TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 85. Tiga Tahun Kemudian..


__ADS_3

Tyler kembali ke kostan, dan hari sudah siang saat itu. Di otaknya dia masih memikirkan apakah dia akan benar - benar meneruskan usaha ayahnya itu atau tidak.


"Maaf ya sayang, kuliahnya kayaknya harus di undur tahun depan, mama masih belum punya cukup uang." Tyler mendengar suara ibunya Lana yang sedang berbicara.


"Gak apa - apa ma, mama gak usah pusing mikir biaya kuliah Lana, Lana bisa cari sendiri, kok." Ujar Lana.


Tyler mendengar itu, kuliah dengan jurusan Kedokteran memang harus mengeluarkan biaya mahal, karena itu adalah jurusan paling sulit dan memakan banyak waktu belajar.


"Kalo mama gak di rampok dan gak masuk rumah sakit, pasti mama bisa bantuin." Ujar ibu Lana.


"Jangan sedih, Ma.. Mama lupa Lana siapa? Lana ini anaknya mama, gadis paling kuat dan pemberani. Lana juga pekerja keras, Lana bakal kerja buat biayain kuliah Lana sendiri, mama jangan mikirin." Ujar Lana, lalu memeluk ibunya.


Tyler mendengar itu, lalu dia masuk kedalam kamar kostnya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan.


_____________


Malam harinya, Tyler dan Lana sedang ke apartemen Tyler. Tyler berniat ingin menyuruh ibunya Lana untuk tinggal di apartemen saja, tapi rupanya ibunya tidak mau


Tyler baru bisa kesana karena sebelumnya dia kucing - kucingan dengan mendiang Rion, dia tidak berani datang kesana karena takut tertangkap.


"Jadi mama kamu nggak mau tinggal di sini?" Tanya Tyler, kini keduanya berada di depan jendela apartemen Tyler, dengan pemandangan kota Jakarta.


Posisinya Tyler sedang berusaha mengepang rambut Lana dengan susah payah sambil berdiri. Bibir Tyler beberapa kali manyun ketika merasa hasilnya tidak sesuai, dan di ulang lagi.


"Mama nggak mau, karena dia udah ada rencana sama bibi kost, mau buka usaha bareng di restoran itu." Ujar Lana, sambil tersenyum - senyum melihat pantulan dirinya di kaca gedung dengan wajah bingung Tyler yang menggemaskan.


Setelah akhirnya menurut Tyler kepang rambut Lana sudah bagus, dia pun tersenyum senang.


"Ya udah.." Sahut Tyler, lalu memeluk kekasihnya itu, dari belakang. Kepalanya ia telusupkan di leher Lana.


"Be, aku harus pergi ke luar negeri." Tiba - tiba saja Tyler berucap.


Lana tertegun dan langsung melepaskan pelukannya dari Tyler. Dia menatap dalam - dalam mata Tyler untuk memastikan Tyler bercanda atau tidak.


"Kamu.. Lagi bercanda, kan?" Tanya Lana, Tyler menggeleng.


"Kamu mau kuliah??" Tanya Lana lagi.


"Aku mau lanjutin perusahaan, sambil kuliah tentunya." Ujar Tyler.


"Kamu masih di paksa buat ngelanjutin perusahaan itu bahkan setelah papa kamu meninggal?" Tanya Lana tidak habis pikir. Tyler tersenyum mendengar Lana mengkhawatirkan dirinya.


"Enggak, sayang." Ujar Tyler lalu mengecup singkat kepala Lana yang hanya sebatas ketiaknya itu, lalu kembali memeluk Lana dari depan.


"Aku yang mau, karena memang itu tanggung jawab aku. Aku nggak bisa ngeliat ribuan orang kehilangan pekerjaan mereka kalo sampai perusahaan ini hancur. Di tambah, aku juga harus mengasah kemampuan aku, karena aku mau nikahin kamu." Ujar Tyler.


"Terus kamu mau ninggalin aku di sini?" Ujar Lana memasang wajah sedih, mendongak keatas.


Tyler tersenyum, karena Lana sangat terang - terangan memasang wajah keberatannya, sangat menggemaskan.


"Makanya kamu ikut aku, kamu kuliah di sana, universitas di sana lebih bagus." Ujar Tyler, mengusap kedua pipi Lana.


"Dengan IQ aku yang kadang sengklek ini, aku nggak yakin di terima di sana." Ujar Lana sedih.


Tyler menggendong Lana ala koala, Lana pun tak tanggung tanggung lagi langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Tyler. Tyler lalu duduk di sofa dengan Lana masih berada di atas pangkuannya.


"Jadi kamu nggak keberatan kita LDR?" Ujar Tyler.


Lana terdiam, dia menyadari keseriusan masalahnya sekarang. LDR bukan keinginan Lana, karena dia tidak suka menahan perasaan sesak. Tapi apa yang akan Tyler lakukan juga adalah untuk masa depan semua orang.


Setelah lama diam, akhirnya Lana pun berkata..


"Pergilah, aku nggak apa - apa.." Ujar Lana.


Tyler sudah memperkirakan jawaban itu dari Lana, dia tahu kekasihnya itu pantang menyerah dan sedikit keras kepala.


"Yakin?? Aku bakal pergi selama dua tahun, loh.." Ujar Tyler.


"Dua tahun?!" Lana terkejut. Tyler pun menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Lana terlihat sedih, tapi dia berusaha mengendalikan dirinya. Tiba - tiba dia memeluk Tyler erat - erat dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher Tyler.


"Nggak apa - apa, aku bakal tunggu kamu sampai kamu pulang nanti." Ujar Lana, dan air matanya meleleh.


Tyler memeluk kekasihnya itu erat - erat, ia menciumi pundak Lana dan merambat ke atas leher Lana dan kemudian bibirnya pun bertemu dengan bibir Lana.


Mereka hanya saling berciuman dan berpelukan saja sambil Lana menangis, mereka tidak lagi melakukan hal itu. Dan setelah itu mereka tidur sambil berpelukan.


TIGA TAHUN KEMUDIAN..


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti ke tahun.. Tidak terasasa Tiga tahun sudah berlalu.


Seorang gadis berkacamata dengan rambut ikal di kuncir kuda dan jubah putih, sedang berdiri di atap sebuah universitas sambil menyedot susu kotak di tangannya.


"Lo masih nungguin Tyler? Yakin dia bakal balik? Udah tiga taun loh, na. Dia bahkan gak ngasih kabar lo sama sekali." Ujar Kyle pada gadis tadi, yang adalah Lana.


Entah bagaimana caranya, Kyle yang pecicilan itu juga masuk ke fakultas kedokteran dan dia berada di universitas yang sama dengan Lana.


Ya Tiga tahun.. Tyler berpamitan selama Dua tahun, tapi nyatanya sudah hampir tiga tahun genap, Tyler bahkan tidak memberi kabar sama sekali.


"Jangan nyoba - nyoba nikung temen gue, lo Kyle!" Ujar Luigi dari belakang.


Lana berbalik dan tersenyum ketika melihat Luigi, Renan, dan Jack yang berada di kampusnya.


"Kok kalian bisa masuk?" Tanya Lana dengan senyum cerahnya.


Lana sungguh sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang cantik. Tiga tahun waktu berlalu mengubah Lana menjadi gadis yang benar - benar matang. Dari segi tubuh, sifat dan sikap, semua lebih dewasa dari tiga tahun yang lalu.


"Bisa dong, apa sih yang enggak." Ujar Jack, dia langsung berdiri di depan Kyle.


"Lo aja masih kukuh ngejar Lana, padahal udah jelas Lana ada yang punya." Ujar Jack.


Tiga kesatria Black puma itu juga kini semakin matang, tubuhnya lebih kekar dan lebih tinggi dengan garis wajah yang juga sudah dewasa dari tiga tahun yang lalu. Waktu sudah merubah diri seseorang.


"Kan gue ngomong kenyataan nya, buktinya Tyler gak balik - balik, kan? Siapa yang tau di sana dia punya pacar atau enggak. Dan gue denger - denger Fia juga di kirim ke luar negeri, siapa tahu mereka berdua ketemu di sana." Ujar Kyle.


"Kyle, jangan." Ujar Lana langsung melerai.


"Kalo emang Tyler udah dapet pengganti gue di sana, itu hak nya dia. Gue di sini sama perasaan gue sendiri, dan gue gak butuh elo buat ngasihanin gue." Ujar Lana pada Kyle yang sedang memegang bibirnya.


"Gi, Nan, Jack, Sorry, gue masih harus pergi, gue ada tugas." Ujar Lana, dan berlari pergi dari sana.


"Na, yah.." Gumam Luigi.


"Elo sih! Kita kan niatnya mau ngehibur Lana, malah bikin Lana jadi sedih." Ujar Renan pada Kyle.


"Cih! Masih aja kekanak - kanakan. Pikir pake logika, kalian ngehibur Lana mau kayak apa juga dia gak bakalan bahagia. Sampe kapan temen lo si Tyler itu nyiksa Lana dengan perasaannya, huh?!" Ujar Kyle


"Kalo dia mau serius, balik dan buktiin kalo dia masih memiliki rasa buat Lana. Kalo enggak, lepasin Lana.. Lana juga berhak bahagia, jangan egois!" Ujar Kyle, lalu pergi meninggalkan Luigi, Renan dan Jack.


Tiga orang itu terdiam, karena sejujurnya dia juga tidak sama sekali mendapatkan kabar apapun dari Tyler, mereka bahkan sempat ragu bahwa Tyler masih mencintai Lana, karena Tyler tidak memberi kabar sedikitpun pada Lana.


Singkat cerita, Lana pulang dari kampus setelah hari sudah menjelang malam, dia masih saja menaiki motor besar miliknya itu dan menjadi pusat perhatian satu kampus. Bagaimana tidak, gadis cantik jurusan kedokteran dan pandai mengendarai motor besar, sangat keren di mata para pria di sana. Banyak yang naksir Lana, tapi Lana masih tetap dengan mode dinginnya.


"BRUUM!!" Lana pergi meninggalkan kampusnya, dan menuju ke tempatnya selalu tanding balap.


Ya, dia masih saja ikut balap liar, karena dari sana lah dia bisa mendapatkan uang lebih untuk biaya kuliahnya. Dengan identitas yang masih sama, yaitu L, Lana masuk kedalam arena balap milik Angga.


"Na, lo dateng juga. Gimana kuliah?" Tanya Angga. Tak banyak yang berubah dari Angga, dia masih saja seperti dulu.


"Yah.. Gimana lagi bang, otak gue yang pas - pasan ini, gak tau lah kapan lulusnya." Ujar Lana.


"Yeh, pesimis duluan. Semangat dong, adek gue masa patah semangat." Ujar Angga, Lana hanya tersenyum mendengarnya.


Dan saat waktunya pertandingan tiba, Lana maju ke depan. Dia menggeber motornya dengan keras, seakan dia menyalurkan perasaan di hatinya. Dia sampai tidak menyadari sepasang mata menatap kearahnya saat ini.


Mata terkunci dan tajam, semua motor melesat setelah bendera di kibarkan. Tapi baru saja Lana melesat dan hendak bertemu tikungan, dia mengalami masalah yang pernah dia alami dulu, remnya..


"Remnya blong?!" Gumam Lana ketika tidak bisa mengendalikan kecepatan.

__ADS_1


Lana yang panik dan tidak bisa mengendalikan motor hampir jatuh ketika hampir sampai tikungan, jika saja sebuah tangan tidak menarik tubuhnya dan membawanya kedalam dekapannya.


Lana terhenyak, dia masih terkejut dan menatap mata pria yang sudah menolongnya itu dengan nafas memburu.


"Pegangan, nanti jatuh." Ujar pria itu, barulah Lana sadar dan memeluk tubuh pria itu.


Entah mengapa Lana menangis, karena pelukan pria itu nyaman seperti pelukan Tyler, seketika Lana merindukan Tylernya. Lana melihat Motor yang dia naiki sudah meledak terbakar di belakang sana.


Tiba - tiba motor pria tadi justru keluar dari arena balap dan membawa Lana pergi dari sana. Lana yang menyadari keanehan pun mencuba memberontak, namun tangan kiri pria tadi sangat erat memeluk pinggang Lana.


"Lo mau bawa gue kemana, lepas!! Berhenti nggak!!" Bentak Lana.


"Kalo aku lepas kamu nanti jatuh, sayang."


Lana tertegun, suara itu.. Tapi Lana tidak mau terlena begitu saja, dia masih berusaha melawan.


"Stop atau gue buat kita berdua jatoh di aspal!" Ancam Lana.


Akhirnya motor itu berhenti di tepian danau, Lana langsung hendak lompat, tapi lagi - lagi pelukan pria itu di pinggangnya sangat kuat.


"Lepas!" Lana berontak.


Pria tadi langsung membuka helmnya dengan satu tangan, dan barulah Lana melihat siapa pria tadi. Bibirnya bergetar ketika melihat sosok di hadapannya itu, sosok yang sangat dia rindukan.


"Tyler.." Gumamnya, lalu langsung berhambur ke pelukan Tyler.


Ya Tyler, Tyler tersenyum merasakan betapa kuatnya pelukan Lana di tubuhnya. Dia pun tak kalah erat memeluk Lana, dan menyesap wangi tubuh yang sangat dia rindukan itu.


"Aku merindukanmu, sayang." Ucap Tyler di telinga Lana.


Lana tidak bisa berkata apa - apa, dan hanya bisa menangis sesenggukan. Dia meluapkan semua perasaan di hatinya itu. Kerinduan, kerisauan, ketakutan, semuanya..


Setelah melepas rindu, Tyler membawa Lana ke apartemennya, lebih tepatnya di taman yang berada di apartemen itu. Tyler berjalan dengan memegangi mata Lana yang di tutup, rupanya semua orang sudah berkumpul di sana.


Ibu Lana, Luigi, Renan, Jack, Ernest semuanya. Tyler berjalan makin ke tengah ke dekat kolam renang dimana ada kueh berbentuk hati dengan hiasan bunga mawar bertuliskan Happy Birthday my Happines.


Perlahan Tyler membuka mata Lana, dan semua orang langsung bernyanyi untuk Lana. Lana menutup mulutnya, dan dia menangis terharu. Dengan sesekali tangannya menghapus air mata, dia pun meniup lilin ulang tahunnya.


"Happy Birthday, sayang." Ucap Tyler, dan Lana mengangguk.


"Thank you.." Ujar Lana dengan masih sesekali menghapus air matanya.


Semuaborang mengucapkan selamay ulang tahun pada Lana, termasuk ibunya..


"Selamat ulang tahun, sayang. Kamu sudah dewasa sekarang, mama rasanya baru kemarin memandikan kamu, sekarang kamu sudah sebesar ini." Ujar ibunya.


Ibu Lana kemudian menyatukan tangan Lana dan Tyler, lalu berkata..


"Mama tidak mau mempersulit kalian lagi, kalo kalian mau nikah.. Mama tidak keberatan lagi." Ujar ibu Lana.


Semua orang makin riuh bertepuk tangan, sementara Lana menjadi malu sendiri sekarang. Tapi Tyler dia menatap Lana sangat dalam dengan segenap rasa cintanya.


Tiba - tiba dia melepaskan tangan Lana, dan mengambil sesuatu dari saku jaketnya, lalu berlutut di depan Lana.


"Kalau begitu, Lana Lindsey.. Maukan kamu menikah denganku?" Tanya Tyler, sembari membuka kotak perhiasan berwarna merah hati.


"Terima! Terima! Terima!" Teriak semua orang makin riuh saja.


Lana dengan malu - malu pun berhambur kepelukan Tyler yang berada di bawahnya. Tyler kemudian melepas cincin dari kotaknya, dan memakaikannya di jari Lana.


"Whohoho.." Teriak Luigi heboh.


Petasan pun bermekaran di langit, malam itu sangat indah bagi Lana. Tidak dia sangka setelah Tyler kembali langsung mengajaknya menikah dan menyiapkan semuanya itu.


"I Love you, Tyler Griffin." Ujar Lana.


"I Love you more, more, and more Lana Lindsey." Sahut Tyler, dan keduanya berpelukan.


...THE END.. ...

__ADS_1


__ADS_2