
"Cepat! Cepat! Menyingkir dari jalan!" Teriak seseorang.
Mereka mendorong banyak brankar dan ada pula yang di gotong dengan terburu buru.
"Korban yang satu ini tidak bernafas, cepat lakukan pertolongan pertama!" Ujar seorang pria.
Dokter itu mulai memompa dada seorang pria yang sudah bersimbah darah, beberapa kali tekanan tapi pria yang sudah tidak bernafas itu tidak menunjukan respon.
"Dia tidak merespon." Ujar sang dokter.
"Lakukan apapun, dia adalah tuan Rion Griffin." Ujar yang lain, dokter itu langsung pias.
Ya, Rion Griffin. Dia mengalami kecelakaan sebelum pesawat lepas landas dengan sempurna. Pesawat yang di tumpanginya itu meledak di bagian sayap 5 detik setelah pesawat itu terbang.
Alhasil pesawat itu terjun bebas ke bawah. Beruntungnya pesawat tidak meledak keseluruhan, dan masih bisa melakukan evakuasi. Namun banyak diantaranya yang meninggal dunia, salah satunya Rion.
Dokter itu kembali memompa dada Rion, bahkan dia melakukan nafas buatan, tapi tetap tidak membuahkan hasil. Dokter menggelengkan kepalanya setelah semua usaha yang di lakukannya tidak membuahkan hasil.
"Bagaimana keadaan tuan Rion?!" Ujar asistennya yang juga berdarah - darah.
"Tuan, astaga! Luka anda berdarah." Ujar dokter itu, tapi asisten Rion tidak peduli.
"Tuan Rion.. tidak selamat, tuan. Kami sudah melakukan segalanya." Ujar Dokter itu. Asistennya pun terduduk lemas.
"Tuan.." Gumamnya.
Dan setelahnya, baik Asisten Rion maupun jasad Rion di bawa ke rumah sakit. Asisten Rion itu keras kepala dan terus saja ingin mengurus jasad Rion.
"Saya pergi dulu." Ujar asisten Rion pada dokter.
"Tuan, luka anda belum di jahit dengan benar." Ujar Dokter.
"Ada yang lebih penting, dari pada luka ini." Ujar asisten Rion, lalu melangkah pergi dari sana.
Asisten Rion itu naik ke mobil yang di kemudikan bawahan Rion yang lain, dan melaju pergi. Dia berulang kali mencoba menghubungi Tyler, tapi tidak pernah tersambung.
Sampai akhirnya tak lama dia sampai di kostan Tyler, dengan badan masih berdarah - darah, asisten Rion itu berjalan masuk kedalam restoran sampai membuat pemilik kost terkejut.
"Astaga, pak! Anda siapa, anda kenapa?" Tanya pemilik kost dengan panik, karena ada pria berdarah darah yang masuk ke tempatnya.
"Tolong saya, panggilkan Tyler. Terjadi sesuatu pada ayahnya." Ujar Asisten Rion.
"Aduh, tunggu sebentar pak." Ujar ibu kost.
Tapi belum sempat ibu kost itu pergi, Tyler muncul dengan Lana. Keduanya terkejut melihat asisten Rion berada di sana.
__ADS_1
"Ngapain lo si sini?!" Ujar Tyler, pada asisten Rion.
"Tuan muda, tolong ikut saya. Ayahmu meninggal dunia." Ujar asisten Rion.
Tyler hanya terkekeh sinis mendengarnya, dia yakin itu adalah salah satu cara Rion untuk membuatnya masuk kembali kedalam kandang.
"Gitu ya? Tapi gue gak peduli." Ujar Tyler.
"Tuan muda, saya serius." Ujar Rion.
"Gue dua rius. Lo pikir gue gak tahu, paling itu cuman akal - akalan dia aja kan? Bilangin ke dia, gue gak terpengaruh." Ujar Tyler.
"Tuan muda, saya bersungguh - sungguh, tuan Rion sudah meninggal." Ujar asistennya.
"Mending lo pergi deh." Ujar Tyler, sembari mendorong tubuh asisten Rion.
"TYLER! Saya tidak sedang bercanda saat ini! Tidak bisakah kamu melihat luka di tubuh saya?! Saya bahkan mengabaikan untuk menjahit luka ini untuk lebih dulu mendatangimu." Ujar asisten Rion dengan nada tinggi.
Tyler kemudian mengusap darah asisten Rion yang menempel di tangannya, dan ternyata memang benar, itu asli darah.
"Ayahmu kecelakaan pesawat, dan dia tidak selamat. Sebagai anaknya, saya harap kamu memiliki hati untuk mengantar kepergiannya ke peristirahatan terakhirnya." Ujar asisten Rion.
Tyler berdiam diri, dia tidak bergeming. Walau dia yakin seratus persen dia membenci ayahnya itu, tapi mendengar ayahnya meninggal, ada sedikit rasa sakit di hatinya.
Asisten Rion pun pergi dari kostan Tyler, dan saat ini Tyler duduk diam di kamarnya. Dia menatap luar jendela, dan setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Gue gak boleh nangis, dia bukan siapa - siapa bagi gue." Gumamnya, dengan telapak tangan mengepal.
Tapi meski mulutnya berkata demikian, tapi di dalam hatinya dia merasakan sakit. Hingga air matanya justru kembali menetes tanpa permisi.
Lana masuk perlahan ke kamar kost Tyler, yang kebetulan tidak ditutup rapat. Lana bisa melihat kesenduan di wajah Tyler yang sedang menatap luar jendela. Perlahan, dia jalan mendekati Tyler dan melingkarkan kedua tangannya di perut Tyler dari belakang.
"You okay?" Tanya Lana.
Tyler langsung menghapus air matanya, ia kemudian menggenggam tangan Lana yang melingkar di perutnya, lalu dia berbalik badan.
Lana bisa melihat sudut mata Tyler yang basah, dia yakin Tyler sedang bersedih sekarang.
"Aku gak apa - apa, kok." Ujar Tyler.
"Pembohong." Ujar Lana, lalu kembali memeluk Tyler.
"Sometime.. Tuhan kasih kita feel yang gak kita sukai. Kita berulang kali bilang benci, tapi nyatanya hati kita enggak." Ujar Lana, dan itu memang yang Tyler rasakan sekarang.
"Dia udah meninggal, Ty. Nggak ada salahnya kita mengunjungi dia untuk yang terakhir kali. Di dalam sini.. ( Lana menunjuk dada Tyler ) Ada rasa kasih seorang anak untuk ayahnya." Ujar Lana.
__ADS_1
Tyler memeluk erat - erat tubuh kekasihnya itu, yang entah mengapa sangat mengerti dirinya.
"So.. Kita liat dia??" Tanya Lana. Tyler pun menganggukan kepalanya.
Dan akhirnya, malam harinya Tyler, Lana, Luigi, Jack, Renan dan Ernest, mereka datang ke kediaman Tyler. Disana sangat ramai, banyak karangan bunga yang terpajang sepanjang jalan dan memenuhi pekarangan.
Banyak juga media - media dari stasiun tv yang meliput kematian Rion, karena Rion adalah tokoh pengusaha yang terkenal juga. Semua yangvberada di sana, menggunakan pakaian serba hitam.
'Jadi lo sungguhan meninggal?' Batin Tyler, ketika melihat rumahnya penuh dengan manusia berpakaian hitam.
"Tuan muda, anda datang juga." Ujar asisten Rion.
Tyler hanya mengangguk, dan asistennya itu langsung mengantar Tyler dan yang lainnya untuk menghadap peti mati.
Tyler lebih dulu maju untuk melihat wajah Rion yang terakhir kali, dan entah mengapa hatinya sesak melihat manusia yang selalu mempersulit hidupnya itu terbaring tidak bernyawa.
'Lo bahkan gak ngucapin maaf ke gue sebelum lo pergi, how dare you, do this to me?' Batin Tyler.
Tangannya menggenggam erat peti mati Rion, tatapsn matanya sangat nanar saat ini, antara menahan marah dan tangis.
"Ty.." Lana membuyarkan Tyler, karena dia tahu Tyler sangat emosional saat ini.
Tyler tersenyum melihat Lana, kemudian ia menggenggam erat tangam Lana.
"Beristirahatlah dengan damai." Ujar Tyler.
Tyler pun pergi dari hadapan peti mati Rion, dan bergantian teman - teman Tyler yang maju mendoakan jasad Rion.
Kyle datang juga kesana, tapi tidak bersama ibunya. Setelah pernikahan Rion dan Francis di batalkan oleh Rion, Francis menjadi tidak mau keluar rumah sama sekali, bahkan dia menjadi seperti depresi.
"Gue turut berduka cita atas meninggalnya bokap lo." Ujat Kyle, dan Tyler mengangguk.
Dan ternyata, ibunya Tyler pun datang ke sana. Mantan istri seorang Rion Griffin datang mengunjungi Rion yang sudah meninggal dengan dress hitam dan kaca mata hitamnya. Langkah kakinya begitu stabil saat berjalan menggunakan heels tinggi, dan berdiri tegak di depan peti Rion.
"Kok nyokap lo dateng, Ty?" Tanya Renan.
"Mana gue tau." Ujar Tyler acuh.
Karisma menatap wajah Rion, tangannya terulur dan mengusap pelan pipi Rion, lalu kemudian dia berbalik dan tatapannya bertemu dengan Tyler. Tidak sedikitpun menyapa, Karisma pergi berlalu begitu saja dari sana.
"Dih, nggak jelas." Gumam Luigi.
"Nyonya, tunggu.." Panggil asisten Rion, dia langsung mengejar kemana Karisma pergi.
...TO BE CONTINUED.. ...
__ADS_1