
Singkat cerita, Tyler saat ini pulang ke apartemennya. Sebelumnya, sebelum Lana tidur, Tyler ijin pada Lana akan pulang sebentar, karena Lana tidur, Tyler pun pulang.
Tyler masih saja tidak percaya bahwa dirinya kini sudah menjadi pacar Lana, dengan identitasnya sendiri, sebagai Tyler bukan Asher.
Ia sampai di apartemennya dan hal yang tidak dia inginkan terjadi lagi, Tyler kembali bertemu dengan ibunya yang kali ini dengan laki - laki yang berbeda.
'Ngerusak mood aja.' Batin Tyler yang malas melihat tingkah laku ibunya.
Ibunya berpakaian tertutup namun pakaian itu sangat ketat hingga menonjolkan bagian - bagian tubuh wanita yang sudah berkepala empat itu. Tapi Tyler berlalu begitu saja seperti dua orang yang tiak saling mengenal satu sama lain.
"Gue harus cari agen penjualan, terus gue jual aja ni apartemen. Dengan gitu, gue gak bakal di bayangi oleh masalalu." Gumam Tyler ketika di dalam lift.
Tyler turun di lantai tempat unitnya berada, tapi dia terkejut karena melihat Fia yang berdiri di depan pintu unit apartemennya.
"Ty, lo udah pulang?" Tanya Fia langsung tersenyum senang ketika ia melihat Tyler. Tapi Tyler hanya diam saja dan sama sekali tidak bertanya apapun pada Fia.
Tyler hanya berjalan dan hendak membuka pintu unit apartemennya, hingga tiba - tiba Fia menghadang dengan berdiri di depan Tyler.
"Ty, tolog maafin gue." Ujarnya, sembari memegang lengan tangan Tyler dengan kedua tangannya.
"Lepas, ban*sat!" Ujar Tyler langsung mengibaskan tangannya dari Fia. Tyler tidak sengaja menghirup aroma wewangian di tubuh Fia dan ia langsung merasa pusing sekarang.
"Ty.." Panggil Fia, dan menempelkan bagian dadanya di lengan Tyler. Tyler menjadi terpancing begitu saja saat ini, entah mengapa dia langsung on fire.
"Ty, lo gak apa - apa?" Tanya Fia berpura - pura khawatir. Fia tersenyum ketika melihat usahanya membuat Tyler terangsang berhasil.
"Lepas! Pergi lo dari sini." Usir Tyler dengan mendorong tubuh Fia begitu saja.
'Ban*sat, ini cewek, dia pake apa sampe gue langsung terangsang gini.' Batin Tyler menjadi gelisah sendiri dan langsung berusaha secepat mungkin membuka pintu apartemennya.
Fia tidak menyerah, ia langsung menyerobot begitu saja ketika pintu unit apartemen Tyler terbuka. Fia langsung memeluk Tyler dari belakang dan meraba - raba dada Tyler yang benar benar sudah on.
"Gue kangen lo, Ty. Gue pengin balik sama lo." Ujar Fia dengan tidak tahu dirinya. Tyler benar - benar merasakan pusing yang teramat sangat, seperti dia baru saja menghabiskan satu botol minuman.
Padahal saat Tyler minum pun tidak akan semabuk itu, paling ia hanya akan merasa sakit kepala sedikit.
"Pergi lo.." Ujar Tyler dengan lemah karena pandangannya sudah berkunang - kunang.
Tapi Fia tidak menyerah, dia memutari tubuh Tyler lalu meraba dada Tyler dari depan. Tiba - tiba di mata Tyler Fia berubah menjadi Lana, Tyler tersenyum dan langsung menyambar bibir Fia yang dia kira sebagai Lana itu.
Fia tentu senang, usahanya berhasil. Tyler sudah menciumnya dengan sangat rakus saat ini, Fia pun menggiring Tyler menuju ke sofa dan menjatuhkan Tyler di sofa.
Tapi Tyler menarik tangan Fia dan kini Fia berada di pangkuan Tyler sembari berciuman dengan rakus.
__ADS_1
'Lo cuma boleh jadi milik gue, Ty.. gue gak bakal biarin lo sama siapapun.' Batin Fia.
Dengan berani, Fia membuka kancing bajunya satu persatu dan Tyler menatap itu dengan tersenyum. Masih sambil menciumi Fia, Tyler justru ikut membuka jaket yang masih berada di tubuhnya.
"Gue milik lo,Ty." Ujar Fia di sela - sela ciumannya.
Fia membuang bajunya dan kini dia hanya menggunakan bra saja. Tyler yang melihat itu semakin on dan semakin tidak kuat lagi menahan hasratnya, ia menggulingkan Fia di sofa dan menindihnya.
"Lana.." Gumam Tyler dan Fia tertegun mendengarnya.
'Jadi di mata Tyler, gue Lana? Sialan, atas dasar apa Lana berhasil ngedapetin hatinya Tyler.' Batin Fia emosi.
Tyler membuka penutup bukit kembar Fia dan terpampanglah bukit kembar itu di depan wajah Tyler, tapi kemudian Tyler sedikit teringat dengan Lana yang tidak pernah mau skinship saat dirinya menjadi Asher.
Tyler mengernyit dan memandangi wajah Fia yang tiba tiba kini berubah menjadi Fia, bukan Lana lagi.
"Bren*sek lo, pergi lo dari sini bit*h!!" Bentak Tyler pada Fia dengan kasar.
"Lo mau kan.. gue rela Ty.." Ujar Fia, tapi Tyler langsung bangun dengan susah payah dan membuat dirinya sadar dengan menyiram dirinya menggunakan air dingin dari keran.
Fia masih tidak menyerah, dia menarik Tyler dengan keras hingga Tyler terkapar di lantai. Fia langsung naik begitu saja di atas tubuh Tyler, Tyler yang pusing itu memegangi kepalanya karena benturan yang sangat keras di kepalanya dengan lantai membuatnya makin pusing.
Fia mencoba membuka celana Tyler dengan buru - buru, tapi saat itu juga pintu apartemen di buka. Luigi masuk dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya.
"Ty, lo gak apa - apa?" Luigi menepuk kedua pipi Tyler dengan panik.
"Lo apain Tyler, huh!!?" Bentak Luigi pada Fia, Fia menjadi takut sekarang.
"Gi, tolongin gue, kepala gue pusing banget." Ujar Tyler yang setengah sadar.
Luigi langsung membantu Tyler dan memapahnya ke sofa. Luigi terkejut melihat baju Fia yang berantakan dan juga dia baru sadar Fia tidak memakai atasan apapun.
Fia hendak lari setelah memunguti pakaiannya, tapi Luigi langsung menahan Fia dan menariknya dengan paksa dan mengunci Fia ke dalam kamar.
"Keluargin gue, Gi!!" Teriak Fia, tapi Luigi tidak menghiraukannya.
"Shut up, you bit*ch!" Bentak Luigi. Luigi sendiri langsung kembali menghampiri Tyler yang kini masih tampak tersiksa.
"Lo udah ngelakuin itu sama Fia, Ty?" Tanya Luigi dan Tyler langsung menggeleng kuat.
"Enggak, gue gak ngelakuin itu, dia pake wewangian aneh yang bikin gue mabuk, tolongin gue Gi." Ujar Tyler tersiksa.
"Gue on.." Ujar Tyler dan Luigi terkejut. Luigi langsung masuk kedalam kamar Tyler dan masuk kedalam kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air dingin.
__ADS_1
Luigi kembali keluar dan memapah Tyler masuk kedalam kamar mandi dan memasukan Tyler kedalam bathtub, ia akan merendam Tyler dengan air dingin.
"Lo masih bisa ngendaliin diri lo, kan??" Tanya Luigi, dan Tyler mengangguk.
"Safia ban*sat! Tuh cewek emang udah gak waras." Ujar Luigi.
"Jangan biarin dia pergi, gue harus kasih dia pelajaran." Ujar Tyler dengan geram.
"Oke, lo jangan kemana - mana, untung gue dateng, Ty.. Ty.. Kalo gak lo udah di perk*sa sama setan wanita itu." Ujar Luigi.
"Lo diem aja di sini, gue urus dia." Ujar Luigi dan Tyler mengangguk.
Tyler menyender di bathtub dengan air yang semakin tinggi merendam tubuhnya.
"Masih pagi udah gila, emang salome." Gumam Luigi, ia mengambil tali kemudian menghampiri Fia.
Luigi membuka kamar dan terlihat Fia yang marah dan hendak menyerang Luigi, tapi Luigi langsung menahan tangan Fia.
"Bren*sek! Lepas beg*!" Maki Fia pada Luigi.
"Diem!!" Bentak Luigi dengan keras, Fia sampai tertegun mendengarnya.
"Lo pikir lo siapa, huh?! Gue tau trik lo deketin Tyler, karena sekarang lo lagi hamil, kan? Lo mau ngejebak Tyler supaya dia tanggung jawab." Ujar Luigi, Fia terkejut, Luigi sudah tahu bahwa dirinya hamil.
"Jangan gila, Fia. Gue gak bakal biarin elo ngotorin nama baik Tyler." Ujar Luigi tegas.
"Baik - baik lo di sini." Ujar Luigi, lalu langsung mengikat tangan Fia, Fia memberontak pun percuma, tenaga Luigi lebih besar darinya.
"Lepasin gue, gobl*k!" Teriak Fia, marah, tapi Luigi hanya mencebik saja.
"Ty, kok bisa ada dia di sini?" Tanya Luigi, ketika sudah mengamankan Fia.
"Gak ngerti, tau - tau udah di depan pintu. Thanks, Gi. Kalo gak ada lo, gue gak tau apa yang bakal terjadi sama gue." Ujar Tyler.
"Gila si Fia, nekat banget. Dia lagi bunting padahal." Ujar Luigi.
"Siapa?" Tanya Tyler terkejut.
"Fia, Ernest yang bilang." Ujar Luigi, Tyler hanya bisa menghela nafas.
"Terus lo apain dia?" Tanya Tyler.
"Gue iket di ranjang, kan katanya lo mau ngasih dia pelajaran." Ujar Luigi dan Tyler mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
TO BE CONTINUED..