
Singkat cerita, Tyler sudah selesai berendam dan sudah menggunakan pakaian lengkap.
Niatnya hanya akan pulang sebentar, nyatanya dia harus menghabiskan waktu lebih lama gara - gara Fia.
'Lana udah bangun apa belom, ya? Dia sendirian di sana.' Batin Tyler memikirkan Lana.
Renan dan Jack juga sudah berada di apartemen Tyler, mereka berdua naik setelah mendapat telepon dari Luigi sebelumnya.
Tyler keluar dari kamarnya dan melihat teman - temannya yang sedang membicarakan Fia.
"Mau lo apain si Fia, Ty?" Tanya Luigi.
"Kita urus dia tar malem aja, gue ada urusan lebih penting sebenernya." Ucap Tyler.
"Apa, Ty?" Tanya Renan.
"Lana masuk rumah sakit, dan dia sendirian sekarang di sana." Sahut Tyler dan semua orang terkejut.
"Eh?? Lana?? Kok bisa!?" Ucap Jack terkejut plus bingung.
"M-maksud gue, kok lo bisa sama Lana? Bukannya dia udah punya cowok?" Ujar Jack membenarkan perkataan nya.
"Ceritanya panjang. Tapi bisa gak, salah satu dari kalian jaga adek sepupunya Ernest di sini? Jangan kasih tau Ernest tapi, gue gak yakin Ernest bakal tega ngeliat adeknya di kurung." Ujar Tyler.
"Gue aja, gue bakal urus Fia. Kalian semua pergi aja jenguk Lana." Ujar Luigi.
"Kita semua bakal jaga di sini, lo pergi aja ke rumah sakit, kasian Lana sendirian. Sampein aja salam dari kita, kalo ada waktu ntar kita dateng jenguk dia." Ujar Jack, Tyler pun mengangguk.
"Oke, kalo gitu gue pergi dulu." Ujar Tyler, mereka semua ber tos lalu Tyler pergi.
"Bukannya Lana udah punya cowok, Kok malah sama Tyler?" Ucap Renan, setelah Tyler pergi.
"Negatif thinking aja lah, bro.. barang kali Lana udah putus sama cowoknya dan sadar bahwa Tyler lebih baik dari pada cowoknya dia." Ujar Jack.
"Yeh.. gundul, orang mah nyuruh positif thinking, lah elu kok malah nyuruh mikir negatif." Ujar Renan protes.
"Ya kan dalam kasusnya Tyler posisinya Tyler yang adalah orang ketiga, nyet!" Ujar Jack.
"A*jir, orang ketiga. Udah kayak judul lagu bae." Ucap Renan, terkekeh.
"Semoga Tyler gak cuma jadi pelarian nya Lana, dah gitu aja." Ujar Luigi menengahi.
"Aminn.." Sahut Renan dan Jack bersamaan.
"Entah siapa yang salah, ku tak tahu.." Tiba tiba Renan menyanyi sepenggal lirik lagu.
"Gak usah nyanyi.." Potong Jack dan Luigi bersamaan, Renan pun terbahak setelahnya.
Singkat cerita, Tyler sudah sampai di rumah sakit, dia juga membawa buah - buahan segar untuk Lana. Pelan - pelan Tyler membuka pintu kamar rawat Lana, dan masuk. Tapi ternyata Lana sudah duduk dan sedang di periksa oleh perawat.
"Hai, kamu udah bangun dari tadi?" Tanya Tyler, Lana terlihat tersenyum dan mengangguk.
"Makasih, sus." Ujar Lana pada perawat. Perawat pun pergi.
Tyler meletakan buah yang ia bawa di meja, lalu kemudian menghampiri Lana.
__ADS_1
"Aku minta di pulangin hari ini, tapi Dokter gak bolehin." Tutur Lana, mengadu pada Tyler.
"Jelas belum boleh, lah.. kamu masih kayak gini." Sahut Tyler sambil terkekeh.
"Tapi aku gak suka rumah sakit, bau obat." Gumam Lana dan tangan Tyler terulur lalu mengusap rambut Lana.
"Kalo bau rendang, itu rumah makan padang, Na. Sabar, ya.. aku bakal temenin kamu, kok." Ujar Tyler sambil terkekeh, Lana pun akhirnya mengangguk tapi lesu.
Tyler bernafas lega karena dia tidak kehilangan kendali sepenuhnya saat dengan Fia. Dia masih bisa mengingat Lana di pikirannya, membuktikan bahwa Lana memang sangat berarti baginya.
"Kenapa sih? Natapnya gitu banget. Ada yang aneh sama aku?" Tanya Lana sambil terkekeh karena Tyler menatapnya sangat dalam.
"Kamu tahu, aku hampir kecelakaan tadi." Ujar Tyler, dan wajah Lana langsung terkejut.
"Serius!? kamu luka gak!?" Tanya Lana khawatir, dan Tyler menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan kecelakaan itu.. tapi kecelakaan yang lebih fatal." Ujar Tyler, Lana pun mengernyit bingung.
"Aku akan ceritain semuanya, tapi aku juga mohon supaya kamu nggak marah dan dengerin semuanya sampai selesai." Ujar Tyler, Lana pun mengangguk.
"Tadi pagi Fia dateng ke apartemen aku, tiba - tiba dia pakai obat perangsang dan bikin aku nge fly." Ujar Tyler menceritakan keseluruhan kejadian yang terjadi padanya pagi tadi.
Lana sampai diam tertegun dan sedikit merasakan kesal di dalam hatinya. Jika saja Lana belum mendengar sendiri saat Fia bilang dirinya hamil pada Kyle, mungkin Lana akan marah pada Tyler.
Tapi mendengar dari cerita Tyler yang mengatakan bahwa Tyler mengingat dirinya, Lana menjadi senang. Tandanya Tyler benar - benar ada dirinya di hati Tyler.
"Aku percaya." Ujar Lana, setelah Tyler menyelesaikan semua cerita kejadian pagi tadi.
"Kamu percaya aku??" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk.
"Makasih, be." Ucap Tyler dan memeluk Lana.
"Be??" Ujar Lana bingung.
"Iya be.. kepanjangan dari Babe, baby, sayang.." Ujar Tyler dan Lana terkekeh mendengarnya.
Di tempat lain..
Luigi membawa makanan yang ia beli dari restoran cepat saji, ia dan yang lainnya pun memakan makanan itu bersama.
"Gi, si salome gak di kasih makan, tar mati dia." Tanya Renan.
"Oiya.. lupa gue, kalo ada dia. Tar jadi kuntilanak kan gak lucu." Ujar Luigi menepuk keningnya.
"Dih! Gimana si, ya ngapain kita disini nyet.. kan tujuan kita di sini buat ngejaga makhluk gatel satu itu." Renan.
"Ya udah deh, kasih ini aja. Ayok bantuin gue, soalnya gue tadi ngiketnya dengan segenap dendam di hati." Ujar Luigi, Renan dan Jack hanya bisa terkekeh.
"Segenap dendam di hati, katanya. Ya udah ayok." Ujar Jack sambil terkekeh.
Mereka bertiga pun membuka kamar dimana Fia di kurung, Jack dan Renan terkejut melihat penampakan Fia dengan bentukan dan wajah seramnya.
"Anj¡r! Lo jadiin dia pocong?!" Ujar Jack sambil melongo.
Ya, pocong. Luigi menggulung Fia dengan bed cover lalu mengikatnya menjadi buntelan memanjang seperti pocong, hanya saja kepalanya masih terlihat.
__ADS_1
"Hahahahaha!! Kek ulet bulu yang gatel." Tawa Renan pecah ketika melihat Fia bergerak - gerak, seperti ulat.
"Lepasin gue, bren*sek!!" Teriak Fia dengan emosi.
"Gue gak ada opsi, dia ini orangnya nekatan. Terakhir kali kan dia beset tangannya sendiri noh, ngancem si Ernest pake piso. Kalo dia bundir di sini kan gak lucu, gue cari aman aja." Ujar Luigi.
"Fi, jangan banyak gerak, tar anak lo kesakitan." Ujar Luigi pada Fia.
"Anak??" Ucap Renan terkejut.
"Dia lagi bunting, Ernest yang bilang." Ujar Luigi, Renan dan Jack hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Brisik lo! Lepasin gue!" Teriak Fia.
"Ancur banget si lo Fi - Fi, jadi cewek gak bisa jaga kehormatan, malah sekarang bunting. Tau gak bapak anak lo yang mana?" Ujar Jack simpati tapi juga miris. Bagaimanapun Fia dulu salah satu teman mereka.
"Gak usah sok pada bijak deh, kalian juga kalo udah ngerasain gituan bakal ketagihan. Atau kalian mau ngerasain punya gue? Yang lain pada ketagihan sama gue, tuh." Ujar Fia sombong.
"Najis." Celetuk Renan dengan pandangan jijik pada Fia.
"Kasihan banget ya lo, masih muda udah gila. Lebih milih jadi toilet sp*rma dari pada hidup terhormat." Ujar Jack, hilang simpati.
"Jangan ngasihanin dia Jack, itu pilihan hidupnya dia sendiri." Ujar Luigi.
"Nih makan, lo laper kan? Tapi maap - maap kata, gue gak bakal lepasin ikatan tangan lo." Ujar Luigi dan mulai membuka gulungan bed cover di tubuh Fia.
---------------
Singkat cerita, malam harinya Tyler sedang mengusap - usap kepala Lana yang saat ini terpejam. Tyler sedang menidurkan Lana, dengan cara mengusap kepala Lana.
"Aku pergi ya, be.. nanti aku balik lagi buat nemenin kamu." Bisik Tyler dan Lana kembali membuka matanya.
"Ati - ati di jalan." Ucap Lana dan Tyler mengangguk.
"Tidur yang nyenyak, be." Ucap Tyler, dan Lana mengangguk.
Tyler pun berjalan pergi, tetapi saat ia hendak membuka pintu, tiba - tiba ia berhenti dan berbalik menatap Lana yang melambaikan tangan padanya.
Tak berkata apa - apa, Tyler kembali menghampiri Lana lalu langsung mencium bibir Lana. Tyler benar - benar kecanduan dengan bibir Lana, mereka bahkan berciuman lumayan lama.
"I love you, Lana." Bisik Tyler di telinga Lana, dan Lana tersenyum merona mendengarnya.
"Gak di jawab?" Tanya Tyler, dan Lana makin merona.
"Tyler.." Gumam Lana malu, hingga tak berani menatap mata Tyler yang berada di atasnya. Tyler pun terkekeh melihat Lana yang jadi salah tingkah.
"Aku pergi.." Ujar Tyler dan Lana mengangguk. Setelah kecupan singkat, Tyler pun sungguhan pergi meninggalkan Lana yang tersenyum - senyum malu.
'Lana, lo udah gak ketolong. Sejak kapan lo mau skinship begitu coba.' Batin Lana malu pada diri sendiri.
'Tapi ciumannya Tyler..' Batin Lana malah makin merona.
'Kyyaa...'
TO BE CONTINUED..
__ADS_1