dengan kuat, dia bahkan meringis kesakitan.
"Ty, sakit! Lo nyakitin gue Ty." Ujar Fia.
Tyler berbalik badan dan menatap Fia dengan tatapan sangat tajam dan dinginnya saat ini lalu berkata..
"Lo bilang lo kaya gini karena gue, kan? Sekarang gue nanya sama lo, lo masih virgin?" Tanya Tyler, dan Fia terdiam.
"Jawab dong, katanya lo pengen ngelakuin (itu) sama gue. Lo tahu bahwa gue gak pernah nyentuh lo sama sekali, dan lo bilang lo begini karena lo pengen bikin gue cemburu doang, kan? Jadi jawab, emang lo masih virgin??" Ujar Tyler lagi.
Fia terdiam seribu bahasa, nyatanya bahkan saat dia masih menjadi pacar Tyler pun dia sudah main dengan Kyle di belakang Tyler. Tyler yang melihat diamnya Fia menjadi tersenyum smirk.
"Enggak, kan?! lo udah gak virgin, bener kan?! Karena lo udah menjajahkannya ke banyak cowok!! Lo tuh menjijikan asal lo tau, lo sama aja kayak nyokap gue!" Ujar Tyler dengan geram.
"Apa - apaan lo?" Ujar pria itu sembari menangkap tubuh Fia.
"Jaga cewek lo, supaya gak sembarangan datengin gue lagi." Ujar Tyler dan langsung pergi dari hadapan mereka.
"Tyler!" Teriak Fia, namun Tyler tidak menggubrisnya. Tyler bahkan melepas kaos yang di peluk oleh Fia, dan melemparnya ke tong sampah. Jadilah Tyler bertelanjang dada dan langsung menggunakan jaketnya.
Jack, dan Renan terkejut melihat Tyler menyeret Fia dengan begitu kasarnya. Seolah mereka tidak pernah saling dekat atau saling mengenal, padahal mereka tahu dulu sesayang apa Tyler dengan Fia.
"Ayo, kita pergi." Ujar Tyler, dan kedua temannya mengangguk. Sebelum jalan, Tyler melihat kedua temannya namun tidak melihat Luigi.
"Mana Luigi?" Tanya Tyler.
"Dia bilang ada urusan mendadak, jadi dia cabut duluan." Ujar Jack, Tyler mengangguk dan akhirnya mereka bertiga pergi dari sana.
Mereka langsung menuju ke markas, dan sesampainya di sana, Tyler langsung merebahkan diri di ayunan nya.
"Ty, kok lo bisa sama Fia tadi?" Tanya Renan.
__ADS_1
"Jangan bahas dia, jijik gua." Ujar Tyler, Tyler bangun dari ayunan dan naik ke atas.
"Gue mau mandi, abis itu kita minum." Ujar Tyler, Renan dan Jack mengacungkan dua jempol mereka.
Tyler mengguyur tubuhnya dengan air dingin, Ia memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya kasar. Setelah dia mandi, dia kembali turun ke bawah dan melihat Renan dan Jack sudah siap dengan semua persiapan mabuk mereka.
"Ty, ayok." Ujar Renan dengan antusias.
Tyler pun bergabung, malam ini dia akan menuangkan semua kekesalan dihatinya yang di sebabkan oleh Fia dengan minuman.
Keesokan harinya..
"Ninininit - ninininit- ninininit." Suara alarm pagi, Renan bangun dan menekan begitu saja alarm itu hingga mati, kemudian dia tidur lagi.
Saat ini Tyler, Renan dan Jack masih tertidur pulas karena semalam mereka banyak minum. Mereka tidak masuk sekolah bersamaan karena efek minuman yang masih begitu kuat.
Bungkus snack dan botol minuman juga berserakan, sungguh sama sekali tidak mencerminkan seorang siswa sekolah yang baik. Tapi begitulah kehidupan mereka, yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua mereka.
Sementara mereka masih tidur, Lana datang ke sekolah dan mendapati empat bangku di sekelilingnya kosong, ya Tyler dan teman - temannya tidak masuk sekolah.
"Apa Tyler dan yang lainnya tidak masuk hari ini?" Tanya guru bahasa Inggris.
"Tidak bu." Sahut ketua kelas.
"Kebiasaan, mereka semua memang anak anak yang buruk." Ujar Guru. Lana melirik ke arah bangku Tyler, tapi kemudian dia menatap papan tulis.
Siang harinya, Tyler bangun karena mendengar dering ponselnya tidak berhenti. Dia mencari ponselnya lalu kemudian mengangkatnya dengan wajah bantalnya yang masih khas bangun tidur.
"Halo." Ujar Tyler.
"Bang Tyler, Luigi bang." Ujar pria di telepon itu dengan panik. Tyler pun langsung segar karena mendengar nama Luigi di sebut.
"Luigi kenapa?" Tanya Tyler, dengan khawatir.
"Luigi gak sadar bang, gue nemuin dia di pinggiran jalan." Ujar pria itu.
"Jalan mana?" Tanya Tyler, dan pria itu menyebut sebuah nama jalan. Tyler langsung dengan buru - buru mengambil jaketnya dan meraih kunci motorbya lalu pergi.
Tyler tidak memberi tahu atau membangunkan Jack dan Renan, dia sangat panik.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...