TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 81. Di rumah sakit.


__ADS_3

Tyler membawa motor Kyle dan langsung melesat menuju ke rumah sakit, Tyler belum tahu bahwa yang di rawat adalah ibunya Lana, di pikirannya saat ini adalah Lana yang di rawat.


Dia sampai menyalip semua kendaraan dan hampir tertabrak truk saat dia menerobos lampu merah.


"TTTIIIINNNN!!!!" Suara klakson truk yang mengerem mendadak.


Seakan punya sembilan nyawa, dia melesat pergi begitu saja meninggalkan supir truk yang mengumpat dirinya. Sampai akhirnya dia sampai di rumah sakit dan mencari ruangan dimana Lana berada.


Saat di koridor rumah sakit, Tyler melihat Lana yang sedang duduk menangis tanpa suara sambil mengepalkan kedua tangannya di depan mulutnya sambil berdoa.


Tyler berlari dan berhenti di depan Lana. Lana mendongak, tangisnya pecah seketika saat melihat Tyler, dia pun langsung memeluk Tyler dengan posisi Tyler masih berdiri sementara Lana masih duduk di kursi.


"Be, sukurlah kamu gak apa - apa." Gumam Tyler sambil mengusap - usap kepala Lana.


"Mama.." Gumam Lana sambil terisak. Baru Tyler tertegun.


"Mama? Kenapa sama mama?" Tanya Tyler.


"Mama kritis, Ty.." Ujar Lana dalam isakan tangisnya. Tyler terkejut mendengarnya.


Tyler tidak bertanya lagi, dia memeluk Lana sambil berusaha menenangkan Lana yang sedang sangat kacau saat ini. Tak lama dokter keluar, Lana pun langsung melepas pelukannya dari Tyler dan menghampiri Dokter.


"Gimana mama saya, Dok?" Tanya Lana.


"Ibu anda sudah melewati masa kritisnya, jangan khawatir. Beliau pasti baik - baik saja." Ujar Dokter, Lana menganggukan kepalanya dengan antusias.


"Terimakasih, Dok." Ujar Lana, Dokter itu pun mengangguk.


"Saya permisi dulu." Ucap Dokter, lalu pergi dari sana. Tyler merangkul Lana, dan Lana tersenyum sambil menghapus air matanya.


"Ayo kita masuk." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk.


Lana melihat ibunya yang sedang di rapihkan posisinya oleh perawat, setelah selesai dengan pekerjaannya, para perawat itu langsung keluar dari ruangan ibu Lana.


"Mama harus baik - baik aja, aku cuma punya mama di dunia ini." Ujar Lana, dan mngecup tangan ibunya.

__ADS_1


"Kamu harus istirahat, Be. Ini udah hampir pagi." Ujar Tyler mengusap bahu Lana.


"Kok kamu bisa di sini?" Tanya Lana.


"Ceritanya panjang, besok aku ceritain. Sekarang kamu harus istirahat, mama kamu bakal sedih kalo liat kamu kayak gini." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk.


Tyler menggandeng Lana bangun dan berjalan menuju sofa, Tyler duduk dan menepuk pahanya, memberi kode agar Lana merebahkan kepalanya di kaki Tyler.


"Masa kamu tidurnya duduk?" Ucap Lana.


"Nggak apa - apa.. sini." Ujar Tyler, dia menarik pelan tangan Lana.


Lana pun merebahkan dirinya dan berbantalkan paha Tyler, Tyler pun mengusap - usap rambut Lana dengan penuh kasih sayang. Dan sesekali Tyler mengecup kening Lana, sampai Lana terpejam.


Lana tidak tega sebenarnya, sayangnya di ruangan itu hanya ada satu sofa panjang dan satu sofa kecil. Sofa panjangnnya pun tidak lebar, hanya bisa untuk tidur satu orang, jadi tidak ada yang bisa dia lakukan.


"CRIP CRIP CRIP"


Suara burung di luar jendela kamar rawat. Suaranya membangunkan Lana dari tidurnya. Lana membuka mata, dan melihat Tyler yang masih tidur memangku kepalanya. Lana pun bangun dengan perlahan lalu duduk menatap Tyler.


Perawat masuk dan menyapa Lana, Perawat hanya mengecek kondisi ibu Lana yang masih belum juga sadar itu, dan kemudian kembali keluar setelah selesai mengontrol.


Lana mengambil selimut dari koper yang di bawa - bawa ibunya, isinya sangat berantakan, sudah pasti karena ibunya memasukannya dengan asal, dia jadi teringat dengan kekejaman Rion.


Lana menyelimuti Tyler, lalau dia sendiri masuk kedalam kamar mandi untuk mandi.


Sementara itu di tempat lain..


Rion duduk di meja kerjanya dengan wajah suram. Rambutnya yang biasanya rapi, masih berantakan. Jangan di kira dia baru bangun tidur, tidak.. dia tidak tidur sama sekali sejak semalam.


Rion masih memikirkan, mengapa begitu sulit menundukan Tyler. Padahal dulu dia mencopot semua materi Tyler bahkan kartu ATM nya pun dia block. Rion tidak tahu bahwa Tyler selama ini hidup dengan usahanya sendiri, yang dia tahu Tyler hidup seluruhnya dari uang pemberian darinya.


"Tuan, anda tidak tidur semalaman." Ujar asistennya.


"Mulai sekarang, biarkan dia di luar. Copot semua aksesnya, materi, dan yang lainnya. Umumkan pada semua perusahaan bahwa dia sudah masuk daftar Blacklist perusahaan kita, aku yakin tidak akan ada satu perusahaan atau apapun yang mau menerimanya." Ujar Rion.

__ADS_1


"Kalau perlu, suruh orang - orangku untuk mempersulit kehidupan mereka. Jangan biarkan mereka hidup dengan tentram." Tambah Rion lagi.


"Tuan itu terlalu kejam." Ujar asistennya. Rion pun langsung menatap tajam asistennya itu.


"Aku akan buat dia mengerti, bahwa cinta tidak membuatnya hidup." Ujar Rion dengan datar.


"Tapi tuan pun sempat memperjuangkan cinta tuan pada nyonya Francis, bukan? Kenapa tuan menjadi begini egois." Ujar asisten Rion angkat bicara.


"Kau berbicara? Untuk siapa kau berbicara?" Ujar Rion marah.


"Tuan, yang anda lakukan ini sangat salah. Kenapa tuan tidak berkaca dari masalalu tuan sendiri? Alih - alih tuan membuat tuan muda merasakan apa yang tuan rasakan dulu, bukankah lebih baik tuan membuka pintu untuk mereka? Aku yakin tuan muda akan bisa berubah jika cara tuan tidak seperti ini." Ujar asistennya lagi.


"Sejak kapan kau jadi mulai banyak bicara!" Bentak Rion.


"Tuan, saya sangat peduli dengan keluarga ini. Mendiang ayah tuan adalah atasan pertama saya sebelum saya menjadi asisten tuan. Saya tidak angkat bicara saat beliau mengekang anda karena dulu saya sama masih muda, tapi kini saya akan angkat bicara untuk tuan muda."


( jeda )


"Apa tuan berencana membuat tragedi krluarga ini berlanjut ke anak cucu tuan?? Ayolah tuan, jangan menjadi egois. Ini sudah jaman apa, masa tuan masih berlaku kejam." Ujar asisten Rion.


"Keluar kau! Banyak bicara." Ujsr Rion.


"Seandainya saja tuan mau membuka hati dan menerima kenyataan, saya yakin sekali tuan muda masih bisa di ajak berdamai. Dia tidak merasakan kasih sayang orang tuanya sama sekali sejak kecil, dengan tuan melakukan ini, tuan hanya semakin menambah kebenciannya saja pada tuan." Ujar asistennya lagi.


"Diam kau!! Aku bilang keluar!" Bentak Rion, dia tak segan segan melemparkan asbak yang terbuat dari kaca ke arah asistennya, beruntungnya tidak mengenai asistennya, asbak kaca itu pecah di lantai.


Asistennya itu berjalan mendekat kearah Rion, lalu dia memberikan map cokelat besar pada Rion.


"Tolong anda baca semua laporan ini, tuan. Ini adalah bukti tentang nyonya Karisma, anda akan tahu kebenarannya." Ujar asisten itu, kemudian pergi dari ruangan Rion.


Rion menatap map cokelat yang asistennya itu bawa, sejak dulu dia tidak mau sama sekali mendengar atau ingin tahu sesuatu tentang mantan istrinya itu.


Ia mengambil map itu, lalu dia membukanya dan membacanya. Semakin dia membaca isinya, semakin naik turun dengan cepat deru nafasnya. Tangannya meremas keras kertas itu, lalu dengan sekali hentakan, dia melempar map itu hingga isinya berantakan.


"Bagaimana bisa aku tidak tahu.." Gumamnya sambil mencrngkeram rambutnya.

__ADS_1


...TO BE CONTINUED.. ...


__ADS_2