TYLER: Who Do You Think Am I?

TYLER: Who Do You Think Am I?
EPS. 57. Di markas Tyler.


__ADS_3

Lana bangun ketika ia merasakan dirinya kebelet buang air kecil, sampai dia terbawa mimpi. Tapi saat dia duduk dan melihat ke sekitar, dia mengernyit bingung karena tidak mengenali tempat itu.


"Di mana, nih? ( jeda ) Ty.." Panggil Lana, tapi Tyler tidak menyahut.


Ia melihat jam digital yang berada di atas meja, rupanya jam satu dini hari. Tiba - tiba pintu terbuka dan keluar Tyler dari dalam sana dengan pakaian santai.


"Kamu kok bangun, be?" Tanya Tyler.


"Aku kebelet pipis." Sahut Lana.


"Oh, sini, kamar mandinya di sini." Ucap Tyler, dan Lana langsung bangun dan lari masuk kedalam kamar mandi.


Tak lama Lana kembali keluar dan terlihat Tyler yang sedang mengotak atik ponselnya untuk mencari makanan yang bisa dia pesan online sambil duduk di ranjang.


"Ty, ini rumah siapa?" Tanya Lana, yang mengira itu adalah rumah.


"Ini markas aku, be. Kamu di kamar aku." Ujar Tyler, Lana sedikit terkejut tentu.


"Mau makan apa gak, be? Kamu kan dari sore gak makan." Ujar Tyler.


"Aku gak laper, mau tidur lagi aja." Sahut Lana. Tyler tersenyum lalu meletakan ponselnya dan menghampiri Lana.


"Ya udah, kamu tidur aja lagi." Ucap Tyler sambil menuntun Lana. Umtuk kembali naik ke ranjangnya.


"Aku tidur di luar sama Luigi dan yang lainnya, kalo kamu butuh apa - apa aku ada di luar, hm?" Ujar Tyler, dan Lana mengangguk.


Tyler mengecup kening Lana, lalu dia membawa bantal dan selimut untuk dia pakai tidur. Lana pun memposisikan tidurnya kembali, dan tiba - tiba senyumnya merekah ketika mengamati isi kamar Tyler.


'Bahkan kamarnya Tyler lebih rapi dari pada kamar gue, gak nyangka bisa tidur di kamar Tyler.' Batin Lana dan dia miring menghadap ke samping lalu kembali terlelap tidur.


Ke esokan harinya..


Lana bangun ketika mendengar suara gaduh dari luar kamar Tyler, ia mengerjapkan mata untuk mengumpulkan nyawa.


"Weh! Itu c€lana dal€m lu Ren, singkirin ntar Lana liat." Terdengar suara Jack yang sedang memprotes Renan.


"Ish! Lo kenceng amat ngomongnya, tar Lana denger ege!" Sahut Renan.


Terdengar bunyi - bunyian seperti orang yang menggeser meja, menata piring dan sendok, lalu ada yang mengaduh seperti kepanasan dan itu suara Tyler.


"Mereka lg ngapain si?" Gumam Lana.


Lana pun bangun dan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka.


Sementara Tyler sendiri di luar, dia sedang menata makanan yang sudah dia beli online di meja makan kecil. Luigi Jack dan Renan membantu dengan membereskan barang - barang di sana.


"Ty, lo kapan dateng bawa Lana nya, si? Kok gue gak tau lo pulang ke sini sama Lana?" Tanya Renan.


"Semalem, tengah malem." Sahut Tyler yang sibuk menyiapkan sarapan untuk Lana.


"Kalian pada mabok, cuma gue yang sadar, jadi gue yang buka." Ucap Luigi menyahuti Renan.


"Untung semalem gue mabok, jadi ni ruko gak brekele - brekele amat." Ujar Jack bangga, karena saat dia mabok, dia pasti akan membereskan seisi markasnya itu.


"Apa-an, itu tadi kol○r masih ada di sofa." Sahut Luigi.

__ADS_1


"Itu punya Renan, ya kali gue mau beresin." Sahut Jack.


"Cklek!" Suara pintu kamar Tyler terbuka.


Luigi, Renan dan Jack langsung duduk bersiap dengan rapi. Tyler sendiri langsung bangun dan menghampiri Lana.


"Dah bangun, be?" Tanya Tyler dan Lana mengangguk.


"Rame amat, lagi pada ngapain, si?" Tanya Lana, lalu melihat kearah teman - teman Tyler.


"Nyiapin sarapan, yuk." Ajak Tyler lalu menggandeng tangan Lana menuju meja makan.


"Pagi menjelang siang, Na.." Sapa Renan.


"Pagi juga.." Sahut Lana.


"Wahh.. Kalian masak?" Tanya Lana, Lana melihat banyak makanan di meja.


"Hehe, enggak. Kita beli, be." Sahut Tyler menggosok tengkuknya dengan cengegesan.


"Kita cowok - cowok mah gampang, Na. Kalo laper tinggal pesen, kelar." Ujar Luigi.


"Makan yuk, be." Ajak Tyler dan Lana mengangguk antusias.


Akhirnya mereka memakan makanan yang mereka beli secara online. Lana mendapatkan kembali kehangatan pertemanan yang dulu sempat hilang.


"Kalian ada acara apa hari ini?" Tanya Lana pada teman - teman Tyler.


"Gak ada, Na. Kita mah always free." Sahut Renan dan Jack langsung mencubit paha Renan.


"Woah.. Kalo gitu kita bisa ngegame bareng dong." Ujar Lana antusias, Renan langsung meranga mendengarnya.


Masih tercetak segar di ingatannya bagaimana dulu Lana terus - terusan mengalahkan dirinya dalam permainan yang baru Lana pelajari.


"Gak na, sorry. Sebenernya kita ada acara, Renan lupa kayaknya." Sahut Jack, dan Renan langsung manggut - manggut dengan keras.


"Iya bener, lupa gue, Na." Ujar Renan.


"Yahh.. Ya udah deh." Ujar Lana.


"Kamu ngegame nya sama aku aja, mereka takut kalah." Ujar Tyler menimpali.


"Kalo mabar kan lebih seru, Ty." Sahut Lana.


"Lain kali kita maen barengnya, Na." Ujar Jack.


"Oke deh." Sahut Lana.


Di sana Luigi hanya bisa melihat tampang aneh Jack dan Renan yang entah apa sebabnya menjadi, karena hari itu terjadi Luigi masih berada di pusat rehabilitasi.


Dan akhirnya, Singkat cerita Renan, Luigi dan Jack langsung pergi setelah mereka membereskan meja makan dan mencuci piring yang mereka gunakan untuk makan.


Kini di markas itu hanya ada Tyler dan Lana yang sedang rebahan di ranjang ayunan.


"Keren banget si markas kamu, ada ayunannya." Ucap Lana, Tyler tersenyum melihat Lana yang sedang antusias bermain ayunan.

__ADS_1


Tyler menghampiri Lana lalu dia ikut naik di atas ayunan dan ikut merebahkan dirinya di ranjang ayunan.


"Ini idenya Luigi, tapi berguna juga sebenarnya. Kalo aku gak bisa tidur, aku rebahan di sini, abis itu langsung pergi ke alam mimpi." Ucap Tyler.


"Bisa gitu??" Tanya Lana agak terkejut.


"Aku juga gak tau, bisa tidur gitu aja." Ucap Tyler dan melihat kearah Lana.


"Be.." Panggil Tyler, dan Lana melirik Tyler.


"Hm?" Sahut Lana.


"Bantu aku cari tempat tinggal, mau?" Tanya Tyler. Lana pun mengernyit..


"Bukannya kamu udah punya apartemen?" Ujar Lana.


"Aku udah jual, aku gak mau punya ikatan apapun dengan masalalu aku, even itu cuma tempat tinggal." Sahut Tyler.


Lana memutar tubuhnya lalu tengkurap menghadap Tyler, lalu ia menatap lamat - lamat Tyler.


"Are you okay??" Tanya Lana dengan khawatir.


Tyler pun tersenyum, ia memutar tubuhnya menjadi posisi miring menghadap Lana. Wajah keduanya sangat dekat saat ini.


"Of course. Aku punya kamu, orang yang aku sayangi, aku juga punya teman - teman yang selalu ada bersamaku. Apa yang membuatku tidak baik - baik saja?" Ujar Tyler dengan senyum manisnya.


Lana pun tersenyum mendengarnya, tangannya terulur dan mengusap pipi Tyler yang berada di hadapannya. Tangan Tyler pun ikut menggenggam tangan Lana yang saat ini berada di pipinya.


"Tetaplah sama aku, be.. sampai nanti, sampai aku sukses dan bisa nikahin kamu." Ujar Tyler dan Lana terkekeh kecil.


"Kita masih terlalu muda, gak sih? Masa udah bahas nikah?" Ujar Lana.


"Aku serius, be.." Ucap Tyler bersungguh - sungguh.


"Gimana kalo kita gak jodoh?" Celetuk Lana.


"Harus jodoh! Aku gak mau orang lain, dan gak bakal lepasin kamu." Ujar Tyler dengan wajah serius.


"Tapi kalo tiba - tiba rasa cinta kamu hilang? Hati kan bisa ber.."


"Gak akan." Sergah Tyler.


"Aku gak akan pernah berubah, hati ini juga gak akan pernah berubah. Aku cuma cinta kamu, dan cuma mau kamu, that's it!" Ucap Tyler.


Lana tersenyum dan terenyuh mendengar pengakuan Tyler yang keras kepala itu. Perlahan Tyler mendekatkan wajahnya ke wajah Lana, lalu mencium bibir Lana.


Lana menyambut ciuman Tyler dengan pelan dan dalam, keduanya hanyut dalam perasaan cinta mereka.


Namun sebenarnya Lana benar, hati manusia bisa berubah. Cinta di hati bisa hilang, rasa yang terpupuk lama pun bisa pudar seiring berjalannya waktu.


Tapi lain cerita jika mereka saling mencintai setiap hari tanpa rasa bosan, mungkin mereka bisa menua bersama.


"I love you so bad, Lana Lindsey." Ucap Tyler di sela - sela ciumannya.


"Love you, more." Sahut Lana dengan senyum manisnya.

__ADS_1


TO BE CONTINUED..


__ADS_2