
Sementara di sekolah Tyler, Renan dan Jack sedang sama - sama galau karena tidak ada Tyler di kelas. Luigi bahkan memutuskan untuk keluar dari sekolah, karena dia malu menyandang predikat pecandu.
"Njir, berasa kaya di kuburan, sepi benerr.." Gumam Renan.
Pasalnya sudah tidak ada gadis - gadis dari kelas lain yang menghampiri mereka untuk memberikan kotak bekal untuk Tyler seperti biasanya.
"Udah gak ada gula ( Tyler ) di antara kita, jadinya semutnya udah gak ada yang mau deket - deket." Ujar Jack, Renan terkekeh mendengarnya.
"Adanya empedu, hahaha."Ujar Renan lalu terbahak.
"Sial*n, empedu amat. Yang lain kek, berasa pait bener gue." Ujar Jack, tapi Renan malah makin terbahak.
"Ya kan emang kita pait, hidupnya." Ujar Renan, dan di toyor langsung oleh Jack.
"Jujur amat." Gumam Jack lalu ikut terbahak.
Tiba - tiba keduanya diam karena merasa bercandaan mereka kurang seru tanpa adanya Luigi dan Tyler.
Tiba - tiba gadis yang sering Luigi sapa datang mendekat ke arah Jack dan Renan dengan membawa kantong berwarna putih besar.
"M- maaf Jack dan Renan.. Apa aku boleh titip ini?" Tanyanya pada Jack dan Renan.
Jack dan Renan saling pandang, gadis yang berada di depan mereka saat ini adalah vaforitnya Luigi.
"Buat siapa? Tyler??" Tanya Jack, dan gadis itu menggeleng.
"Bukan, tapi.. buat.. buat.." Ujarnya gugup.
"Luigi?" Cetus Renan, dan wajah gadis itu langsung merah. Gadis itu mengangguk lalu langsung menaruh kantong yang dia bawa di meja Jack.
"Makasih, ya.." Gumamnya, lalu langsung pergi kembali ke bangkunya.
Renan dan Jack merasa lucu ketika melihat wajah gadis itu merona.
"Luigi di crush in cewek, Jack.. Anjiirr.." Gumam Renan sambil terkekeh.
"Brisik lo, lo gak liat tadi mukanya udah kayak gunung meletus, merah banget. Jangan bikin dia makin malu ege!" Ujar Jack.
"Hihi, iya - iya.. sorry." Ujar Renan.
Singkat cerita.. Hari sudah sore dan Tyler saat ini sedang berjalan turun dari apartemennya untuk mengambil makanan yang dia pesan secara online.
__ADS_1
Saat lift berhenti di lantai 11 dimana di sana terdapat kolam renang, gym dan restaurant, Tyler bertemu dengan ibunya.
Ibunya tampak biasa saja ketika melihat Tyler dan masuk bersama pria bule yang di gandengnya. Tyler diam saja seperti orang yang tidak saling mengenal sama sekali.
"Let's meet up again tomorrow, babe."
(Besok kita ketemu lagi, sayang.) Ujar pria bule itu pada ibu Tyler.
"Sure.." Sahut ibu Tyler. Tyler merasa muak berada di satu lift bersama mereka, hingga ia merasa lift berjalan sangat lama.
Lift kembali berhenti di lantai 2, dimana di sana ada pusat perbelanjaan dan pria bule itu keluar di sana setelah mencium dengan rakus ibu Tyler tanpa memperdulikan Tyler yang berada di satu lift bersama mereka.
Setelah pria bule itu pergi, ibu Tyler pun menatap Tyler yang saat ini sedang memainkan ponselnya.
"Lo masih tinggal di sini juga rupanya, gue pikir lo tinggal sama temen berandalan lo itu." Ujar ibu Tyler.
Tyler sama sekali tidak menggubris ucapan ibunya, ia sibuk berkirim pesan dengan driver yang mengantar makanannya.
"Emang dasar anak setan, gak bisa di ajak ngomong." Ujar ibu Tyler dengan kesal.
Tyler mengantongi ponselnya lalu menatap ibunya dengan tatapan datar penuh kebencian. "Ya, kan lo setannya. Jangan lupa, gue lahir dari lobang ******** lo." Ujar Tyler lalu keluar dari lift itu.
Ibunya hendak marah tapi langsung di tahan ketika melihat petugas keamanan yang berdiri di depan lift.
Tyler mengambil makanan yang dia pesan, lalu kembali masuk. Sementara ibu Tyler di jemput oleh mobil mewah yang entah itu mobil siapa.
"Malem sama siapa, siang sama siapa, hebat bener tuh lobang." Gumam Tyler menatap remeh mobil yang menyemput ibunya.
Kebencian Tyler sudah tidak bisa di jabarkan lagi kepada ibunya, dia kecewa, marah, benci dan tidak habis pikir dengan ibunya yang berkelakuan seperti itu.
Tyler naik ke atas dan jadi hilang selera makannya karena melihat ibunya, padahal sebelumnya dia sudah sangat lapar kerena setengah harian itu dia baru bangun dari tidurnya.
"Sial*n.. gue malah jadi gak mood makan gara - gara liat adegan menjijikan tadi." Gumam Tyler.
Dia malah menyalakan musik dengan volume tinggi, untungnya apartemennya itu memiliki kedap suara yang bagus, jadi tetangga nya tidak terganggu.
Dia menyibukan dirinya dengan laptopnya entah apa yang sedang dia lakukan, hingga beberapa jam kemudian dia menutup laptopnya dan menghela nafas.
"Mending gue ke tempat balap sekalian nanya nanya tentang Lana di sana." Gumam Tyler, tidak mau tenggelam lagi dalam kekecewaan nya terhadap keadaan hidupnya.
Tyler masuk kedalam kamarnya lalu dia mengganti pakaiannya dengan jaket dan celana serba hitam, lalu mematikan musiknya. Dia mengambil helmnya lalu dia keluar dari apartemen.
__ADS_1
Dan di tempat lain, Lana yang sudah pulang sekolah itu langsung pergi ke arena balap karena Angga menghubunginya.
"Kenapa bang?" Tanya Lana ketika dia sudah sampai di ruangan Angga.
"Bang Neo yang nyari lo, na." Ujar Angga. Neo adalah pria yang meloloskan Lana di arena itu saat Lana pertama kali datang ke sana untuk mendaftar.
"Mana orangnya?" Tanya Lana, dan Neo yang di sebut - sebut itu datang ke ruangan Angga.
"Nah, itu orangnya nongol. Nih si Lana udah dateng." Ujar Angga pada Neo yang masuk.
"Na, ini punya lo?" Tanya Neo sembari menunjukan kain putih yang biasa Lana pakai untuk mengikat dadanya agar rata.
"Kok ada di bang Neo?" Tanya Lana terkejut.
"Lo sembrono banget, kaya ginian ampe jatoh di jalan." Ujar Neo, dan Lana tertegun.
"Eh, seriusan?" Tanya Lana, dan mengecek tas sekolahnya, memang tidak ada pengikat dadanya.
Lana jadi teringat dengan kejadian kemarin saat ia di pergoki oleh cowok aneh yang mesum menurutnya.
"Ini gara - gara anak baru yang kemaren nylametin gue itu bang, dia mergokin gue masa." Ujar Lana, Angga dan Neo langsung terkejut.
"Terus gimana??" Tanya Angga.
"Gue bilang jangan sebarin kalo gue ini cewek, gue juga bilang kalo gue ngalah di pertandingan seri kemarin, hadiahnya buat dia aja. Tapi dia.." Ujar Lana menggantung.
"Dia apa?" Tanya Neo, yang kini ikut kepo.
"Pokoknya gitu lah, gue tendang dia kemaren tuh, tau tuh ntar dateng apa nggak malem ini." Ujar Lana, dia tidak menceritakan kronologinya.
"Jadi dia udah tau kalo lo cewek?" Tanya Angga, Lana mengangguk.
"Aduh, gawat. Gimana kalo dia sebarin ke yang lain. Di sini gak boleh ada cewek, Na. Lo kan di terima karena lo emang berpotensi." Ujar Angga jadi panik.
"Biar gue urus itu, ntar kalo dia dateng kalian kasih tau gue." Ujar Neo, Lana dan Angga mengangguk.
Lana juga tidak mau kehilangan sumber penghasilannya, meskipun dia tidak mau terikat, tapi dia selalu lebih menang banyak di tempat itu dari pada di tempat lain.
"Bang, kemungkinan terburuknya kalo semua orang tau gue cewek, apa?" Tanya Lana.
"Lo mesti di keluarin dari arena ini." Ujar Angga dan Lana terdiam.
__ADS_1
'Sial*n.. Kenapa juga tuh cowok harus mergokin gue.' Batin Lana..
TO BE CONTINUED..