
Malam harinya, seperti biasa Tyler akan melakukan balap. Tapi kali ini dia meminta uang tunai sebagai hadiah apabila dia menduduki juara pertama seperti biasanya.
"Kenapa lo minta uang tunai, Ty? Lo kehabisan uang? Gue ada kalo lo butuh banget." Ujar Luigi. Dan Tyler hanya menggelengkan kepalanya.
"Gue masih banyak duit, gak perlu khawatir." Ujar Tyler, dan menepuk pundak Luigi.
"Jadi kenapa lo minta duit buat buat hadiah, biasanya kan di transfer." Ujar Luigi, semakin penasaran.
"Gak apa - apa. Abis balap gue gak ikut kalian pulang buat party, gue ada urusan." Ujar Tyler.
"Lo gak butuh kita - kita?" Tanya Jack, dan Tyler menggeleng.
"Gue balap dulu." Ujar Tyler, dan maju ke barisan depan. Luigi, Jack dan Renan hanya bisa saling pandang melihat Tyler yang demikian.
Balap di mulai, dan motor saling mengebut untuk menjadi juara satu. Tyler dengan tatapan setajam elangnya sangat fokus dengan jalanan, dan sampai beberapa saat akhirnya Tyler menang.
Tyler membuka helmnya dan melakukan tos seperti biasanya dengan teman - temannya.
"Bang, hadiah lo. Sesuai yang lo minta, ini gua cash in." Ujar seorang pria yang membawa hadiah berupa uang tunai.
"Oh, terus ini uang taruhan anak - anak lain." Ujar pria itu lagi, Tyler tentu mengernyit bingung.
"Taruhan apaan? Orang beg* mana yang ngeremehin Tyler kita?" Ujar Luigi.
"Gak bang, soalnya tadi ada anak dari geng sebelah yang ikut balap, dan tuh anak biasanya menang di tempat lain, jadi pada bikin taruhan di sini." Ujar pria tadi.
"Oh, yang mana orangnya?" Tanya Luigi sembari melihat ke sekitar.
"Udah pada cabut tadi." Ujar pria tadi.
"Ya udah, Thanks." Ujar Tyler, dan menjabat tangan pria itu. Tyler kemudian melihat jam, dan itu sudah menunjukan pukul dua malam.
"Gue mesti cabut, kalian aja yang party. Oiya, siang kita cabut ke tempat ambu." Ujar Tyler pada teman temannya.
"Lo serius gak butuh kita?" Tanya Luigi memastikan lagi, dan Tyler menggeleng.
"Gua cabut dulu." Ujar Tyler dan kembali memakai helmnya, kemudian melesat pergi dengan motornya.
"Yuk, kita juaga cabut." Ujar Luigi dan yang lain mengangguk.
Tapi rupanya ada yang memperhatikan interaksi mereka, Kyle. Dia berada di antara penonton dengan wajah penuh amarahnya menatap Luigi. Tangannya bahkan mengepal, dan tiba tiba dia tersenyum smirk.
Berpindah ke sisi Tyler, dia mengemudikan motornya dengan sesekali melihat jam di tangannya. Dia melesat membelah jalanan malam yang sepi hingga berhenti di jembatan.
__ADS_1
Tyler membuka helmnya, dan turun dari motornya lalu melihat ke sana dan kemari seperti mencari seseorang. Hingga tak berselang lama, muncullah Lana yang berjalan dengan tatapan kosong.
Lana tidak lagi berjalan sembari menghitung uang, dia hanya memasukan kedua tangannya di dalam saku jaket dan berjalan seperti mayat hidup.
Dia berjalan lurus ke depan tanpa berkedip, hingga dia menghentikan langkahnya saat ia melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya.
Lana mendongak dan melihat Tyler yang berdiri di hadapannya, Tyler juga seperti dirinya, memasukkan tangannya ke saku jaket.
"Lo bilang.. selagi masih punya sayap, walaupun sayap itu rusak, perbaikilah dan terbang dari tempat yang membelenggu lo. Lo juga bilang, bakal menegakan keadilan buat diri lo sendiri, tapi apa ini, lo nyerah?" Ujar Tyler.
Lana yang mendengar itu hanya diam, Tyler terkejut ketika melihat luka baru di pelipis mata Lana.
'Kenapa gue selalu liat dia dengan luka baru? Apa dia di rundung di manapun dia berada?' Batin Tyler.
"Belom mulai lo udah nyerah??" Ujar Tyler lagi. Entah khodam nya yang mana yang hari ini muncul, dia menjadi banyak bicara.
"Kalo sekolah bilang lo miskin dan lo sekolah di sana cuma ngandelin belas kasihan sekolah, bungkam mulut mereka." Ujar Tyler, lalu tiba tiba mengeluarkan kantong coklat dan memberikannya pada Lana.
"Buktiin, kalo lo pantes dan ber- hak sekolah di sana." Ujar Tyler, lalu pergi meninggalkan Lana yang terbengong menatap kantong besar di tangannya.
"Woi, ini.."Ujar Lana hendak memanggil Tyler tapi Tyler sudah lebih dulu pergi dengan motornya.
"Apa - apaan tuh orang." Gumam Lana. Lana membuka kantong cokelat besar yang ada di tangannya, dan meranga.
Lana belum pernah memegang uang sebanyak itu, jadi dia sedikit gemetar memegangnya. Lana langsung memasukannya ke tas ransel sebelum ada penjahat yang melihat.
Keesokan harinya..
Di depan ruko markas Tyler saat ini sedang terdapat satu truk besar yang sedang memasukan semua barang - baran yang di pak di dalam kardus, beberapa ada di kantong juga.
"Ty, barang udah siap." Ujar Luigi.
"Oke, anak - anak yang lain udah kumpul?" Tanya Tyler. Yang di maksud adalah seluruh anggota geng Tyler.
"Udah, mereka konvoi pake motor, dan bakal gabung saat kita lewat nanti. Mereka udah siap di tempat mereka masing masing." Sahut Luigi, dan Tyler mengacungkan jempolnya.
Ernest juga ada di sana, dan saat ini dia memegang sebuah spanduk putih bertuliskan BLACK PUMA, di tangannya.
"Iket dimana ini?" Tanya Ernest.
"Ya ilah, lo kaya gak pernah aja, di truk lah." Ujar Jack.
__ADS_1
"Di truk udah ada noh, ini siapa si bikin baner banyak banget?" Ujar Ernest.
"Hehe Gua." Cengir Renan, dan yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kita tuh makin besar loh, makin banyak yang gabung sama Black Puma, dan memang seharusnya kita perbanyak baner." Ujar Renan.
"Pala lo perbanyak baner, nih pasang! Gue puyeng udah masang tujuh baner." Ujar Ernes dan mlempar spanduk itu ke Renan.
"Ya udah si, gitu aja sewot." Ujar Renan dengan mulut maju.
" Yok, cabut." Ujar Luigi, dan semua orang mengangguk.
Semua motor pun mulai pergi dari sana, Tyler memimpin jalannya mereka dan sebuah truk besar berada di belakangnya.
"Who - ho - ho.. " Teriak Luigi heboh.
Mereka melalui perjalanan dan benar yang di katakan Luigi, anggota mereka yang lain sudah menunggu di pinggir jalan yang Tyler lalui dan mereka pun bergabung.
Sekitar kurang lebih empat jam akhirnya mereka sampai di pelosok desa di sebuah daerah di Bogor. Para warga di sana rupanya menyambut kedatangan Tyler dan rombongannya.
"Bang Tyler.." Teriak, anak anak kecil. Dan langsung mengerubungi mereka.
"Woi bocil, gue nggak di peluk?" Tanya Renan, dan seorang anak kecil memeluk kaki Renan.
"Abang Lenan." Ujarnya dengan suara cadel.
"Eh, si cadel." Ujar Renan, dan menggendong anak kecil itu.
Dan tak lama muncul sosok wanita tua yang sudah berambut putih dan berjalan dengan susah payah.
"Ambu.." Ujar Tyler, dan memeluk sosok wanita tua itu.
Wanita tua itu, satu - satunya wanita yang Tyler hormati. Ibunya bahkan tidak dia hormati seperti sosok ambu ini, tapi Tyler sangat menyayangi ambunya.
"Tyler.. apa kabar, nak?" Tanya ambu, sembari mengusap usap punggung Tyler.
"Baik, ambu." Ujar Tyler.
Ambu adalah orang yang mengasuh Tyler dari Tyler lahir hingga besar, dia di keluarkan oleh ibunya ketika Tyler sudah masuk bangku SMP. Dan hanya pada sosok ambu inilah, Tyler menjadi sosok yang lain.
Semua anak black puma langsung membongkar isi truk itu dan membagikan isi dari truk itu yang rupanya adalah sembako untuk warga desa yang terpencil itu.
"Terimakasih, nak." Ujar ambu, dan Tyler tersenyum. Senyum yang sangat manis yang jarang Tyler sunggingkan.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..