
Tyler duduk di jembatan, tatapannya nanar kedepan melihat air sungai yang mengalir begitu deras dengan air yang sangat keruh, karena baru saja turun hujan.
Bahkan saat ini pun gerimis kecil masih berjatuhan membasahi Tyler yang memang sudah basah karena sejak tadi dia duduk di sana sambil kehujanan.
"Snif!" Tyler masih menangis memikirkan betapa rumitnya hidupnya. Matanya bahkan sudah sangat sembab dengan wajah sangat pucat.
"Kenapa harus kaya gini, Tuhan?? Baru aja aku nemuin ketenangan dan kebahagiaan.." Gumam Tyler.
Sampai pagi menjelang, Tyler masih duduk di sana. Rencananya yang akan kembali pada Black puma juga gagal, dan berakhir hanya duduk sendirian di tengah hujan.
Tyler mengendarai motornya lalu menuju ke rumah Lana. Tapi Tyler tidak turun dan mendekat, dia hanya melihat rumah Lana dari jauh. Terlihat Lana yang keluar membantu ibunya menyiapkan bahan jualan, lalu ibunya pun pergi dari rumah.
"Be.." Gumamnya.
Tyler mengeluarkan ponselnya, lalu mencoba menghubungi Lana. Terlihat Lana juga memegangi ponselnya lalu mengangkat panggilan telepon dari Lana.
"Halo, Ty.. " Sapa Lana dengan suara ceria.
"Kamu dimana, be?" Tanya Tyler mencoba mngetes Lana.
"Aku udah di sekolah, kan berangkat pake motor sendiri." Ujar Lana berbohong. Air mata Tyler mengalir mendengarnya.
"Ty.. kok diem?" Tanya Lana.
"Hm, semangat belajarnya, be.." Ujar Tyler, sambil mengendalikan dirinya.
"Iya, kamu juga harus semangat. Bentar lagi ujian, harus rajin belajar." Ujar Lana..
"Ya udah, aku matiin dulu, ya?" Ujar Tyler, karena hatinya sangat sakit sekarang.
"Iya, bye.." Ujar Lana. Dan panggilan itu pun berakhir.
Lana menghapus air matanya ketika panggilan itu di akhiri, dia tidak tahu bahwa Tyler juga menatapnya dengan mata penuh air. Lana pun berjalan masuk kedalam rumahnya.
Tyler pergi dari sana, lalu dia kembali ke markasnya. Terlihat markasnya sudah lumayan rapih meski masih banyak barang rusak di dalamnya.
Tyler merebahkan dirinya di ayunan, lalu tertidur dengan masih menggunakan pakaian yang basah. Dia menjadi kembali tidak peduli dengan dirinya jika sudah begitu.
Semalam ia mendapat pesan dari Renan bahwa Luigi di rawat di rumah sakit, sementara Jack dan Renan tidak perlu, mungkin sekarang mereka sedang sekolah.
Sampai tiba - tiba sayup - sayup dia mendengar suara Jack dan Renan yang sedang emosi.
"Anj¡ng emang tuh orang, mentang mentang berkuasa, dia bisa seenak jidat ngeluarin kita dari sekolah." Cerocos Renan.
Karena emosi, Renan tidak melihat motor Tyler di luar. Jack langsung menampol kepala Renan ketika ia melihat kaki Tyler menjuntai di ayunan.
"Kok lo namp! Hmp!" Jack membekap mulut Renan sampai Renan protes.
"Ada Tyler, ege!" Ujar Jack dengan nada bicara di tekan. Renan melihat kearah ayunan, dan Jack pun membuka bekapan tangannya dari mulut Renan.
Tapi Tyler sudah mendengarnya, dia pun bangun dari tidurnya dan menatap kedua temannya.
"Kalian kenapa?" Tanya Tyler.
"Sorry Ty, lo jadi bangun." Ujar Jack.
"Nggak apa - apa. Tadi Renan bilang kalian di keluarin dari sekolah, apakah Rion??" Tanya Tyler.
__ADS_1
Renan dan Jack saling pandang, tapi kemudian mereka berdua mengangguk bersamaan. Tyler semakin bimbang saja sekarang, jika dia tetap egois, maka makin banyak orang yang akan tersakiti.
Walau sebenarnya bukan Tyler yang egois, tapi Rion- lah yang egois. Setelah bertahun - tahun lamanya dia tidak sama sekali menganggap Tyler anaknya, kini dia memaksa Tyler untuk kembali padanya dengan cara yang salah.
"Iya, Ty.. Gue, Jack dan Luigi, di keluarin gitu aja dari sekolah." Ujar Renan, lalu duduk di sebelah Tyler.
"Gak usah khawatir, Ty. Toh kita juga gak pinter - pinter amat, ya gak Jack?" Ujar Renan menghibur Tyler.
"Bener, yang penting kita semua selalu kumpul." Ujar Jack.
"Ngomong - ngomong, lo kok pake baju basah?" Tanya Renan.
"Hm, abis keujanan. Gue ke kamar dulu, ganti baju." Ujar Tyler, lalu beranjak bangun.
Di dalam kamarnya, Tyler terduduk diam di atas ranjang, ia tidak bisa melihat Lana dan teman - temannya kehilangan pendidikan begitu saja. Meski temannya bilang tidak apa - apa, tapi Tyler tahu mimpi mereka juga tinggi.
"Bren*sek!" Gumam Tyler, dan meninju dinding kamarnya.
Dan singkat cerita, ketika jam pulang sekolah tiba, Tyler berpura - pura memakai seragam sekolah dan keluar dari markasnya, dan itu membuat Jack dan Renan heran.
"Loh, Ty. Kok lo pake seragam?" Tanya Jack.
"Lagi pengen, gue cabut dulu." Ujar Tyler lalu dia pun langsung melesat pergi dari markas meninggalkan Renan dan Jack yang kebingungan.
Tyler sampai di rumah Lana, setelah sebelumnya dia sudah menghubungi Lana.
"Be.." Tyler langsung memeluk Lana setelah sudah masuk kedalam rumah Lana.
"Astaga!" Lana sampai terhuyung kebelakang.
Tyler tertegun, Lana masih bisa terlihat baik - baik saja, padahal Tyler tahu Lana sedang tidak baik - baik saja. Tyler semakin mengeratkan pelukannya, seakan dia sudah sangat lama tidak bertemu Lana.
"Maafin aku, Be.." Gumam Tyler.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Lana bingung.
"Hanya maafin aja.." Ujar Tyler, tidak menyebutkan alasannya. Lana pun membalas dengan pelukan yang juga semakin erat di pinggang Tyler.
'Kita akan baik - baik aja kan, Ty?' Batin Lana, hanya bisa bertanya dari hatinya.
"Tolong bertahan sama aku, be.. aku akan berjuang supaya kamu bisa kembali sekolah lagi." Ujar Tyler, Lana pun tertegun dan langsung melerai pelukannya dari Tyler.
"Kamu.."
"Kamu di keluarin dari sekolah, kan?" Ujar Tyler akhirnya.
"Kamu udah tau?" Tanya Lana.
"Hm, Rion sendiri yang ngasih tau aku." Ujar Tyler.
"Aku tau ini bakalan berat, tapi tolong bertahanlah sama aku, apa kamu bisa?" Tanya Tyler menatap mata Lana dalam dalam.
Lana terdiam sejenak, tapi akhirnya dia mengangguk dengan tersenyum. Tyler pun senang melihatnya, dia langsung kembali memeluk Lana.
"Makasih, be.." Ujar Tyler.
Dan setelah menemui Lana, kini Tyler kembali datang ke rumahnya, rumah Rion. Dia berjalan dengan tenang dan langsung meminta asisten Rion untuk mengantarnya menemui Rion.
__ADS_1
"Antar aku menemui Rion." Ujar Tyler, tanpa embel - embel ayah.
"Tuan muda, silahkan." Ujar Asisten Rion.
"CKLEK!"
Pintu terbuka, dan terlihat Rion yang sedang mengurusi pekerjaan nya.
"Oh, kamu datang lebih cepat dari dugaanku. Apa akhirnya kamu sudah mengambil keputusan dengan benar?" Tanya Rion, sambil melepas kaca matanya.
"Mari buat kesepakatan." Ujar Tyler. Rion tampak menyernyit mendengarnya.
"Kesepakatan?? Kesepakatan apa?" Tanya Rion.
"Aku akan pulang ke rumah ini, kembali menjadi Tyler Griffin seperti kemauanmu, tapi kau jangan keluarkan Lana dan teman - temanku dari sekolah." Ujar Tyler.
Rion terkekeh mendengarnya, tidak dia sangka Tyler masih saja memikirkan nasib pacar dan temannya.
" Itu mudah.." Ujar Rion, Rion lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Dengan catatan kau tidak boleh lagi berhubungan dengan mereka." Ujar Rion.
"Kau!! Aku sudah menurut untuk kembali ke rumah ini." Ujar Tyler.
"Ya, tapi aku juga mau kamu meninggalkan semua masalalumu di jalanan. Pulang kerumah ini sebagai tuan muda Griffin, dan meninggalkan semua masalalumu, termasuk pacar dan teman - temanmu." Ujar Rion.
"Aku tidak mau! Kau pikir siapa dirimu?" Ujar Tyler marah.
"Orang yang menentukan nasib pacar dan teman - temanmu." Ujar Rion, dan tersenyum smirk.
"Bawa dan kunci dia di kamarnya." Ujar Rion, dan Tyler langsung terkejut ketika tiba - tiba kedua tangannya di cekal dua pria.
"Lepas!!" Berontak Tyler, tapi sayang tenaganya kalah kuat.
"Lepas!! Aku tidak mau!! Rion Griffin, aku benci kau!!" Teriak Tyler sebelum hilang di balik pintu.
"Brak!! Klek!!"
Suara pintu yang di banting dan langsung di kunci setelah Tyler di dorong masuk ke sebuah kamar.
"BRAK!! BRAK!! BRAK!!" Tyler menggedor - gedor pintu.
"BUKA!! BUKA!! SIALAN!" Teriak Tyler sambil mencoba mebdobrak pintu kamar itu.
"RION!!! BUKA PINTUNYA!" Teriak Tyler dengan emosi memburu.
"HAARRGGGGH!!!"
"PRANG!! CRANG!!" Tyler mengamuk dan memecahkan guci yang berada tak jauh darinya.
Dari luar kamar, Rion berdiri mendengarkan bebunyian barang pecah yang Tyler buat.
"Tuan, ini ponsel milik tuan muda Tyler." Ujar anak buah Rion, Rion menerimanya lalu mengantonginya dan pergi dari sana.
"AARRRGHH!!!" Teriak Tyler frustasi.
...TO BE CONTINUED.....
__ADS_1