
"BRUM!! BRUM!! BRUM!!" Suara geberan motor yang sangat keras di arena balap.
Dan saat itu juga Tyler dan ke empat temannya datang dengan motor mereka. Semua orang terkejut sekaligus senang ketika melihat Tyler yang kembali ikut balap.
"Wah, Tyler dateng." Ujar salah seorang dari mereka.
Tyler berhenti dan tatapannya jatuh pada Fia yang berjalan kearahnya.
"Nest, bagi duit dong." Ujar Fia pada Ernest. Rupanya Fia tidak lagi mencoba mendekati Tyler, entah dia sudah menyerah atau dia pura - pura.
"Balik lo ke rumah, nyokap lo nyari in elo." Ujar Ernest.
"Gue minta duit, bukan nanya kabar, Nest." Ujar Fia, kesal.
Ernest menghela nafas lalu mengeluarkan dompetnya, dan Fia langsung menyambar dompet Ernest lalu mengeluarkan sejumlah uang dari dalamnya.
"Gak ada sopan santunnya banget." Celetuk Renan.
"Gak ada urusannya sama lo." Ujar Fia, lalu melangkah pergi setelah melemparkan dompet tadi pada Ernest.
"Gila sih, makin ancur aja dia." Ujar Jack.
"Gue juga makin gak ngerti sama isi kepalanya tuh anak, makin ke sini makin ke sono." Ujar Ernest.
Tak lama, datang juga Kyle dengan teman - temannya. Kyle tersenyum smirk ketika melihat Tyler yang rupanya datang untuk balap di sana malem ini.
"Kenapa gak mati aja, dia." Gumam Tyler.
"Siapa Ty?" Tanya Luigi.
"Kyle." Sahut Tyler singkat.
Kyle berjalan menghampiri Tyler dan berdiri sambil mengunyah permen karet di mulutnya.
"Bokap lo udah mati? Kok gue gak liat dia akhir - alhir ini?" Tanya Kyle, terang terangan.
"Mana gue tau, bukannya dia bakal jadi bolap lo? Harunya kan lo yang lebih tau dong sebagai anak tiri." Ujar Tyler.
Wajah Kyle berubah menjadi bengis seketika, tangannya juga mengepal kuat seolah siap untuk memukul.
"Jangan mancing emosi orang, kalo lo gak mau di pancing balik." Ucap Tyler, lalu melangkah pergi.
'Sialan.' Batin Kyle.
Sementara itu di tempat lain..
Rion yang sedang di singgungi itu tampak sedang duduk sambil melihat foto - foto yang asistennya berikan.
"Siapa gadis ini?" Tanya Rion menunjuk foto saat Tyler berada di depan gerbang sekolah lain dan di depan rumah bersama Lana.
"Lana Lindsey, dia pacar tuan muda, tuan." Sahut asistennya.
"Bukannya pacarnya bukan yang ini? dulu saya sering melihat seorang gadis yang terus bersama Tyler, tapi bukan dia." Ujar Rion.
"Ya, sekarang sudah tidak lagi. Dia di buat rusak oleh Kyle." Sahut asistennya, Rion langsung melirik asistennya.
__ADS_1
"Kyle?? Apakah Kyle calon anak tiriku?" Tanya Rion, dan asistennya mengangguk.
"Kyle adalah musuh tuan muda, selain itu Kyle selalu ingin membuat tuan muda sengsara dan tidak memiliki apapun, bahkan teman."
( Jeda )
"Sayangnya teman - teman tuan muda sangat setia pada tuan muda, hanya gadis itu saja yang tergoda dengan Kyle." Ujar asisten Rion.
Rion tampak berpikir, kebersamaan nya dengan wanita yang sangat di cintainya di tentang habis - habisan oleh Kyle yang adalah calon putra tirinya.
"Dan rombongan geng motor yang menyerang tuan malam itu sampai kecelakaan, adalah anak buah dari Kyle, tuan." Ujar asisten Rion lagi.
"Apa?!" Ujar Rion terkejut.
Asistennya kemudian mengeluarkan beberapa bukti yang memang menunjukan bahwa pelaku yang membuatnya kecelakaan adalah anak buah Kyle.
"Saya mohon tuan pikirkan baik - baik lagi untuk menikahi Nyonya Francis, dan percayalah kepada saya." Ujar Asisten Rion. Rion pun terdiam dan tampak berpikir.
Ke esokan harinya..
Tyler sudah berada di depan rumah Lana, dan Lana keluar dengan senyum manis menyapa Tyler.
"Morning." Sapa Lana.
"Morning, be. Kayaknya ada yang lagi bahagia banget nih." Ujar Tyler.
"Masa?? Perasaan aku biasa aja." Ujar Lana.
"Atau pacar aku ini kayaknya makin hari makin cantik." Ujar Tyler dan Lana langsung menampol lengan Tyler.
Tyler menghembuskan nafas sambil tersenyum, hari - harinya bersama Lana sangat menyenangkan.
"Aku harus nemuin mamanya Lana, supaya dia ngijinin Lana nikah sama aku." Ujar Tyler, kemudian terkekeh sendiri.
Tyler pun melaju pergi dari sana menuju ke sekolahnya sendiri. Tapi belum jauh perjalanan, di ujung jalan Tyler di hadang mobil hitam yang berisi empat orang dan langsung menangkap Tyler.
"Hei! Apa - apa an kalian! Lepas!" Bentak Tyler.
Tyler tertangkap begitu saja karena tanpa persiapan orang - orang itu langsung menangkap kedua tangan Tyler, tanpa sempat Tyler melakukan perlawanan.
"Tolong menurutlah, dan ikut dengan kami." Ujar salah seorang dari empat pria itu.
"Lepas, ban*sat!!" Tyler memberontak. Tapi mau sekuat apa Tyler memberontak, dia tetap kalah karena kedua tangannya di cekal dua pria berbadan tinggi besar.
Tyler di paksa masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun langsung melesat pergi dari sana.
Singkat cerita, mobil pun sampai di depan rumah yang sangat Tyler kenali, rumah masa kecilnya yang membuat jiwanya mati perlahan, rumah utama Rion.
Tyler turun dari mobil lalu langsung menghajar orang yang mencekal tangannya tadi.
"BUGH! BUGH! BUGH!"
Bagai samsak tinju. Tyler tidak perduli bahwa yang dia pukul adalah manusia, Dia sangat marah saat ini.
"Bren*sek lo!" Ujar Tyler membabi buta. Satu orang sudah babak belur, satu lagi langsung mental ketika di tendang Tyler.
__ADS_1
"Tyler!" Panggil suara orang yang sangat Tyler kenali. Karena teralihkan, Tyler lengah dan saat itu seorang pria langsung mengunci kedua tangan Tyler ke belakang.
"Lepas, sialan!" Tyler memberontak.
"Tyler, bisakah kamu jangan selalu keras kepala?! Tidak ada yang menyakitimu di sini." Ujar Rion.
Ya, Rion yang menyuruh anak buahnya untuk menangkap Tyler.
"Ngapain lagi lo muncul di hidup gue, huh? Pada hari dimana lo dan Karisma mau cerai, gue udah negasin bahwa gue bukan lagi anak kalian berdua." Ujar Tyler.
Rion terdiam, dia ingat kejadian saat itu, bahkan dia memukuli Tyler beberapa kali.
"Bawa dia masuk." Ujar Rion pada anak buahnya.
"Nggak! Lepasin gue!!" Bentak Tyler dan masih mencoba memberontak.
Satu orang lagi langsung membantu rekannya untuk menahan tangan Tyler, lalu Tyler di bawa masuk kedalam rumahnya sendiri.
Ya, rumahnya sendiri, tapi neraka bagi Tyler. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman itu tidak berlaku untuk Tyler, rumah itu adalah saksi bagaimana Tyler tumbuh tanpa sedikitpun kasih sayang sebelum akhirnya dia memutuskan lepas dari rumah itu.
Tyler di masukan kedalam ruang kerja Rion, lalu di kunci dari luar oleh anak buah Rion, tinggalah hanya Tyler dan Rion berdua.
"Apa mau lo sebenernya? Gue udah gak mau lagi ada urusan sama lo." Ujar Tyler dengan nafas memburu karena marah.
"Bukankah ini rumahmu? Kenapa sesulit itu membuatmu pulang kerumahmu sendiri." Ujar Rion.
"Rumah? Sejak kapan ini rumah gue?? Gue bukan siapa - siapa, gue gak ada hubungan apapun sama pemilik rumah ini, jadi ini bukan rumah gue." Ucap Tyler, Rion tampak tertegun.
"Buka pintunya!" Bentak Tyler, menggedor pintu itu. Bahkan Tyler memukul pintu itu sampai tangannya lecet dan berdarah.
"Lana Lindsey, pacarmu, bukan?" Ujar Rion dan Tyler langsung berhenti dan berbalik menatap Rion dengan tatapan tajam.
"Bagaimana jika aku membuatnya kehilangan pendidikan dan mimpinya? mimpinya adalah menjadi dokter, bukan?" Ujar Rion lagi.
Tyler tertegun, rupanya ayahnya itu sudah menyelidiki dirinya.
"Jangan berani - berani lo nyentuh dia, kalo sampe itu terjadi.. gue bakal bunuh lo dengan tangan gue sendiri." Ujar Tyler dengan tatapan tajamnya.
"Rupanya benar, dia kelemahanmu." Ujar Rion kemudian tersenyum smirk.
"Satu aja, hal apa yang pernah gue minta dari lo? Gak ada kan?" Ujar Tyler dengan mata panas menahan tangis.
"Atas dasar apa lo ngelakuin ini semua ke gue!!" Teriak Tyler.
Tyler kemudian menyeret kursi dan membantingnya di atas meja kerja Rion, Rion sampai terjingkat kaget dan mengangkat tangannya menutupi wajahnya.
Meja kaca berukuran besar di sana langsung pecah begitu saja, anak buah Rion langsung membuka pintu dan saat itu juga Tyler langsung kembali membabi buta menghajar anak buah Rion.
Melihat tangan Tyler berdarah sangat banyak, Rion mengangkat tangannya dan menyuruh anak buahnya berhenti mencoba menangkap Tyler. Tyler terengah engah lalu menatap Rion dengan tajam.
"Darah gue yang ngalir di tubuh lo, itu hanya sebatas darah pendonor dan penerima donor. Gue sama sekali gak ada hubungan apa - apa lagi sama lo, gue harap lo inget itu." Ujar Tyler lalu langsung melangkah keluar dari ruangan Rion.
Rion masih diam tertegun dengan ucapan Tyler, dia lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Tampaknya aku akan kesulitan mendapatkan hatinya untuk menerimaku sebagai ayahnya." Gumam Rion.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..