TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 73. Ujian Kelulusan.


__ADS_3

Dan dua hari kemudian..


Hari ini, Lana bangun dan menatap layar ponselnya. Tidak ada kabar sama sekali dari Tyler, itu membuatnya sakit menahan kerinduan. Dia juga khawatir pada Tyler, ia khawatir ayah Tyler menyiksa Tyler di rumahnya.


"Tyler, kamu baik - baik aja, kan.." Gumam Lana sambil menatap layar ponselnya.


Tak lama, Lana beranjak dari ranjangnya dan langsung bersiap ke sekolah, karena hari ini ujian sekolah telah di mulai.


Dan sementara itu di rumah Rion, Tyler terlihat juga baru membuka matanya, dia sudah tidak tidur di karpet bulu, melainkan di ranjang.


Wajah Tyler kembali sangat dingin, tidak ada sedikitpun rona kebahagiaan yang terukir di wajahnya. Ia beranjak dari ranjang dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Sementara di luar kamar Tyler, Rion tampak sudah duduk di meja makan. Dia baru pulang dari perjalanan bisnisnya semalam, dan masih belum melihat Tyler sama sekali.


"Tuan muda sudah bangun?" Tanya Rion.


"Saya akan mengeceknya, tuan." Ujar asisten Rion.


Asisten Rion naik ke atas, dua pengawal yang menjaga kamar Tyler tampak membuka kan pintu kamar Tyler, dan asisten Rion pun maduk.


"Kemana tuan muda?!" Ujar asisten Rion panik.


Dua penjaga tadi pun masuk dan langsung mengecek jendela, tapi kemudian Tyler keluar dari kamar mandi masih menggunakan bathrobe nya.


"Kenapa? lo pikir gue kabur? Tenang aja, gue masih punya otak." Ujar Tyler dingin.


"Maaf tuan muda, tuan Rion sudah menunggu di meja makan. Sesuai yang saya katakan lusa lalu bahwa.."


"Gue inget, keluar!" Potong Tyler dengan dingin.


Asisten Rion itu hanya bisa mengangguk, lalu keluar dari kamar Tyler. Dia kembali turun ke bawah untuk memberitahukannya pada Rion.


"Dimana dia?" Tanya Rion.


"Sedang berpakaian, tuan." Sahut asistennya.


Dan tak lama, Tyler turun dengan wajah dinginnya. Hari ini adalah hari pertama dia keluar dari kamar sejak dia di kurung. Banyak kenangan pahit muncul di benaknya saat ini, ketika ia berjalan menuruni tangga.


'Padahal aku udah bilang rela, Tuhan. Aku udah nggak mengharap apapun dan cuma ingin hidup dengan kehidupanku yang baru sama Lana.. Tapi kenapa seolah engkau tidak rela aku bahagia, bahkan sedikit.' Batin Tyler sambil menuruni tangga.


'Aku nggak percaya kau melakukan ini padaku, apa tidak cukup semua rasa pahit dan kesakitan yang aku rasakan selama ini? Kau sangat kejam padaku, Tuhan.' Batin Tyler lagi ketika tatapannya bertemu dengan Rion.


"Bagaimana hari - harimu?" Tanya Rion ketika Tyler sudah duduk di meja makan.


"Buruk." Sahut Tyler singkat. Rion menghela nafasnya, lalu beberapa pelayan datang menghidangkan sarapan untuk mereka.


Tyler menatap makanan yang berada di hadapannya, terlihat biji wijen yang menghiasi makanan miliknya.

__ADS_1


"Gue nggak mau makan ini, ganti." Ujar Tyler pada pelayan.


"Makanan di sini sudah di sesuaikan dan di ukur sesuai gizi, jadi kamu nggak bisa sembarangan makan seperti waktu kamu hidup di luar." Ujar Rion.


"Ganti." Kukuh Tyler.


"Bisakah kamu patuh! Tinggal makan saja apa yang susah!?" Ujar Rion dengan nada lumayan tinggi.


Tyler menatap mata Rion, lalu tersenyum kecil seraya mengejek.


"Kau tau apa tentangku?? Enggak ada." Ujar Tyler sambil menggelengkan kepalanya. Tyler meminum jus yang berada di gelasnya, lalu berdiri.


"Gue kelar." Ujar Tyler, lalu pergi.


"Berhenti! Makan makananmu Tyler, dan hormati yang lebih tua, kamu nggak liat papa belum menyentuh sarapan papa?!" Ujar Rion.


Tapi Tyler tetap melanjutkan langkahnya dan kembali naik ke lantai atas.


"Tuan, tuan kecil alergi biji wijen." Ujar Dul yang muncul dari belakang.


Rion terkejut, dia lalu menghembuskan nafasnya. Dia memang tidak tahu apapun tentang Tyler, karena dulu dia sangat ingin menyingkirkan Tyler.


"Kenapa nggak bilang?!" Ujar Rion.


"Maaf tuan." Ujar Dul menyesal, karena sejujurnya dia baru ingat dengan alergi tuan kecilnya.


"Baik tuan." Sahut Dul.


'Yang membahayakan buatku, adalah kau sendiri, baj*ngan.' Batin Tyler yang melihat itu dari atas. Tyler lalu masuk kedalam kamarnya.


Singkat cerita, tak lama Dul mengantar makanan untuk Tyler. Terlihat Tyler sedang memainkan gitar lama miliknya, adalah gitar saat dia masih SMP dulu.


"What do I live for, I can't take much more, I shouldn't have been born, It's so hard, I know what I've got, Know this ain't my fault, I live in my thoughts all day. " Sepenggal lirik yang terdengar.


Suara bass Tyler sangat enak di dengar saat menyanyikan lagu itu. pak Dul yang mendengarnya pun tersenyum, karena sejak kecil Tyler memang sering bernyanyi untuk menghibur dirinya sendiri.


"Tuan kecil, ini sarapannya, dan sebentar lagi, guru anda akan datang kemari." Ujar pak Dul.


"Guru?" Tanya Tyler.


"Ya, guru ujian kelulusan anda." Ujar pak Dul.


Ya, Tyler baru ingat, ujian.. Hari ini Lana juga pasti sedang menjalani ujian sekolahnya. Dia tersenyum senang ketika mengingat hal itu, Lana tidak akan kehilangan kesempatannya mengikuti ujian.


"Ya, pak Dul boleh keluar, kalo gurunya udah dateng kabarin saya." Ujar Tyler.


"Baik." Sahut pak Dul, lalu dia keluar.

__ADS_1


Tyler mengeluarkan foto Lana yang dia simpan di lacinya, lalu tersenyum senang memandangnya.


"Semangat ujiannya, Be.. Maaf ya, aku nggak bisa ada di deket kamu dulu." Ujar Tyler.


Dan singkat cerita, guru itu pun datang ke rumah Rion. Guru itu adalah guru yang dulu sering meminta Tyler membawa orang tuanya ke sekolah, ia bahkan sangat terkejut ketika melihat rumah itu..


"Besar dan megah sekali." Gumam Guru itu.


Tyler turun dari lantai dua, dan menemui sang guru yang di persilahkan duduk di ruang tamu.


"Selamat pagi, Tyler." Sapa guru itu, ketika melihat Tyler yang muncul di ruang tamu.


"Pagi." Sahut Tyler singkat.


Guru itu masih merasa tidak enak hati dengan Tyler, karena dulu dia sering menegur Tyler bahkan sering memberi Tyler surat pemanggilan orang tua.


Tyler duduk dan guru itu mulai memberikan lembaran kertas ujian pada Tyler. Bahkan saat sedang mengerjakan soal pun, ada penjaga yang mengawasi Tyler dari sudut ruangan itu.


"Bisa anda bantu jelaskan soal ini? Saya sedikit kurang paham." Ujar Tyler, dan menyodorkan lembar soal pada gurunya.


"Luigi dan yang lain, bagaimana kabar mereka, bu? " Tanya Tyler melalui tulisan.


Guru itu menatap Tyler, namun Tyler terlihat seperti tidak terjadi apapun.


'Kenapa Tyler seperti tidak mau ketahuan? Apa sebenarnya dia tidak sakit?' Batin gurunya.


Karena Rion meminta guru pengawas ujian untuk datang ke rumah, dengan alasan Tyler sedang sakit.


Guru itu pun baru sadar bahwa ada beberapa pria yang seperti sedang mengawasi gerak - gerik Tyler.


"Oh, ini.. jadi begini..." Guru itu menjelaskan, namun dia juga menuliskan jawaban pada Tyler tentang teman - temannya.


"Mereka baik - baik saja." Tulisnya.


Sampai akhirnya semua soal sudah Tyler kerjakan, dan guru itu pun langsung berdiri dan berpamitan.


"Terimakasih, ibu guru." Ujar Tyler dan tersenyum. Senyum itu adalah bentuk terimakasih Tyler karena gurunya mau di ajak kerja sama. Guru itu tersenyum dan mengangguk.


"Sama - sama, saya pulang dulu, besok saya datang lagi." Ujar guru itu, dan Tyler mengangguk.


'Kalian harus baik - baik aja, kalo sampe Rion nyentuh atau nyakitin kalian, gue bakal berontak di sini.' Batin Tyler..


Tatapannya sempat bertemu dengan Rion yang keluar dari ruangannya, tapi Tyler langsung melengos pergi naik ke lantai dua.


"Huuft.." Rion hanya bisa menghela nafas melihat putranya terus bersikap dingin padanya.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2