TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 27. Kehujanan


__ADS_3

Lana sedang meliuk indah dengan motor balap yang ia kenakan, tubuh kecil tidak menjadi penghambat dia melakukan balap. Tatapannya setajam elang dan fokusnya hanya satu, yaitu menang.


Angga sangat senang ketika melihat Lana berada di barisan paling depan. "Fix! Dia bakalan gue jadiin joki andalan." Ujarnya ketika sedikit lagi Lana mencapai garis finish.


"Ayo L!!!!" Teriak Angga. L adalah singkatan nama Lana yang di samarkan karena di sana tidak memperbolehkan ada peserta wanita yang masuk.


Tapi pada saat detik - detik hampir sampai finish, entah ada yang menyadari atau tidak, Lana mengurangi kecepatan motornya dan membiarkan orang lain duluan yang sampai di garis finish dan Lana menduduki yang kedua lalu di susul yang berikut berikutnya.


'Sorry bang, gue gak mau terikat dengan siapapun.' Batin Lana, pada Angga yang saat ini sedang melihat Lana dengan ekspresi kecewa.


Sorak sorai begitu ramai terdengar ketika pertandingan itu sudah mendapatkan pemenangnya, tapi Angga memegang kepalanya karena Lana nyaris menang namun di dahului peserta lain.


"Yah.. Gue kalah, bang." Ujar Lana, ketika Angga menghampiri dirinya. Angga masih tetap tersenyum dan menepuk pundak Lana dengan bangga.


"Gak apa - apa, lo udah menunjukan bakat lo dan lo hampir menang tadi. Seenggaknya lo masuk dalam tiga besar." Ujar Angga.


"Makasih, bang." Ujar Lana, dan Angga mengangguk dengan senyuman tulusnya.


"Abis ini lo mau kemana? Kalo gak ada acara, mending ikut sama gue kumpul sama yang lain." Ujar Angga. Lana tampak berpikir, tapi dia akhirnya menggelengkan kepalanya.


"Gak bisa bang, sorry. Gue musti bantuin nyokap." Ujar Lana, menolak dengan halus. Angga pun tampak mengangguk - anggukan kepalanya.


"Ya udah, gak apa - apa, lain kali aja. Oh, terus ini duit bagian lo." Ujar Angga sembari memberikan amplop cokelat pada Lana, Lana pun menerimanya dengan tatapan berbinar.


"Makasih banyak bang, kabarin gue kalo ada tanding lagi." Ujar Lana dan Angga mengangguk.


Lana pun akhirnya pergi dari sana dan masuk kedalam ruang ganti. Setelah selesai, dia pun langsung pergi dari arena balap liar itu.


Di tempat lain, Tyler sedang berdiri di jembatan yang sama saat dia sering melihat Lana dulu. Dia berharap bisa melihat Lana lagi untuk meyakinkan hatinya apakah dia sungguh jatuh cinta pada Lana atau tidak.


"Kemana lo, Na." Gumam Tyler, sembari menatap jalanan yang masih ramai.


Tiba - tiba ponselnya berdering dan dia mengernyitkan keningnya ketika melihat siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"Ngapain dia nelpon gue, apa matahari terbit dari barat?" Gumam Tyler. Yang meneleponnya saat ini adalah ibunya yang dia beri nama Karisma, tanpa embel - embel sebutan ibu.


Tyler membiarkannya saja, hingga panggilan itu berhenti. Tapi Karisma kembali menghubungi Tyler lagi dan Tyler langsung menolaknya lalu mengantongi ponselnya.


Tapi Karisma masih terus menghubungi Tyler hingga membuat Tyler menjadi kesal dan akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Apa?!" Bentak Tyler tanpa sedikitpun nada kelembutan.


"Lo tuh sama aja kayak bokap lo tau gak! Di hubungin susahnya minta ampun, sibuk maen cewek doang." Ujar Karisma dari seberang sana.


"Emangnya situ bener? Situ juga kan tukang selingkuh, maen cowok, jadi klop udah, kalian pasangan yang serasi." Ujar Tyler dengan emosi.


"Gue mau cerai dari bokap lo, besok lo dateng ke pengadilan agama ikut sidang perceraian." Ujar Karisma, dan Tyler tertegun mendengarnya.


Tapi Tyler juga tidak peduli, toh selama ini dia hidup sendiri dan tumbuh sendiri. Meskipun materinya di jamin oleh orang tuanya, tapi mereka sama sekali tidak memberikan figur penting sebagai orang tua yang memberikan kasih sayangnya pada anak.


"Ngapain gue ikut sidang perceraian kalian, kan yang nikah kalian, ngapain bawa - bawa gue." Ujar Tyler.


"Ya karena lo anak gue sama bokap lo lah, tol*l! Setelah kami cerai, terserah lo mau hidup sama siapa, lo boleh pilih." Ujar Karisma.


"Gak usah sok ngomong gitu, gue tau kok maksudnya. Baik lo maupun suami lo gak pernah menginginkan gue, jadi kalo kalian mau cerai ya cerai aja, gak usah nyeret gue." Ujar Tyler dengan dingin.


"Anak gak tau sopan santun, gak tau bales budi." Ujar Karisma.


"Sopan santunnya seorang anak adalah karena didikan dari orang tuanya, orang tua gue gak pernah ngedidik gue, jadi wajar gue gak punya sopan santun." Ujar Tyler menampar wajah ibunya dengan kata - kata.


"Pokoknya lo harus dateng ke persidangan besok jam 10 pagi, kalo lo gak dateng, gue bakal suruh orang buat nyeret lo supaya dateng." Ujar Karisma lalu langsung mematikan ponselnya.


Tyler langsung membanting begitu saja ponselnya dengan emosi, setiap dia berurusan dengan ayah dan ibunya, dia selalu seperti itu. Kekecewaan, marah, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.


"Apa - apaan, selain gue lahir dari rahim lo, gue gak pernah hutang budi apapun sama lo." Gumam Tyler, sembari menatap ponselnya yang sudah hancur.


Tyler terengah - engah antara menahan tangis dan marah, dan saat itu juga hujan besar mengguyur bumi. Hujan itu membasahi Tyler yang masih berdiri di jembatan itu sembari menatap pecahan ponselnya.

__ADS_1


Sementara itu, Lana belum turun dari bus dan hujan besar juga mengguyur di tempat Lana saat ini berada. Saat akhirnya bus berhenti, Lana menutupi kepalanya dan berlari meneduh ke halte bus.


"Ah elah, pake ujan segala, mana gak bawa payung." Gumam Lana, sembari mengibas jaketnya yang kebasahan karena hujan. Lana melihat kesekelilingnya yang sepi, dia jadi ngeri sendiri, dia takut hantu.


"Lari aja deh, udah deket ini lah." Gumam Lana lagi, dan dia pun akhirnya berlari sembari menutupi kepalanya dengan tasnya.


 


Dan akhirnya hingga hari menjelang pagi, Tyler masih berada di tempat yang sama, di jembatan. Dia duduk kehujanan sejak semalam, dia pikir Lana akan kembali lewat kesana seperti dulu, tapi nyatanya tidak.


Tubuh Tyler sampai menggigil kedinginan dan wajahnya sangat pucat.


'Lo gak dateng, Na. Apa lo beneran gak mau kenal gue lagi? Terus gimana sama gue..' Batin Tyler, dengan bibir biru menggigilnya.


Tiba - tiba terlihat Renan yang berlarian datang ke jembatan bersama Ernest. Mereka terkejut melihat kondisi Tyler yang nyaris seperti mayat.


"Ty! Astaga Ty, lo ngapain ujan - ujanan di sini?" Ujar Renan dengan khawatir.


Tapi Tyler tidak menjawab, dia terlalu lemas dan kedinginan untuk sekedar menjawab. Ernest melihat ponsel Tyler yang hancur berantakan, lalu dia ikut berjongkok di depan Tyler.


"Ayo bantu gue bawa dia ke motor gue, Nest." Ucap Renan dan Ernest mengangguk, mereka berdua mencoba menggendong Tyler tapi tiba - tiba Tyler lunglai.


"Ty! Yah Nest, dia pingsan." Ujar Renan dengan panik.


Mereka berdua langsung bahu membahu menggendong Tyler. Lebih tepatnya Ernest yang menggendong Tyler, dan Renan menjaganya dari belakang.


"Duh, dia pasti nungguin Lana, soalnya tempat itu tempat biasa Lana lewat." Ujar Renan sembari berlarian.


"Lana.." Gumam Tyler ketika mendengar Renan menyebut nama Lana.


"Ty, lo sadar?? Lo jangan pingsan Ty, gue mau boncengin lo pake motor." Ujar Renan, Tyler hanya berdehem mendengar ucapan Renan.


Akhirnya mereka sampai di motor dan Renan langsung mengemudiakan motornya dengan Tyler yang lemas. Tak lama mereka sampai di markas, dan Tyler kembali di gotong oleh Renan dan Ernest.

__ADS_1


"Lana." Gumam Tyler dalam pingsannya.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2