
Lana pun sudah siap dengan helm dan sarung tangannya. Tubuhnya memang kecil, jadi siapapun tidak akan mengira bahwa Lana pandai mengendarai motor sport.
"Dek, buat permulaan, gimana kalo abang bonceng lo dulu, soalnya motor ini gak sama kayak motor matic mama lo yang lo pake ke sekolah. " Ujar pria yang sebelumnya.
'Ni orang kayaknya ngeremehin kemampuan gue banget, gue kasih dia bonceng aja deh, kasih pelajaran.' Batin Lana dengan senyum smirknya.
"Oke, ayok." Ujar Lana. Pria itu pun naik di belakang motor yang akan Lana bawa. Lana menggeber motor itu hingga menarik perhatian orang - orang yang berada di sana.
"Jangan geber - geber mulu, dek. Tau jalanin motornya gak, sih?'' Ujar pria yang sedang membonceng Lana dari belakang karena dia merasa malu di lihat oleh rekannya yang lain.
"Hehehe, sorry bang, siap? Pegangan ya, gue kalo bawa motor terbang lho.." Ujar Lana.
"Ya, ayo jalan." Ujar pria itu, Lana langsung tancap gas dan melesat dengan kecepatan rendah kisaran 30 km per jam. Pria yang memboncengnya pun hanya geleng - geleng kepala karena dia seperti seorang paman yang sedang mengajari keponakannya belajar naik motor.
"Dek.." Pria itu hendak mengkomplen tapi tiba - tiba Lana menaikan kecepatan motornya. Pria yang memboncengnya pun terkejut karena Lana semakin cepat melajukan motornya.
'Gila, ni bocah legend dari mana si, cewek pula.' Batin pria itu. Dia sampai mulai berpegangan pada bagian belakang motor karena kecepatan Lana semakin bertambah dan sekarang di kisaran 80 km. per jam.
"Dek, jangan ngebut - ngebut, nanti jatOooohh..." Teriak pria itu tiba - tiba karena tiba - tiba juga Lana menambah kecepatannya menjadi 100 km. per jam. Di tempat balap khusus itu tentu saja Lana semakin lihai mengendarai motornya, dia meliuk liuk indah dengan tatapan setajam elang.
Dan hingga kecepatan 140 km. per jam, pria yang membonceng Lana membatu dan tubuhnya bergetar di belakang Lana.
Antara ingin teriak tapi malu, tapi jika diam saja dia juga takut, alhasil dia memegang perut Lana, dan itu sangat kencang. Lana yang menyadari pria di belakangnya itu ketakutan pun akhirnya memperlambat laju motornya.
Antara ingin terbahak tapi kasihan, Lana akhirnya menepikan motor itu dan pria yang memboncengnya pun turun dengan kaki gemetar dan mata yang berkaca - kaca.
"Gimana bang? Gue boleh ikutan balap kan?" Tanya Lana, tapi yang di tanya justru langsung lari masuk sembari memegangi perutnya.
"Yah.. mabok dia, padahalkan belum full gue nancep gasnya." Ujar Lana lalu terkekeh karena dia teringat dengan wajah pias pria itu saat dia di kecepatan tinggi.
Tiba - tiba seorang pria mendatangi Lana dan menyodorkan tangannya meminta berjabat tangan, Lana yang melihatnya pun bingung, karena pria itu tiba - tiba datang mengajaknya bersalaman.
__ADS_1
"Lo mau ikutan balap kan?" Tanya pria itu, dan Lana langsung menganggukan kepalnya antusias.
"Iya, bang." Ujar Lana.
"Lo lolos uji coba, jadi lo boleh ikutan." Ujar Pria itu, dan Lana langsung tersenyum senang mendengarnya lalu langsung menjabat tangan pria itu dengan semangat.
"Makasih, bang." Ujar Lana dengan antusias. Pria itu sampai ikut tersenyum senang melihatnya.
"Malam ini, dateng ke sini jam lapan malem, akan ada pertandingan. Dan karena lo orang yang gue pilih, lo gak usah bayar administrasi." Ujar Pria itu, dan Lana semakin mengangguk antusias.
Dan setelah percakapan itu, Lana pun pergi dari sana dengan wajah senang. Lana tahu itu adalah arena balap ilegal, karena di sana adalah sarangnya perjudian dengan cara balap motor, dan Lana baru saja masuk untuk mendaftarkan dirinya menjadi salah satu joki motor balap.
Pria yang tadi masuk kedalam toilet kembali keluar dan mencari keberadaan Lana, tapi tidak ada di manapun. Pria yang sebelumnya berjabat tangan dengan Lana pun menghampiri pria itu.
"Dia udah pergi, gue udah lolosin." Ujar pria itu, pria yang mabuk tadi pun mengacungkan dua jempolnya.
"Bagus! tuh bocah legend, kalo di asah dia bisa jadi joki andalan." Ujar pria yang mabuk perjalanan tadi. Pria yang meloloskan Lana tadi hanya melirik temannya yang mabuk perjalanan itu dengan tatapan remeh.
"Gue gak mabok ya! Gue cuma muter aja ni perut!" Triak pria yang mabuk tadi, tidak terima di katai mabuk dan payah.
"Iya - iya, gak mabok." Ujar temanya, pria yang mabuk malah semakin kesal karena di jawab seperti itu.
Sore harinya, Tyler bangun setelah mendengar suara Renan dan Ernest yang sedang berdebat.
"Gue sih gak mau ikut campur lagi sama tuh cewek , dia udah gila bro! Gue tau lo kakak sepupunya, tapi kan itu juga bukan salah kita, itu salahnya dia sendiri yang tiba - tiba jadi liar." Ujar Renan.
Tyler bangun dan duduk, dia memutar lehernya ke kanan dan ke kiri, lalu berjalan menuju ke lemari pendingin. Ernest dan Renan melihat itu dan keduanya saling pandang.
"Ty, lo nemuin Lana?" Tanya Renan karena Tyler terlihat sangat tenang dan diam seribu bahasa.
"Gak." Ujar Tyler, di sela - sela dia meneguk air mineral di botolnya. Tyler lalu duduk bergabung dengan Renan dan Ernest.
__ADS_1
"Tapi gue berhasil nyerahin bokapnya Lana ke kantor polisi, malem ini polisi bakal melakukan penyelidikan ke tempat yang waktu itu kita datengin." Ujar Tyler, lalu mengotak atik ponselnya.
Renan senang mendengarnya, tapi dia merasa aneh karena Tyler seakan sangat dingin sekarang. "Lo kenapa, Ty?" Tanya Renan.
Tyler lalu menatap ke arah Ernest yang saat ini juga sedang menatap kearah Tyler, tapi tiba - tiba Ernest mengalihkan pandangannya.
"Kenapa? Lo kesel sama gue karena gue gak ngijinin lo buat minta anak - anak ngehajar cowoknya Fia?" Tanya Tyler, dan Ernest hanya diam dengan nafas yang terdengar berat.
"Kan udah gue bilang, kalo lo bisa pake mereka, pake aja." Ujar Tyler, lalu menyenderkan tubuhnya di sofa.
"TY!!" bentak Ernest. Renan langsung menatap tajam Ernest. Tyler kembali duduk tegak dan menatap Ernest dengan sama tajamnya, dan berkata dengan tegas.
"Denger ya Nest! Gue gak salah di sini Nest, gue gak pernah nyentuh adek sepupu lo, juga gue gak pernah ngelewatin bates sama dia. Dia sendiri yang pergi, dia yang bikin masalah buat hidupnya sendiri, lalu ngefitnah gue." Ujar Tyler.
"Harusnya dia tahu kalo bikin masalah sama geng cowoknya dia tuh konsekuensi nya ya kayak gitu, kan cowok itu udah terkenal tukang maenin cewek, adek lo dengan bodohnya pacaran sama dia. Sekarang lo jadi repot gini ngurusin dia, jangan bodoh Nest." Ujar Tyler.
"Iya, tapi kan gue cuma minta tolong buat ngasih pelajaran ama tuh cowok, Ty." Ujar Ernest. Tyler memejamkan matanya karena gemas dengan Ernest, temannya yang satu ini memang memiliki hati selembut sutra.
"Gini Nest, coba lo tanyain ke anak - anak deh, mau gak mereka ngehajar cowoknya Fia demi Fia, dah gitu aja." Ujar Tyler.
"Ya jelas gak mau lah, gue juga ogah! Udah jelas - jelas Fia yang salah, dia yang berkhianat. Sekarang dia kena masalah, ngapain kita yang repot." Ujar Renan, Tyler mengangkat kedua bahunya seolah memberi tahu Ernest bahwa itulah jawabannya.
"Hhhh..." Ernest menghela nafas. Memang benar, anak - anak black puma tidak akan turun tangan, apalagi jika itu adalah Fia. Fia sekarang bagai musuh bagi Black Puma.
"Udah baik dia masih hidup, Nest. Selanjutnya tergantung jalan yang dia ambil, kalo dia pinter ya tau harusnya dia ngapain." Ujar Renan.
"Sampe sini harusnya lo udah ngerti, Nest. Dan gue harap lo gak ngebahas masalah ini lagi, kita kelar dengan pembahasan ini." Ujar Tyler, dan akhirnya Ernest mengangguk.
Padahal Ernest adalah anggota paling tua diantara lima orang itu, tapi Tyler memang lebih dominan dan aura pemimpinnya lebih menonjol.
TO BE CONTINUED..
__ADS_1