TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 51. Kepregok.


__ADS_3

Singkat cerita, Tyler sudah sampai di arena balap. Ia, Luigi, Renan dan Jack sedang berdiri di berhadap - hadapan dengan anak buah Kyle yang menggilir Fia, namanya Deri.


"Lo gak mau ikut tanding, terus ngapain lo kesini?" Tanya Deri pada Tyler.


"Nganter hadiah buat lo." Sahut Tyler, Deri tentu heran, mereka musuh tapi Tyler ingin memberinya hadiah.


Tyler melambaikan tangannya lalu Luigi turun dari mobil membawa Fia yang matanya di tutup dengan kain dan tangannya di ikat dengan tali.


"Lepas! Lo bawa gue kemana, bren*sek!" Teriak Fia sembari mencoba memberontak.


"Wahhh.. sayangku, kita ketemu lagi. Lo kemana aja?" Ucap Deri, Fia langsung gemetar mendengar suara Deri.


"L-lo.."Gumam Fia dengan takut.


'Bingo..' Batin Tyler, dia bisa melihat betapa Fia takut dengan Deri.


"Lo kemana aja, sayang. Gue kangen, loh.. lo udah sehat, ya?" Ujar Deri dan langsung menyentuh lengan Fia, tapi Fia langsung menghindar.


"Ty, please jangan serahin gue ke dia, gue gak mau." Ujar Fia ketakutan.


"Bukannya tadi pagi lo nekat dan semangat, orang yang cocok sama lo ya dia." Ujar Tyler, Fia menggeleng hebat dan menangis.


"Kok nangis sih, baby.. aku gak jahat loh.." Ujar Deri, lalu membuka penutup mata yang menutupi mata Fia.


Terbelalak dan ketakutan, itu yang terlihat dari Fia ketika melihat Deri.


"Ty, Please." Fia memohon, tapi Tyler tidak bergeming.


"Lo gak bisa di ajak ngomong baik - baik, huh?" Ucap Deri mulai tidak sabar.


"Mainnya jangan kasar - kasar, ada anak lo dan temen - temen lo yang ngegilir dia waktu itu." Celetuk Luigi, Deri pun terkejut, dia belum tahu bahwa Fia hamil.


"Lo hamil??" Tanya Deri pada Fia yang ketakutan, Fia tidak menjawab dan hanya menatap Deri dengan ketakutan.


"Sampe sini harusnya lo paham, kan? Jangan pernah ganggu hidup gue lagi." Ucap Tyler pada Fia, lalu pergi dari sana.


"Ty, jangan tinggalin gue, TY!!" Teriak Fia dengan histeris.


Luigi, Renan dan Jack juga pergi dari sana meninggalkan Fia yang ketakutan berada di pelukan Deri.


"Jangan sentuh gue!" Ujar Fia pada Deri yang mulai mencium pundak Fia.


"Lo hamil anak siapa, baby? Kyle? Tapi gak mungkin kalo Kyle bikin lo hamil, Kyle selalu main aman. Dan cewek yang dia suka bukan elo." Tanya Deri dengan tatapan menghina.


"Menurut lo!? Kalo bukan elo ya temen - temen lo, lah." Ujar Fia, meski takut, tapi dia tidak tahu diri dan bicara dengan nada ketus.


Deri tersenyum smirk, lalu langsung membawa Fia tanpa melepaskan ikatan tangannya. Fia berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang menolongnya.


"Gak tau diri." Ujar Kyle.


"Lo mau bawa gue kemana, lepas!" Fia memberontak, tapi tentu Deri lebih kuat.


"Kasih hadiah pertemuan, kan kita udah lama gak ketemu.." Ujar Deri dengan nada bicara yang mencurigakan.


"Gak!! Gue gak mau, lepas!!" Fia panik dan menggeleng sembari memberontak.

__ADS_1


"BRAK!!" Suara pintu mobil tertutup dengan kasar.


"AKH!!!" Pekik Fia ketika Deri menarik paksa tangan Fia dan menahannya di atas kepala Fia.


"Sakit!" Fia kesakitan dengan nafas yang terengah - engah naik turun.


Fokus Deri justru pada dua buah benda yang menyembul menampakan diri di depan wajahnya dengan kembang kempis, bagian dada Fia.


"Karena lo gak tau siapa bapak anak lo, kita ilangin aja dia." Bisik Deri di telinga Fia.


Fia sangat sensitif, dia kesakitan tapi juga terpancing begitu saja. Tapi mendengar apa yang Deri katakan, dia langsung menggeleng hebat.


"Gak, jangan!" Ujar Fia.


"Terus lo mau ngelahirin dia, gitu? Masa depan kita masih panjang, mati satu gak berarti gak bakal ada lagi. Gue bisa kasih lo banyak ntar." Ujar Deri sembari sebelah tangannya meremas d*da Fia.


"Gak, gak boleh.." Gumam Fia, tapi dia terpancing.


"Jangan sok jual mahal dan muna, lo!! Di sini, lo gak bisa tawar menawar sama gue." Ujar Deri dengan emosi dan langsung memaksa Fia.


"ARGH!!" Pekik Fia.


Dia kembali mengalami apa yang dia rasakan dulu. Deri bahkan melakukannya dengan kasar hingga Fia pendarahan.


"Sakit!!" Teriak tapi Deri tidak peduli, dia tetap melanjutkannya.


Sementara itu, Tyler sudah berpisah dari teman - temannya dan sekarang dia sudah berada di rumah sakit.


Pelan - pelan dia membuka pintu kamar rawat Lana, dan terlihat Lana yang sedang tidur lelap. Tyler mendekat kearah lana lalu tersenyum karena melihat Lana tidur dengan lucu.


'Gemes banget sih.' Batin Tyler.


Tyler menatap Lana yang sedang tertidur, tanpa mengganggunya. Dan saat itu juga Lana berbalik menghadap ke wajah Tyler, mereka berdua saling berhadapan.


Lana membuka matanya dan tersenyum ketika melihat Tyler, tapi dia mengira itu mimpi.


"Tyler.." Gumam Lana, dengan mata terkantuk kantuk.


"Hmm?" Sahut Tyler, ia menahan senyum.


"Kenapa aku gak bisa nolak saat di cium kamu? Padahal aku gak suka skinship sama cowok, bahkan sama Asher juga enggak mau." Gumam Lana lagi.


"Menurutmu kenapa? Apa kamu suka aku?" Celetuk Tyler.


"Suka... Iya, aku suka Tyler." Gumam Lana lagi dengan mata terkantuk kantuk.


'Astaga, gemes banget.' Batin Tyler.


"Tidur, be.." Ujar Tyler, dan Lana mengangguk - angguk lucu.


Tyler mengusap - usap rambut Lana, sambil senyum. Tapi tiba - tiba Lana kembali membuka matanya dan menatap Tyler dengan mata sayunya.


"Kok melek lagi, tidur be.. Ini udah malem." Ujar Tyler lagi, tapi Lana hanya menatap Tyler lalu tersenyum dengan sangat manis.


Tyler perlahan mendekatkan bibirnya pada Lana, kemudian mengecupnya. Kecupan singkat itu justru membuat Tyler semangat dan kembali mencium Lana.

__ADS_1


Layaknya dua remaja yang saling penasaran, tangan Tyler perlahan masuk kedalam baju yang Lana pakai, dan kulit tangannya bahkan sudah menyentuh kulit perut Lana.


"Aduh!" Pekik Lana ketika kakinya merasakan sakit.


"Kenapa, be?" Ucap Tyler khawatir.


"Kakiku, sakit." Ujar Lana merem - merem, Tyler pun panik.


"Aku panggil perawat, bentar." Ujar Tyler, tapi Lana menahan tangan Tyler.


"Jangan, aku cuma sakit sedikit, kok." Ucap Lana.


"Yakin?" Tanya Tyler, dan Lana mengangguk.


"Ya udah, lanjut tidur lagi aja." Ucap Tyler akhirnya. Lana mengangguk, Tyler pun menyelimuti Lana dengan dirinya.


Lana tidur di dalam pelukan Tyler, dua remaja itu tidur dengan saling berpelukan.


 


Singkat cerita, keesokan harinya Lana mengernyit dan mulai bangun ketika ia mendengar kebisingan.


"Brisik njir, tar mereka bangun." Suara salah seorang yang membuat ruangan itu jadi berisik.


"Momen langka, nih.. kagak bakal pernah kita liat lagi momen beginian." Ujar yang lain.


Adalah Luigi, Renan dan Jack yang sedang berusaha mengabadikan momen bersejarah di hadapan mereka, yaitu Tyler yang sedang tidur berpelukan dengan Lana.


Lana perlahan membuka matanya dan itu membuat si pembuat gaduh itu terdiam dan terkejut hingga mati kutu ketika tatapannya bertemu dengan Lana.


"Eh, Lana dah bangun, Na?" Ujar Renan, dan langung menyingkirkan ponselnya, lalu mengantonginya.


"Kalian.." Gumam Lana sambil berkedip - kedip mengumpulkan nyawa.


Ketiga orang itu menjadi menyengir kaku karena kepregok langsung oleh Lana ketika mereka sedang memotret Lana dan Tyler.


Ketika Lana merasakan hembusan nafas yang menerpa di wajahnya, baru dia ingat bahwa dia tidur sambil berpelukan dengan Tyler.


"HUAA!!!" Lana panik dan itu membuat Tyler terbangun dengan panik.


Dan karena panik, Tyler lupa bahwa brankar rumah sakit tidak selebar ranjang di apartemennya, dia langsung terjun bebas ke lantai.


"BRAK"


"Adeh!!" Terlihat sangat membuat ngilu sampai Luigi, Renan dan Jack ikut meringis seakan ikut merasakan sakit di bok*ng mereka.


"Kenapa, be?" Ujar Tyler langsung bangun meski bagian belakangnya sakit.


"I-itu.." Bisik Lana dengan malu.


"Itu apa?" Tanya Tyler, karena dia masih limbung.


Lana menunjuk menggunakan lirikan matanya, dan Tyler mengikuti arah tatapan Lana.


"Hai, Ty." Ujar Renan tanpa dosa dengan cengiran kuda. Sementara yang dua lagi sudah menahan tawa bengek mereka.

__ADS_1


'Anjir.' Batin Tyler.


TO BE CONTINUED..


__ADS_2