
Tyler sampai di sekolah Lana, dia pun tersenyum ketika melihat Lana yang berlarian dengan teman - temannya.
"Bye, Na.." Teriak teman Lana.
"Bye, guys." Sahut Lana dan dia pun berlari kecil menghampiri Tyler.
"Udah lama?" Tanya Lana pada Tyler.
"Belom kok, yuk." Ajak Tyler dan memakaikan helm di kepala Lana.
"Abis anter kamu, aku ijin buat kumpul sama anak - anak boleh nggak, be?" Tanya Tyler ketika motor sudah melaju.
"Boleh lah, masa enggak. Kamu juga punya kehidupan kamu sendiri, nggak melulu sama aku." Sahut Lana.
"Makasih, be." Ujar Tyler, Lana pun memeluk Tyler dari belakang dan motor melesat dengan kecepatan sedang, membelah jalananan kota Jakarta yang macet di sore hari.
Tak lama, Tyler dan Lana sampai di depan rumah Lana. Tyler melihat buku tentang kedokteran di tangan Lana yang baru ia sadari.
"Kamu mau jadi dokter, be?" Tanya Tyler. Lana pun bingung, sampai dia ingat bahwa dia sedang membawa buku tentang kedokteran.
"Oh, ini? Aku cuma asal bawa aja buat belajar random." Ujar Lana menyengir.
"Kalo cita - cita kamu sendiri?" Tanya Tyler.
"Mm.. nggak tau, tapi aku tertarik dengan kedokteran. Menyelamatkan nyawa orang, pasti keren kan?" Ujar Lana, dan Tyler terkekeh.
"Apapun itu, aku bakal dukung kamu. Besok aku bakal mulai misiku lagi." Ujar Tyler.
"Ngeluluhin mama buat minta restu??" Tanya Lana dengan terkekeh.
"Hehe, iya." Sahut Tyler menggaruk kepalanya.
Tyler sedang berjuang membujuk ibu Lana untuk mengizinkan Tyler menikahi Lana setelah lulus sekolah nanti, tapi ibu Lana masih kukuh dengan pendiriannya agar Lana tidak menikah muda.
"Semangat berjuangnya." Ujar Lana meledek. Tyler pun mengacak rambut Lana dengan gemas.
"Ya udah, aku balik dulu ya, be?" Ucap Tyler, dan Lana mengangguk.
Tyler pun pergi dari sana, dan tanpa Tyler tahu, seseorang baru saja memotret dirinya saat bersama Lana dari sebuah mobil berwarna hitam mewah yang terparkir tak jauh dari rumah Lana.
"Jalan." Ujarnya. Adalah asisten Rion yang mengikuti Tyler sejak tadi.
Singkat cerita, Tyler sampai di markasnya. Luigi dan yang lain terlihat sedang mempersiapkan motor mereka untuk balap malam ini. Black puma tetap berjalan dengan atau tanpa Tyler, meski begitu, tidak ada seorangpun yang berani menggantikan Tyler dalam Black puma.
"Ty, malem ini lo ikut balap? Udah lama banget lo gak pernah ikut balap." Ujar Renan.
Ya, karena selama ini Tyler menyamar menjadi Asher dan berada di arena balap yang sama dengan Lana, untuk menjaga Lana di sana, walau sebenarnya tidak perlu.
"Hm, gue ikut balap sama kalian." Ujar Tyler, lalu masuk ke dalam markasnya.
Ia merebahkan dirinya di ayunan, dan Luigi pun masuk menghampiri Tyler.
"Udah lama Ty, lo gak ada niatan buat balik ke kita sebagai ketua Black puma?" Tanya Luigi.
Tyler melirik Luigi, meski dirinya ingin, tapi rasanya dia belum siap juga.
"Kasih gue waktu ya, Gi." Ujar Tyler, Luigi pun hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Terus gimana, Ty? Identitas lo udah kebuka." Ujar Luigi.
"Cuma di sekolah, itu gak ada pengaruhnya buat gue." Sahut Tyler.
"Tapi gue heran, sumpah. Bokap lo kok bisa berbalik arah banget gitu? Bukannya dia yang mati - matian nyembunyiin jati diri lo? Bahkan dia.." Ujar Luigi menggantung ketika mengingat semua perlakuan ayah Tyler pada Tyler.
"Mungkin karena dia tau bahwa gue darah dagingnya dia." Celetuk Tyler, Luigi pun melirik Tyler dengan terkejut.
"Maksud lo? Kan emang lo anaknya dia, Ty." Ujar Luigi.
"Ya, tapi dia kan gak pernah percaya. Dan kali ini dia udah tahu sendiri bahwa gue bener - bener anak kandungnya dia, karena darah gue sama dia sama." Ucap Tyler.
Tyler menceritakannya kejadian di rumah sakit pada hari itu pada Luigi, Luogi sampai meranga tidak percaya bahwa asisten Rion dengan kejamnya mengambil paksa darah Tyler.
"Sint¡ng, nggak waras gue rasa asisten bokap lo." Ujar Luigi.
"Apaan? Siapa yang sint¡ng?" Tanya Jack yang datang dengan Renan.
"Tyler di pukul dan darahnya di ambil paksa buat di donorin ke bokapnya." Ujar Luigi dengan nada kesal.
"Anj¡ng! Gak berperi kemanusiaan banget tuh orang emang!" Ujar Renan dengan emosi. Renan masih ingat bagaimana ayah Tyler memukuli Tyler saat Tyler sedang sakit.
"Sabar, Ren.. Sabar." Ujar Jack.
"Kalian gak tau aja apa yang udah di lakuin tuh ban*sat ke Tyler waktu Tyler sakit." Ujar Renan berapi - api.
"Terus lo gimana Ty? Lo kurang darah dong?" Ujar Renan lagi dengan khawatir.
"Kejadiannya udah beberapa hari yang lalu, sekarang gue udah baik - baik aja berkat Lana." Ujar Tyler.
"Astaga! Lo gak cerita ke kita, Ty." Ujar Renan.
"Iya tuh, padahal kan selama ini entah bokap atau nyokapnya Tyler bener - bener gak peduli sama Tyler." Ujar Jack.
Tyler terdiam dan kembali teringat dengan ucapan asisten Rion yang mengatakan bahwa dirinya tahu kebenarannya, dia pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi asisten Rion.
Di luar sana, asisten Rion yang rupanya berada di mobil mewah yang tak jauh dari ruko/markas Tyler mengernyit bingung ketika Tyler meneleponnya.
"Apa aku ketahuan?" Gumamnya. Tapi dia tetap mengangkat panggilan itu.
"Halo, selamat sore, tuan muda." Sapa asisten Rion.
"Bisakah kita bertemu? Kau berhutang satu penjelasan padaku bukan?" Ucap Tyler dengan formal.
"Baik, dimana tuan muda?" Tanya asisten Rion.
Di sisi Tyler, dia memikirkan sebuah tempat yang aman baginya, agar tidak mudah asisten ayahnya itu menculik dirinya.
"Mall Xx jam tujuh, malam ini." Ujar Tyler. Asisten Rion menyanggupinya, lalu panggilanpun di akhiri.
"Lo nelpon siapa, Ty?" Tanya Renan.
"Asistennya Rion, dia bilang dia tahu kebenaran tentang gue." Ujar Tyler.
"Jangan Ty, ntar lo di culik lagi." Ujar Jack khawatir.
"Ada kalian, apa yang bisa terjadi sama gue?" Ujar Tyler dengan senyumnya.
__ADS_1
"Kalo itu sih jelas." Ujar Luigi, dan mereka semua ber tos ria.
Dan akhirnya setelah mereka berbincang - bincang sebentar, Tyler dan ke empat temannya itu pergi menuju ke mall yang di sebutkan oleh Tyler.
Di sana mereka bertemu juga dengan Ernest yang baru bisa bergabung karena aktivitasnya yang padat sebagai seorang mahasiswa.
"Lo tenang aja Ty, kita bakal ngawasin elo dari jarang yang gak gitu jauh." Ujar Luigi.
Telepon Tyler berbunyi, adalah notifikasi pesan dari asisten Rion yang mengatakan untuk bertemu di sebuah restoran.
"Gue cabut dulu, dia udah dateng di restoran Jepang." Ujar Tyler, dan semua temannya mengangguk.
Tyler pun menghampiri sebuah restoran Jepang yang terkenal, dia masuk dan sudah ada satu orang yang menunggunya di depan pintu, orang itu lalu mengantarkan Tyler untuk masuk kedalam private room yang asisten Rion pesan.
"Selamt malam tuan muda." Sapa asisten Rion membungkuk memberi hormat.
'Gue yakin nih orang bukan orang sembarangan. Dia asisten tapi dia juga punya bawahan.' Batin Tyler.
Tyler hanya diam, lalu dia duduk di meja seberang yang lumayan jauh dari posisi duduk asisten Rion.
"Saya sungguh minta maaf untuk kejadian yang di rumah sakit, tuan muda. Saya terpaksa melakukan itu, demi keselamatan tuan Rion." Ujar asisten Rion.
"Gak perlu berbelit - belit. Gue cuma mau tau, apa maksudmu tentang kebenaran itu?" Ujar Tyler, langsung.
"Apa kita tidak makan terlebih dahulu, tuan muda? Makanan sudah siap." Tanya asisten Rion.
Tyler menatap makanan di depannya, tapi dia malah jadi curiga dengan kandungan di dalam makanan itu. Bisa saja asisten Rion mencampurkan sesuatu di sana, dan berakibat fatal lagi untuk Tyler.
"Nggak perlu." Ujar Tyler singkat.
"Huft.. Baiklah, anda mungkin masih curiga kepada saya. Tapi saya tidak akan pernah menyakiti anda, tuan muda." Ujar asisten Rion.
"Lo mukul gue sampe pingsan dan ngambil darah gue tanpa sepengetahuan gue di rumah sakit, jangan lupain itu." Ujar Tyler.
"Untuk hal yang satu itu, saya terpaksa tuan muda." Ujar asisten Rion.
"Jadi apa sebenernya kebenaran yang lo maksud, gue gak sesabar itu untuk duduk di sini sama lo." Ujar Tyler.
"Baik, Nyonya Karisma sebenarnya sudah melakukan cinta satu malam dengan tuan Rion beberapa bulan sebelum mereka di jodohkan dan menikah." Ujar asisten Rion. Tyler pun mengernyit bingung.
"Mereka saling kenal sebelumnya?" Tanya Tyler.
"Tidak, dan saat itu kondisinya tuan Rion sedang mabuk dan di beri obat peran*sang. Dia salah masuk kamar dan melakukan hubungan satu malam itu dengan nyonya Karisma, tanpa dia tahu bahwa nyonya Karisma lah yang akan di jodohkan dengannya."
(Jeda )
"Tuan sudah sering melakukan hubungan satu malam dengan banyak wanita, tapi dia yang di beri obat itu tentu tidak sadar telah menyemai benihnya di dalam rahim nyonya Karisma."
( Jeda )
"Sampai akhirnya mereka berdua bertemu kembali, di perjodohan itu lalu menikah." Ujar asisten Rion.
Tyler kemudian teringat dengan ibunya Kyle, dia yakin mungkin saat itu yang menaruh obat pada Rion adalah ibunya Kyle, mengingat betapa cinta matinya ibunya Kyle dengan Rion.
"Kau tahu hal ini, kenapa tidak memberitahukannya pada Rion?" Tanya Tyler.
"Sudah, tapi tuan tidak percaya." Ujar asisten Rion.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.