TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 44. Totalitas.


__ADS_3

Keesokan harinya, Tyler sudah bangun namun dia tidak bersiap menggunakan seragam sekolahnya melainkan pakaian biasa, yakni celana jeans dan hoodie hitam seperti biasanya.


Dia membelah jalanan pagi itu menuju ke bagian lain kota Jakarta, rumah Lana. Tak sampai dua puluh menit, dia sampai di depan gang rumah Lana, lalu menelepon orangnya.


"Kenapa gak di angkat, coba." Ujarnya. Tapi Tyler lupa, yang dia kenakan saat ini adalah ponsel lamanya.


Tyler heran, tapi kemudian dia menyadari sesuatu ketika dia hendak mengirimi Lana pesan, karena ada percakapan lamanya dengan Lana.


"Astaga, gue salah pake ponsel." Gumam Tyler, membolak balik ponselnya.


Sementara di dalam rumah, Lana sedang berdebar tidak jelas. Melihat nama Tyler di layar ponselnya tadi, muncul rasa aneh di hatinya. Dia ingin mengangkat panggilan itu, tapi dia malu.


"Ngapain Tyler nelpon gue?" Gumamnya. Ada rasa rindu juga dan sekaligus perasaan bersalah karena dia sudah menuduh Tyler sebagai pria bren*sek.


"Bodo lah, mungkin dia salah pencet, buktinya cuma nelpon sekali." Gumamnya lagi. Dan setelah itu, berganti nama Asher yang menghubunginya.


"Halo." Ujar Lana, langsung mengangkat panggilan dari Asher / Tyler.


"Gue udah sampe di depan gang rumah lo." Ujar Tyler, tapi Lana terdiam. Suara Asher, sama dengan suara Tyler.


"Halo, Na.. lo denger gue, gak?" Tanya Tyler, dan Lana pun tersadar dari lamunannya.


"Hm, ya udah gue keluar." Ujarnya dan langsung mematikan panggilan telepon itu.


"Jadi suaranya bukan mirip oppa Tehyung, tapi mirip Tyler.. kok gue baru nyadar." Gumamnya sendiri. Tapi Lana tidak memikirkannya lagi, dia langsung keluar dari rumahnya.


Lana berjalan di gang dan melihat Tyler yang sedang duduk di motor namun menatap kearah lain, dan yang ada di mata Lana adalah, Tyler.


"Ish! Kenapa jadi kepikirannya Tyler terus coba." Gumam Lana lagi.


Tyler kebetulan menengok kearah Lana, dan melambaikan tangannya pada Lana, Lana pun berlari kecil menghampiri Tyler.


"Kok lo gak pake seragam?" Tanya Lana heran, karena melihat Tyler hanya menggunakan pakaian biasa.


"Gue gak masuk hari ini, jadi cuma anter lo aja." Sahut Tyler, ia membuka helm untuk Lana, lalu memakaikannya.


Lana juga hanya diam saja, dia makin teringat dengan Tyler, kepalanya penuh dengan Tyler saat ini.


"Yuk." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk. Lana naik ke boncengan dan mereka pun melesat pergi menuju sekolah Lana.


Singkat cerita, mereka sampai di depan sekolah Lana. Lana turun dari motor, dan Tyler membantu membuka helm Lana.


"Pulangnya jam berapa?" Tanya Tyler pada Lana.


"Mmm.. Kayaknya hari ini pulang sore deh, ada ekstra. Tar gue kabarin lo, deh." Ujar Lana, dan Tyler mengangguk.

__ADS_1


"Oke, semangat ya, belajarnya." Ujar Tyler, dan Lana mengacungkan jempolnya.


"Bye, ati - ati di jalan." Ujar Lana, lalu Tyler pun pergi.


Tyler melihat sebuah showroom motor saat di jalan, dia pun masuk ke dalam parkiran dan masuk kedalam showroom itu.


'Lo harus totalitas kalo mau ngelakuin penyamaran, Ty.' Batinnya, dan ia menemukan sebuah motor yang menurutnya bagus.


'Harganya lumayan juga.' Batin Tyler, tapi itu tidak menjadi masalah untuknya. Tyler memanggil sales yang melayani penjualan di sana.


"Aku ingin mengambil motor putih ini." Ujar Tyler langsung.


"Oh, baik kak. Mau melakukan pembayaran Cash atau kredit?" Tanya Sales itu.


"Cash." Sahut Tyler. Sales itu tentu saja sangat senang, pagi - pagi sudah mendapat rejeki berupa pelanggan pertama yang membeli motor dari sana, dan itu cash.


"Kalau begitu mari saya bantu urus surat - suratnya." Ujar sales itu dan Tyler mengangguk.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke tempat duduk dan sales itu mulai mengurusnya.


"Mau menggunakan debit card atau cash, kak?" Tanya sang sales.


"Debit." Sahut Tyler, dan mengeluarkan kartu debitnya dari dompet.


"Maaf kak, sepertinya kartunya sudah tidak bisa di gunakan." Ujar sales itu. Tyler tentu mengernyit bingung, kartu itu adalah kartu berisi semua uang jajannya.


'Apa - apaan, mereka ngebekuin kertu gue juga?' Batin Tyler, dia tidak pernah menggunakan kartu itu untuk bertransaksi jadi dia tidak sadar kartunya sudah di bekukan.


Dia tidak menyangka kedua orang tuanya membekukan kartunya yang hanya berisi uang yang tidak seberapa di banding harta kekayaan mereka.


"Sorry, pake yang ini aja." Ujar Tyler, dan menyodorkan kartu miliknya pribadi yang berisi uang dari penghasilannya sendiri.


"Baik, sebentar." Ujar sales dan kembali memproses, dan berhasil. Tyler menanda tangani semua surat dan berkas sembari masih memikirkan betapa teganya kedua orang tuanya itu.


"Mau di kirim kemana, kak?" Tanya sales, dan Tyler diam sembari berpikir.


'Jangan ke apartemen, tapi kemana? masa gue beli tempat tinggal juga?' Batin Tyler. Tapi akhirnya dia mencantumkan alamat rukonya / markasnya. Setelah semuanya selesai, Tyler pun keluar dari showroom itu dan tatapannya saat ini menerawang jauh.


"Fine.. gue bakal ninggalin semuanya yang berkaitan dengan mereka berdua ( orang tua nya ). Gue bakal jual apartemen itu dan mencari tempat tinggal yang baru." Gumam Tyler, lalu melesat pergi dari sana.


Singkat cerita, hari berganti sore dan Lana mengotak atik ponselnya sedang menghubungi Asher/Tyler. Dia tidak jadi ada kelas tambahan, jadi hari ini dia pulang cepat.


"Oke, gue tunggu di depan gerbang sekolah.. hm, bye." Ujarnya lalu panggilannya di akhiri.


"Nunggu siapa?" Tanya Kyle yang tiba - tiba muncul di depan Lana yang sedang berdiri sembari melihat ke sana kemari.

__ADS_1


"Cowok gue." Sahut Lana. Kyle sedikit kesal mendengar Lana berkata demikian, apalagi wajah Lana semakin kesini semakin tidak ramah padanya.


"Bay the way.. semalem lo jadi bahan rebutannya Tyler sama cowok lo di arena balap, loh.." Ujar Kyle, tidak mengikut sertakan dirinya sebagai salah satu yang memperebutkan Lana.


"Ha??" Ucap Lana bingung.


"Mereka berdua taruhan buat ngedapetin elo, tapi Tyler gak dateng ke arena dan akhirnya Luigi yang gantiin Tyler buat balap sama cowok lo." Ujar Kyle, Lana terdiam dan menatap Kyle sembari berpikir..


'Kok Asher gak ngasih tau gue, bisa - bisanya mereka jadiin gue bahan taruhan, emangnya gue barang.' Batin Lana kesal.


"Tebak, siapa yang menang.." Ujar Kyle, tapi entah mengapa di hati Lana menyebut nama Tyler.


"Cowok lo menang. Gimanapun cowok lo hebat, dia bisa mengalahkan Luigi yang termasuk jago balap." Ujar Kyle. Tapi Lana malah memikirkan kemana Tyler, hingga dirinya sampai di gantikan oleh Luigi, Lana jadi teringat dengan panggilan yang masuk pagi - pagi tadi.


'Apa terjadi sesuatu sama dia?' Batin Lana, justru khawatir.


"Cowok lo juga keterlaluan.. masa dia bilang kalo dia kalah, Tyler sama gue boleh milikin lo semalem, sama aja ngejual lo gak, sih?" Ujar Kyle mengarang cerita, Lana tentu saja emosi mendengarnya.


"Gue tulus mencintai lo, Na.. tapi lo lebih milih buat pacaran sama dia, dan ternyata lo cuma di jadiin bahan taruhan sama dia." Ujar Kyle semakin memperkeruh keadaan. Dan di saat itu, Asher / Tyler pun datang menghampiri Lana.


"Ngapain lo deket - deket Lana, huh!?" Ujar Tyler lengsung mendorong Kyle hingga Kyle terjatuh. Entah sekeras itu dorongan Tyler atau Kyle hanya berpura - pura jatuh agar mendapatkan simpati Lana.


"Asher! lo apa - apaan sih?! Gak perlu harus dorong sekenceng itu juga, kan!?" Ujar Lana, dan Tyler mengernyit bingung, dia tidak sekeras itu mengeluarkan tenaganya. Lana membantu Kyle bangun dan itu membuat darah Tyler mendidih.


"Na, lepasin tangan lo dari dia!" Bentak Tyler marah, dan mencoba menarik tangan Lana dari Kyle.


"Lepas! Lo kasar banget si, orang dia gak ngapain - ngapapin." Ujar Lana, marah.


"Dia pasti ngomong hal yang enggak - enggak sama elo, kan? Jangan dengerin dia, dia.."


"Terus gue harus dengerin elo, iya!? yang jelas - jelas make gue buat bahan taruhan kalian. Lo bren*sek tau gak!" Teriak Lana memotong ucapan Tyler. Tyler tentu tertegun mendengarnya, sudah pasti Kyle yang memberitahu Lana tentang taruhan itu.


"Ayo Kyle, pergi dari sini." Ujar Lana dan menuntun lengan Kyle.


"Na, dengerin gue, gak gitu.." Ujar Tyler, menahan tangan Lana.


"Oke, gue tanya. Lo jadiin gue bahan taruhan apa enggak??" Ujar Lana dengan tatapan tajam.


"Gue.."


"Iya, apa enggak!?" Cecar Lana, dan Tyler mengangguk, karena memang dia yang bertaruh lebih dulu.


"Kita putus." Ujar Lana dan Tyler tertegun mendengarnya.


TO BE CONTINUED..

__ADS_1


__ADS_2