TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 28. Orang tua tidak berhati.


__ADS_3

Renan sudah mengganti semua pakaian Tyler dengan pakaian yang baru, Tyler sendiri tertidur saat ini. Dengan telaten Renan mengompres kening Tyler yang sejak pagi panasnya belum juga turun.


"Ty.. Ty, ngapain si lo ujan - ujanan, jadi sakit kan." Gumam Renan, sembari memeras handuk yang dia gunakan untuk mengompres Tyler.


Hingga tiba - tiba di luar terdengar suara klakson mobil yang sangat keras tanpa jeda.


"Sshh Ck! Setan mana sih, gak tau apa ini masih pagi, brisik banget." Ucap Renan, dan langsung bangun. Renan turun dan keluar dari ruko, dia terkejut melihat siapa yang berdiri di sana.


"Ngapain bokap sama nyokapnya Tyler kesini." Gumam Renan, lalu klakson itu berhenti.


"Mana Tyler!" Ujar ayah Tyler. Renan menatap mereka dengan tatapan tidak suka, karena mereka berdua sering membuat Tyler pulang dengan suasana hati yang buruk.


" Gak ada." Ujar Renan singkat. Ayah Tyler tampak turun dari mobil dan berjalan masuk, Renan langsung menghadang jalan tapi ayah Tyler mendorongnya dengan keras.


"Minggir! Saya tidak punya urusan sama kamu." Ujar Ayah Tyler formal sembari mendorong Renan.


"Gak! Urusan Tyler juga jadi urusan saya." Ujar Renan dengan formal juga sembari kukuh menghadang ayah Tyler.


"Tsk! Anak berandalan." Gumam ayah Tyler, Renan menatap ayah Tyler dengan tajam saat ini.


"TYLER!! KELUAR KAU!!" Teriak ibu Tyler.


"BERISIK BAN*SAT!!" Bentak Renan dengan keras hingga ibu Tyler terkejut.


"Heh! Berani sekali kau membentak!" Ujar ayah tyler.


"Kalian yang apa - apaan! berani banget teriak - teriak di sini, ini bukan hutan!" Ujar Renan.


Ayah Tyler hanya menatap remeh Renan, lalu terus berjalan masuk, Renan yang tidak mau Tyler terganggu karena kedatangan kedua orang tuanya pun kembali menghadang. Tapi sebuah bogeman mentah mendarat di pipi Renan.


"MINGGIR!!" Ujar Ayah Tyler sembari memukul Renan. Tapi tidak sampai di sana, Tyler rupanya melihat itu dan dia langsung membalas memukul ayahnya.


"BUGH!!" Tyler memukul ayahnya tepat di wajahnya. Wajah ayahnya langsung terlihat semakin emosi dan langsung menghajar Tyler.


"BUGH!! BUGH!!" Ayah Tyler memukuli wajah Tyler dua kali hingga Tyler terhuyung ke belakang, dan Renan menahannya.

__ADS_1


"Ty, lo ngapain bangun." Ujar Renan dengan khawatir, apalagi tubuh Tyler masih sangat lemas.


Tyler tidak menghiraukan ucapan Renan dan kembali berdiri dengan wajah merah karena demam menghadap ayahnya.


"Ayo, pukul gue lagi." Ujar Tyler menantang ayahnya, dan tanpa berpikir, ayahnya langsung menghajar Tyler hingga mulut Tyler berdarah.


"LO GILA, YA!! BAPAK MACEM APA LO BAN*SAT!" Teriak Renan, tapi Tyler menahan Renan yang hendak menyerang ayahnya.


"Gue aja, Ren." Ujar Tyler. Renan bahkan udah berkaca - kaca melihat Tyler yang sedang sakit di pukul seperti itu.


Tyler kembali menatap ayahnya dengan tatapan sayu karena dia sedang sakit, lalu dia menatap ibunya yang sejak tadi hanya diam.


"Lo gak ikut mukul gue? Ayo pukul." Ujar Tyler pada ibunya, dan ibunya hanya membuang muka karena sudah tidak sabar.


"Bisa gak usah drama gak!? Cepet ikut kami." Ujar Ibu Tyler tidak sabaran.


"Gue gak mau ikut, kalian mau cerai ya udah cerai aja." Ujar Tyler. Ayah Tyler yang tidak sabaran itu langsung kembali menghajar Tyler.


"Mati aja lo! Anak sial!" Ucapnya sembari menghajar Tyler.


"Mati aja sekalian, saya gak peduli!" Ujar Ayah Tyler, sembari berkacak pinggang.


"YA UDAH KALIAN PERGI!! CERAI YA CERAI SANA, TOH GUE BUKAN ANAK KALIAN, KAN?! Teriak Tyler menggelegar. Ayah dan ibunya sampai terkejut.


"Udah cukup! Cukup kalian berdua bikin gue kayak gini! Selalu nyalahin gue atas kesialan yang terjadi sama kalian." Ujar Tyler.


"Pernah gak kalian mikirin sedikit aja perasaan gue?? Pernah gak?" Ujap Tyler sembari menunjuk dirinya dengan mata yang panas dan berkaca - kaca.


"Sakit." Ujar Tyler dengan suara yang dalam.


"Kalian berdua selalu aja menyalahkan semuanya ke gue!! Tapi kalian berdua gak pernah berkaca dari kesalahan kalian sendiri!! GUE! GUE! GIE! SELALU AJA GUE YANG DI SALAHIN!!" Teriak Tyler dengan amarah yang meluap luap.


"PERGI!!" Ujar Tyler akhirnya sembari menunjuk pintu keluar.


"Anak in.."

__ADS_1


"PERGI GUE BILANG!!" Teriak Tyler memotong ucapan ayahnya.


"Dan mulai hari ini, gue mutusin hubungan ayah dan anak dari kalian berdua. Anggaplah gue udah mati, sesuai kemauan kalian." Ujat Tyler, Sebutir air mata menetes dari mata Tyler, lalu dia berbalik dan pergi naik kembali keatas kamarnya.


Renan yang melihat itu pun ikut menghapus air matanya, dia dan Tyler tumbuh bersama. Dulu saat mereka kecil, dia adalah saksi ketika Tyler sakit dan memanggil ibunya. Itu jauh sebelum kekecewaan Tyler pada kedua orang tuanya membuncah.


"Gue rasa kalian adalah orang tua paling beg* dan paling bren*sek sedunia. Tyler adalah anak yang baik, dan kalian sia - siain gitu aja." Ujar Renan.


Tanpa perasaan bersalah, ayah Tyler keluar begitu saja dari ruko itu. Dan ketika ibu Tyler juga hendak pergi, Renan mengucapkan sebuah kalimat.


"Padahal dulu dia sangat merindukan anda, tiap dia sakit, dia berharap anda akan peduli padanya. Tapi nyatanya memang anda bukanlah seorang ibu, karena seorang ibu, gak akan seperti anda." Ujar Renan.


Ibu Tyler mendengar itu, tapi dia terus melanjutkan langkah kakinya dan pergi keluar.


Renan mendengar musik yang sangat keras dari kamar atas, sudah pasti Tyler sedang sangat terluka saat ini. Renan hanya bisa menghela nafas dan duduk di sofa.


"Padahal dia belom minum obat, huuft.. Kenapa para orang tua ngelahirin anaknya kalo ujung - ujungnya anaknya di anggap biang masalah. Gak orang tua Tyler, gak orang tua gue, sama aja." Ujar Renan.


Dan ya, di kamar Tyler, saat ini Tyler sedang berdiri menatap luar jendela dengan tangan kanannya yang mengucur darah dengan deras. Dia kembali melampiaskan kemarahannya pada benda di sekitarnya.


Nafasnya terengah - engah dengan sesekali air matanya menetes. Tatapannya sangat tajam dengam nafas yang berat, menandakan betapa emosinya dia saat ini.


Setelah mobil orang tuanya pergi, dia baru pergi dari jendela, dan merebahkan dirinya di ranjang dan memejamkan matanya.


Tiba - tiba dia membuka matanya ketika merasakan perih di tangannya, ia pun bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tangannya dengan air.


Dan saat itu juga dia teringat ketika Lana mengobati tangannya di jembatan.


"Bahkan ketika gue lagi kayak gini, Lo ada di otak gue, apa gue beneran jatuh cinta sama Lo, Na." Gumamnya.


Dan saat itu tiba - tiba darah menetes dari hidungngnya, dia mimisan. Tyler langsung menengadah ke atas untuk menghentikan aliran darah, tapi tetap saja masih mengalir deras.


'Sial.' Batinnya.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2