
Keesokan harinya..
Lana sedang menyiapkan bahan jualan ibunya, Ibunya menatap aneh Lana yang sejak kemarin sempat membantunya menyiapkan bahan jualan, karena biasanya tidak.
"Nahh, dah kelar." Ujar Lana sambil mengibas tangannya dan tersenyum senang.
"Nak, kamu nggak bolos sekolah, kan?" Celetuk ibunya, seketika Lana terdiam.
"Hah? Enggak lah ma, bentar lagi mau ujian, masa Lana bolos." Ujar Lana.
Ibunya tersenyum lalu mengusap kepala Lana.
"Ya udah, siap - siap buat sekolah gih, ntar telat. Mama berangkat ke kantin dulu." Ujar ibu Lana.
"Iya ma." Sahut Lana.
Setelah mengatakan itu, Ibu Lana pun pergi dari rumah menuju ke kantin dengan mendorong gerobaknya. Air mata Lana menetes begitu saja walau Lana hanya diam tanpa ekspresi.
"Maafin Lana, ma." Gumam Lana. Lana hendak berbalik masuk, tapi tiba - tiba suara deru motor menghentikan langkahnya.
Lana berbalik dan melihat Kyle yang berhenti di depan rumahnya, Lana tentu terkejut melihatnya, Kyle bahkan pernah dengan sengaja hendak mencelakainya saat di balap siap mati.
"Gue bukan hantu, gak perlu setegang itu ngeliat gue." Ujar Kyle, ketika sydah melepas helmnya.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Lana dengan nada ketus.
Kye tersenyum tipis mendengar betapa ketusnya Lana padanya.
"Gue jadi perwakilan sekolah, nganter surat ini buat lo." Ujar Kyle. Lalu menyodorkan surat yang dia bawa pada Lana.
Lana menerimanya, tanpa mengucapkan apa - apa lagi, dia langsung masuk kedalam meninggalkan Kyle. Kyle pun hanya bisa menghela nafas karenanya.
"Giliran gue jatuh cinta beneran, cewek yang gue cintai malah mencintai musuh gue." Gumam Kyle.
"Dan mirisnya, gue udah terlanjur bikin dia benci sama gue, beg* lo Kyle." Gumam Kyle lagi. Kyle kembali menggunakan helmnya, lalu pergi dari depan rumah Lana.
Di dalam rumah, Lana sedang membuka amplop yang Kyle antar tadi, matanya membelalak ketika membaca isi surat itu.
"Hah? Gue gak jadi di keluarin dari sekolah??" Gumam Lana.
Lana pun langsung mengeluarkan ponselnya, dia mencoba menghubungi Tyler.
"Ring.. Ring.." Suara ponsel Tyler berdering di mobil Rion yang sedang melaju dengan asistennya.
"Ponsel siapa itu, kenapa tidak di silen!?" Ujar Rion yang terganggu.
"Maaf tuan, ini milik tuan muda Tyler." Ujar asistennya.
"Siapa yang menghubunginya?" Tanya Rion.
"Pacarnya.." Ujar asistem Rion.
__ADS_1
"Matikan saja ponselnya, semakin hilang komunikasi mereka, semakin bagus." Ujar Rion.
"Baik, tuan." Ujar asistennya.
Kembali di sisi Lana, Lana sedikit mengernyit ketika nomor Tyler yang sebelumnya bisa terhubung, kini tidak aktif.
"Apa dia udah di sekolah?? Kalo gitu gue juga mesti siap - siap ke sekolah." Gumam Lana.
Dia tersenyum senang karena tidak jadi di keluarkan dari sekolah, tanpa dia tahu bahwa Tyler sebenarnya di kurung oleh ayahnya, di rumah besarnya.
Tyler saat ini sedang duduk seperti raga kehilangan nyawa. Wajahnya kuyu dan pucat dengan darah yang berceceran di lantai, air matanya tak henti - hentinya mengalir.
Suara pintu terbuka menyadarkan lamunan Tyler, dan seorang pelayan pria masuk membawakan makanan untuk Tyler.
"Tuan kecil.." Gumamnya.
Itu adalah kepala pelayan di rumah Rion, yang juga melihat lahirnya Tyler ke dunia yang kejam tanpa kasih sayang itu. Dia selalu memanggil Tyler dengan sebutan tuan kecil.
"Pak Dul, tolong bantu aku keluar dari sini." Ujar Tyler pada kepala pelayan yang di panggil pak Dul itu.
"Kalo aja bapak bisa, tuan kecil. Sayangnya bapak nggak bisa.." Ujar Dul. Karena di luar kamar Tyler terdapat setidaknya empat orang penjaga.
"Makan dulu, ya.. Mari saya obati tangannya." Ujar Dul, tapi Tyler langsung menepis tangan Dul.
"Keluar aja pak." Ujar Tyler.
"Tuan kecil, nanti kamu bisa sakit.." Ujar Dul.
Dul sangat bersimpati dengan tuan kecilnya itu, sejak kecil hidupnya tidak pernah ada bahagianya sama sekali.
"Keluar pak." Ujar Tyler mengusir Dul.
Dul pun hanya bisa menghela nafasnya saja, lalu dia pun keluar dari kamar Tyler. Tyler kembali menatap kosong luar jendelanya itu, dengan hatinya menahan kesakitan.
Berpindah ke sisi Luigi, Renan dan Jack, mereka juga ternyata di panggil kembali oleh pihak sekolah. Mereka bertiga juga keheranan dengan keputusan yang seperti lelucon itu.
"Tapi kok Tyler gak dateng ke sekolah, Jack?" Tanya Renan, ketiganya sudah berada di sekolah.
"Mungkin lagi nganter Lana dulu." Ujar Luigi.
Dan sampai hari berganti siang dan sampai sekolah berakhir, nyatanya Tyler tidak masuk sekolah sama sekali. Renan memiliki firasat yang tidak baik dengan hal ini.
"Coba lo telpon Lana, Gi. Ada gak Tyler sama dia." Ujar Renan. Luigi mengangguk, dia pun mencoba menghubungi Lana.
"Halo, Na.. Gue mau tanya, Tyler ada sama lo, gak?" Tanya Luigi.
"Enggak, Gi. Gue pikir Tyler di sekolah lo." Sahut Lana. Luigi saling pandang dengan kedua temannya.
"Tyler gak pulang semaleman, Na." Ujar Luigi. Lana langsung tertegun di tempat, pikirannya saat ini adalah ayahnya Tyler.
"Ya udah, Na. Tar gue kabarin lagi kalo udah dapet kabar dari Tyler. Sebaliknya lo juga kabarin gue kalo ada kabar dari Tyler ya, Na?" Ujar Luigi.
__ADS_1
"I-iya Gi." Ujar Lana, lalu panggilan itu pun di akhiri.
Lana yakin, Ayah Tyler sudah melakukan sesuatu. Atau mungkin Tyler yang melakukan sesuatu supaya Lana bisa kembali sekolah.
"Ty, lo dimana.." Gumamnya.
Lana mencoba menghubungi Tyler, tapi ponselnya tidak aktif sama sekali. Dari jauh, Kyle melihat Lana yang tampak sedang gelisah tapi dia pergi begitu saja setelah mendapat panggilan dari seseorang.
Dan berpindah ke sisi Tyler, asisten Rion masuk kedalam kamar Tyler dan melihat Tyler yang masih dalam keadaan kacau. Baki berisi makanan di meja juga utuh, tidak tersentuh sama sekali.
"Tuan muda." Panggil asisten Rion, tapi Tyler hanya diam saja menatap kosong jendela.
"Saya datang untuk memberitahukan pada tuan muda, bahwa nona Lana dan teman - teman tuan mudah sudah kembali bersekolah hari ini." Ujar asisten Rion.
Tyler bergeming ketika mendengar itu, ada sedikit rasa lega karena Lana dan teman - temannya tidak jadi kehilangan pendidikan.
"Tuan berkata, sebagai gantinya.. tuan muda harus patuh tinggal di sini, makan makanan tuan muda dan jangan menyakiti diri tuan muda sendiri lagi." Ujar asisten Rion.
"Aku ingin bicara dengan Rion." Ujar Tyler.
"Tuan sedang dinas ke luar negeri, dalam dua hari tuan akan kembali. Dan tuan berharap, tuan muda sudah bisa menerima takdir tuan muda." Ujar asisten Rion. Tyler tersenyum kecut mendengarnya.
"Takdir?? Konyol." Ujar Tyler.
"Ini adalah foto - foto yang saya dapat hari ini, teman - teman anda dan pacar anda sudah kembali bersekolah." Ujar asisten Rion dan menyerahkan amplop cokelat di meja.
"Saya permisi, tuan muda." Ujar asisten Rion dan pergi dari sana.
Tyler melirik amplop cokelat yang di letakan asisten Rion, lalu meraihnya. Ia membuka amplop itu dan yang muncul pertama kali adalah foto Lana yang tampak ceria di sekolah.
"Be, aku kangen kamu." Gumam Tyler, lalu air matanya menetes.
Tyler kemudian memeluk foto Lana dan meringkuk di karpet bulu di bawah ranjangnya.
Hari berganti malam.. Lana, Luigi, Renan, Jack dan Ernest kini berada di tempat Ambu, di bogor. Tapi mereka tidak menemukan Tyler di sana.
"Ini berati fiks, Tyler ada sama bokapnya. Tyler pasti di tangkep sama ajudan bokapnya." Ujar Renan.
"Ajudan??" Tanya Lana. Lana tidak tahu siapa Rion Griffin, yang dia tahu adalah ayah Tyler itu orang kaya dan dirinya orang miskin.
"Bokapnya Tyler itu seorang Owner sekaligus CEO dari perusahaan raksasa yang berdiri di kota Jakarta ini. Dia mencangkup hampir semua bidang, kayak dari minyak, elektronik, pembangunan, masih banyak." Ujar Renan, Jack langsung menampol kepala Renan.
"Adeh!!! Kok gue di tampol sih, Jack! Kebiasaan banget." Ujar Renan.
"Elo juga kebiasaan, mulutnya bocor." Ujar, Jack kesal.
Lana tertegun mendengarnya, semakin terlihat jelas perbedaan antara dirinya dengan Tyler.
'Jadi gue sama Tyler bagai langit sama bumi.' Batin Lana, dia menjadi berkecil hati sekarang.
...TO BE CONTINUED....
__ADS_1